Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Memaksa Pergi


__ADS_3

"Nit. Nanti kalo Amel sudah selesai antar yang ini, ini. Suruh antar aku ketemu orang resek itu. Sekarang aku mau istirahat dulu ya. Badanku capek banget rasanya. Kepaluku sudah mulai pening tak ketulungan." Pesan Tasya sambil menunjuk beberapa kotak kue yang telah siap. Lalu memegang kepalanya yang terasa berdenyut pusing, minta diajak istirahat.


"Siap, mbk." Jawab Nita mengangkat ibu jarinya.


"Sip. Kalo ada apa-apa bilang sama bunda aja. Jangan bangunkan aku sebelum Amel selesai. " Pesan Tasya selanjutnya.


"Mau tidur jangan lupa makan dulu, nak. Tunggu adzan Dzuhur sekalian , nanggung." Pesan Bunda melihat jam dinding yang menandakan sudah masuk waktu dzuhur, namun belum terdengar kumandang adzan.


"Iya, Bun. Aku mau mandi dulu." Patuh Tasya, dan menciumi bau asam badannya sendiri yang terasa lengket.


Sebelum masuk kamar untuk mandi. Tak lupa Tasya membuat susu kambing, dan membawanya kekamar beserta satu buah pear. Untuk jaga-jaga kalo malas keluar kamar lagi untuk makan siang.


Reyhan tak membelikan susu sapi hamil. Suaminya itu lebih percaya pada susu kambing etawa untuk melengkapi kebutuhan nutrisi kehamilan istrinya kali ini. Lagian memang itu kesukaan Tasya. Dan juga diizinkan oleh dokter kandungannya, bahkan direkomendasikan.


Benar saja. Saat Tasya mandi terdengar suara gema takbir yang menandakan waktu dzuhur telah tiba. Setelah mandi, lanjut sholat. Setelah sholat minum susu dan makan buah. Makan satu buah belum selesai mata sudah berat banget. Rasanya sudah tak kuat untuk mengangkat kepala. Namun meskipun berbaring dan memejamkan mata, telinganya seakan masih dengar suara-suara dari luar. Tak bisa tidur dengan nyenyak. Selalu begitu setiap tidur siang. Hanya menambah pening di kepala. Namun jika tidak tidur siang, badan terasa lemas tak bertenaga. Bahkan hingga esok pagi masih serba lelah.


"Nak, bangun." Suara Bunda yang membangunkan Tasya. Sedangkan Amel dan Nita? Mana berani mereka mengganggu tidur siang Tasya? Masuk kamarnya aja tak berani, apalagi membangunkan. Meskipun tak pernah juga Tasya marah-marah karena istirahatnya terganggu. Namun mereka cukup segan membangunkan Tasya yang sedang istirahat.


"Tasya. Bangun." Panggil Bunda lagi sambil perlahan menepuk pipinya. Namun Tasya bukannya membuka mata, malah menggeliat pelan kemudian mengeratkan pelukan pada guling, mencari kenyamanan.


"Bangun, nak. Udah ditungguin Amel tu. " Bunda memberitahu. Membujuk agar Tasya membuka mata.


"Jam berapa Bund?" Tanyanya lemah dengan mata yang malas terbuka.


"Udah adzan asar ini. Bangun. Amel sudah selesai semua itu mengantar pesanannya."


"Owh." Gumam Tasya pelan. Ternyata cukup lama dia tertidur. Namun lelahnya tidak berkurang sama sekali.. "Kepalaku pusing banget Bund." Memijit kepalanya yang belum berhenti berdenyut. Bunda pun ikutan memijitnya. Membantu memijat pelipis Tasya dengan pelan.


"Bukan disitu, Bund. Disini ,Bun." Pinta Tasya menggerakkan tangan ibu mertuanya pada titik kepala yang terasa sakit. Memejamkan mata menikmati pijatan lembut Bunda yang terasa menenangkan.


