Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Berkemas


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu. Kini waktunya untuk pulang, dan kembali pada rutinitas harian yang bagiku sangat menyenangkan.


Aku dibantu oleh Reyhan berkemas. Membawa banyak oleh-oleh untuk orang rumah. Untuk orang tua juga mertua, serta saudara. Tak lupa juga membeli untuk orang yang tetap sibuk ditoko kue meskipun aku sedang liburan.


"Ada apa sih?" Tanya Reyhan disela-sela mengemas barang. Yang membuatku menghentikan kegiatan dan menolehnya dengan raut bingung. Reyhan nampak duduk diam menghadapku. Menunggu aku bicara.


"Emang ada apa?" Jawabku mengernyitkan dahi tak paham, dan kembali melanjutkan kegiatan. Tak tahu kemana arah pertanyaannya.


Emang ada apa apanya? Aku bukan cenayang yang bisa memprediksi apa maksud pertanyaan ambigunya itu. Gerutuku dalam hati.


Terdengar Reyhan menarik nafas dalam. Dan berdiri, lalu berjalan mendekatiku. Duduk tepat disisiku. Dia jatah membereskan pakaian. Dan semua sudah dikemas rapi dalam koper. Sedangkan perjalanan pulang masih dua jam lagi jika menurut jadwal. Itu kalo tidak molor


Aku meliriknya yang pindah duduk, namun aku tak menghentikan aktifitas. Berusaha menerka apa yang dia maksud. Karena aku merasa tak ingin membicarakan apa-apa. Meskipun memang dari kemaren ada hal yang ingin aku bicarakan. Namun maju mundur dan gagal terucap.


"Kamu yakin tak ada hal yang sedang mengganggumu?" Tanyanya setelah duduk tepat disampingku. Bertanya dengan mimik serius banget.


"Emang aku nampak seperti orang yang sedang dalam masalah kah?" Todongku dan menghentikan pekerjaan yang memang sudah selesai. Memutar duduk menghadapnya.


Dia terdiam menatapku lekat. Aku dengan hati berdebar membalas tatapan matanya. Tatapan tajam yang jauh dari menakutkan.


"Emang kenapa kok tanya begitu? " Tanyaku menghentikan keterdiaman. Tak kuat melawan tatapannya yang makin lama makin membuat hati bergetar.


"Apakah aku nampak sedang ada masalah?" Tanyaku lagi dengan suara pelan. Masih mencoba membalas pandangannya yang tak mau lepas.


"Apakah kamu tak bahagia liburan bersamaku?" Pertanyaannya. Pertanyaanku dijawab dengan pertanyaan pula.


Ah, pertanyaan macam apa itu? Wanita mana sih yang tak bahagia diajak liburan? Meskipun mungkin teman liburan menjadi sebab penting rasa bahagia itu ada. Tapi ini liburan dengan suami lo. Apakah aku punya alasan untuk tak bahagia?


"Hah?" Aku tertawa pelan mendapat pertanyaan anehnya. Namun ku hentikan saat ku dapati dia masih diam melihatku. Aku kembali fokus. Mengikuti situasi serius yang Reyhan buat.


"Apakah aku punya alasan untuk tak bahagia?" Tanyaku pelan. Aku kecewa ditanya begitu. Aku merasa terluka ditatap setajam itu pada saat yang seharusnya bahagia dan mesra. Aku menunduk dalam.


Apakah aku bahagia? Jawabannya aku bahagia. Sungguh aku bahagia. Hanya saja setelah membaca rentetan pesan dari Arfan. Ada hal yang mengganjal. Ada hal yang selalu memenuhi pikiranku. Ada keputusan yang perlu aku pertimbangkan matang-matang.


"Aku tak tahu. Namun sikapmu seakan menunjukkan itu." Ucapnya hambar.

__ADS_1


"Sikapku yang mana? Dan kapan?" Tanyaku dengan suara tak suka.


"Entahlah."


Ku rasakan Reyhan menarikku kedalam pelukannya.


Maafkan aku Rey.


"Aku harap ini hanya perasaanku saja." Ujarnya pelan, dengan nafas berat.


Aku mendongak menatapnya. Menatap wajah yang entah menyimpan rasa yang seperti apa.


"Emang apa yang kamu rasa?" Tanyaku hati-hati.


Dia lebih mengeratkan pelukan. "Aku hanya merasa kamu tak menikmati liburan ini. Sering melamun saat sendirian. Memerhatikan ponsel secara sembunyi-sembunyi. Aku tak tahu apa yang kamu sembunyikan. Aku tak bisa menebak apa yang kamu simpan dan apa yang kamu rasakan. Makanya kini aku bertanya. "


"Apakah kamu bahagia dengan liburan ini? Atau lebih tepatnya apakah kamu bahagia menikah denganku? "


Diam. Reyhan terdiam setelah mengucapkan kalimat tanyanya. Aku pun terdiam. Tak ingin menanggapi. Ku Rasa saat ini Reyhan butuh aku untuk mendengar kata hatinya.


