
Mobil sudah melaju meninggalkan kediaman Tasya. Tasya sudah masuk kembali, tak bertanya ada apa dan kenapa. Bukannya tak mau minta bantuan, tapi Johan bukan orang gampang percaya sama orang yang baru ditemuinya. Apalagi saat tahu siapa wanita itu. Wanita yang sama persis dengan yang ada dalam poto milik David. Takut malah membuat masalah nantinya.
Rena mencoba membangunkan David yang ada dipangkuannya. Panik dan bingung saat wajah tampan itu tak juga membuka mata.
"Jo. Mas David kenapa sih? Sakit apa dia? Perasaan tadi pagi baik-baik saja." Tanya Rena panik. Dia nggk tahu harus ngapain. Hanya bisa berdoa dalam hati untuk kebaikan sang pujaan. Bergumam pelan memanjatkan doa.
"David kenapa sih Jo? Bilang Jo. Jangan diam aja." Seru Rena dengan air mata menggenang. Bingung, panik, takut, dan penasaran. Tambah rasa sebal saat melihat Jo hanya fokus mengemudikan mobil dengan cepat, tanpa menjawab ucapannya.
"Jo." Teriak Rena. Menyentuh wajah David yang pucat dan masih terpejam. Mengusap pipinya pelan dengan rasa takut akan kemungkinan terburuk.
"Bentar lagi sampai puskesmas terdekat." Beritahu Jo syarat akan rasa cemas. Sesekali melihat kebelakang untuk mengetahui keadaan saudaranya. Namun sama sekali tak menjawab pertanyaan, karena dia juga tak paham.
Kapan lagi bisa menyentuh pipi bersih ini? Batin Rena tersenyum kecut disela isaknya. Menatap lekat wajah dalam pangkuannya. Wajah tenang yang tampan, tanpa senyuman sinis dan tatapan intimidasinya. Jauh dari kesan dingin jika sedang terpejam begini.
"Nggk usah mengambil kesempatan dalam kesempitan." Ketus Johan yang melihat Rena membelai pipi dan rambut David. Tapi Jo sebenarnya tak marah, dia hanya menangkap ketulusan dalam sikap Rena.
"Aku coba membangunkannya. Nggk usah negatif thinking." Tampik Rena tak terima.
"Cih." Tak percaya Johan, dan kini sudah berbelok ke puskesmas terdekat dan berhenti. Kalo rumah sakit masih terlalu jauh dari sini.
"Ummmmh.." Lenguh David, lalu memegang kepalanya. Membuka mata pelan dan langsung melotot kaget saat melihat Rena diatasnya.
"Apa-apaan sih ini?" Bentak David dan langsung bangkit duduk. Menatap Rena dengan kilatan marah plus tak terima.
"Eh, kamu sudah sadar mas. Apa yang sakit? Atau pusing?" Tanya Rena masih cemas, berusaha selembut mungkin bertanya.
"Diam. Tak usah pegang-pegang." Tolak David kasar saat Rena berusaha meraih tangannya.
"Eh, dibantuin bukannya terima kasih malah marah." Cebik Rena dan memalingkan muka, menghindari tatapan tajam David.
"Bantuin atau modus?" Cibirnya.
__ADS_1
"Terserah. Emang kamu sakit apa sih? Atau tadi cuma tidur ya? " Tuding Rena tak kalas marah.
"Bilang aja kamu yang modus. Iya kan?" Tambah Rena lagi.
"Dasar cowok nyebelin. Kesel aku suka sama lelaki macam kamu." Cerocos Rena menumpahkan kekesalan.
Bukannya menjawab, David malah melotot tajam yang membuat Rena mengkerut takut. Tak berani bicara lagi, hanya diam menekuk muka. David mengingat kembali apa yang terjadi tadi. Teringat wajah dan tawa Thata yang tadi dilihatnya. Terdiam menunduk , mulai menyusun potongan-potongan kenangan yang berserakan. Lambat laun dia ingat kembali nama asli gadis itu, juga ingat alamat rumah juga beberapa kenangan bersama. Tapi kenapa dia disana?
David sama sekali tak berniat minta maaf sudah membentak dan menuduh Rena. Meskipun kini dia sudah ingat kejadian sebenarnya.
"Kita sudah sampai puskesmas. Mari ku bantu turun." Ucap Johan mengabaikan perdebatan dua orang itu. Membuka pintu mobil samping David dan menariknya siap memapah untuk berjalan.
"Aku nggk sakit Jo." Sentak David mendorong Johan menjauh. Menolak untuk turun.
"Kalo nggk sakit terus kenapa tadi pingsan?" Protes Johan.
"Aku nggk papa Jo. Kita pulang saja." Bersuara lirih dengan kata perintah.
"Udah sehat tu. Cuma modus." Rena yang menjawab kesal."
"Nggk tanya sama kamu." Bentak Johan, yang membuat bibir Rena makin mengerucut.
"Aku nggk papa. Kita pulang saja."