Mumpung lah. Kapan lagi berani menyuruh mertua memijat kepala yang sakit? Biasanya serba sungkan dan tak enak hati meminta tolong pada ibu mertua itu. Padahal Bunda Lina sangat pengertian dan perhatian. Menyayangi Tasya layaknya anak sendiri. Namun tetap aja terasa sungkan untuk meminta bantuan.

__ADS_1


"Ya udah. Istirahat aja kalo gitu. Soal bayaran itu, ikhlaskan saja. InsyaAllah akan Allah ganti dengan berlipat ganda." Pinta Bunda untuk mengikhlaskan. Rezeki tak akan tertukar. Namun malah


mengingatkan tentang rencana Tasya setelah tidur yang sempat terlupakan.


"Owh iya, bun. Aku lupa. Aku siap-siap dulu kalo gitu." Memaksa bangkit dan menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri setelah ingat tujuannya. melebarkan mata untuk mengumpulkan kesadaran, dan menekan rasa sakit yang mendera.


"Tak usah dipaksa kalo tak kuat. Kesehatanmu lebih penting. Uang tak seberapa bisa dicari nanti gantinya. Lebih mahal kesehatanmu dan janinmu." Bujuk Bunda meminta Tasya kembali berbaring. Ini bukan kali pertama menantunya itu mengeluh pusing dan capek. Tapi tiap hari Tasya mengeluh pusing dan lemas disetiap sore hari. Selalu hanya berbaring diatas tempat tidur di sepanjang sore. Mungkin itulah bawaan si buah hati. Jadi semuanya memaklumi. Dan mencoba mengerti kondisi itu.


"Tapi, Bund. Sekarang kan ada Nita dan Amel. Harus mikirin gaji pekerja juga. Lagian bayaran ini sudah hak kita, Bund. Jadi harus diambil. " Bantah Tasya, dan tetap kekamar mandi bersiap untuk pergi. Tak perlu mandi lagi, cukup cuci muka dengan facialwash, lalu wudhu lanjut sholat. Ganti baju dan pergi. Bunda tak pernah memaksa atau melarang anaknya akan melakukan apa. Hanya bisa menasehati dan memberikan saran. Diterima alhamdulillah, tidak juga tidak masalah.


"Sudah siap ?" Tanya Tasya yang keluar kamar sudah rapi siap pergi. Dengan berjalan sok kuat menahan sakit yang dirasanya. Memaksa tersenyum agar tak membuat khawatir Nita dan Amel.


"Sudah mbk. Jadi nggk mbk?" Tanya Amel yang ternyata sudah ganti baju. Yang menandakan dia tadi sudah sempat pulang dan mandi.


"InsyaAllah jadi lah. Gaji kalian berdua kerja seharian itu." Jawab Tasya tersenyum, mencoba bercanda.


"Nggk lucu mbk. Mbk kalo memang tak sehat nggk usah nggk papa. Mbk pucat banget lo. " Kata Amel yang kasihan melihat wajah sayu Tasya.


"Hari ini kami tak usah digaji tak apa deh, mbk. Ikhlaskan saja. Dari pada nanti mbk malah sakit, malah kita tak bisa kerja lagi, tak dapat gaji berhari-hari." Nita ikutan bersuara.


"Halah apaan sih kalian? Doain aja aku tak apa-apa. Udah bawaannya begini. " Jawan Tasya dengan senyum nya. Mengangkat tangannya menandakan kalo dia kuat. "Nita kalo sudah selesai pulang tak apa. Amel, ayok berangkat? Jadi nggk ni?" Memberikan intruksi.


"Iya mbk." Jawab Nita bersiap pulang.


"Beneran jadi mbk?" Tanya Amel ragu .


"Jangan menunggu aku marah, Amel."


"Iya, iya. Mari."


"Hati-hati, Mel. Tak usah ngebut-ngebut. Nggoncengin dua orang kamu." Pesan Nita sebelum pergi, yang hanya dijawab kata siap oleh Amel .

