Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Marta dan Johan


__ADS_3

'Kak, kau benar-benar buang-buang waktu dengan sia-sia.' Ucap Marta dalam hati. Membuang nafas kasar mendapati kenyataan ini.


"Kamu kenapa sih?" Tanya johan bingung, dan ikutan melihat kearah pintu yang kini sudah lenggang. Dia sudah keluar.


Marta masih diam. Asik dengan pemikirannya sendiri, lupa tujuan datang untuk melepas rindu. Karena datang disambut kehadiran orang yang paling dihindari, sekaligus dinanti. Ah, entahlah.


Hingga Johan melangkah kearah pintu yang sesekali masih dilihat Marta. Menutup rapat pintu yang semula terbuka, meskipun tanpa menguncinya. Dia menangkap tatapan Marta yang sering melihat pintu artinya terganggu dengan pintu yang terbuka.


cup.


Satu kecupan mendarat dipipi Marta.


Plak.


Satu tamparan reflek Marta hadiahkan sebagai balasan.


"Waw. Galak banget sih jadi cewek." Keluh Johan memegang pipinya yang sedikit panas kena tamparan keras dari sang kekasih.


"Ah, maaf. Aku tak sengaja tadi, reflek aja. Lagian mas nyosor aja. Kan kita udah sepakat untuk pacaran yang halal. Tanpa pake peluk-peluk, apa lagi cium-cium." Kata Marta protes sekaligus merasa bersalah melihat wajah meringis kekasihnya yang kesakitan. Dan menyentuh tangan Johan yang memegang pipi untuk melihat hasil ulahnya.


"Udah. Nggk papa." Menepis pelan tangan Marta. "Lagian sejak kapan ada pacaran halal? Baru kini mas dengar." Gumam-gumam Johan, ngedumel, masih mengusap pipinya.


"Ya udah. Nggk usah pacaran." Ketus Marta ketus yang mendengar gumaman Johan. Melengos memalingkan muka.


"Makanya belajar yang rajin biar cepat wisuda. Biar cepet bisa pacaran halal." Ucapnya dengan mata mengerling manja.


"Nggk. Masih muda aku tu. Belum ingin cepat-cepat nikah." Paham arah bicara mas Johan.


"Ya terserah lah. Cari yang siap aja kalo gitu." Ucap Johan santay dengan menaikkan kaki kanannya dan menumpukan pada kaki kiri, yang membuat Marta melotot tak terima.


"Eh, tadi kamu kenapa sih? Kok terkejut datang kemari? Emang ada yang aneh?" Mengingatkan kembali akan pertanyaan awal. Melihat Marta yang masih bersungut.


"Owh, itu ya." Wajah Marta berubah, bingung mau bagaimana menjelaskannya. Menggaruk kepala yang tak gatal, mencari alasan. Berfikir.


"Itu apa?" Desak Johan memperhatikan tingkah Marta yang menyimpan kegelisahan. Ada yang ditutupi. Johan menaikkan alisnya heran akan keterdiaman Marta. Ada yang aneh.


"Y-ya itu, kaget. " Tergagap , bingung. "Kaget, karena datang-datang disambut lemparan pena." Jawab Marta beralasan. Menemukan ide terbaik sebagai tameng.


"Oh ya? Bukannya kamu datang sebelum pena dilempar? Sepupu mas tak akan melempar pena tanpa sebabnya. "


"Hah? Nggk kok. Aku baru datang. "Jawabnya meyakinkan dengan gerakan tangan didepan dada. Padahal dirinya sendiri ragu.

__ADS_1


"Beneran?" Nampak tak percaya. " Atau kau juga terpesona pada pandangan pertama dengan dia?" Tudingnya curiga.


Hah Apa? Kenapa dia bisa berfikir seperti itu? Itu mustahil tau nggk sih? Meskipun tak dipungkiri kalo dia juga tampan. Tapi demi apapun aku tak suka.


"Diam? Benar berarti dugaan mas." Sudah mode dingin. Berdiri dari tempatnya duduk.


"Nggk kok. Aku kan sudah punya mas. Cinta pada pandangan pertama ku." Menarik tangan Johan untuk duduk kembali. Johan menurut.


"Beneran? Udah berapa banyak kamu cinta pada pandangan pertama begitu?" Masih dengan suara dinginnya.


"Mas beneran deh. Percaya sama Marta. Kalo marta pacaran cuma sama mas aja. Dulu mana berani pacaran? Takut sama abah. Karena kejadian kakakku yang berimbas pula padaku. Dilarang pacaran." Kata Marta menjelaskan dengan berapi-api untuk menjelaskan, dan meyakinkan kalo dia tak tertarik dengan lelaki yang katanya sepupu Johan itu. Juga membujuk Johan agar tak marah.


"Iya iya percaya." Jawabnya akhirnya. Meskipun nampak terpaksa gitu jawabnya.


