
"Gimana kabarnya? Sehatkan? Baik-baik dengan suami?" Tanya Rena saat kami sudah duduk berhadapan didalam restaurant. Makanan penasanan sudah disajikan.
"Alhamdulillah sehat. Kamu sendiri? Hubunganmu dengan David makin maju aja kayaknya." Mengingat Rena sudah bisa jalan bareng dengan ibu gebetan dia. Pastilah hubungannya bukan sekedar gebetan kan? Mungkin sudah mulai ada kemajuan yang signifikan.
Rena malah mendesah, membuang nafas kasar.
"Kenapa? " Aku belum paham apa yang terjadi. Heran melihatnya bermuka sedih, bukankah harusnya bahagia?
"Hubunganku dengan mas David sampe sekarang tak ada kemajuan. Jalan ditempat aja." Ceritanya tanpa semangat. Merengut.
"Terus yang tadi? Keluarga gebetan baru?" Heranku. Masak jalan ditempat? Udah diajak jalan ama keluarga gitu kok.
"Enak aja. Emang aku cewek apaan? Ini juga salah satu usahaku tau." Memukul pelan lenganku dengan sendoknya.
"Terus?" Penasaran.
"Ibu dan adeknya itu orang baik, jauh banget dengan David yang tak tersentuh. Tante Keysa menerimaku dengan baik, dan akan membantuku untuk membujuk David agar mau menerimaku. Meskipun juga tak menjanjikan bisa berhasil sih. Karena untuk urusan jodoh tante Keysa tak bisa memaksa kehendak." Ceritanya dengan muka sedih. "Tapi siapa tahu dengan bujukan ibunya, dia akan membuka hati."
"Terus kenapa sampai sini?"
"Nemenin tante Keysa yang akan melihat rumah almarhum orangtuanya. Mau direnovasi katanya. Rumahnya udah buruk banget."
"Udah tengok rumahnya?"
"Udah. Kurang lebih satu kilometer dari sini."
Meskipun kalo makan tak boleh banyak cerita. Tapi kami makan diselingi cerita. Curhat setelah lama tak saling sapa. Ingin tahu kabar kedua belah pihak setelah lama tak jumpa. Bukan hanya sekedar kabar fisik yang sehat atau tidak. Tapi juga kabar percintaan dan pekerjaan.
Hening. Menghabiskan makan yang tinggal beberapa suap. Menyedot minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokan.
"Aku jadi penasaran." Ucapku mendorong menjauh piring yang sudah kosong, mendekatkan gelas.
__ADS_1
"Penasaran apa?" Mengunyah makanan terakhirnya.
"Penasaran dengan David mu itu. " Jawabku dengan menekankan nama lelaki yang membuat sahabatku jatuh cinta.
"Owh."
"Setampan dan semenarik apa sih dia? Hingga segitunya kamu berusaha menaklukkan dia. Berulang kali ditolak tetap aja tak mau move on." Cibirku.
"Tak usah ketemu lah. Nanti kamu ikutan jatuh cinta kan payah. Sainganku sudah banyak, tak mau nambah. Tapi saingan terberatku hanya ada dalam angan-angan."
"Aku udah punya suami, tak bakal jadi saingan. "
"Owh, udah mengakui suaminya ini. Gimana-gimana?" Sudah kembali semangat dan mencondongkan badan siap mendengarkan cerita.
"Gimana apanya?" Memundurkan badan. Kenapa sekarang sudah semangat aja? Baru tadi sedih saat menceritakan kisah cintanya.
"Halah. Udah menerima lelakimu itu? Lagian dia tampan kok." Membayangkan Reyhan saat acara pernikahan dulu. Kan memang cuma waktu itu Rena bertemu dengan Reyhan.
"Hallah. Setuju juga karena paksaan." Menampik kata-kataku. Dulu memang aku pernah cerita dengan Rena, meskipun tak sering. Yang sering itu Rena yang curhat padaku. Bahkan aku termasuk orang yang dipilih untuk teman curhat bagi sebagian besar teman kerja dulu. Karena aku bukanlah perempuan yang suka gosip. Jadi cukup aman rahasia yang diceritakan padaku.
"Yah. Aku nggk punya alasan untuk menolaknya. Dia baik kok, meskipun tak juga dibilang romantis."
"Alhamdulillah kalo begitu. Berarti udah bisa move on dari Arfan." Ucapnya tulus. Ikutan bahagia mendengar ceritaku.
"Arfan tetap memiliki tempat tersendiri dihatiku. Aku tak akan pernah lupa semua tentang dia. " Ucapku lirih, menarik nafas berat. Menerawang pada kisah lalu yang masih terekam jelas diingatan.
"Jangan gitu, Sya. Kasihan suamimu. Lupakan Arfan. Toh udah ada Reyhan yang tak kalah tampan dan pengertian." Nasehatnya.
