
Akhirnya hari ini datang juga. Keajaiban itu benar-benar tak ada, dan mungkin memang tak pernah ada.
Aku memulai hari tanpa semangat. Membiarkan perias pengantin memoles wajahku sesukanya. Tak ada protes, juga saran. Tanpa percakapan.
"Halo pengantin." Suara Marta yang baru masuk kamar. Dia sudah cantik mengenakan gaun sama seperti yang dipake Kak Ina.
Aku melirik sekilas. Dan kembali menatap cermin yang menampakkan wajah yang sudah berubah drastis.
"Ih, kok jelek sih jadinya mbk." Protes Marta pada perias pengantin setelah memperhatikanku. Aku hanya mengerutkan kening heran. Perasaan sudah perfeck deh.
"Maaf kak, dimananya yang salah?"Merasa tak enak dan kembali memperhatikan hasil karyanya yang menurutnya sempurna.
"Keluar dulu sana. Biar aku yang benerin." Usir Marta pada perias yang menurutku seumuran dengan Marta.
"Kamu kenapa sih usir orang sembarangan? Tak sopan."Tegurku akan sikapnya.
"Siapa yang tak sopan? Kakak tu yang tak sopan. Hari bahagia kok merengut terus." Sungutnya, dan mengambil gaun pengantin untuk membantu memakaikan padaku.
"Ini siapa yang milih baju?" Tanyaku melihat pada Marta. Bajunya cantik, dan syar'i. Yah make up sudah, jilbab juga sudah dipasangkan, tinggal gaun aja.iya
"Ya siapa lagi kalo bukan suami kamu? Dia tetap ingin kakak menutup aurat sempurna di hari istimewa ini."
"Emang kakak jadi jelek ya?" Mematut diriku yang kini sudah siap dengan dandanan yang cetar membahana. Perasaanku tak ada yang salah, tapi kenapa dibilang jelek?
"Yang salah tu ini lo." Menarik kedua ujung bibir untuk mencipta senyuman. "Jelek karena cemberut terus." Omelnya.
Aku hanya menarik nafas dalam.
"Assalamualaikum." Salam Rena yang baru datang, yang langsung aku persilakan masuk.
"Waalaikum salam. Makasih lo udah datang." Kataku dan memeluknya saat dia merentangkan tangan berharap pelukan.
"Ya pasti datang dong. Lagian acaranya pas hari libur, ya pasti datang. Tak ingin melewatkan acara spesial mybesty. " Ucapnya sok akrab. Ah memang akunya aja yang malas akrab dengan orang. Merasa sendiri meskipun ada mereka yang menemani. Aku bisa tersenyum senang saat tahu teman-teman pada datang.
"Sama siapa aja?"
"Semua ikut lah."
Kini kami duduk bertiga didalam kamar. Acara sudah dimulai diluar. Tapi aku tak tertarik, memilih berbagi cerita pada Rena dan Marta. Dan yang pasti ceritanya bukan tentang pernikahan. Rena itu yang heboh cerita drakor, klop banget dengan Marta yang juga cinta dengan drama romantis itu. Meskipun baru kenal udah akrab aja dua anak ini. Bahkan lebih akrab dibandingkan denganku yang sudah lama kenal.
Aku memaksa diri untuk ikhlas. Mengikhlaskan masa lalu untuk tetap menjadi masa lalu. Buang jauh harapan masa lalu untuk kembali dan menjadi masa depan. Masa depanku adalah bersama REYHAN.
"Eh, kok malah asik cerita sendiri? Tak menyimak acara diluar?" Tanya kak Ina yang baru masuk, dan melihat kami cerita dan tertawa cekikian. Tak ada tegang atau gugup saat mendengar suara Reyhan mengucap ijab kabul yang terdengar dari pengeras suara. Asik cerita sendiri.
"Entah ni pengantinnya kak. Lain dari pada yang lain. Udah siap nian kayaknya, makanya santuy kali." Ledek Rena yang mendengar teguran dari kak Ina.
"Ih, kalo udah cerita drama tu bisa melupakan segalanya kak. Mertua manggil aja nggk denger." Kata Marta sok tahu.
"Emang situ punya mertua? " Tuding Rena mencibir.
"Punyalah. Calon. hehe."
__ADS_1
"Udah udah. Acara udah selesai, sekarang temani kak Tasya keluar yok. Ditemukan dengan suaminya." Melerai keributan dua anak itu, menuntunku untuk keluar. Aku berjalan pelan, menunduk. Dan duduk disamping lelaki yang kini sah menjadi suamiku.
Bisa ku rasakan tangan Reyhan yang dingin saat ku sentuh tangannya untuk berjabat tangan. Sedikit bergetar memasangkan cincin pernikahan.
