
Dengan berbagai macam alasan akhirnya Reyhan keluar rumah hari libur ini. Keluar rumah dan keluar desa, izin tak kerja hari ini. Tanpa memberitahukan pada Bunda dan bang Rasya akan niatnya. Karena pasti akan dilarang keras. Tak apalah sesekali berbohong.
Reyhan menaiki mobil truk sebagai pengusung sayuran. Duduk berdempetan disamping supir.
"Terimakasih pak." Ucap Reyhan setelah sampai. Sopir truk itu mengantar Reyhan sampai alamat yang dituju.
"Masama." Balasnya sopan. " Kalo pulangnya mau bareng juga, sebelum adzan asar sudah harus siap dijemput lagi. " Reyhan menyetujuinya. Toh memang dia tak butuh waktu lama untuk bicara dengan orang yang ingin ditemuinya.
Mobil besar itu sudah kembali pergi. Tinggallah Reyhan dengan kegamangannya. Bingung mau bicara bagaimana nanti. Apa tujuan utamanya kesini? Bahkan dia tak tahu pasti siapa pemilik rumah itu.
Reyhan masih berdiri didepan pintu gerbang yang terbuka lebar. Menatap rumah besar berwarna gray dan putih dihadapannya. Bingung antara maju atau mundur. Saat sudah sampai disini, keraguannya datang. Takut kalo diusir, atau tak dianggap keluarga oleh mereka.
"Maaf, dek. Mau cari siapa?" Tanya seorang pria paruh baya berpakaian scurity menghampirinya.
"Iya pak. Mau cari pemilik rumah ini." Jawabnya ragu, dengan keempat jari dilipat dan ibu jari menunjuk rumah itu. Benarkah MEREKA yang dimaksud abang dan bundanya adalah penghuni rumah ini? Tapi yang pasti Reyhan sangat yakin, Almarhum ayahnya punya hubungan erat dengan rumah ini.
Pria itu menarik nafas berat, dan menatap lekat pada Reyhan. "Yang siapa? Pemilik rumah ini sudah meninggal beberapa tahun lalu. Yang ada tinggal anak-anaknya. Adek ini siapa?" Jelasnya ramah dan sopan.
"Saya Reyhan pak. Apakah benar ini rumahnya pak Adam?"
"Benar, ini rumah almarhum pak adam. Adek ini Reyhan..." Berfikir mengingat-ingat sesuatu.
"Saya Reyhan putranya buk Lina." Berjabat tangan memperkenalkan.
"Owh iya, Bu Lina. Istri sirri nya bapak ya?" Wajahnya senang mengingat sesuatu. "Saya kerja disini. Nama saya Beni. Mari masuk." Merangkul bahu Reyhan diajak mendekat kerumah besar itu. Berubah lebih bersahabat dan ramah. Meskipun dari awal juga ramah sih.
Reyhan berjalan mengikuti. Otaknya berfikir keras tentang penjelasan dari pak Beni ini. Jika ini rumah ayahnya? Berarti ayahnya bukan terbilang orang miskin kan? Dan yang tinggal sekarang adalah anak-anaknya? Berarti termasuk saudaranya? Ayahnya punya anak lain selain dirinya dan bang Rasya?
Banyak pertanyaan-pertanyaan datang silih berganti. Menggabungkan perdebatan Bunda dan abang tentang warisan, juga penjelasan dari pekerja rumah ini. Reyhan mencoba menarik kesimpulan.
__ADS_1
"Tenang aja, nggk usah gugup. Bagaimanapun ini rumah mu juga. Kakak kamu Aisya ini baik kok. "
"Aisya?" Beo Reyhan. Dia ingat nama itu. Nama yang tertulis sebagai mempelai wanita saat pesta lampau. Pesta yang dihadiri ayah juga bundanya. Apakah itu anak ayah?
"Yang dirumah sekarang non Aisya, Dua adeknya udah kerja diibu kota. Keempat adeknya lagi masih kuliah diluar kota dan ngekost disana, sedangkan den Rendra anak terakhir masih MA , tapi hari ini sedang ada acara sama teman-temannya. "
Reyhan menghitung jumlah orang yang disebutkan pak Beni. "Semua itu juga anak kandung Ayah pak?" Tanyanya heran.
Pantas saja Bunda melarang Bang Rasya untuk merebutkan hak warisan. Karena anaknya yang disini aja udah banyak banget.
"Iya. Anak kandung semua. "
"Ibunya?"
"Bu Yasmin sudah meninggal saat den Rendra umur enam bulan. Dan mereka , terutama non Aisya tak merestui ayahnya menikah lagi setelah ibunya meninggal. Dengan alasan dia sudah bisa mengurus adek-adeknya saat ibunya meninggal. Makanya bapak memutuskan menikah sirri dan kalian ditempatkan yang jauh dari sini. Alhamdulillah Ibumu tak protes. Menerima aja. Kamu tahu kan? Lelaki bukan hanya butuh pendamping untuk membantu mengurus anaknya, tapi juga mengurus dirinya yang tak bisa dilakukan seorang anak."
"Mari masuk. Duduk dulu. Biar bapak panggilkan non Aisya." Menyuruh Reyhan duduk disofa panjang dan besar. Dengan meja kaca dihadapannya.
