Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Bunda Sakit


__ADS_3

Dimana ada kemauan disitu ada jalan. Begitulah kata pepatah lama yang sering terlupakan. Meskipun kini tak ada lagi ayah yang menjamin biaya sekolahnya. Tapi Allah selalu memberikan solusi dari arah yang tak disangka.


"Bismillah." Reyhan merobek amplop putih yang sedari seminggu lalu belum dibukanya. Menanti ayah kembali untuk membukakan hadiahnya dengan rasa bangga. Tapi harapan tinggalah harapan. Ayahnya tak pernah datang lagi. Kini dia percaya kalo ayahnya sudah tak ada lagi, memaksa diri untuk percaya meskipun sama sekali tak melihat jasadnya.


"Alhamdulillah." Gumam Reyhan bahagia, tak lupa sujud syukur melihat hadiah yang didapatkan. Beberapa lembar uang berwarna merah, juga selembar kertas formulir pendaftaran full beasiswa untuk siswa berprestasi.


"Bunda.." Binar mata bahagia terpancar, berseru memanggil Bunda yang sedang istirahat. Sedangkan sang abang belum pulang.


Mulai tiga hari yang lalu semua penghuni rumah kontrakan itu bekerja. Bunda sedari subuh keluar rumah untuk menjualkan sayuran keliling milik bos sayur didesa ini. Pulang jualan bekerja nyetrika ditempat laundry, hingga malam tiba. Bahkan kadang lembur hingga tengah malam. Sedangkan Reyhan bekerja menjual kue keliling , mengambil kue dari toko roti diujung desa. Sedangkan Rasya bekerja di toko Furniture. Demi membiayai hidup dan sekolahnya.


"Kenapa sih teriak-teriak? Girang banget kayaknya?" Tanya Bunda yang merasa tidurnya terganggu. Tapi tak marah sama sekali pada anaknya yang mengganggu istirahatnya.


"Iya Bun , Rey bahagia. Lihat ini." Menunjukkan lebaran uang dan beasiswa dari sekolah favorit. Yaitu sekolah yang sama dengan sekolah yang ditempati abangnya.


"Kamu mau sekolah disana juga?" Tanyanya melihat kertas formulir ditangan Reyhan. Bunda nampak tersenyum terpaksa. Otaknya menghitung pengeluaran bulanan yang tambah tinggi jika kedua anaknya sekolah ditempat yang terbilang mahal itu. Dia sudah melarang Rasya untuk pindah kesekolah yang lebih murah, karena Rasya udah kelas tiga. Akan sedikit sudah pengurusannya.


"Kenapa? Bunda tak suka ya?" Tanya Reyhan pelan, hilang senyum cerah yang tadi tercetak diwajahnya saat melihat reaksi bunda. Keluar dari kamar Bunda dengan raut kecewa. Duduk dikursi kayu ruang tamu.


"Bunda senang sayang. Mau sekolah dimanapun , ibu tetap mendukungmu. Pendidikan itu nomor satu." Suara Bunda yang duduk disebelah Reyhan, mengusap rambutnya pelan. Tak ingin membuat anaknya kecewa.


"Beneran Bun?" Meyakinkan. Bagi Reyhan restu Bunda itu yang utama. Dia paham , apapun yang ia lakukan akan lebih berkah jika disertai doa dan restu Bunda.


"Beneran dong." Meraih kertas yang sedari tadi dipegang anaknya, membaca seksama apa isi kertas itu. Dan bernafas lega dengan penuh rasa syukur saat tahu isinya.


"Berarti besok kawanin Reyhan daftar ya, Bun? Sekalian beli seragam. " Mengangkat uang yang diperkirakan cukup untuk membeli seragam lengkap. Tanpa sepatu dan tas pastinya. Kalo komplit tak cukup.

__ADS_1


"Iya."


______


Semua berjalan seperti seharusnya. Dengan kesibukan masing-masing. Reyhan seharian full selalu sibuk, tak ada kata santai dan istirahat. Pagi sekolah, pulang sekolah menjajakan dagangan hingga adzan magrib. Setelah magrib mengaji dirumah seorang ustadzah yang membuka tempat ngaji secara gratis. Pulang ngaji belajar hingga mengantuk dan tertidur. Disela kesibukannya, Reyhan harus tetap mempertahankan nilainya demi menjaga beasiswa tetap berlanjut.


Dua tahun berlalu. Tak ada kemajuan untuk kehidupan Reyhan dan keluarga. Kerjanya tetap sama. Hanya umurnya yang bertambah, juga pelanggan kuenya juga bertambah. Target jualan kuenya habis lebih cepat, Reyhan menambah kerja untuk mengantar kue pesanan. Alhamdulillah.


Siang yang terik. Reyhan duduk menikmati es cendol untuk mengobati dahaganya dipinggir jalan. Keranjang kue sudah kosong. Istirahat sejenak sebelum kembali dan mengerjakan pekerjaan yang lain.


"Rey..." Panggil Riska, anak dari bos ibunya menyetrika. Pemilik laundry.