Apa hanya aku ya pengantin yang tak gugup dan juga tetap bersikap santai? Tak ada canggung dan juga tak ada rasa lega setelah prosesi selesai. Dari memulai acara hingga akhir acara tetap sama. Memaksa senyum pada semua yang hadir.
Hingga kami disandingkan untuk menerima ucapan selamat pun, tak ada sepatah kata sapaan atau apalah itu. Hanya ada diam , diam, dan diam.
"Beneran jadi patung yang disandingkan ya?" Marta yang mengambil foto pengantin baru menjadi sebal sendiri.
"Senyum dong kak, bang." Berdiri ditengah-tengah antara kami untuk selfi, setelah semua para tamu undangan sepi.
"Ih, jelek . Au ah." Merengut sendiri saat melihat hasil jepretan kameranya.
Sepanjang hari hanya diam, dan senyum pada orang yang datang menghampiri kami untuk mendoakan.
Setelah lelah menerima tamu, aku memilih masuk lebih dulu. Istirahat. Membiarkan Rey bercengkrama dengan tamu sesama guru yang baru datang dimalam hari.
Tak ada yang sepesial, juga tak ada yang aneh dengan malam pengantin kami. Bahkan aku tak tahu kapan suami baruku masuk menyusul tidur. Aku sudah tidur duluan. Bangun pagi pun dia bangun lebih dulu. Atau memang tak tidur dikamar ini? Mustahil lah ya?
Siang harinya aku langsung diboyong kerumah mertua. Disana tak ada acara . Hanya mengundang pengajian ibu-ibu untuk menyambut kedatanganku. Syukuran kecil-kecilan.
Rumah mertua masih ramai sekali. Semua saudara datang dengan anak-anaknya yang memenuhi rumah. Senang disambut hangat oleh mereka. Semua bersikap ramah dan menerima kedatanganku dengan bahagia.
Dua hari berlalu, suasana menjadi sepi. Masa cuti suamiku pun sudah habis. Dan parahnya aku tak boleh lagi kekota untuk melanjutkan kerja. Semua kakak Reyhan sudah pulang kerumahnya masing-masing. Tinggal bang Rasya dan Beti istrinya. Beti masih kuliah. Meskipun dia kakak iparku, tapi umurnya jauh dibawahku.
Kini aku punya kerjaan baru. Yaitu mengurus semua kebutuhan mertuaku. Jauh dari ekspektasi. Ternyata mertuaku sebenarnya tidaklah terlalu tua, karena dia istri kedua. Hanya saja kakinya yang lumpuh akibat kecelakaan. Tapi dia masih bisa diajak bicara dan cerita. Hanya saja harus menggunakan kursi roda kemanapun ia pergi. Dan yang menjadi masalah adalah, kursi rodanya rusak. Jadilah dia hanya dikamar sepanjang hari.
"Iya sayang. "Mengambil makanan yang aku sediakan. Makan sendiri tanpa perlu disuap. Aku hanya duduk disampingnya dan memijat pelan kakinya yang berselonjor.
Meskipun hingga kini belum ada kemajuan untuk hubunganku dengan suami. Paling tidak aku mencoba bersikap baik didepan keluarganya.
"Ini kamu yang masak?" Tanyanya setelah menghabiskan separoh makannya. Aku hanya mengangguk takut.
Memang baru kali ini aku masak disini. Sebelumnya masih ada kakak-kakak yang lain. Jadi aku cuma membantunya aja.
"Tak enak ya, Bund? Mau Tasya buatkan yang lain?" Panikku tak enak. Dan berniat mengambil piring namun ditolaknya.
"Enak sayang. enak banget malahan. Kamu menantu bunda yang paling enak masakannya." Pujinya mengusap pelan lenganku. Tersanjung deh aku.
Ternyata mertuaku baik sih. Jauh dari mertua merepotkan yang aku bayangkan. Tutur katanya lembut dan murah senyum. Menyenangkan duduk bersamanya.
"Ih, bunda bisa aja deh." Tersenyum malu. Meskipun abah juga bilang begitu. Makanya jika dirumah aku yang dapat jatah masak.
"Beneran lo. Reyhan pandai pilih istri." Lanjutnya yang nambah buatku tersipu malu.
"Ah, bunda. " Tak enak hati. " bunda tak bosan apa dikamar terus?"
Dua hari disini bunda sering juga keluar dibantu anak lelakinya. Bunda Ana ini ibu kandung dari Reyhan dan bang Rasya. Dan ibu sambung dari delapan anak yang lain, yang kini sudah hidup terpisah membina rumah tangga masing-masing.
