Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Sunset


__ADS_3

Aku dan Reyhan memasuki rumah yang masih banyak perkakas pembangunan. Lantai belum tertutup granit semua, masih banyak tempat berpasir dan berdebu. Langit-langit ruangan masih banyak kelupasan berwarna hitam. Belum dibersihkan. Dan beberapa stager masih ada didalam ruangan ini. Berantakan sekali.


Aku pindah dari satu ruangan keruangan lainnya. Jalan pelan-pelan, kadang menjinjit, kadang pula melompat menghindari paku yang sesekali terlihat. Juga potongan kayu, dan baja , serta pecahan granit yang berserakan.


Sedangkan Reyhan menjelaskan ruangan-ruangan apa saja yang kami lewati. Aku hanya menjadi pendengar yang baik, dan mengamati setiap ruangan yang semua masih sama, karena kosong dan kotor. Membayangkan akan diisi apa setiap ruangan yang ada, dan stiker motif apa yang akan menghiasinya. Ah, bahagianya.


"Cukup luas sih Ay." Ucapku takjub melihat setiap ruangan yang ada. Rumah yang ku perkirakan seluas 120 m², dua lantai. Cukup luas untuk kami tinggali berdua. Atau nampak luas karena masih kosong setiap ruangannya? Entahlah. Tapi untuk ukuran orang sederhana seperti kami ini cukup luas.


"Kalo luasnya sih masih luas rumah bang Rasya. Hanya ini tambah lantai diatas. Biar punya halaman yang cukup luas. " Jelas Reyhan menjelaskan. Aku hanya menggut-manggut.


Kini kami tiba diruangan paling akhir. Kalo ruangan atas tak ingin tengok, karena tangganya yang belum berpagar, pun papan cor belum terlepas. Masih ngeri kalo mau naik.


"Ini ruangan yang paling luas ya, Ay?" Memperhatikan dan membandingkan ruangan ini dengan yang lainnya.


"Ya. Ini calon dapur. Awalnya sama dengan ruangan yang lain. jika dipotong untuk kamar mandi belakang, plus tempat cuci baju, dan ruangan untuk nyetrika. Tapi tak jadi, karena kamu suka dengan masak, dan akan sering didapur. Jadi ini semua khusus dapur. Dan nambah dibelakangnya untuk kamar mandi dan yang lainnya. Untuk nyetrika dikamar atas aja." Jelas Reyhan sambil menunjuk masih ada ruangan kecil disamping pintu keluar.


Aku senang dengan kejutan yang diberikan suamiku. Aku tak menyangka Reyhan sudah membangun rumah sebelum menikah denganku. Selama ini aku menilai rendah suamiku yang hanya kerja jadi guru swasta. Ternyata rezeki tak ada yang tahu kan?


"Gimana? "


"Syuka sayang. Makasih lo." Memeluknya dengan mata berkaca karena bahagia. Tak bisa berkata-kata lagi aku. Impian setiap ibu rumah tangga adalah punya rumah sendiri bukan?


"Iya sama-sama. Toh ini untuk kita lo, jadi nggk usah makasih juga lah." Membalas pelukanku, dan mencium puncak kepalaku yang tertutup jilbab.


"Tapi aku bahagia. Jadi aku mau bilang makasih udah mengabulkan cita-citaku ingin punya rumah sendiri." Ucapku tulus.


"Aku udah persiapkan sejak melamar kamu pada abah." Jawab Reyhan mengurai pelukan. Menghapus air mata yang mengalir karena bahagia. "Udah nggk usah nangis. Kebanyakan nangis bikin cepat tua "


"Ih, bilang aja mau ngatain kalo aku udah tua." Balasku manyun, mencubit pelan perutnya. Menghapus air mata, mengelap ingus yang ikutan berpartisipasi.

__ADS_1


"Aku nggk bilang lo. " Balasnya sambil tertawa. "Jangan cubit-cubit ah. Sakit tau." Mengusap bekas cubitanku.


"Kapan kira-kira jadinya?" Tak sabar ingin membangun rumah tangan sediri. Menguasai setiap ruangan , bebas mau diisi apa aja, dan mau disusun bagaimana aja.


Tapi kenapa tempatnya dekat dengan rumah Arfan? Dan rumah itu katanya mau dibangun kembali. Siapa yang bangun? Arfankah? Atau tempat itu sudah berpindah kepemilikan? Satu kenyataan yang mengusikku. Namun tersamarkan dengan rasa bahagiaku.


Lupakan. Lupakan. Lupakan. Mencoba memaksa diri melupakan soal dia. Meskipun nyatanya tetap menyita perhatianku.


"Kenapa memang ? tak sabar ya?" Pertanyaan Reyhan terabaikan. Kepalaku sedang fokus memikirkan rumah masa depan dengan rumah kenangan yang berdekatan. Mau jadi apa nanti?


"Yank?" Reyhan menyentuh pundakku, yang membuatku terjingkat kaget. " Kamu melamun? Mikirin apa sih? Ada yang kurang ya?" Tanyanya mendapati aku yang kembali tak fokus.


