Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Cheesecake


__ADS_3

"Enak . cuma kurang manis dikit." Komentar David setelah merasakan kue yang dibawa Rena. Melepas tangan Rena setelah menghabiskan potongan kue tanpa sisa. Yang membuat hati Rena jedag jedug tak karuan saat tangannya menyentuh bibir itu. Menahan nafas dan menelan ludah berat saat tangannya digenggam dan ditarik david mendekati mulutnya.


"Kamu kenapa? Sakit?" Melihat Rena yang memerah dan pias mukanya. Hanya diam mengulum senyum tak berani berucap apa-apa. Tak berani menanggapi ucapan David. Sibuk menormalkan hatinya sendiri. David santai sekali bicara, seakan tak terjadi apa-apa.


"Hah?" Spontan Rena bingung mendapati pertanyaan David. Menyentuh mukanya sendiri yang memerah, lalu memalingkan muka karena malu. Melihat jemarinya yang masih menyisakan remahan kue bekas David. Tersenyum sendiri dan melihat kearah luar jendela kaca.


Johan hanya geleng-geleng kepala dari bangku depan. Tak mengomentari adegan dibelakangnya. Lebih memilih asik membayangkan kekasih yang dirindunya. Dia sudah lama tak berjumpa dengan sang kekasih yang sedang sibuk kuliah.


"Boleh lagi kan? Jo mau coba nggk?" Ucap David mengambil kue dalam kotak yang masih dipangkuan Rena. Menawarkan pada Johan yang melihatnya dari spion atas.


"Nggk kak. Makan lah.Habiskan saja." Jawab Johan tanpa menoleh.


Sedangkan Rena gelagapan saat tangan David mendekatinya. Cepat-cepat mengangkat kotak kue, namun kalah cepat oleh tangan David yang mengambilnya. Rena menggeser dan meletakkan diantara mereka, antisipasi kalo nanti David mau memakan lagi lagi. Biar nggk sport jantung terus.


Oh, hati. Coba tenanglah. Lihatlah mas David yang tetap santai menganggap ini bukan hal spesial. Bahkan tak merasa sudah membuat jantungmu berdetak tak normal. Bujuk Rena untuk menenangkan diri sendiri.


"Kamu sudah nggk mau?" Tanya David yang melihat Rena menggeser kotak makanannya.


Tuh kan? Dia sama sekali tak merasa sedikitpun yang kamu rasa. Dia tetap santai menikmati makanannya. Tapi kenapa kali ini dia jadi sedikit peduli? Tak seacuh biasanya? Rena hanya berani berucap dalam hati. Sibuk dengan dugaannya sendiri.


"Kenapa kamu jadi pendiam sih?" Tanya David lagi setelah melihat Rena hanya terdiam. Tak secerewet dan seantusias biasanya saat bicara dengan David.


"Aku jadi pendiam?" Tanya Rena menunjuk dirinya sendiri, dan dijawab anggukan kepala oleh David.


"Ya aku merasa aneh aja dengan sikap mas David sekarang. Tak seperti biasanya. "Jawab Rena pelan dan mengulas senyuman. David hanya tersenyum kecil mendengar penuturan Rena. "Kenapa sih? Ada yang aneh ya? Atau ada hubungannya dengan acara pingsan tadi?"


Aku bahagia Re. Makasih karena kamu akhirnya aku bisa melihat Thataku kembali. Bahkan sempat makan kue buatannya, dan juga memberiku ide untuk berjumpa dengannya lagi dan lagi. Batin David.


"Ada apa sih?" Penasaran Rena , kembali mengambil potongan kue untuk mengganjal lapar.


"Nggk papa. Kuenya enak." Jawab David tidak jujur. "Aku boleh minta nomor hp pembuatnya nggk? Siapa tahu nanti berniat untuk pesan." Ingin bergerak cepat untuk mengatur pertemuan selanjutnya. Ingin bertemu hanya berdua. Memastikan apakah Thata juga masih mencintainya, atau harus dipaksa untuk mencintainya lagi. Inilah jalan termudah dan teraman untuk bertemu.


Rena berfikir sejenak. Kenapa harus minta nomor hp? Bukankah dirinya bisa memesankan untuk David? Biar punya alasan untuk punya nomor David, juga biar bisa saling berbagi kabar lewat ponsel.

__ADS_1


"Kok diam? Punya nomornya kan?"


"Punya sih. Tapi harus banget minta nomor Hp? Kalo mau pesan bilang aja ma aku, nanti aku pesankan padanya. Mau rasa apa, untuk acara apa, yang harganya berapa, dan berapa jumlahnya. Kan aku bisa bantuin."


