
"Ya lah. Kan tadi yang penting jalan-jalan kan?" Kata Reyhan, lalu kembali fokus kembali ke jalanan.
Sepanjang perjalanan hanya terdiam. Aku membuka kaca mobil, menikmati semilir angin yang berhembus. Tak peduli polusi dan berdebu. Memperhatikan jalanan yang sebenarnya sudah kuhapal. Meskipun sudah ada sedikit perubahan di kota ini, meskipun mungkin baru setengah tahun aku tak berlalu lalang tiap hari dijalanan ini. Namun sudah ada beberapa penambahan bangunan.
Kendaraan kini sudah berbelok memasuki bandara. Hanya satu yang dapat aku ambil kesimpulan. Jalan-jalan yang katanya liburan kali ini cukup jauh. Mungkin kepulau sebrang, atau ke ujung pulau. Entahlah yang pasti aku juga bahagia bisa berlibur keluar kota, meskipun masih penasaran akan tujuannya.
"Mobilnya gimana?" Menunjuk mobil yang sudah tertinggal diparkir bandara.
"Ada yang ngurus." Jawab Reyhan santai. Aku ikut percaya aja.
Aku hanya menunggu, semua sudah diurus Reyhan. Mengikuti langkahnya berjalan, dan ikut berhenti saat dia juga berhenti. Aku tak banyak tanya, cukup mengikuti kemana pun suami menarik tangan ini. Karena sejak turun dari mobil Reyhan tak melepas menggeggam tanganku. Aku tak menolaknya.
Dua puluh menit menunggu. Kini kami duduk didalam pesawat siap lepas landas menuju tempat tujuan. Aku cukup menikmati perjalanan ini, Reyhan menarikku yang membuatku jatuh kepelukannya. Aku tak menolaknya, lagian mata sudah mulai memberat ngantuk. Menyandarkan kepala pada dada bidangnya. Dalam keadaan lelah dan pusing, selalu nyaman berada dalam dekapannya. Mencium dalam aroma tubuhnya yang khas.
"Ay." Panggilku dengan mendongakkan kepala melihat wajah Reyhan.
"Iya. " Jawabnya, dan mencium sekilas wajahku yang menghadapnya, yang membuatku melotot protes karena ini ditempat umum. Banyak penumpang yang lain. Meskipun tak ada juga yang peduli dan memperhatikan kami.
"Yang merencanakan liburan ini kamu?"
"Iya dong. Maaf ya kalo liburannya telat. Sebenarnya sudah lama bang Rasya menyarankan untuk liburan atau honeymoon gitu. Tapi maaf, baru kesampaian sekarang. Kamu tak marah kan kita telat acara honeymonnya? "
"Yang milih tempat ayang juga?" Tanyaku lagi mengabaikan permintaan maafnya, dan masih nyaman menyandar didadanya.
"Kalo soal tempat adek kamu yang merekomendasikan."
"Maksudnya?" Heranku. Apakah keluargaku juga tahu kalo aku akan liburan?
"Ya beberapa hari lalu aku bicara sama abah akan rencana ini. Dan minggu kemaren aku juga main kesana, pas ada Marta dirumah."
"Berarti cuma aku dong yang tak tahu rencana ini."
"Maaf."
"Tempatnya jauh nggk?"
__ADS_1
"Lumayan, istirahatlah dulu. Kalo bisa tidur, tidur dulu aja." Menepuk pelan punggungku untuk membuat nyaman, dan mengundang rasa kantuk. Ingin tidur, namun masih ada yang mengganjal dibenak.
"Terus kamu dapat uang dari mana untuk membayar biaya jalan-jalan? Kan gajinya dikasih aku semua." Tanya ku lagi masih heran. Pastinya aku bertanya-tanya kan? Setahu ku uang gaji bulanan suami diserahin kepadaku semua. Apakah Reyhan punya penghasilan lain selain jadi guru?
"Alhamdulillah dapat rezeki dari wali murid privat."
"Maksudnya?"
"Selama ini kan aku bukan hanya sekolah. Kadang kalo sore ada yang datang belajar dan mengaji kan? Selama ini aku tak pernah minta upah pada mereka. Gratis aja mengajar anak-anak yang datang, meskipun dulu pernah juga menarik upah dari kerjaan itu untuk tambah uang saku. Tapi sekarang sudah nggk. Tapi minggu lalu ada yang memberikan hadiah cukup besar, mau ditolak tapi bapak itu memaksa. Ya udah diterima aja untuk jalan-jalan. Toh tak baik menolak rezeki kan?" Jelas Reyhan tentang biaya perjalanannya.
"Berapa hadiahnya?"
