
Mobil melaju pelan melewati deretan rumah yang masih sama seperti terakhir kali aku lewat beberapa minggu lalu. Tepat sebelum menikah aku mampir kedaerah ini. Memastikan kalo Arfan sudah benar-benar pergi dan tak akan kembali.
Melewati lagi jalanan ini membuat hatiku miris. Sakit mengingat kembali kenangan bersama melewati jalanan yang dulu masih jalanan semen cor. Namun sekarang sudah berubah aspal hitam. Tawa dan senyumnya kembali berkelebat memenuhi kepala, suara candanya terngiang kembali saat masih memakai seragam sekolah dulu. Mataku nanar menatap lokasi rumah yang sudah tak jauh.
Aku menurunkan kaca mobil saat melintasi rumah masa lalu Arfan. Rumah yang dulu paling besar dikawasan ini, paling megah diantara yang lain. Dan beberapa waktu lalu hunian itu telah usang tak terawat. Cat mengelupas dengan retakan dimana-mana, dan kayu kusen sudah keropos. Atap genting sudah banyak yang bocor yang membuat lantai berlumut dan plafon koyak. Dan kini? Bangunan itu telah dirobohkan. Tinggal puing-puing yang menggunung diatas tanah. Alat berat mendorong puing reruntuhan menepi. Dan beberapa pegawai mengukur, entah untuk apa.
Hatiku tercubit sakit melihat reruntuhan rumah itu. Seakan ikut meruntuhkan sebagian hatiku yang berusaha ku rawat hingga kini. Kenangan dengan Dia, juga dengan nenek dan kakeknya yang juga mengenalku baik berkeliaran dalam bayangan. Saat bercanda, saat masak bersama, juga saat memilih rumahnya untuk kerja kelompok tugas sekolah dengan teman yang lainnya. Karena jika dirumah pastilah abah menolak.
Kenapa aku suka memasak? Arfan jawabannya. Dulu aku tak pandai memasak. Bahkan tak tertarik dengan dunia dapur. Arfan yang suka dan lebih pandai memasak. Setiap datang kerumah ini aku hanya disuruh duduk menemani dia memasak. Mencoba menu baru untuk dimasak. Dan aku selalu menjadi penyicip pertama dan disuruh menjadi juri masakannya. Masakan yang selalu sempurna dilidahku. Apapun yang dia masak, selalu nikmat di indra pengecapku.
Hingga saat dia pergi tanpa kabar, aku mulai belajar mengenang kehadirannya dalam bentuk masakan. Belajar memasak yang ternyata tak terlalu sulit. Mengikuti gaya dan caranya memainkan alat dapur yang sudah terekam jelas, karena terus berulang. Bahkan kini aku berniat memulai usaha bermodalkan kenangan darinya. Terima kasih Arfan.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Reyhan yang melihatku terdiam tanpa suara ,melihat reruntuhan rumah yang memang sudah tak layak huni itu. Bahkan terus menatapnya hingga tak terlihat. Bahkan sampai kini mobil kami berhenti tepat empat rumah setelahnya, aku masih menoleh kebelakang yang sudah tak nampak wujudnya, hanya suara excavator yang bekerja terdengar.
"Yang. Kenapa? Ada yang aneh dengan rumah itu?" Tanya Reyhan lembut. Menyentuh pundakku dari belakang, dan ikut menatap reruntuhan rumah yang sedari tadi menjadi perhatianku.
Aku tergagap kaget mendapati teguran Reyhan. Mencoba menghapus air mata yang sempat menggenang. Menampilkan senyuman termanis untuk menutupi apa yang kurasa. Menyadarkan diri pada tempat dan setatus yang kusandang kini. Jangan sampai suamiku tahu tentang kegelisahanku.
"Nggk papa ko, Ay. Lihat rumah roboh. Pasti kasihan kan yang punya?" Ucapku asal, mencoba menguasai diri. Dan kembali melihat arah belakang.
"Kenapa kasihan? Memang rumah itu sudah layak dirobohkan. Lagian mau dibangun yang baru kok." Ucap Reyhan heran dengan reaksiku. Menaikkan alisnya aneh dengan sikapku.
"Oh ya? Ayanx kenal dengan pemiliknya?" Tanyaku waspada. Jangan sampai Reyhan dan Arfan saling kenal. Bisa berabe kan jadinya?
"Nggk. Kalo Bunda mungkin kenal." Melihat arah belakang yang sedari tadi diam. Bunda hanya tersenyum samar melihat kami berdua.
__ADS_1
"Kalian itu lucu ya. Sedari rumah cuma diam-diaman. Sekalinya bicara bahas yang tak penting. Emang kalian tak ingin membicarakan kenapa kalian sampai datang kemari? Malah bahas rumah orang." Ucap Bunda menggelengkan kepala melihat kami berdua.