"Kalo aku sendiri bisa kenapa harus lewat kamu?" Tanya David dengan tatapan memicing. Heran. Pasti ada maksud tersembunyi juga.


"Ya, karna.. Itu..." Mencari alasan. "Karena...." Belum menemukan alasan yang tepat.


"Karena apa?" Todong David tak sabar. "Lagi mikir cari alasan ya?"


"Bukannya gitu. Tapi takutnya dia nanti marah kalo aku bagi nomor kesembarang orang. Dia tak suka diganggu orang baru. Kan aku belum bilang ma dia." Alasan Rena yang kebetulan muncul. Dan hanya itu yang bisa jadi alasan.


"Bukannya kamu tadi bilang dia buka bisnis kue kan?" Tanyanya yang dijawab anggukan kepala oleh Rena.


"Kalo yang tiap hari jualan sih macam-macam gorengan. Kalo cake beginian harus pesan dulu mau untuk acara apa dan rasa apa." Jelas Rena tanpa diminta.


"Okey. Namanya orang berbisnis harus siap bertemu orang baru untuk membuat bisnisnya lebih maju. Siap menerima pelanggan baru yang mungkin sangat menguntungkan untuknya. Jadi kalo kamu mau ngasih nomornya padaku, ku jamin dia tak akan marah. Tapi dia malah akan terima kasih padamu. Semua hal yang berurusan denganku tak ada yang merugikan." Jelas David penuh percaya diri, juga membuat Rena percaya padanya.


"Iya juga sih." Jawab Rena ragu-ragu. "Okey. Tapi janji hanya urusan bisnis." Memperingati.


Rena mengetikkan nomornya terlebih dahulu dalam ponsel itu, lalu memanggilnya. Setelah dia mendapatkan nomornya barulah mengirim nomor yang diminta.


David nampak tersenyum puas menerima kembali ponselnya. Menatap layar penuh ditangannya dengan senyum lebar. Memperhatikan digit angka yang tersusun disana. Juga mengesave nomor sang pengirim.


"Kenapa sih senang banget dapat nomor Tasya?" Tanya Rena curiga dengan gelagat David.


"Senang banget." Jawabnya cepat.


"Kenapa?"


Berfikir sejenak, dan melihat Rena yang nampak curiga. "Karena aku akan dapatkan partner bisnis yang bisa diandalkan. " Ucapnya beralasan. Rena hanya mengangguk paham. Tak bertanya macam-macam. Mungkin begitulah para pebisnis. Selalu bahagia menemukan peluang besar untuk maju. Rena juga berharap usaha sahabat baiknya bisa berkembang pesat. Siapa tahu David menjadi salah satu jalan membuat usahanya berkembang. Jika iya, berarti Rena ikutan berpartisipasi untuk itu.


"Emang apa rencana mas?" Tanya Rena kepo.

__ADS_1


"Rahasia." Jawabnya singkat.


"Jangan sampai merugikan dia ya? "


"Sip."


"Mau mampir cari makan malam dulu nggk?" Tanya Johan yang akhirnya buka suara.


"Lanjut aja. Aku sudah kenyang." Jawab David memerintah.


Hari sudah makin gelap. Kini mobil sudah masuk area ramai dan padat perkotaan. Langit berhias purnama bertabur bintang. Menggambarkan hati bahagia dua insan yang duduk berdampingan. Sama-sama bahagia namun dengan alasan yang berbeda.


Rena menatap luar jendela yang terang dengan banyak lampu yang terpasang disemua sudut tempat. Menghidupkan malam yang ditinggal matahari. Tersenyum sendiri mengingat kehangatan sikap David saat ini. Memegang pergelangan tangannya sendiri, menikmati genggaman tangan David yang masih terasa hangatnya. Padahal sudah dilepas sedari tadi. Bahkan mungkin yang memang pun tanpa sadar.


Sedangkan David masih tersenyum menatap layar dalam genggamannya. Ingin melakukan panggilan pada nomor baru itu, namun takut mengganggu. Mengetikkan pesan tapi ragu.


"Kamu udah ingat semua kak?" Tanya Johan pelan dengan nada khawatir sekaligus bahagia.


"Belum semua. Tapi sedikit banyak." Jawab David dengan senyumannya.


"Baru melihat pertama kali aja dia sudah sebahagia ini, bagaimana kalo saling bertemu? Apakah akan bahagia atau sebaliknya? " Kata Johan dalam hati.


"Ingat apa?" Tanya Rena ikutan penasaran.


"Ingat kamu." Jawab David yang membuat Rena salah tingkah.


Bersambung...


_______


Happy reading...


Jangan lupa tinggalkan dukungannya.

__ADS_1


Like, koment, gift, dan votenya. 🤗😍


Makasih sudah mampir...😍😍


__ADS_2