
Keluar dari ruang kerja David, Johan melajukan mobil menuju kampus tempat sang kekasih menuntut ilmu. Sudah lama mereka tak menyapa. Rindu yang ada sudah makin berat untuk ditahan.Rindu akan suara manjanya. Bahkan akhir-akhir ini interaksi by phon pun sudah jarang terjadi. Marta jarang memulai chat, jika Johan yang memulai hanya dijawab singkat-singkat.
Johan memarkirkan mobil tak jauh dari kampus. Melihat para mahasiswa yang berlalu lalang tiada henti. Mengamati setiap yang lewat apakah ada pujaan hatinya disana. Menunggu hampir satu jam, tak nampak Marta akan keluar atau lewat ditempatnya parkir.
Sebenarnya dia sering melakukan hal ini. Dan pergi setelah melihat wajah yang dirindukan. Dia sesekali datang hanya untuk melihat wajah Marta, tak ada yang lain. Namun tak mendapatinya hari ini, membuatnya khawatir. Kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi menghampiri minta dipikirkan.
"Kok nggk ada sih? Apa dia nggk ngampus hari ini?" Monolognya . Lalu mengeluarkan ponsel berniat menghubungi nomor sang pacar.
Panggilan tersambung, namun tak dijawab oleh pemilik nomor. Johan mengulang beberapa kali, namun tak kunjung mendapat jawaban.
"Kamu kemana sih yang? Tak mungkinkan kamu menghindariku? " Pikirannya mulai menerka kemana-mana. Takut kalo renggangnya hubungan yang dia bangun untuk memberi kesempatan Marta dalam belajar, malah membuatnya dilupakan. Takut kalo sampai ada yang memperhatikan Marta lebih darinya. Takut dan marah bercampur menjadi satu.
Johan memutuskan turun dari mobil dan mendekati gedung tinggi dihadapannya. Memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Bertanya pada beberapa orang, namun banyak yang menjawab tak tahu. Marta yang kuliah ditahap akhir memang tak selalu masuk kelas. Datang cuma mampir keperpus mencari bahan, juga ketemu pembimbing skripsinya.
"Eh. Itu bukannya teman Marta?" Melihat seorang wanita yang berjalan dengan beberapa teman wanitanya. Wajah wanita itu tak asing. Marta sering membawa perempuan itu saat bertemu dengannya. Bahkan sempat dikenalkan dengannya.
"Hay." Sapa Johan saat sudah mendekat, yang menghentikan langkah para wanita berjilbab itu, dan menoleh kearahnya.
"Ada apa mas? Ada yang bisa dibantu?" Tanya wanita paling tinggi dengan ramah. Sedangkan perempuan yang sering bersama Marta hanya terdiam mengalihkan pandangan. Mukanya nampak gugup.
"Mau bicara sama temannya ini boleh?" Izin dengan sopan menunjuk orang yang dimaksud. Yang membuat gadis hitam manis itu gelagapan, dan menunjuk dirinya sendiri tak percaya. Namun mukanya nampak bersemu merah.
Sebelum menjawab, tiga gadis itu sama-sama menatap orang yang ditunjuk Johan. Bertanya lewat kedipan mata.
Kenapa harus bicara khusus sih? Tanya langsung keberadaan Marta kan bisa aja? Protes Johan dalam hati. Merutuki keputusannya yang tak difikir dulu.
Tapi tak apa. Siapa tahu dia bisa minta penjelasan banyak hal tentang kegiatan Marta akhir-akhir ini. Lagian tak menjamin para teman yang lainnya tahu akan hubungannya dengan Marta. Meyakinkan diri sendiri. Dia merasa Marta percaya pada Ana, makanya sering mengajaknya saat bertemu. Apa salahnya dia juga mencoba untuk percaya pada orang kepercayaan pacarnya?
"Gimana Na?" Tanya salah satu mereka. Nampaknya mereka tak akan mengizinkan Johan bicara jika temannya tak menyetujuinya.
__ADS_1
"Siapa sih Na? Gebetan ya?" Tanya yang lainnya dengan nada menggoda. Yang membuat Gadis yang bernama Ana itu tersenyum kikuk dan malu.
"Aku bicara bentar sama dia ya." Akhirnya Ana buka suara juga, yang membuat Johan bernafas lega. Kapan lagi bisa bicara dengan Johan tanpa ada Marta? Batinnya.
"Yakin nggk papa? Perlu ditemani nggk?" Khawatir temannya.