Duar. Aku jadi sadar diri saat ini. Bahkan aku tak tahu kenapa sampai datang kemari. Dan tak tahu untuk apa suamiku mengajakku datang kedekat rumah mantan. Ah, bukan mantan ya? Karena belum ada kata berpisahan, meskipun nyatanya jarak sudah menjadi pemisah yang menyesakkan. Jarak yang sudah memberi batas lebih kejam dari pada kata putus.
"Emang kenapa?" Tanyaku. Karena melewati rumah Arfan. Hingga aku lupa kalo aku diajak kemari pastilah punya tujuan.
Ku lihat Reyhan tersenyum cerah dengan mata berkedip-kedip, lalu melihat kedepan. Aku ikuti arah pendangnya. Melihat area sekitar.
Dihadapan kami ada rumah yang baru dibangun. Sudah berdiri kokoh dengan kayu-kayu penyangga yang belum dilepas semua. Beberapa gundukan pasir dan kerikil dikanan kirinya. Dengan dinding belum diplester pada seluruh permukaannya. Kanan kiri masih halaman kosong yang cukup luas dengan pagar seng disetiap batasnya. Juga ada rumah kecil alakadarnya disisi kiri, mungkin sebagai tempat istirahat para pekerja, juga tempat sebagian material.
Kenapa diajak kesini? Untuk apa?
Aku melihat Reyhan butuh penjelasan. Punya siapa? Begitulah mungkin maksud tatapanku.
"Nak Tasya. Ini rumah yang dibangun Reyhan dengan uangnya sendiri lo. Bahkan yang buat gambar bangunan juga Reyhan. Tapi maaf belum jadi saat kalian sudah menikah. Jadi deh harus tinggal dirumah Beti dan Rasya lebih dulu. " Ucap Bunda dengan bangga, sekaligus merasa bersalah.
Tinggal dirumah Beti dan Rasya? Kata itu mengusik pikiranku. Maksudnya apa?
"Ya ini rumah aku. Yang kita tempati itu rumah bang Rasya. Mau turun untuk lihat?" Tanya suami menawarkan. Membuka pintu mobil siap turun.
"Maaf. Bunda tak punya rumah sebelumnya. Dulu kami cuma hidup ngontrak yang sering dimarah karena telat bayar uang sewa. Maaf kalo buat kamu tak nyaman hidup dengan Beti. " Ucap Bunda sedih dan merasa bersalah.
"Berarti selama ini kita numpang sama Beti, Ay? Kenapa nggk bilang sih? Kan aku jadi tak enak sama Beti. Untung dia tak pernah menyinggung soal ini." Ucapku tak enak hati, protes pada suami yang tak mau ngasih tahu.
"Udah nggk papa kalo itu. Lagian Betinya juga nggk tahu kalo rumah itu mutlak milik suaminya. Kan Beti masuk bang Rasya dan kita sudah ada dirumah itu." Reyhan turun lebih dulu. Membantu Bunda pindah kekursi rodanya.
__ADS_1
Aku masih menatap bangunan rumah dua lantai dihadapanku. Masih belum beranjak dari tempat duduk. Hingga suara pintu terbuka tepat disampingku.
"Manja kali sih, Yanx. Pake minta dibukain pintu segala. Atau mau digendong sampai dalam sana?" Suara menghoda Reyhan membuyarkan lamunanku.
"Aku nggk minta, Ay. Bisa jalan sendiri." Menepis tangannya yang sudah mendekat siap gendong. Aku jadi malu sendiri kan. Berjalan turun yang diikuti Reyhan sambil mendorong kursi Bunda.
Sore ini pekerja sudah sepi. Mungkin sudah pulang untuk istirahat. Aku berjalan hati-hati. Karena masih banyak alat-alat, juga kayu dan paku disembarang tempat.
"Kalian aja yang masuk. Bunda nunggu disini." Ucap Bunda memegang tangan anaknya yang mendorong kursi. Dengan senyum manis terlukis diwajahnya.
"Bunda yakin tak ingin masuk?" Tanyaku meyakinkan.
"Iya yakinlah. Pasti didalam lebih berantakan lagi. Pasti susah jalan rodanya ini." Alasan bunda sambil memukul kursinya. " Bunda masuknya kalo udah bersih aja. "
"Iya Bunda. Aku usahakan secepatnya bersih." Janji Reyhan berjalan dan jongkok dihadapan bunda. "Kalo gitu Bunda disini aja. Jangan pergi jauh-jauh. " Pesannya.
_______
Selamat membaca.🤗🤗
Moga sedikit menghibur.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like, komen, gift, dan votenya..🙏🙏😍😍
__ADS_1
Biar tambah semangat update. 💪💪😂