"Ng nggk kok. Nggk ada yang kurang. Hanya lagi mikirin..." Jawabku sedikit tergagap, dan berfikir mencari alasan.


"Mikirin apa?" Bertanya penasaran, dengan senyum menggoda.


"Itu... Mikirin.." Bingung dan gelagapan, yang langsung disambung olehnya. Tak sabar menunggu penjelasan.


Aduh. Kenapa Reyhan jadi ngelantur gini sih ngomongnya? Aku hanya tersenyum tak nyaman. Yang dijelaskan dan yang terjadi beda sih.


"Bener nggk? Atau mikirin yang lain?"


"Nggk kok. Eh, iya. Mikir itu tadi. Menjalani hari dirumah baru kita tanpa kakak ipar ." Balasku mengiyakan ucapan Reyhan.


cup.


"Makasih." Satu kecupan mampir dipipiku, yang membuatku malu. Meskipun bukan lagi ciuman yang pertama, bahkan sudah berkali-kali melakukannya. Tetap aku masih merasa asing dengan kegiatan itu. Selalu menjadi hal yang teristimewa bagiku.


"Ya udah. Mau disini aja atau pulang nih? Udah mau malam lo." Mengingatkan kalo kami disini udah cukup lama. Bahkan matahari sudah hampir sampai keperaduannya.

__ADS_1


______


Matahari udah sampai diufuk barat. Meskipun belum sempurna menghilang, namun sudah mengurangi intensitas panas yang ditimbulkan cahayanya. Menyisakan rasa hangat pada badan yang lelah setelah seharian bekerja.


Sore hari tanda usainya jam kerja untuk Rena. Berkemas pulang untuk mengistirahatkan badan yang seharian duduk menerima pengunjung. Mengulas senyuman pada setiap yang datang. Beramah tamah menjelaskan pada yang bertanya.


Merenggangkan badan, memutar kekiri dan kekanan untuk mengurangi pegal. Berjalan menuju mobilnya. Dengan cepat melajukan mobilnya dijalanan padat karena jam pulang kerja.


Malas terjebak kemacetan, Rena membelokkan kendaraannya menuju panorama pantai yang tak jauh darinya. Dan yang pasti dekat jalan raya dan tak padat lalu lintas.


"Sekarang aku sendirian disini, Sya. Biasanya disini menjadi tempat favoritmu untuk mengusir sepi. Kini aku yang menggantikan. " ucap Rena dengan tawa sumbang. Mencoba menekan sakit dan kecewa karena selalu diabaikan dan ditolak.


Rena menatap pantai dengan matahari berwarna putih kemerahan diatasnya. Seluas laut yang membentang, memantulkan sinarnya. Berwarna sama dengan pemilik cahaya. Menciptakan warna yang menakjubkan.


"Kamu benar ,Sya. Melihat sunset bisa melupakan sejenak kesedihan. Proses tenggelamnya matahari membuat kita punya harapan akan hari esok yang lebih terang, setelah melewati pekatnya malam." Gumam Rena dengan senyum samar. Menyandar pada bebatuan menikmati pergantian siang dan malam. Menikmati keindahan senja meskipun hanya sekejap mata.


Setelah puas menikmati sunset. Rena mampir sejenak ke masjid untuk menunaikan kewajiban. Lalu melajukan kendaraannya menuju pulang. Sejak kenal dengan Tasya dia sering mampir kesini. Awalnya hanya sibuk main hp, mengaktifkan kamera mengabadikan banyak gambar diri. Tapi kini memilih menikmati pergantian alami ini dengan hati. Mencari ketenangan dengan mentadaburi kuasa Illahi.


Mobil melaju pelan dijalanan yang tetap masih padat, meskipun sudah tak macet. Berbelok kerestaurant yang sudah sering disinggahinya. Restaurant yang mempertemukannya dengan lelaki yang membuatnya jatuh cinta.


"Sibuk banget kayaknya?" Sapa Rena pada pemilik Resto yang sedang sibuk dibalik meja kasir. Padahal biasanya dia cuma duduk dan memerintah. Cukup memantau kinerja para karyawannya.


"Kalo mau pesan makanan silahkan duduk ditempat yang sudah disediakan." Tegur David tanpa menoleh Rena. Tapi dia sudah paham siapa yang datang dan berani mengganggunya.


Hanya Rena. Dan selalu Rena yang berani mengganggu kesendirian dan kesepian David. Meskipun banyak wanita yang datang, tapi sekali tatapan penolakan dan bentakan kecil membuat mereka mundur teratur. Rena memang lain dari pada yang lain.


"Disini juga ada tempat duduk, aku mau duduk disini." Kekeh Rena, dan tetap duduk disamping kursi David. Memanggil waiters untuk memesan makanan.


"Bilang aja mau makan gratis." Sinis David mencaci, tetap tanpa melihat yang diajak bicara.

__ADS_1


"Eh kapan ya aku makan gratis disini? Selama ini bayar terus gitu kok?" Jawab Rena nyolot. Tak terima minta gratisan. Meskipun tak menolak jika dikasih gratis, makanan yang berharga super mahal ini.


"Heh, situ lupa kapan makan gratis disini?"


__ADS_2