"Hadiahnya tak berupa uang sayang." Jawab Reyhan lembut, dengan tangan mengusap punggung ku berulang. Aku merasa nyaman aja dalam pelukan suamiku kini. Pesawat sudah mengudara.
"Terus?"
"Berupa tiket, tapi boleh request tempat. Katanya sekalian hadiah pernikahan kita, karena waktu itu tak sempat datang beliau. Makanya baru bisa ajak jalan-jalan."
"Ohhh."
"Maaf ya, bukannya tak mau modal untuk menyenangkan istri, hanya saja selama ini gajinya sudah dikasih semua ke istri. Tapi Alhamdulillah dapat rezeki yang tak disangka-sangka."
"Lihat aja nanti. Dijamin suka deh."
"Tempat menginapnya free juga?"
"Semuanya lah. Dari berangkat sampai pulang lagi. Bahkan diberikan beberapa voucer untuk dipake belanja disana nanti. "
"Beneran? Boleh untuk belanja?" Tanya Tasya dengan mata berbinar.
"Boleh dong. Emang mau belanja apa sih?"
"Entahlah. Belum lihat tempatnya, jadi belum ada rencana. Yang penting nanti boleh belanja."
"Emang tak punya uang lagi untuk belanja sendiri? Dengar dapat voucer senang banget."
__ADS_1
"Beda dong."
"Iya deh, iya. Istirahatlah." Menepuk nepuk punggung ku.
Aku menurut, memejamkan mata perlahan kenikmati tepukan berirama dari tangan Reyhan. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya aku jatuh terlelap.
Siang menjelang sore begini memang waktu yang tepat untuk istirahat. Ditambah badan yang mulai melemah setelah seharian tetap terjaga. Juga didukung pelukan hangat dan tepukan nyaman.
Seumurku ini baru dua kali menaiki pesawat. Yang pertama dan kedua karena urusan kerja dulu. Dan yang ketiga sekarang ini.
_______
Kini kami sudah sampai ditempat tujuan. Reyhan tak membangunkanku disepanjang perjalanan. Bahkan saat turun dari pesawat, dan pindah menaiki taxi aku tak dibangunkan. Meskipun aku terasa saat tangannya mengangkatku, namun mata dan kepala berat untuk terjaga. Jadi tetap menikmatinya aja.
"Ay." Aku memaksa membuka mata saat terasa angin kencang menerpa. Juga terdengar suara berderik air. Suara dan angin yang cukup aku pahami meskipun dengan menutup mata.
"Udah bangun? Duduk ya?" Menurunkanku diatas pembaringan papan yang disusun, tepat didepan salah satu sebuah resort yang berderet.
"Waw sayang. Bagus banget." Mataku melebar melihat keindahan tempat yang kami singgahi. Tempat yang memang dari dulu ingin aku singgahi. Sebuah pulau didaerah papua barat. Tempat yang sangat diminati oleh penduduk lokal maupun manca negara.
"Kamu suka?" Tanya Reyhan turut senang melihatku yang tersenyum cerah. Aku hanya menjawab anggukan kepala kuat.
"Makasih sayang, udah membawaku kesini." Ucapku tulus, memeluk Reyhan yang ikutan duduk disisiku.
"Masama." Membalas pelukan dan mendaratkan ciuman singkat.
Aku melepas pelukan dan turun, duduk dibawah dan menurunkan kaki hingga menyentuh air jernih. Menikmati dinginnya air , dan beberapa ikan kecil yang berenang mendekat.
Aku tersenyum lebar menikmati keindahan ini. Hilang semua lelah dan pusing yang biasanya selalu menyerang disore hari. Badan terasa memiliki semangat dan energi berlipat.
Kami sampai tepat saat sore hari. Saat matahari nampak hampir tenggelam diujung laut. Menciptakan warna yang menakjubkan bagi laut dan dunia. Masa yang paling kusukai untuk memandang laut. Menyaksikan kepergian siang dengan meninggalkan warna jingga yang mempesona, sebelum benar-benar gelap ditelan malam.
"Marta berarti tak salah ya? Kamu bener-benar suka ." Ucap Reyhan yang memperhatikan wajah sumringah istrinya. Turut turun dan duduk disamping sang istri. Mengikuti apa yang dilakukan sang istri. Menurunkan kaki menjejak air bening, menggerakkannya hingga menimbulkan bunyi berkecipak.
"Syuka sayang. Tapi yang benar-benar membuat aku suka karena kita tiba tepat sore hari. Bisa melihat sunset dari sini." Tambahku menunjuk arah matahari tenggelam.
__ADS_1
"Dari dalam juga bisa lo." Menunjuk tempat penginapan yang sudah dipesan, tepat dibelakang kami.
"Mau disini."