"Kamu tahu? Sakit hati itu bukan hanya saat ditinggal pergi. Atau melihat orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain. Tapi bagiku, jauh lebih sakit saat orang yang kita cintai tak bahagia bersamaku. Makanya aku hanya ingin memastikan kalo orang yang aku cintai bahagia mendampingi aku. " Curhatnya.


"Aku tak ingin ada penyesalan. Aku tak ingin ada rahasia diantara kita. Aku ingin kita hidup bersama dalam keterbukaan, biar tak ada kecurigaan. Bukankah langgengnya suatu hubungan karena adanya komunikasi yang bagus? Sedangkan kamu jarang sekali mau bicara atau curhat masalah yang mungkin terkadang membuat sikapmu berubah. Aku hanya ingin kamu bahagia. " Ucapnya terdengar tulus.


Aku menelan ludah berat mendengar penuturannya. Merasa bersalah belum bisa tulus menerima kehadirannya.


"Aku bahagia Ay. Aku bahagia memiliki kamu." Kataku akhirnya. Meskipun aku belum paham dengan apa yang kurasa. Apakah aku seriusan bahagia? Yang lebih tepatnya aku ingin bahagia. Ingin menciptakan kebahagiaan dalam hidupku.


"Kalo bahagia yang semangat dong. Diajak jalan-jalan tak semangat. Cuma terserah aja jawabnya. Diajak melihat keindahan laut tak mau. Memilih oleh-oleh juga semua aku yang milih. Hanya awal-awal datang aku melihat kamu menikmati dan antusias berada disini."


Reyhan ini bukankah benar-benar suami idaman? Dia tahu dan perhatian dengan semua yang pasangannya lakukan. Bahkan perubahan sikap aja sampai paham lo. Seharusnya aku menjadi wanita paling bahagia bukan? Jarang ada lelaki yang peka terhadap sikap istrinya. Meskipun tetap tak paham apa yang diinginkan tanpa diucapkan.


"Terus kamu nilainya aku tak bahagia gitu?"


"Terus karena apa dong?"

__ADS_1


"Mungkin karena capek. Tapi Alhamdulillah lo Ay. Sekarang kepalaku sudah jarang pening. Badan jarang lemas lagi. Bukankah itu kemajuan yang bagus? Dari pada liburan cuma tiduran dikamar kan? Bagiku ini sudah ekspresi yang sangat bahagia lo. " Ucapku semangat. Menarik diri dari pelukannya. Mengungkapkan perubahan yang menurutku sangat membahagiakan. Mengalihkan pembahasan yang entah apa yang dibahas.


Meskipun memang badan jadi cepat capek. Tapi paling tidak nggk seperti biasa yang setengah hari cuma tiduran. Mungkin memang aku harus mengawet energi. Tak memforsir tenaga dipagi hari, dan tepar disore hari.


"Benarkah begitu?" Masih tak percaya akan alasan yang aku sampaikan.


"Ah, kamu mah."


"Terus? Apakah sebelum pulang ada yang masih kamu inginkan ? Mumpung masih disini ni." Tanyanya lembut.


Aku memanyunkan bibir, berfikir. Aku ingin apa ya? Ku rasa semua yang ku inginkan sudah dipenuhi semua oleh Reyhan. Kini aku hanya ingin cepat pulang dan melihat keadaan toko selama aku pergi. Tapi tak mungkin kan aku bilang begitu? Nanti takutnya dia tersinggung. Karena nyatanya saat liburan pikiranku malah dirumah. Memikirkan perkembangan toko, juga masa depan toko.


"Apa ya? " Tak menemukan hal yang aku inginkan.


"Tuh kan? Tanda tak suka itu." Cemberut dia. Kenapa suamiku jadi ngambekan begini sih?


"Eh, Ay. Aku mau VCO asli dari sini aja lah Ay. Katanya disini penghasil VCO yang aman dikonsumsi ya? Bagus tu untuk kesehatan bumil dan debaynya. Bagus untuk meningkatkan imunitas. Siapa tahu bisa nambah energi dan aku tak terlalu capek lagi." Kataku mengingat manfaat VCO alias minyak kelapa murni yang bagus untuk kesehatan. Bahkan dianjurkan untuk bumil.


Reyhan nampak mengerjapkan mata pelan. Tak percaya dengan permintaan sederhana aku.


"Kenapa? Tak mau belikan ya?" Memasang muka kecewa.


"Bukan, bukan begitu. Tapi maksudnya V C O??"


"VCO alias minyak kelapa Ay."


"Owh. Minyak kelapa." Berfikir. "Bukankah minyak kelapa disana juga banyak ya?"


"Maunya yang dari sini. Tapi kalo nggk mau beliin ya udah."


Bersambung...


______


Maaf ya slow update.

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Semoga di bulan ini Allah meringankan semua anggota tubuh kita untuk melakukan ibadah dan kebaikan. Memaafkan semua kesalahan dan alpa.


__ADS_2