Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Gagal Move On


__ADS_3

Setelah bicara panjang kali lebar, Rena terdiam dengan hati lega plus kecewa. Lega karena dia sudah mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya. Dan kecewa karena David sama sekali tak menanggapinya, tetap terdiam seakan tak terjadi apa-apa.


Rena ikut diam menikmati hembusan angin malam yang cukup kencang. Menatap langit gelap yang seakan siap menumpahkan muatannya. Mengatur nafas yang terasa menyesakkan.


Duarrrr. Suara petir menyambar, yang didahului kilat diatas sana. Disusul suara menggelegar petir yang lainnya.


Tanpa kata Rena pergi meninggalkan David yang masih terdiam. Bersiap pulang saat tetes pertama hujan turun. Berjalan menuju mobilnya terparkir dengan pikiran yang tak fokus.


*Apakah cinta bisa salah berlabuh? Jika memang salah, bagaimana cara memperbaikinya? Karena nyatanya sulit untuk melupakan dan memaksa hati untuk mencintai yang lain. Apakah mungkin bisa hidup bahagia tanpa mencintai pasangan kita?


Tapi bagaimana pun juga aku tak bisa terus begini. Umurku tidaklah muda lagi. Sudah waktunya untuk membangun rumah tangga. Haruskah aku menerima orang yang tulus mencintaiku meskipun aku tak mencintainya? Dari pada memaksa hidup dengan orang yang kita cintai, tapi nyatanya dia tak mencintaiku.


Bukankah bahagiaku aku yang mengatur? Hatiku aku yang tahu. Mungkin aku harus mulai belajar melupakan David. Mencoba menerima orang yang tulus mencintaiku. Mungkin lebih mudah memaksa hatiku untuk mencintai orang yang juga mencintaiku, dari pada memaksa orang yang ku cintai untuk jatuh cinta padaku.


Yah. Aku harus belajar melupakan mas David. Aku yakin aku bisa. Lelaki tampan dan mapan bukan cuma dia aja. Mungkin diluar sana ada lelaki yang lebih perhatian dan lebih romantis*.


Rena berjalan dengan melamun. Sibuk memantabkan hati untuk move on, dan memilih lelaki yang tulus padanya. Toh tak hanya satu dua lelaki yang berusaha mendekatinya, tapi banyak. Belajar melupakan lelaki yang selama ini selalu membayang dalam mimpinya.


Diiiiin, diiiin. Hingga tanpa sadar ada suara klakson panjang saat Rena menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri. Rena hanya tersadar saat ada yang menariknya kasar dan memeluknya erat. Dimalam hari, saat jalanan lenggang. Memang banyak sopir yang melajukan mobil ugal-ugalan.


Rena merasa kaget dan melihat situasi. Ada orang yang memaki dan mengomel kearahnya sambil mengendarai mobil pelan, lalu kembali menambah kecepatan. Rena tak terlalu peduli dengan makian dan umpatan orang yang dia yakini hampir menabraknya tadi. Yang menjadi fokus Rena adalah lelaki yang tadi terdiam duduk berdampingan dengannya. Mengacuhkannya, dan sama sekali tak menganggapnya ada. Lelaki yang melihatnya aja enggan . Namun kini dia memeluknya erat dengan tangan mengisyaratkan minta maaf pada pengendara mobil. Meskipun David masih tak melihatnya, namun kehangatan dekapan ini cukup membuat Rena terpaku, tak mampu sekedar menggerakkan badan.


"Lain kali hati-hati." Melepas pelukan, dan berjalan cepat ke tempat dimana mobilnya berada. Meninggalkan Rena yang masih berusaha berdiri tegap dan mematung ditempat. Bahkan hingga saat lelaki itu sudah memacu mobilnya pergi, Rena masih berdiri belum mampu untuk menguasai diri.


"Ini maksudnya apa?" Lirih Rena menyentuh dadanya yang berdegup tak karuan.


"Apakah kamu memang peduli? Atau hanya rasa kemanusiaan?" Lirih Rena. "Inilah yang membuatku sulit untuk move on." Air matanya luruh, berbarengan dengan tetesan gerimis yang menderas menjadi hujan.


_________


Hari-hari dilalui Tasya dengan perasaan tak nyaman. Sebisa mungkin bersikap normal didepan suami dan mertuanya. Namun nyatanya Reyhan tetap menangkap perubahan pada istrinya. Namun memilih diam, menunggu sang istri bicara dengan sendirinya. Namun nyatanya sia-sia.


Hari-hari Tasya sibukkan dengan usahanya yang makin maju. Bahkan kini sudah menambah dua karyawan lagi. Usahanya cukup cepat berkembang. Tasya kini lebih pagi memulai hari, bahkan kini dia selalu yang pertama bangun di pagi hari. Meskipun di siang hari sudah tumbang, dan malam hari selalu tidur paling awal.

__ADS_1


Bahkan kini Tasya mulai membangun toko disamping rumahnya. Meskipun Reyhan membuat dapur yang cukup luas, namun nyatanya masih terasa sempit untuk aktifitasnya. Ditambah banyak peralatan baru yang dibelinya, juga tumpukan stok bahan-bahan kue.


