Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Masa Lalu Reyhan 2


__ADS_3

Bunda langsung lemas. Tak ada suara ratapan, juga tak ada air mata. Bagai orang linglung. Menatap kosong mbok Lastri yang dihadapannya.


"Sabar mbk." Merengkuh tubuh Bunda yang syok dengan kabar yang didengarnya. "Tuhan lebih sayang dengannya. Dia orang baik, insyaAllah mendapat tempat terbaik pula. Kita hanya bisa berlapang dada." Berucap menenangkan. Berusaha mati-matian menahan air mata yang juga siap jatuh.


Reyhan luruh, duduk melantai dengan air mata yang menggenang. Tulangnya serasa hilang, tak mampu sekedar menopang berat tubuhnya.


"Ayah.." Hanya itu sebutan yang keluar dari bibirnya yang bergetar. Hilang sudah harapan mendapat sepatu roda baru sebagai hadiah kelulusannya. Hilang sudah harapannya melihat ayah pulang menepati janjinya.


"Ayah tak akan mengingkari janji kan?" Tanyanya pada diri sendiri. Memeluk kakinya yang dilipat, menyembunyikan wajahnya dilipatan kaki. Menyembunyikan sesak didada yang kian menghimpit, sakit.


" Ini bohong kan mpok? Katakan kalo ini hanya lelucon mpok. Mas Adam pasti pulang. "Seru Bunda melepas pelukan mpok Lastri, menggoyang kasar badan mpok Lastri yang dihadapannya. Menyangkal kabar yang didengarnya. Namun mpok Lastri tak menjawab, hanya pandangan kesedihan yang tergambar diwajahnya. Masih tanpa air mata, hanya ada tawa sumbang yang mengerikan setelah melihat jawaban mpok Lastri.


"Sabar mbk." Kembali memeluk Bunda untuk menenangkan. Barulah tangis Bunda pecah, air mata mengalir deras setelah mampu mengembalikan kesadarannya. Mampu mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Meyakini kalo ini bukan lelucon. Lagian tak lucu sama sekali menjadikan kematian sebagai bahan lelucon.


Melihat tangis Bunda membuat Reyhan semakin sedih. Dadanya semakin sakit. Berat menerima kenyataan pahit ini. Ayahnya yang selama ini kerja merantau demi mencukupi kebutuhan mereka, kini harus pergi untuk selamanya. Ah, setidaknya begitulah yang dipahami Reyhan. Karena Reyhan tak pernah tahu kalo ayahnya pergi untuk mengurus anaknya yang lain.


"Dimana dia, mpok? Aku ingin ketemu. Biarkan aku memastikan sendiri." Tegas bunda menghapus kasar air matanya. Dengan mata yakin dan meminta bantuan untuk menumpang sampai ketempat ayah tinggal. Karena Mpok Lastri termasuk orang kaya didaerah sini. Paling tidak hanya dia yang punya mobil dijalur kontrakan ini.


"Ayok kesana serempak. Aku juga akan ta'ziah kesana." Ajak mpok Lastri.


Reyhan menutup pintu. Tanpa mengganti seragam sekolahnya. Begitu pun bunda masih pakai baju yang sama saat menemani Reyhan mengambil hasil kelulusan.


Sebenarnya tak terlalu jauh jarak kontrakan Reyhan kerumah ayahnya. Cukup memakan waktu perjalanan tiga jam sudah sampai. Melewati jalanan berliku pegunungan. Tepat dirumah besar dikelilingi kebun teh mobil berhenti.


Reyhan melihat sekitar. Mengingat kembali kalo dua bulan lalu dia diajak ketempat ini untuk liburan, sekaligus menghadiri pesta pernikahan. Terlalu senang diajak liburan ke kebun teh yang jarang ia singgahi, Reyhan jadi lupa menanyakan kenapa dia harus hadir diacara pernikahan itu. Tak terlalu peduli, anggap aja cari makan enak gratis.

__ADS_1


Halaman sudah penuh orang-orang yang ta'ziah. Duduk diatas kursi yang berjajar dengan muka menunduk sedih, juga ada yang duduk diatas tikar yang digelar.


"Kok disini lagi?" Reyhan masih mengenali alamat rumah ini. Mencoba menggabungkan kepingan kenangan dan mengambil kesimpulan. Tapi ternyata masih banyak yang tak ia ketahui. Masih banyak butuh kejelasan.


Bunda berlari masuk kerumah, melewati deretan orang tanpa salam. Ditengah-tengah ruangan kosong, tak ada tanda jenazah disana. Hanya ada beberapa orang yang melafazkan ayat suci Al-Quran.


"Dimana mas Adam?" Tanya bunda histeris. Tanya pada semua orang, namun tak ada yang sudi menjawab. Malah mendapat pandangan miris dari semua yang hadir. Menjadi pusat perhatian. Hingga datang seorang lelaki tak dikenal menghampiri.