"Iya, kak." Jawab Reyhan dan berlari mendekati gadis cantik yang sudah kuliah itu.


"Ikut kakak ya." Menarik Reyhan masuk kedalam mobilnya.


Mobil melaju cepat membelah jalanan. Dan berhenti tepat didepan rumah sakit besar. Reyhan heran dan penasaran. Perasaannya jadi tak nyaman. Banyak pertanyaan datang silih berganti.


"Kenapa kita kesini kak?" Tanya Reyhan bingung. Jantungnya berdetak cepat. Bukan karena jatuh cinta pada gadis disampingnya, tapi karena kemungkinan terburuk yang terjadi. Takut pada hal yang belum terbukti.


"Maaf, Rey. Bu Lina tadi menjadi korban tabrak lari saat akan pulang. " Jelas Riska masih didalam mobil. Deg. Benar apa dugaannya. Pasti Bersangkutan dengan Bunda dia dibawa kemari.


"Bunda kecelakaan?" Cicit Reyhan. Sedih itu yang dirasakan. "Kenapa Bunda jam segini udah mau pulang?" Reyhan hapal betul jadwal pulang Bundanya. Tak biasnya sore begini udah pulang kerumah.


"Tadi Bundamu sedang tak enak badan. Makanya izin pulang lebih awal. Mari lihat." Mengajak Reyhan turun, dan berjalan dengan tangan merangkul pundak Reyhan. Reyhan tak menolak. Berjalan tergesa ingin cepat melihat keadaan Bundanya.

__ADS_1


Alhamdulillah biaya rumah sakit ditanggung oleh keluarga Riska. Meskipun tak bisa menanggung biaya pengobatan hingga sembuh total. Toh seharusnya yang mengobati yang menabrak bukan? Masih mending keluarga Riska berbaik hati membantu.


Qodarullah. Semua kejadian pastinya dengan izin Allah. Tak bisa protes apalagi marah dengan takdir yang mempermainkan nasib kita. Udah hidup susah ditambah susah dengan kaki Bunda yang tak bisa berfungsi normal akibat kecelakaan itu. Harus dioperasi agar sembuh, tapi tak ada biaya yang cukup.


"Maaf kan Bunda ya sayang. Bunda bukannya membantu kalian, kini malah jadi beban." Suara lirih Bunda yang bikin hati sakit saat mendengarnya. Bunda nampak kecewa sekali dengan keadaannya kini.


"Kami tak pernah merasa terbebani. Kami akan usaha lebih keras lagi." Kata Rasya menenangkan.


Jika Bunda sudah tak berpenghasilan, secara otomatis hanya penghasilan Reyhan dan Rasya yang diandalkan. Memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar kontrakan, membayar biaya sekolah. Biaya sekolah Reyhan gratis, tapi tidak untuk bang Rasya yang sudah sekolah SMA. Biayanya lebih mahal.


Gaji bang Rasya cukup besar ditambah bonus kerja lembur yang sering dilakukannya. Cukup untuk membiayai kebutuhan sekolah, dan membayar sewa kontrakan selama sebulan. Sebesar-besarnya gaji kerja sambilan berapa sih? Sedangkan untuk makan sehari-hari memakai penghasilan Reyhan.


"Kini aku sudah kelas tiga." Gumam Reyhan dibelakang sekolah. Ini minggu pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas. Belum ada kegiatan belajar mengajar. Masa orientasi sekolah bagi siswa baru.


"Apakah aku harus menemui mereka?" Entah kenapa rumah besar dekat kebun teh itu memasuki pikirannya. Sudah lama tak ada lagi pembahasan tentang mereka.


Memasuki kelas tiga tandanya akan banyak pengeluaran yang dibutuhkan. Dia hanya gratis biaya sekolah. Tidak dengan uang ujian, uang kenang-kenangan , uang perpisahan, dan mungkin banyak lagi kebutuhan akan uang.


Entah kenapa ia bertekad untuk tahu tentang keluarga itu. Yang Reyhan yakin mereka adalah keluarga ayahnya. Meskipun entah keluarga apa, dan bagaimana. Bunda selalu mengalihkan pembahasan jika bicara tentang mereka. Berniat untuk melupakan tentang mereka.


Melihat jam tangannya. Ini belum waktunya pulang sekolah. Tapi apa salahnya jika ia pergi? Toh tak ada pelajaran. Mencari cara untuk bisa pergi kesana dengan biaya yang sedikit.


Reyhan memutuskan pergi kebos sayur tempat Bundanya kerja dulu. Berniat menumpang mobil sayur yang sering ambil sayuran dari daerah dingin itu.


"Boleh, Rey. Tapi mungkin akhir pekan kami baru kesana lagi. Stok sayur masih cukup untuk dua hari kedepan." Jawab bos sayur tak keberatan akan niat Reyhan yang hendak numpang mobilnya. Mungkin juga karena dia tahu apa maksud dan tujuan Reyhan pergi kesana? Entahlah.

__ADS_1


******


Happy reading...🤗🤗😍


__ADS_2