"Aku mau bicara berdua." Potong Johan tak mau jika lebih banyak orang. Selama ini tak banyak yang tahu akan hubungannya dengan Marta, dan saat ini pun dia tak ingin hubungannya ini diketahui banyak orang. Karena itu bisa berdampak pada kenyamanan Marta tinggal diasrama.
"Siapa sih Na?" Masih ada yang kepo dengan mata berkedip. Ana hanya menjawab dengan senyuman.
"Nanti aku ceritain. Kalian duluan aja, nanti aku pulang sendiri nggk papa." Ana tak mau menjelaskan apa-apa saat ini. Entah bagaimana menjelaskannya nanti. Yang pasti dia bahagia bisa berdua dengan Johan. Dan berharap ini bukan tentang Marta.
"Yakin nggk papa? " Tanya gadis berperawakan tinggi, yang dijawab anggukan kepala meyakinkan oleh Ana.
"Ya kami duluan. Hati-hati. Langsung telpon kalo dia macam-macam."
"Sip."
Johan tak ingin basa-basi terlebih dahulu. Ingin langsung bertanya maksudnya.
"Ada apa mas?" Tanya Ana yang berjalan mengikuti Johan. Duduk berjarak dibangku yang sama. Mereka duduk diujung-ujung bangku panjang, seperti pasangan yang sedang marahan.
"Aku cuma mau tanya tentang Marta. Kenapa dia tak nampak hari ini?" Tanya Johan to the point.
Marta lagi Marta lagi. Kirain akan bicara tentang KITA. Gerutu Ana dalam hati.
"Kenapa tanya aku? Bukankah situ pacarnya?" Jawab Ana cuek. Melihat bunga-bunga yang bergoyang. Sama sekali tak tertarik melihat kekasih sahabatnya itu. Bukan tak tertarik, namun lebih pada menghindar. Takut tak bisa berpaling.
Sebenarnya dari awal dia suka melihat Johan. Bahkan sempat menaruh perhatian pada lelaki mapan itu. Bahkan rela menemani temannya untuk ketemuan biar sesekali dilihat oleh seorang Johan. Namun sayang. Nyatanya Johan sama sekali tak meliriknya. Dia bener-bener dianggap obat nyamuk saat datang menemani Marta. Yang dilihat hanya Marta dan Marta.
__ADS_1
"Kami sudah lama tak jumpa. Telponan aja jarang." Jawab Johan dengan senyum yang dipaksakan. Sakit sebenarnya menjalani hubungan itu.
"Benarkah? " Suara Ana terdengar riang ditelinga Johan. Yang membuatnya memicingkan mata heran. " Maaf-maaf. Maksud aku kenapa jarang ketemu? Biasanya juga sering janjian." Jelas Ana salah tingkah. Takut Johan berfikir macam-macam.
"Nggak papa. Kamu tahu dimana dia? Ku telpon tak aktif nomornya." Tanya Johan pada inti maksudnya. Tak berniat menceritakan apapun tentang hubungannya dengan Marta.
"Dia diasrama kok. Pembimbingnya lagi keluar kota. Jadi dia sedikit santai beberapa hari ini. Makanya bisa leyeh-leyeh diasrama." Jawab Ana.
"Benarkah? Kok telponku tak dijawab?" Tanya Johan, lebih pada diri sendiri. Heran.
"Tak tahu kalo itu. Mungkin dia lagi tidur kali."
"Bisa jadi. Tapi boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh. Boleh banget." Jawab Ana ceria.
Ah, wanita ini tak bisa ditebak ada dipihak siapa. Mimik wajahnya berubah-ubah. Kenapa Marta bisa percaya dengan orang beginian sih? Batin Johan.
"Marta sedang tidak dekat dengan lelaki lainkan?" Tanya Johan hati-hati. Menyiapkan diri jika jawaban teman Marta ini tak sesuai harapannya.
"Dekat dengan lelaki lain?" Ulang Ana berfikir. Mengingat sesuatu, atau mencari jawaban yang pas untuk lelaki ini.
"Iya."
"Kalo Marta sih dari dulu banyak dekat dengan lelaki. Dia kan orangnya gitu sih, aktif banget. Banyak dekat dengan lelaki atau perempuan. Namun kalo soal hati aku tak tahu. " Jawab Ana yang membuat Johan sedikit pesimis.
______
Happy reading.
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, gift, dan votenya.