Pagi ini seperti biasanya. Tasya dan keempat rekannya sibuk dengan tugas masing-masing. Tak peduli kalo hari ini Reyhan mengambil cuti biar bisa menghabiskan waktu bersama istrinya yang sibuk. Setiap malam dia tak punya waktu bercengkrama, karena Tasya selalu tidur lebih dulu.


"Yang." Bisik Reyhan memeluk Tasya dari belakang, yang membuatnya kaget dan menepis tangan Reyhan yang melingkar diperutnya.


"Malu sama anak-anak Rey." Protes Tasya berbalik badan dan mendorong pelan dada suaminya agar menjauh.


Muka Reyhan tampak murung mendengar ucapan istrinya, dan menarik kursi untuk duduk. Didapur baru ini tinggal mereka berdua. Saat Reyhan masuk langsung mengusir pekerja istrinya. Reyhan tak suka dengan panggilan Tasya yang sudah berubah lagi.


"Yang lain mana?" Tanya Tasya yang melihat ruangan kosong.


"Keluar. Tenang mereka tetap kerja kok. " Jawab Reyhan.


"Terus kamu mau apa? Kerjaanku masih banyak ni. Mau bantuin?" Tanya Tasya kembali melanjutkan tugasnya.


"Kamu kenapa sih yang? Apa aku ada salah?" Tanya Reyhan serius , yang membuat Tasya memutar badan kembali melihat Reyhan.


"Kenapa nanya begitu?" Tanya Tasya heran.


"Entah mungkin perasaanku aja atau gimana. Ku rasa kamu berubah akhir-akhir ini. Kamu terkesan mengindariku. Apa aku ada salah?" Ucap manja Reyhan dan berdiri mendekat ,memeluk Tasya dari belakang.


"Tak ada kok. Bukannya menghindar, Rey. Tapi aku memang lagi sibuk kali. Orderan selalu banyak." Jelas Tasya mencoba memahamkan suaminya, menunjuk daftar pesanan yang ditempel dipintu kaca. Meskipun nyatanya memang ada alasan lain. Kedatangan Arfan kembali telah mampu menyita pikirannya. Merubah mood dan menggoyahkan pendiriannya.


"Tu.... Bukannya sudah ku bilang kalo aku ini suamimu. Sejak kapan panggilan itu datang lagi?" Protes Reyhan tak suka. Meletakkan dagunya diatas bahu Tasya, dengan tangan melingkar mengusap perut Tasya yang sudah ada kehidupan didalamnya. Meskipun belum nampak membuncit.


"Maaf. Keceplosan sayang." Kata Tasya meralat ucapan.


"Aku sudah lama menunggu lo."


"Menunggu apa?" Tambah bingung. Tak paham arah ucapan suaminya itu.


"Menunggumu cerita."

__ADS_1


"Cerita apa?"


"Apa aja yang membuat istriku ini berubah." Ucapnya lirih, mengeratkan pelukan.


"Tak ada yang perlu diceritakan." Jawab Tasya, tangannya menyentuh tangan suaminya yang ada diperutnya. Berfikir mencari alasan. Tak mungkin menceritakan perasaannya yang gamang.


"Apakah itu rahasia? Meskipun aku adalah suamimu?"


"Tak ada rahasia Ay."


"Bohong dosa lo. "


"Aku nggk bohong." Mengelak.


"Tapi aku beberapa kali melihatmu menangis saat berdoa. Pasti ada masalah kan? Aku tahu, Allah adalah tempat terbaik untuk mengadu. Tapi apakah suamimu tak perlu tahu? Siapa tahu aku bisa membantu kan?"


"Menangis tak selalu tanda punya masalah kan? Siapa tahu menyesali dosa besar?" Ya dosa besar saat masih mencintai lelaki lain selain suaminya. Bukankah itu termasuk dosa besar?


"Benarkah begitu?"


"Iya."


Diam. Menikmati pelukan Reyhan yang makin mengerat, yang membuat Tasya sulit melanjutkan tugasnya. Bahkan dia mengendus leher Tasya yang tertutup. Yang membuat Tasya merasa geli.


"Ay, ini masih banyak lo. Kapan selesainya kalo begini?" Menggoyangkan bahu mengusir suaminya yang nempel terus.


"Kangen." Suara Reyhan parau.


"Ay..." Nada protes Tasya.


"Kamu mentingin pekerjaan terus dari pada suami. Udah berminggu-minggu ni tak dapat jatah, setiap malam selalu tidur duluan. " Kecewa Reyhan dan melepas pelukan. Berbalik badan dengan kesal. Dan berjalan meninggalkan istrinya. Dia bukan suami yang suka memaksa, meskipun dia berhak untuk itu.


Sedih? Pasti. Pastinya tak tega dan merasa bersalah melihat Reyhan yang kecewa. Dia suaminya. Dia selalu memenuhi tanggung jawabnya , namun ditolak saat meminta haknya. Tasya melihat Reyhan sampai menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


__ADS_2