Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Namanya David?


__ADS_3

Sesuai janjinya, Tasya langsung menghubungi nomor pemesan setelah mematikan panggilan dengan Amel. Semua target kerja dia hingga siang ini sudah kelar. Tinggal nunggu dua kue tart keluar dari oven, dan diantar sore nanti. Karena katanya akan dipake dimalam hari.


Sedangkan Nita masih banyak tugasnya. Meskipun dari pagi tak istirahat, tetap aja kerjanya lama. Dia tugasnya yang paling ringan, namun rumit. Perlu keahlian dan ketelatenan tersendiri. Tasya bukannya tak bisa mendekor kue. Namun kepalanya sering pusing kalo harus berjam-jam fokus pada satu pekerjaan. Sedangkan Amel? Target pengantaran dia masih cukup banyak.


Cukup lama panggilan tak terjawab. Bahkan hingga Tasya mengulang mendial nomor yang sama karena panggilan pertama tak dijawab. Yang membuatnya geram dan kesal, ditambah badan yang mulai lelah setelah seharian beraktifitas. Sedangkan sang suami sudah pergi menghadiri halaqoh tarbiah rutin mingguan. Jadi tak bisa minta bantuan menghadapi pelanggan yang sedikit bertingkah.


David masih sabar menunggu dipinggir danau. hanya memandang ponselnya yang berdering sambil senyum- senyum sendiri saat mengetahui siapa yang memanggil. Memilih mengambil kotak pesanannya, dan menikmati isinya. Membiarkan ponselnya yang bergetar .


"Ternyata kau kini sudah pandai sekali membuat kue. Tak seperti Thataku yang dulu, yang hanya menontonku memasak. Malas dan tak mau mendekati kompor. Menyalakan kompor aja takut-takut. Ku harap suatu hari nanti kita bisa masak bersama. Membuat cake bareng, atau bila memungkinkan bisa menyiapkan menu makan harian selalu bersama." Gumam David menikmati rainbowcake sambil senyum-senyum sendiri. Membayangkan kenangan kebersamaan bertahun-tahun silam, juga menghayalkan kebersamaan dimasa yang akan datang. Ah, membayangkan aja seindah ini. Bagaimana menikmatinya? Ataukah memang hanya indah dihayalkan, namun belum tentu indah saat dijalankan? Entahlah.


David melihat ponselnya yang sudah tak berdering, masih dengan senyum yang mengembang. "Seandainya kamu tahu kalo ini aku. Apakah kamu akan segera datang karena kamu juga merindukanku, atau kamu akan menghindar karena sudah menghapus seluruh cintamu untukku? Dan marah karena aku yang menghilang bertahun-tahun? " Gumam David sendirian. Tak ingin kemungkinan yang kedua itu terjadi.


Namun ponsel hanya sejenak berhenti bergetar, sesaat kemudian kembali berdering dari panggilan nomor yang sama.


"Okey. Apa salahnya dicoba." Akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan.


"Hallo, Assalamualaikum." Suara salam dari sebrang. Yang membuat David menelan ludah berat. Lidahnya tercekat tak mampu bersuara. Cukup menikmati suara lembut yang sangat dirindunya. Suara gadis yang dulu selalu riang dan ceria, namun kini suaranya lebih lembut. Tak terdengar riang seperti dulu.


"Maaf, benarkah ini dengan bapak David?" Suara Tasya lagi. Tetap melanjutkan bicara meskipun tak mendapatkan jawaban salamnya. Tetap mencoba tenang dan sabar menghadapi tipe orang beginian. Bekerja diperbankan melatihnya menjadi orang yang mampu bersikap ramah disetiap situasi. Sudah terbiasa menghadapi nasabah dengan berbagai macam karakter. Cukup menyimpan makian , umpatan, dan kekesalan dibalik senyuman. Itu solusi paling ampuh.


"Sebelumnya maaf atas ketidaknyamanannya pelayanan dari toko kami. Maaf jika pekerja kami melakukan kesalahan. " Ucap basa-basi Tasya yang tak paham betul apa yang sebenarnya terjadi. Juga tak tahu apa yang diinginkan orang ini. Lebih baik cari aman untuk kelangsungan bisnisnya. Lagian dia baru pertama pesan langsung beli tiga cake, jadi cukup spesial untuk bisnisnya baru berjalan beberapa bulan ini. Siapa tahu jadi langganan kan?


"Kata Amel bapak tak bersedia membayar langsung pada dia. Jika begitu bisa bayar...." Akhirnya Tasya langsung membahas inti permasalahan masih dengan suara sopan terkendali, karena disebrang belum juga memberikan jawaban. Namun belum selesai mengucapkan maksudnya, sudah dipotong.


"Aku mau membayar langsung sama kamu." Suara bariton dari sebrang akhirnya terdengar.


"Own, ternyata cuma membisu toh? Kirain bisu beneran." Gumam Tasya menjauh sedikit dari ponsel, namun juga tertangkap telinga David.


Sebenarnya Tasya sedikit kesal dan bingung dengan pelanggan satu ini. Dari awal menelpon tak mau bicara. Hanya diam, pesan pun tersampaikan lewat chat. Kirain karena tak bisa bicara, ternyata hanya tak mau bersuara.


"Maksudnya? " Tanya David yang mendengar suara gumaman umpatan pelan Tasya.

__ADS_1


"Maaf, pak. Tapi saya sedang sibuk ni. Pekerjaan belum selesai semua. Jadi tak memungkinkan untuk pergi sekarang. Atau bila berkenan silahkan...." Datang kerumah aja. Tapi belum selesai bicara sudah terpotong lagi.


