
Pagi hari aku hanya bermalas-malasan diatas tempat tidur. Setelah melewati malam yang panjang, pagi ini rasanya mata masih berat minta dipejamkan.
"Kita mau kemana pagi ini?" Tanya Reyhan setelah sholat subuh.
"Aku capek Ay. Mau tidur lagi." Jawabku malas dan menggerakkan badan yang terasa pegal-pegal. Menyimpan mukenah yang sudah dilipat, dan naik kembali ketempat tidur.
"Capek ya? Maaf ya, semalam terlalu semangat." Ucapnya minta maaf dan nyengir.
"Iya lah." Mengibaskan tangan, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh.
Aku kembali mengangkat kepala, melihat Reyhan yang masih duduk bersila menghadapku. " Kamu kalo bosan disini, jalan-jalan sendiri juga gak papa. Yang penting pulang bawa sarapan." Ucapku mengizinkannya pergi sebelum meminta. Dari pada dia bosan menunggui aku tidur kan? Selama ini Reyhan tak pernah tidur setelah subuh. Jadi biarlah dia jalan-jalan sendiri kalo mau.
"Ck." Decaknya dan berdiri, melepas sarung dan baju kokonya.
"Mau ngapain?" Tanyaku mendelik, waspada saat Reyhan hanya memakai celana pendek mendekatiku dan menyibak selimut. Aku menahan selimut agar tak terbuka.
"Apa sih?" Kembali menarik selimut yang ku tahan.
"Aku capek Ay." Rengekku sudah mikir macam-macam. Semalam Reyhan main tak kayak biasanya. Kayak tak punya rasa capek aja dia. Berulang kali.
"Ck. Bukan cuma kamu yang capek. Aku juga capek." Jawabnya dan kembali menarik selimut yang mulai ku lepaskan setelah mendengar penuturannya.
"Terus mau ngapain?"
"Ikutan tidur lah. Apa serunya jalan-jalan sendirian? Mendingan tidur meluk gulingku." Ikutan masuk dibalik selimut.
"Gulingnya jatuh tu ,Ay." Menunjuk guling yang dari semalam sudah terlempar kebawah. Bahkan pagi ini belum dibereskan.
"Itu bukan gulingku."
"Terus? Disini guling cuma satu." Ucapku bingung dan tak paham. Mengelilingkan pandangan mencari benda serupa. Namun kosong. Hanya itu yang ada.
"Aku mau meluk ini." Menarik tubuhku untuk kembali berbaring. Yang membuatku paham maksudnya.
"Aku manusia, bukan guling." Sungutku tak terima disamakan dengan benda mati.
"Ya lah. Guling yang bisa balas meluk itu yang aku cari. Yang bisa protes, yang bisa ngambek, juga bisa marah." Tuturnya dengan kepala yang sudah nempel ditempat kesukaannya.
__ADS_1
"Kapan sih aku marah ,Ay? "
"Emang tak merasa pernah marah?"
"Nggk."
"Ya udah kalo gitu, tak perlu diingatkan. "
Akhirnya pagi ini kami kembali melanjutkan mimpi dalam lelap. Berpelukan dibalik selimut mengusir dingin. Hingga terbangun saat perut sudah terasa lapar. Matahari sudah naik, bahkan cahayanya sudah panas menyengat.
Siang ini jadwalnya diving. Dan kurasa itu adalah saat yang sangat dinanti Reyhan. Nampak kali dia semangat dan bahagia. Terlihat sangat antusias akan kegiatan itu.
"Ayok yang dipake." Serunya semangat, menyuruhku memakai perlengkapan yang sudah disiapkan oleh team. Sedari tadi aku hanya menatap perlengkapan itu. Sedangkan Reyhan sudah memakainya lengkap siap terjun. Padahal belum sampai ke lokasi yang direkomendasikan.
"Aku disni aja lah." Tolakku. Meletakkan kembali alat-alat yang diberikan padaku.
"Gimana sih yang? Katanya kemaren setuju dan mau ikut? Kenapa sekarang nggk?" Protesnya kecewa. Padahal dia tadi semangat sekali.
"Aku mau lihat pemandangan dari sini saja lah." Kataku memilih menikmati pemandangan dari atas kapal yang berjalan menuju tempat yang bagus, yang disarankan oleh pemandunya.
"Ay. Kamu turun aja bareng yang lainnya. Aku nungguin disini. " Bujukku menghibur.
"Tak seru. " Ketusnya.
Entah kenapalah. Biasanya Reyhanku tak pernah memaksa apapun padaku. Baru kali ini dia ngebet banget ingin aku mengikuti acara ini. Namun sayangnya aku sama sekali tak tertarik.
"Ya serulah. Kamu aktifkan kameranya biar nanti aku bisa lihat keadaan dibawah sana. " Bujukku lagi.
"Kalo gitu kenapa nggk mereka aja yang ambil vidionya? Atau cari di you**be juga banyak." Masih dengan mode ngambek. Memalingkan wajah dariku. Sama sekali tak mau melihatku meskipun aku mendekat dan selalu berusaha dihadapannya.