__ADS_1


Akhirnya Amel kembali melanjutkan motornya menuju danau yang tadi siang sudah didatanginya. Melajukan motornya dengan perlahan, dan Tasya memeluk Amel erat dari belakang agar tak terjatuh. Menyandarkan kepalanya yang terasa berat dibahu Amel.


"Mbk kalo tak kuat, kita putar balik aja deh mbk." Saran Amel diperjalanan, saat merasakan beratnya tubuh Tasya yang menyandar padanya. Itu tandanya Tasya benar-benar menyandarkan berat badannya pada Amel.


"Tanggung, Mel. Sudah setengah jalan."


"Tak apa mbk. Dari pada....."


"Nyopir aja yang bener kamu. Bikin tambah pusing aja sih." Perintah Tasya dengan suara lemah. Sama sekali tak merubah posisinya.


"Iya." Akhirnya hanya berani diam. Takut kena semprot . Meskipun semarah apapun mbk Tasya tak akan membentaknya, apalagi memukul. Sudah kehabisan energi dia. Untuk mengangkat kepala aja berat. Sedari tadi disandarain terus dibahunya. Apa lagi untuk marah-marah.


Disepanjang sisa perjalanan hanya ada keheningan . Hanya ada suara mesin motor dijalanan berkoral menuju danau yang sepi. Sama sekali tak nampak ada orang lewat atau berlalu lalang.


"Yakin ni mbk? Tak putar balik aja?" Tanya Amel sekali lagi. Dia sudah merinding memasuki kawasan sunyi dan senyap. Semakin sore suasana danau semakin mencekam.


"Lanjut." Perintah Tasya hampir tak terdengar. "Percaya atau tidak. Kelak tempat ini akan ramai, seiring berkembangnya perekonomian penduduknya." Gumam Tasya seakan berbisik ditelinga Amel.


Amel hanya diam tak menyanggahnya, juga tak menyetujuinya. Cukup melajukan motornya, dengan mata melirik kanan dan kiri. Takut ada penampakan. Namun hingga motornya sampai kearea tujuan, tak menemukan apapun. Hanya bayangan pohon yang bergoyang. Juga tak nampak hewan liar yang membahayakan disekitar. Hanya ada tupai yang berkejaran, dan sesekali terdengar suara monyet, namun tak nampak wujudnya.


"Sampai mbk." Amel menghentikan motornya, tepat didekat tempat duduk lelaki yang dimaksudnya. Tiga lelaki yang mabuk tadi siang sudah tak ada. Hanya ada bangku itu yang masih terisi orang. Pria itu pun berbaring telentang dengan kaki ditekuk, dan lengan dilipat menutup wajahnya.


"Ngeri mbk." Ucap Amel yang berjalan pelan memperhatikan sekitar yang sunyi senyap.


Sedangkan Tasya memaksa kakinya untuk tetap berdiri tegak. Dan memaksa mata untuk tetap terbuka. Berjalan berpegangan pada Amel yang disampingnya. Mendekati satu orang yang masih tersisa disini.


"Niat banget sih dia mau ketemu mbk Tasya? Sampai ketiduran gitu nungguinnya? Mbk kenal?" Tanya Amel melihat pria tertidur dibangku panjang satu-satunya. Itu pun tak bisa dibilang bangku ya? Hanya kayu yang disusun memanjang dengan satu kaki di kanan, dan satu kaki dikiri. Anggap aja bangku darurat. Ditempat ini lebih banyak orang duduk menggunakan batang kayu tumbang yang dibiarkan melintang. Atau memilih duduk lesehan diatas rumput yang tumbuh subur.


Tapi sayangnya hanya beberapa orang yang sudi mendatangi tempat itu. Sangat santik dan asri. Belum terjamah pembangunan sama sekali.


"Nth lah ,Mel." Jawab Tasya.

__ADS_1


__ADS_2