Pak Beni memanggil orang yang dimaksud. Sedangkan Reyhan duduk mengamati ruangan yang cukup luas itu. Ruangan yang dulu pernah dimasukinya saat ta'ziah, namun diusir oleh orang yang tak dia kenal. Meskipun wajah itu masih terekam jelas dalam ingatannya.
Tak lama kemudian datang seorang perempuan berjilbab lebar, menggendong anak kecil, kira-kira berumur kurang dari setahun. Sedangkan pak Beni entah pergi kemana.
"Reyhan ya? Perkenalkan Kakak Aisya. " Tanyanya dengan senyum ramah. Mengulurkan tangan berjabatan untuk perkenalan.
"Benar, kak. " Jawab Reyhan, dan menganggukkan kepala sopan. Mereka duduk berdampingan dalam diam. Hanya suara baby kecil yang berceloteh riang.
"Rey datang sendiri? Bunda tak ikut?" Suara Aisya memecah kebisuan. Dan datang seorang perempuan paruh baya membawa minuman dan makanan ringan. Rey tersenyum sopan saat dipersilahkan menikmati minuman.
"Ya, kak. Rey datang sendiri. Bunda tak bisa pergi jauh karena habis kecelakaan." Jelas Reyhan pelan.
__ADS_1
"Innalillah wa inna ilaihi rojiun. Terus gimana keadaan Bunda?" Tanyanya bernada khawatir, yang membuat Reyhan memicingkan mata heran.
Kenapa khawatir? Bukannya tak peduli? Dan tak pernah setuju Bunda menjadi ibu sambungnya? Begitulah yang dipahami Reyhan dari cerita pak Beni tadi.
"Maaf kan kakak Rey. Dulu kakak egois tak ingin membagi kasih sayang ayah pada yang lain. Takut kami terabaikan jika ayah menikah lagi, seperti yang terjadi pada kebanyakan orang. Dan kakak tak mau tinggal serumah dengan ibu tiri. Maaf jika sampai sekarang pun adek-adek kakak masih belum bisa menerima kehadiran kalian sepenuhnya. Tapi bagaimana pun juga kamu dan Rasya adalah adek kakak juga. Mengalir darah yang sama dalam tubuh kita. " Jelasnya meminta maaf melihat reaksi Reyhan yang tak biasa mendengar simpati darinya.
"Ya, nggk papa. Semua sudah terjadi kan? "
"Terus bagaimana kabar Bunda? Sehat kan?" Anaknya sudah bermain dilantai memakan biskuit.
"Bunda sehat. Hanya saja kaki bunda bermasalah dan tak bisa berjalan saat ini. Jadi kami sedikit kesulitan keuangan karena Bunda tak bisa kerja. " Jujur Reyhan. Bukankah dia datang memang ingin membahas haknya sebagai anak ayah juga?
"Terus?" Menunggu penjelasan selanjutnya. Reyhan diam, menimbang.
"Apakah kami tak punya sedikitpun hak dan bagian dari warisan ayah?" Reyhan bertanya dengan menatap manik lawannya. Bertanya sesopan mungkin. Itu kan yang dia inginkan?
"Warisan? Apakah selama ini kalian tak diberikan aset usaha ayah? Masih menuntut warisan! " Gantian bertanya dengan hati-hati dan merasa tak percaya. Sedikit tak terima dengan pertanyaan sopan Reyhan.
"Aset apa? Usaha apa?" Reyhan tak paham. Dia tak ditingalin apa-apa oleh ayahnya. Hanya uang bulanan, tanpa jaminan untuk kehidupan masa tua.
Wanita itu diam berfikir. Reyhan mencoba menilai ibu muda dihadapannya ini. Dia nampak baik dan ramah kok. Tak jahat dan kejam seperti yang dibayangkan. Apa salahnya lebih terbuka dan bicara apa adanya?
Reyhan menjelaskan kehidupannya yang berat setelah ditinggal ayah. Hidupnya yang biasa santai dan hanya memikirkan belajar harus terbagi dengan kerja dan kerja. Bundanya yang harus bekerja dari subuh hingga petang, bahkan kadang lembur demi memenuhi tuntutan biaya kehidupan. Juga abangnya yang kerja keras dan sering lembur.
Aisya nampak mengerjapkan mata berulang. Menarik nafas dalam. Berfikir, mencerna ucapan Reyhan. Ingin tak percaya , tapi nampaknya anak remaja dihadapannya ini tak berbohong.
Setahu Aisya dan semua adeknya, kalo istri kedua ayahnya ini termasuk wanita matre yang mengerah harta ayahnya. Tak jauh beda dengan istri muda dalam cerita-cerita. Makanya dia yakin kalo mereka sudah mendapatkan yang dicari dan hidup dengan layak, sehingga tak pernah datang dan mengganggunya. Dan mungkin sedang mencari mangsa baru.
Tapi kini? Datang dihadapannya lelaki remaja yang katanya adeknya itu meminta hak warisan? Dan bercerita tentang kehidupannya yang kesusahan? Apakah bisa dipercaya?
__ADS_1