"Beda dong Ay. Kan kalo kamu yang turun, bisa ada wajah kamu disana. Aku mau lihat itu." Rengekku membujuk. Memegang lengannya berharap dia mau menghadapku.
Ah, benar saja. Kini Reyhan melihatku yang duduk dihadapannya. Ku sunggingkan senyum terbaik untuk membujuknya agar tak gagal rencana yang telah dia buat.
"Tapi nggk papa kamu disini sendirian?" Tanyanya dengan mimik khawatir.
"Aku nggk sendirian Ay. Tu ada mereka." Jawabku menunjuk dua orang yang tak pake perlengkapan selam. Dua orang yang tetap jaga diatas.
__ADS_1
"Tapi aku ingin nyelam bersama kamu. Plis." Memohon. Ingin banget kayaknya. Dia bukan orang yang suka memaksakan kehendak, jadi kalo sudah meminta begini pasti dia ingin banget.
"Aku takut Ay. Aku disini aja. Takutnya nanti ada apa-apa sama dedek ,gimana?" Ku sentuh perutku yang mulai menonjol sebagai alasan.
"Iya juga ya." Ikutan menyentuh perutku dengan berfikir. "Ya udah kalo gitu. Kita jalan-jalan ke tempat lain aja. Yang penting berdua."
Hah? Kami sudah jalan ini. Masak harus putar balik?
"Kita sudah sampai. Disini paling cocok. Pemandangan dibawah masih bagus, belum tercemar." Kata pemandu menjelaskan.
"Tu Ay, sudah sampai kita. Aku nggk mau putar balik. Dedeknya mau Abinya nyelam. Perwakilan Ay." Bujukku.
"Okelah. Aku turun." Putusnya dan mencuri ciuman sekilas sebelum pergi, yang membuatku melotot protes karena dilihatin banyak orang. Malu lah, Tapi nampaknya bukan hal aneh kejadian begini. Nyatanya mereka biasa aja, hanya mengulum senyuman dan melanjutkan memberi interuksi.
Aku hanya duduk menunggu, menyaksikan suamiku terjun kelaut yang entah seberapa kedalamannya. Yang pasti cukup aman karena ditemani pemandu yang sudah berpengalaman dan dua orang penyelam yang lain.
Menemani bosan aku mengambil ponsel untuk mengabadikan keindahan panorama disini. Menyalakan ponsel yang sedari malam belum aku hidupkan. Karena Reyhan melarangku membawa hp saat acara makan malam. Tak ada photo-photo pake ponsel. Hanya dua kali diabadikan oleh fotografer yang memang sudah disediakan . Lagian otakku cukup mampu menampung tiap detai kejadian itu. Mampu merekam keindahan kebersamaan tadi malam.
"Hah?" Kagetku melihat ada sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor David begitu hp menyala. Juga ada chat berderet yang baru terbuka. Hanya ada pesan dari dia, tak ada yang lain.
Kalo abah dan bunda tak akan telpon kalo bukan aku yang menelpon duluan. Aku telpon aja cuma ngomong bentar. Tak mau ganggu liburan katanya. Ah, aneh memang.
"Kenapa sih dia?" Membuka chat yang ada dengan tangan sedikit bergetar. Entahlah. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Aku ingin mencintai suamiku seutuhnya. Itulah tekadku. Namun bohong jika aku biasa aja saat membaca chat dari dia.Bohong jika tak penasaran ada apa saat dia melakukan banyak panggilan. Aku penasaran, dan jantungku berdegup tak karuan.
Aku membaca perlahan deretan huruf yang dia kirim dengan hati berdebar. Melirik air, takut kalo ketahuan suami. Namun belum ada tanda Reyhan akan muncul.
Dari banyaknya kata yang dia kirim. Intinya hanya satu. Dia berniat mengajakku kerja sama dalam bisnis. Bisnis kue yang ku punya, bekerja sama dengan restaurant baru miliknya yang bertempat tak jauh dari desa kami.
Dia juga memberikan alamat sebagai tempat jumpa merundingkan keputusan ini. Dan dia minta aku yang menentukan waktunya.
Aku sedikit bisa bernafas lega, karena Arfan sudah tak lagi membahas hubungan kami. Namun aku tetap dilema. Membaca ulang pesan berderet yang dia kirim. Menimang keputusan. Diterima atau ditolak? Tapi ini kesempatan bagus untuk mengembangkan usaha.
"Gimana ya? Tapi kan ini bisnis. Tak usah melibatkan hati." Gumamku. Apakah aku bisa melakukan bisnis dengannya tanpa melibatkan hati? Apakah Reyhan mengizinkanku berbisnis dengannya? Apa yang harus ku jelaskan?
Aku masih terdiam menatap hp yang sepi. Membaca berulang hingga hapal tiap kata yang dia kirim.
Tapi, apapun keputusanku. Aku harus diskusi dulu dengan suami.
__ADS_1