Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Dunia Anak


__ADS_3

Meninggalkan anak-anak dan keasikannya. Kini aku masuk keruangan yang lebih luas. Dapur sekaligus ruang makan. Cukup bersih, meskipun tak bisa dibilang rapi. Yah, mungkin begitulah kalo punya anak banyak ya? Harus ekstra sabar menghadapi rumah yang berantakan.


"Maaf ya, mbk. Rumahnya berantakan. Pastilah jauh beda dengan rumah mbk Tasya yang rapi." Meminta pemakluman atas keadaan rumahnya.


"Ya, nggk papa bu. Namanya juga banyak anak. " Jawabku paham. Meskipun dalam hati tetap memberikan penilaian pada setiap ruangan yang kumasuki.


"Kalo aku mah memang begitu mbk. Lebih memilih menyimpan energi untuk menahan marah dari pada selalu bersih tapi anak dimarah terus. Yang tukang bersih-bersih cuma satu lo, yang berantakin banyak. Kalah aku. " Ucapnya dengan tawa, Mengambil alih makanan yang aku bawa, dan memindahkan pada tempat miliknya. Karena ku belum menyediakan kotak kusus kue untuk jualan, lagian yang pesan samping rumah, pake toples besar nanti juga dikembalikan. Hehe


"Ya. yang penting anak bahagia ya, Bu." Kataku menimpali. Padahal aku masih awam tentang dunia parenting. Setahuku dunia anak itu dunia bermain, selalu ingin bermain dan happy. Tak suka ada yang mengganggu kesukaannya. Ya, hanya itu yang ku tahu.


"Bahagia itulah yang utama. Tapi saat dengar Adzan asar, dibereskan semua mainannya itu nanti. Aku tinggal nyapu aja, kadang juga masnya mau nyapu. Yah begitulah mereka, yang penting tahu kapan harus dibersihkan, dan tanggung jawab." Jelas mbk Mila yang masih memindahkan makanan.


Aku melihat kembali ruangan yang masih super itu. Meskipun dari tempatku duduk hanya nampak sebagian aja. Mungkinkah aku kelak juga begitu? Tapi kayaknya aku tak sanggup punya anak banyak dengan jarak dekat-dekat begitu deh. Aku bukan orang penyabar. Aku jadi menghayal masa depanku nanti. Apakah aku bisa sabar menghadapi kekacauan itu? Menahan emosi saat baru selesai beberes, ada yang menyerak lagi. Ah, pastilah berat.


"Ini enak banget lo mbk. Kerasa ikannya, bumbunya juga terasa. Kuahnya juga super pedas, asam, manis. Perpaduannya dapat banget. " Celoteh mbk Mila mencicip pempek buatanku. Namun aku tetap asik melihat ruangan yang paling berbeda itu.


Allahuakbar Allahuakbar


Adzan asar terdengar. Bener saja kata mbk Mila. Empat anak itu bergegas beres-beres ruangan bermainnya, dipandu sang kakak membereskan semua mainan. Dimasukkan kekotak besar mainan, melipat seprei, menumpuk kasur lipat yang udah tipis itu. Bahkan si kecil ikutan berlarian mengumpulkan mainannya yang berserak memenuhi ruangan. Mengumpulkan bola berwarna warni yang bertebaran.


"Anak-anak manis." Gumamku melihat tingkah anak-anak itu.


"Kenapa mbk? Udah pengen punya anak ya?" Goda mbk Mila yang melihatku memperhatikan keasikan anak-anak. Bahkan hingga melupakan kehadiran tuan rumah yang ada disampingku. Tempat kue yang kubawa tadi sudah kosong.


"Ah, ibu apaan sih." Kataku tak enak, dengan senyum canggung terlampir. Aku bingung mau jawab apa. Apakah aku ingin segera memiliki anak dengan Reyhan?


"Gimana? Sudah ada tanda belum?" Makin jadi menggoda, dengan alis dinaik turunkan.


"Belum lah, bu. Belum genap sebulan menikah juga." Jawabku malu-malu.


Belum genap sebulan pernikahanku memang. Dan semua berjalan baik, sebagai mana rumah tangga pada umumnya. Bahkan bisa dibilang keluarga impian yang tak terlalu banyak drama. Meskipun tak sesuai kenyataan dalam hatiku yang masih sering mengingat orang lain. Bolehkan aku berharap selamanya akan baik begini? Cukup kusimpan rasaku, cukup aku yang tahu. Semoga Arfan benar-benar tak akan datang untuk mengacaukan kehidupanku lagi.

__ADS_1


"Iya, ya. Siapa tahu udah ada, tapi belum sadar. Yang penting usaha terus." Ucapnya menyemangati. Aku jadi malu sendiri mendengarnya. Lagian belum ada pembahasan soal anak diantara aku dan Reyhan.


"Iya, bu." Mengambil jalan aman. Tak ingin ditanya lebih dalam lagi. "Gimana bu? Enak?" Mengalihkan pada makanan.