"Bosan sih. Tapi nunggu Rey pulang, nanti baru bisa keluar. Maaf ya, bunda merepotkanmu." Merasa tak enak hati.
__ADS_1
"Enggak merepotkan kok, Bun. Tasya hanya takut kalo bunda bosan dirumah hanya berdua dengan Tasya."
"Sekarang ada Tasya, biasanya bunda sendirian lo." Meletakkan piring yang sudah kosong. "Kamu sendiri sudah makan belum?"
"Emmmz. " Tak enak mau jawab kalo aku belum makan.
"Belum makan ya? Kenapa tadi nggk makan bareng aja sama bunda?" Tanyanya " Biasanya kalo Beti makan duluan, juga tak pernah temani bunda makan, Jadi bunda tak begitu peduli. Kalo kamu beda." Ceritanya dengan muka berubah sedih.
"Ya lain kali Tasya makan siang bareng Bunda. Dan akan selalu menemani bunda makan." Hiburku. Pastilah bunda merasa kesepian kan? Dia langsung tersenyum kembali mendengar penuturanku.
_____
Sore hari telah tiba. Waktunya Reyhan pulang. Entah kenapa aku menunggunya pulang. Juga menyiapkan makan malam untuk semua. Sedangkan Beti? Sedari pulang dari kampus hanya mengurung diri dikamar. Keluar langsung makan saat makanan sudah matang. Ingin menegur, tapi tak enak. Dia yang lebih dulu masuk kerumah ini.
"Assalamualaikum." Salam suamiku yang baru pulang. Ku lihat wajah lelahnya.
"Waalaikum salam." Meraih tangan kokohnya, dan menciumnya. Sebagai formalitas saja.
Dia hanya memberikan tas kerjanya padaku, lalu berjalan menghampiri kamar ibu. Mengangkatnya kekamar mandi untuk bersih-bersih.
Mertuaku meskipun tak gemuk, tapi badannya lebih besar dari aku yang kecil mungil. Dia berbadan tinggi, yang menurun keanaknya. jadi aku tak kuat jika harus mengangkatnya kekamar mandi. Jadi nunggu anak lelakinya pulang baru mandi.
Setelah selesai mengurus ibu. Gantian dia mandi sendiri. Aku memilih menemani ibu. Lagian memang aku tak pernah menyiapkan pakaian suamiku. Yang penting baju kotor sudah dicuci, dan disetrika rapi. Terserah dia mau pake yang mana.
"Rey." Sebelum tidur dia masih asik dengan gawainya. Tak peduli sama aku.
"Iya." Meletakkan ponsel diatas meja, dan menghampiriku yang duduk diatas tempat tidur kami.
"Kenapa?" Berbaring miring menghadap ku. Dengan tangan memeluk kakiku, yang membuat badanku merinding takut.
"Emmmz , itu." Melipat kaki dan bergeser. Tak nyaman dengan posisinya. Ah, padahal dia berhak melakukan lebih bukan?
Dia hanya mendengus dan merubah posisi telentang.
"Jadi bicara nggk?" Tanpa melihatku.
"Emmz." Tak enak mau mengungkapkan saran. Tarik nafas, yakinkan diri. "Kenapa bunda nggk dibelikan kursi roda aja sih? Biar aku bisa ngajak bunda keluar, atau kekamar mandi. Tak harus nunggu kamu." Ucapku pelan.
"Kasihan kan bunda? Dia pasti bosan sepanjang hari hanya dikamar aja. Aku yang hanya beberapa hari duduk dirumah aja udah merasa bosan. Kamu kan pulangnya sore." Lanjutku lagi. Reyhan hanya diam merenungkan ucapanku.
"Emang kamu mau bantuin ngurus bunda?" Melihatku.
"Ya maulah. Kan dia ibu kamu, berarti ibuku juga kan?" Tanyaku heran. Emang aku sejahat itukah dimata dia?
"Emang kamu sudah mengakui aku sebagai suami?" Kembali melihatku. Yang membuatku salah tingkah atas pertanyaannya. Yang pasti karena merasa bersalah belum bisa menjadi istri yang diharapkan.
"Maksudnya?" Pura-pura polos dan tak paham. Padahal aku paham arah bicaranya.
"Jangankan menagih hak sebagai suami. Dipegang aja menghindar." Memanyunkan bibir lucu, yang membuatku lucu dan tertawa kecil. Gemes aja. Seorang Reyhan yang cool, bisa manyun gitu.
"Nggk ada yang lucu." Ngambek dia karena aku tertawakan. Balik badan membelakangiku. Yang membuatku tambah tertawa cekikian.
__ADS_1
"Kalo masih tertawa aku paksa meminta hakku." Ancamnya yang sukses membungkamku. Berbaring membelakanginya untuk tidur.