"Maaf, bu. Silahkan duduk diluar! "Perintahnya dengan halus namun tegas. Mendorong pelan tubuh ringkih bunda keluar ruangan itu.


"Aku mau lihat mas Adam." Balas Bunda tak kalah tegas, dengan mata yang sembab dan pipi berjejak air mata. Mempertahankan langkahnya.


"Maaf, disini khusus untuk keluarga mayat. Yang lain silahkan duduk diluar." Menunjuk kursi berderet dan tikar dengan ibu jarinya.


"Aku ini istrinya pak. Aku ingin lihat mas Adam sekali saja." Rengek Bunda memohon, menarik tangan bapak tadi dengan penuh permohonan.


"Kenapa kami tak boleh masuk, pak? Aku ingin lihat ayah. Aku ingin memastikan yang meninggal adalah ayahku atau bukan." Ucap Reyhan meminta simpati.


Lelaki itu nampak berfikir sejenak. Dan memperhatikan bunda dan Reyhan bergantian. Mempertimbangkan.


"Tolong pak. " Memohon.


"Maaf, mayat sedang dimandikan. Hanya anak-anaknya beserta saudara-saudaranya yang boleh mengurusnya. Kalo hanya mau melihat seharusnya datang dari tadi." Tak bisa membantu. Menangkupkan tangan didepan dada sebagai kata maaf.


"Tapi aku istrinya." Ucap bunda lirih. Hampir tak terdengar.

__ADS_1


"Mana buktinya?" Tanyanya.


Tak ada bukti. Mana sempat membawa bukti surat nikah saat mendengar kabar genting itu? Yang lebih tepatnya karena memang tak ada. Tak pernah ada surat nikah. Pernikahannya tak tercatat dikantor sipil. Hanya menikah secara agama. Karena tak dapat restu dari semua anaknya.


"Buktinya aku. Buktinya ada aku anaknya. Bagaimana mungkin aku ada kalo bunda ini bukan istrinya?" Tegas Reyhan hampir tersulut emosi. Marah saat melihat ada yang mempertanyakan kejujuran bunda. Merangsek maju siap menendang. Reyhan kecil sudah mulai belajar karate.


"Disini lagi berduka, jangan jadikan kesempatan untuk mengambil keuntungan pribadi. Kalo mau bikin onar jangan disini." Hardik kasar lelaki muda yang baru datang. Reyhan tak mengenal wajahnya. Baru kini bertemu.


"Emang siapa yang mencari kesempatan? Kami yang paling berduka disini." Reyhan makin emosi. Melangkah maju, namun ditahan oleh Bunda. Mendekapnya dari belakang dan menariknya keluar. Memeluk erat hingga sampai pada kumpulan yang lain.


"Kenapa Bunda malah keluar? Aku ingin memastikan apakah benar ayah yang meninggal. Kalo memang ayah kenapa kita dilarang masuk." Marah Reyhan. Melepas kasar pelukan bunda. Namun luluh saat melihat wajah sedih Bunda dan menatapnya penuh permohonan untuk mengerti. Tak mungkin bisa marah pada ibu yang sedang berduka.


"Dia ayahmu nak. Nanti kamu juga akan tahu. Maaf kalo selama ini Bunda menyembunyikan kebenaran ini darimu. " Bunda kembali memeluk anak bungsunya. Yang hanya bisa terdiam menurut mau diperlakukan bagaimana.


Bagai mana rasanya tak boleh mendekat saat proses pengurusan jenazah ayah kita? Sakit banget rasanya.


"Kita disini aja." Mengajak Reyhan duduk tanpa melepaskan pelukan.


Hanya bisa menatap dari kejauhan tubuh berbungkus kain digotong dari belakang, selesai disucikan. Bahkan tak nampak lagi saat jasad orang yang kita sayang akan dibungkus kain kafan. Hanya lihat sekelebat lewat. Tahu-tahu sudah dibujurkan untuk disholatkan.


"Bunda " Suara bang Rasya yang baru datang. Juga masih pake seragam sekolahnya.


"Maafkan Rasya datang telat, bun." Ucapnya bersalah. Bunda hanya menggeleng sebagai balasan.


"Ayah, Ra." Tangis Bunda kembali pecah. Gantian memeluk anak sulungnya.

__ADS_1


"Iya, gpp. Yang penting do'anya, Bun. " Menepuk pelan punggung Bunda. Secara tubuh Rasya lebih besar dari Reyhan. Makanya masih mampu mensejajari Bunda saat berpelukan. Sebenarnya umur tak beda jauh. Hanya selisih dua tahun. Tapi Rasya menang tinggi, sedangkan Reyhan menang tampan. Eh?


"Abang tahu kenapa kita dilarang masuk?" Tanya Reyhan menyelidik. Kayaknya hanya dia yang tak paham disini.


__ADS_2