"Mantab ni. Nanti aku bantu promosi pada teman-teman ngaji. Siapa tahu ada yang minat. Rekomended untuk acara-acara beginian." Ucapnya semangat.


Senang punya tetangga yang baik begini. Mau membantu usaha yang baru kita rintis. Bantu promosi. "Emang banyak ya anggota ngajinya bu?" Tanyaku basa-basi. Tapi ku taksir tak terlalu banyak, dilihat dari ruangan yang dipersiapkan untuk ngaji. Tapi kenapa pesan makannya cukup banyak?


"Banyak sih nggk, mbk. Kalo hadir semua palingan cuma dua puluh orang. Tapi kayaknya beberapa ada yang izin. Tapi ya namanya ibu-ibu semua yang datang, dan rata-rata bawa anak kecil, jadi menyediakan makanan lebih lah." Jelasnya seakan paham arah pikiranku.


"Owh, begitu ya?"


"Ya, begitulah. Mbk Tasya kalo mau nyari kelompok ngaji bisa ,nanti dicarikan. Kalo Reyhan itu ikut kelompok abinya anak-anak juga kok." Sarannya.


"Ya, nanti aku pikir-pikir lagi bu."


"Aku cuma menyarankan mbk, bukan bermaksud merendahkan pemahaman mbk. Tapi namanya mengaji kan untuk saling mengingatkan, menegur kalo salah. Ya satu kelompok tu udah kayak saudara lah. Saling membantu kalo ada yang kesusahan atau ditimpa musibah. Kan kebanyakan kita itu paham akan perintah dan larangan yang berlaku, tapi lebih sering melupakan dan mengabaikan. Lewat mengaji kita bisa berlomba dalam kebaikan, saling mengingatkan akan berbuat baik." Jelas mbk Mila promosi tanpa bermaksud menggurui.


"Nanti aku diskusikan sama suami dulu Bu." Alasanku. Bukankah semua harus dibicarakan dengan pasangan?


"Kalo Reyhan mah, dijamin setuju mbk." Yakin sekali kayaknya ni orang. Kayak udah kenal betul sama suamiku. Tapi kalo sepemikiran pasti paham ideologinya ya?


"Iya." Aku jadi tak enak ini. Tak punya kata untuk menjawab. "Ya udah aku pamit dulu Bu." Pamitku saat terdengar beberapa motor sudah datang. Memang acara ngajinya kan ba'da asar.


"Iya, silahkan. Makasih lo mbk." Ucapnya sambil mengambil beberapa lembar uang dari atas kulkas, dan memberikannya padaku untuk membayar.


"Aku juga makasih lo, Bu. Makasih udah jadi pelanggan perdana ku." Jawabku senang menerima bayaran pertama ku. Meskipun tak terlalu banyak, tapi cukup membuatku bahagia.


"Namanya juga tetangga. Eh, bagi nomornya dulu dong. Siapa tahu nanti ada yang mau pesan, biar enak ngabarinnya. " Merogoh kantongnya dan menyerahkan ponselnya padaku.


"Okey." Mengetikkan angka pada ponselnya yang banyak cap banting disana, alias retakan. Mungkin sering untuk rebutan anak-anak. Padahal jika dilihat dari bentuk dan brandnya, ini harganya cukup mahal lo. Sayang sekali ya? Apakah itu efek punya anak banyak?

__ADS_1


"Ditunggu kabar baiknya mbk. Kalo banyak menghasilkan pelanggan, nanti bagi komisi deh." Kataku menawarkan.


"Oh boleh lah itu. Bikin semangat cari pelanggan kalo ada komisinya." Jawabnya riang disusul tawa. Aku ikutan tertawa menanggapi.


"Ya udah, aku pamit bu. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Aku keluar tanpa diantar. Melewati ruangan tempat anak-anak bermain tadi sudah bersih bin rapi. Suara anak-anak sudah berpindah ruangan yang tak nampak dari tempatku lewat, dengan suara teriakan yang bersahutan, dan gemericik air. Mungkin sedang mandi.


Benar saja. Didepan rumah sudah ada empat orang ibu-ibu , dan ada enam anak-anak. Memang benar, rata-rata pada bawa anak. Bahkan ada yang bawa lebih dari satu itu.


"Mari bu." Sapaku melihat ibu-ibu itu.


"Iya. Siapa ya? Kok baru lihat?" Tanya salah satu dari mereka dan mengulurkan jabat tangan.


"Aku Tasya. Tetangga mbk Mila." Balasku.


Akhirnya aku berhenti sejenak untuk berkenalan dengan semua orang yang ada. Hingga sang tuang rumah datang menyapa tamunya.


"Eh udah pada kenal ya? Ini mbk Tasya, istrinya pak Reyhan." Kata mbk Mila memperkenalkan.


"Owh, Istrinya pak Reyhan?" Kompak keempat ibu-ibu itu.


Bagai seleb aja suamiku. Banyak yang kenal.


****


**Selamat membaca.


Maaf kalo banyak belepotan kata-katanya**.

__ADS_1


__ADS_2