"Aku ingin ketemu kamu. Disini. " Suaranya terdengar memerintah. Tak menerima bantahan atau tawar-menawar.


Tasya hanya menggeram kesal meladeni orang yang tak tahu siapa itu. Menarik nafas dalam untuk menekan emosi agar tak menguasai. Mencoba tetap tenang dan tersenyum manis meskipun hanya bicara melalui ponsel.


"Maaf, tapi ....." Belum Tasya memberikan alasan dan menawarkan jalan keluar lain, sudah dipotong lagi.


"Aku tunggu disini."


Klik. Belum sempat membantah panggilan sudah terputus. Yang membuat Tasya keki dan mengepalkan tangan ingin meninju orang yang tak tahu dimana dan sedang apa. Hanya bisa memukul pelan ponselnya yang menampakkan deretan angka sebagai pelampiasan kekesalan. Dengan muka kesal dan marah ingin mencabik muka sang pemilik nomor.


"Kenapa sih mbk?" Tanya Nita tanpa melihat Tasya. Namun paham kalo Tasya sedang kesal.


"Huh. Bingung aku sama orang satu itu. Aneh-aneh aja. Emang kerjaku cuma melayani dia apa? Dari sekian banyak Pelanggan , baru ketemu ini yang resek dan aneh-aneh. Kenapa pula mau bayar aja harus sama aku sendiri? Aku aja percaya sama pekerjaku, kenapa dia tidak? Kenapa pula harus aku yang datang kesana? Kenapa nggk dia aja yang kemari? Ih, kesel tau nggk sih? " Oceh Tasya menggerutu sambil melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.


"Udah sih. Sayang kan kalo harus mengiklaskan uangnya? Dia pesannya cukup banyak lo. Ngalah dikit tak apa. Katanya pembeli adalah raja? Ya, layanin aja lah." Ucap Bunda menghibur.


"Jangan-jangan apa? Tak usah nakut-nakutin deh." Kesal Tasya. Mendekati Nita yang masih duduk manis dan mengemas kue.


"Apa? Kok nggk jadi ngomong?" Melihat Nita yang kembali melanjutkan pekerjaannya, tak mengungkapkan maksud ucapannya.


"Nanti kalo hanya orang modus gimana? Disana sepi banget lo mbk. Angker." Suara Nita pelan dibuat menyeramkan. Membayangkan sepinya danau yang terkenal angker itu. Dengan sok merinding takut. Siapa tahu hanya memedi.


"Jangan kesana sendirian ,Nak. Ajak Amel atau Nita untuk menemani." Saran Bunda untuk antisipasi. Mau menunggu Reyhan pulang itu tidak mungkin. Reyhan setelah menghadiri halaqoh Tarbiah , ada acara kajian ilmu fiqih setelah asar. Jadi kemungkinan menjelang magrib baru pulang. Sedangkan didanau itu, dua jam sebelum matahari terbenam aja, suasana sudah berubah mencekam. Udah seperti malam aja, karena banyaknya pohon-pohon besar.


"Aku tak takut angkernya sih, karena aku sering datang kesana. Tapi kalo ternyata dia bukan orang baik-baik gimana ya?" Ucap Tasya pelan sambil berfikir. Seakan sedang diskusi dengan diri sendiri. Takut jika dia adalah seorang penjahat.


"Itu lah mbk." Kata Nita membenarkan pikirannya.


"Coba tadi aku antar sendiri sebelum suami pergi. Pasti tak ribet begini." Penyesalan selalu ada diakhir bukan?

__ADS_1


"Assalamualaikum." Suara salam kencang dari luar. Siapa lagi kalo bukan Amel?


"Waalaikum salam." Jawab kompak dari dalam.Dan mereka bertiga bersamaan melihat Amel yang baru datang dengan wajah masamnya.


"Kenapa lo?" Tanya Nita melihat muka Amel yang ditekuk.


"Masih tanya lagi kenapa?" Dengan nada ketus.


"Gimana sih orangnya? Tampang-tampang kriminal bukan?" Tanya Tasya to the points.


"Yang katanya namanya David itu?" Tanya Amel menerka maksud bosnya.


"Namanya David ya? Bukan orang sini kah?" Tanya Nita yang merasa belum pernah mendengar nama itu.


"Bukan orang sini. Tapi kalo nggk salah dengar dia sedang membangun rumah didaerah ini. " Jawab Amel dengan tangan mengambil kotak yang siap diantar pada pelanggan.


"Dimana?" Tanya Nita dan Tasya bersamaan. Sedangkan Bunda hanya geleng-geleng kepala, namun juga menajamkan pendengaran. Menguping, meskipun tak mendekat.


"Tak tahu lah. Cuma itu yang aku pahami dari percakapan mereka." Jawab Amel cuek. Padahal sebenarnya ingin curhat panjang kali lebar tentang yang terjadi tadi. Ingin menambah bumbu dalam ceritanya biar makin sedap. Namun waktunya tidak tepat. Tak ingin kena marah lagi dari pelanggan. Nanti aja ceritanya. Tahan sedikit.


"Mereka? Emang ada berapa orang?" Tanya Nita.


"Orangnya gimana?" Tanya Tasya. Sedangkan Amel sudah berjalan lagi siap keluar .


"Tadi ada dua orang. Orangnya kayak sayur lupa digaramin. Anyep." Jawab Amel sambil berteriak. Lalu tancap gas siap mengejar target.


_______


Happy reading.


Jangan lupa tinggalkan dukungannya.

__ADS_1


Like, koment, gift, dan votenya.


__ADS_2