"Kenapa kasihan? Aku sudah melakukan semua tugasku sebagai istri. Haknya sebagai suami sudah terpenuhi. Kasihan kenapa?" Tak terima dengan ungkapan Rena.
"Seandainya suamimu tahu kalo kamu masih menyimpan nama lelaki lain dihatimu. Pasti dia kecewa dan marah kan?" Mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Kenapa harus kecewa dan marah? Apakah karena cemburu? Untuk apa cemburu pada orang yang udah hilang entah dimana." Menyanggah kemungkinan itu.
Aku tak merasa bersalah kok. Meskipun sesekali aku masih mengingat dan memikirkan Arfan, toh aku tak pernah mengabaikan tugasku sebagai istri. Hatiku hanya aku yang tahu. Biarkan Arfan tetap tersimpan rapat dihati, dan Reyhan pun akan memiliki tempat tersendiri dalam hidupku. Karena dia suamiku.
"Sya. Kamu tahu nggak kenapa aku sulit menggapai David?" Tanya Rena dengan muka berubah serius, dan menyimpan kesakitan dalam sorot matanya.
"Ya karena David tak tertarik padamu. Dia udah punya cewek lain kali." Jawabku asal. Tak peduli ucapanku menyinggung Rena. Lagian lelaki tak hanya David aja. Kenapa menghabiskan waktu mengejar lelaki yang tak pernah melihatnya ? Semoga Rena cepat sadar. Masih banyak lelaki yang mau menerimanya dengan tulus. Dia cantik dan hamble. Berpenghasilan lagi. Juga anaknya orang kaya.
"Kamu salah, Sya. " Ucapnya menunduk dalam.Memainkan kuku-kuku panjangnya.
"Kenapa dia tak mau melihatku? Karena dia selalu menunggu cinta pertamanya yang entah dimana dan siapa? Dia masih berharap gadisnya itu datang padanya lagi. Padahal nama gadis itu pun dia tak ingat, Sya. Sakit kan? sakit banget, Sya." Menyentuh dadanya dan meremasnya. Seakan didalam dada itu ada tangan yang siap meremukkan hatinya.
"Kok bisa menunggu orang yang dia aja tak tahu? Sakit tu cowok kamu Re."
"Awalnya aku mau menerima apapun tentang dia. Siap pergi saat wanita pujaannya datang lagi. Dan akan selalu menemani sepanjang penantiannya. Tapi dia menolak, karena tak bisa berjanji untuk membalas cintaku. Bagaimana sih Sya rasanya bersaing dengan orang yang udah hampir terlupakan? Dia hanya ingat wajahnya, tidak namanya. Sedangkan bertambahnya usia seseorang, terkadang banyak perubahan yang terjadi pada fisik kan? Bagaimana cara mengenalinya? Bahkan sepenggal kenangan dengan cewek itu pun dia tak ingat. Aku heran dengan dia. Tapi paling tidak satu nilai positif untuk David. Dia SETIA."
Aku berfikir. Sangat malang nasib Rena yang sama sekali tak kenal rivalnya. Bersaing merebut hati David, tapi sama sekali belum mengerti dan belum tahu kelebihan dan kekurangan saingannya.
"Tapi... Kenapa dia tak ingat namanya? Bahkan tak punya kenangan sama sekali." Tanyaku heran. Ada ya cinta seperti itu? Hanya ingat wajah orang yang berarti dimasa lalu, tanpa mengingat kenangan bahkan namanya. Bagaimana cara dia mencintai? Cinta dengan apanya?
"Kata Tante Keysa dia pernah mengalami kecelakaan. Dan lupa ingatan. Ingatan tentang gadis tanpa nama itu pun terlupakan. Tapi kata tante dia menyimpan satu foto kebersamaannya dengan perempuan itu, dengan tulisan kalimat cinta dibelakangnya. Tante Keysa juga tak kenal dengan gadis itu."
"Aneh sih. Hanya karena foto dia menyimpulkan cinta dan menunggu lama? Bagaimana kalo si wanita sudah menikah? Atau mungkin dulu hanya pertemanan atau bisa jadi cinta bertepuk sebelah tangan? " Ucapku menilai orang yang Rena cintai.
Aku jadi teringat dengan kisahku sendiri. Menunggu lama lelaki yang dulu ku cintai. Yang entah ada dimana kini. Tapi aku memilih berhenti. Lelah menanti dia yang tak kunjung kembali. Meskipun masih ada sebersit harapan untuk sekedar melihatnya lagi.
"Begitulah gilanya Cinta. Jadi aku harap kamu hargai cinta suamimu yang sekarang menemanimu. Lupakan dia. Sakit banget bersaing dengan masa lalu yang entah ada dimana, Sya. Hargai dia! "
_____
Selamat membaca. 🤗🤗🤗
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, gift, dan vote nya. 😍😍