"Gitu dong. Itu baru mas Johan yang bikin aku jatuh cinta." Mulai mengeluarkan rayuan gombal.


Hening. Johan tak membalas ucapan Marta, malah melihat Marta yang asik memperhatikan seluruh isi ruangannya. Menatap lekat wanita yang mampu mengubah hidupnya. Wanita cerewet dan over aktif alias pecicilan yang selalu membayang dipelupuk mata.


"Ini apa? Emang begini pakainya?" Menarik jilbab pasmina panjang yang kini terikat dipinggang Marta. Berubah fungsi jadi belt pada kemejanya.


"Hehehe. Maaf, tadi panas banget dijalan , gerah jadi deh ku lepas. Nunggu angkot tak dapat. Jalan kaki tahu aku kesini? Capek." Menggerakkan badan dan memutarnya kekanan dan kekiri untuk mengurangi pegal.


"Ih. Nggk suka ya aku kesini? Padahal aku kangen tahu. Mas nggk kangen sama aku apa? Atau udah ada yang dikangenin lain? Yang udah siap." Mencebik, merajuk. Menekankan diakhir kalimatnya.


"Udah nggk usah ngambek. Sana dipake." Menarik kembali jilbab yang tak pada tempatnya.


"Nanti lah. Tak ada orang pun disini." Melapas jilbabnya, tapi malah disampirkan dibahu, mengambil ponsel yang terus bergetar, pasti dari group chat kamar yang mulai ramai.


"Kamu pikir mas bukan orang apa?"


"Udah sana pake, mandi sekalian. Bau tau." Perintahnya dan menarik dan mendorong Marta kekamar mandi. Lalu dia sendiri melenggang pergi keluar ruangan.


Sebel deh. Dibela-belain jalan kaki panas-panas biar ketemu pacar. Eh malah diginiin. Bukannya disanjung, disayang, disiapin makan atau minum kek. Huh, sebal. Menggerutu dalam hati.


"Nggk usah ngedumel. " Suara Johan yang berjalan membelakanginya.


Eh, emang dia punya indra keenam apa? Kok bisa tahu?


"Mas mau kemana?"


"Pasti tadi capek kan? Mau makan atau minum?" Menawarkan sebelum benar-benar keluar ruangan.

__ADS_1


"Boleh."


"Mau apa?" Berhenti sejenak, berbalik badan melihat Marta yang sudah dikamar mandi dengan pintu setengah terbuka. Tak jadi ditutup karena ditanya lagi.


"Terserah ,yang sepesial."


"Oke. Harus sudah cantik dan wangi saat aku kembali." Memberi peringatan , dan pergi menutup pintu. Tak lupa mengunci pintu dari luar.


Marta keluar lagi dari kamar mandi. Mengambil baju satu stel dari koper yang sedari tadi diseretnya. Dan membawanya kekamar mandi. Mengguyur badan dengan air hangat. Membasuh dan menggosok badan yang lengket karena keringat.


Keluar dari kamar mandi sudah ada Johan dengan dua piring makanan dihadapannya. Plus dua gelas besar jus melon.


"Mas." Panggil Marta pada Johan yang duduk disofa dengan mata melihat layar laptopnya.


"Iya. " Mandongakkan kepala melihat sang pacar. "Kenapa?"


Mengernyit melihat Marta yang menggosok rambut dengan handuk. Mengibas-ngibaskan rambut basahnya. Yang membuatnya menelan ludah. Namanya lelaki normal, pastilah tergoda bukan?


"Kau mau menggoda mas ya?" Ucapnya tajam dengan mata yang sudah menyimpan gairah.


"Menggoda apaan? Rambutku basah. Mas nggk punya pengering rambut disini?" Tanya Marta lirih. Hati-hati.


Aneh kau Marta. Emang ini dirumah nyari hair dryer? maki Marta pada diri sendiri.


Johan berjalan mendekat dengan mata tak berkedip, yang membuat Marta merinding dan takut, Dia mundur menjaga jarak dari jangkauan Johan , hingga kini sudah mentok pada dinding. Tapi Johan masih juga maju mendekat.


"Mas mau ngapain?" Tanyanya gugup dengan nafas yang naik turun. Waspada.


Johan makin mendekat, hingga membuat Marta reflek menutup mata. Terasa nafas hangat Johan menerpa wajahnya. Membuat Marta menahan nafas.


"Ceklek." Suara pintu terbuka, tepat disamping Marta. Membuat Marta membuka mata kembali dan melirik arah suara. Marta masih tak berani bergerak sedikitpun, bahkan hanya sekedar menoleh. Kembali menundukkan pandangan saat menyadari Johan masih tepat didekatnya. Bahkan hidungnya hanya berjarak dua centi dari wajahnya. Nampak jakunnya naik turun seirama tarikan nafasnya.


______


Selamat membaca. 🙏🤗


Jangan lupa tinggalkan jejak.


Like, komen, dan gift,nya. Tak lupa vote juga ya?..


🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2