Johan menuruti perintah. Karena memang tak ada yang bisa memaksa David. Mobil melaju pelan meninggalkan pedesaan yang asri itu. Pedesaan yang mulai berkembang. Kendaraannya memecah jalanan lenggang perbukitan dan perkebunan, juga ada sawah hijau yang membentang luas.
Terang berangsur sirna tergantikan malam. Matahari sempurna tumbang diperaduannya. Meninggalkan jejak merah saga dicakrawala. Membiaskan warna indah memenuhi langit senja.
Didalam mobil hanya ada keheningan. Hanya suara deru mesin yang terdengar, pun tak ada musik yang mengalun menemani perjalanan seperti saat berangkat. Johan yang fokus menyetir dengan mata sesekali melirik spion depan memastikan penumpangnya baik-baik saja. David yang menunduk memikirkan gadis yang dilihatnya, dan tersenyum saat mengingat kepingan kenangan yang sesekali muncul abstrak dalam ingatan. Berharap banyak kenangannya akan datang sempurna. Yang akan mengantarnya kembali pada pelukan cinta yang indah. Sedangkan Rena menatap keluar jendela mengagumi indahnya ciptaan-NYA. Menikmati langit senja ditempat yang berbeda dari biasanya.
Johan menghentikan mobilnya saat menemukan mushola sederhana terdekat. Memenuhi panggilan muadzin yang menggema di udara. Hanya Rena yang tak turun. Tetap duduk dimobil dengan jendela kaca terbuka, menampakkan siluet senja yang mempesona.
__ADS_1
"Mau makan kue? Lumayan untuk mengganjal lapar." Tawar Rena membuka kue dari Tasya tadi dan menyodorkan kehadapan David saat mobil mulai melaju kembali. Merasa perutnya sudah lapar karena tadi siang tak makan. Hanya makan rujak yang malah bikin perih diperut.
Johan dan David hanya melirik kotak yang dibuka Rena. Dan fokus pada pikirannya lagi tanpa minat untuk mencicip. Kalo Johan pastilah tak minat, dia fokus mengemudi.
"Nggk mau ya udah. Padahal ini enak banget lo. Buatan Tasya itu super lezat." Kata Rena membanggakan temannya. Dan menarik kembali kotak yang dibukanya, untuk dinikmati sendiri.
"Tasya?" David menoleh demi mendengar nama itu. Melihat cake yang ada dalam pangkuan Rena. Apakah sekarang kamu sudah suka masak Tha? Tersenyum tipis melihat hasil buatan kekasih masa remajanya itu.
"Iya. Tasya. Mau coba? Dia buka pesanan juga lo. Siapa tahu nanti mau minat beli." Jelas Rena promosi. Mengambil potongan cheesecake dan menyodorkannya pada David.
David menelan ludah melihat potongan kue dihadapannya. Sebenarnya dia tak terlalu suka keju. Tapi mengetahui kalo itu buatan Tasya membuatnya ingin mencoba. Bahkan tergoda untuk mencoba. Ada rasa senang mengetahui Thatanya kini juga suka memasak.
Kamu buka usaha kue sekarang Tha? Tapi kenapa kamu dirumah tadi? Apa kamu sudah pindah? Atau jangan-jangan sudah berkeluarga? Tersenyum kecut saat pikiran terakhir datang.
"Mau nggk?" Tanya Rena menggoyangkan potongan kue yang hanya dilihat saja. "Nggk mau ya udah, ku makan sendiri." Menarik lagi.
"Mau lah." Menarik tangan Rena dan menyuapkannya kemulutnya dengan kue yang masih dalam pegangan Rena. Terkesan Rena menyuapinya.
Rena hanya mematung mendapat perlakuan David. Matanya berkedip-kedip tak percaya dengan yang dialaminya. Jantungnya sudah heboh bertalu. Sedangkan David hanya fokus menikmati rasa kue yang dimakannya. Mengecapnya dan menimang makanan yang masuk ke mulutnya. Mengangguk dengan senyum samar memuji rasa dari buatan sang kekasih. David sama sekali tak memperhatikan wajah Rena yang memerah salah tingkah. Tersenyum akan hal yang berbeda.
Wanita ini tak seburuk yang ku pikirkan. Jika seandainya kak Thata sudah move on darimu, Aku mendukung jika kamu dengannya Kak. Dia begitu gigih mendekatimu. Dan ku lihat perasaannya juga tulus tanpa tujuan yang lain. Tapi alangkah sakitnya dia kalo tahu orang yang dicintainya dan diperjuangkannya lebih memilih sahabatnya sendiri? Batin Johan saat melihat bangku belakang. Membuang nafas berat memikirkan kisah kakak sepupunya itu.
"Ah, jadi kangen Marta." Gumamnya mengulas senyum. Mengingat gadisnya yang juga super aktif dan terkesan cerewet. Tapi dia baik tak neko-neko. Yang pasti karena sudah ada cinta, makanya semua keburukannya termaafkan oleh kata cinta.
Bersambung
_______
Happy reading.
Jangn lupa tinggalkan Dukungan.
__ADS_1