Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Reyhan Ngambek


__ADS_3

Setelah Reyhan keluar ruangan Amel datang menghampiri Tasya.


"Mbk istirahat aja nggk papa lo mbk. Nggk usah dipaksain. Kesehatan mbk lebih penting." Saran Amel yang mengambil minum, dia baru pulang mengantar pesanan.


"Nggk papa kok. Aku sehat." Jawab Tasya dengan senyum dipaksa.


"Pucat gitu kok sehat." Sanggahnya.


"Iya, mbk. Biar aku yang nyelesain itu." Kata Siska anggota baru yang cukup cepat belajar. Meminta mixer yang dipegang Tasya untuk mengambil alih tugas.


Disini Tasya memang tak pelit ilmu. Mengajarkan apa yang dia bisa pada karyawannya. Tak ada resep yang dirahasiakan. Meskipun dari keempat karyawan hanya siska yang tertarik untuk buat kue. Sedangkan tugas Amel tetap sama. Jadi kurir. Siska juga masih gadis muda. Umurnya hanya beda setahun lebih tua dari Amel.


Satu pekerja baru lagi bernama bu Maya. Tugas dia bersih-bersih. Kalo bu Maya ini seorang janda dengan dua anak yang sudah sekolah. diantara yang lain bu Maya paling tua, bahkan dia lebih tua dari Tasya. Dan dia mau melakukan tugas apapun, membantu mana yang perlu dibantu.


"Tu. Kue buatan mbk siska tak kalah enak kok, mbk."


"Ya udah, gantiin bentar ya. pesanan kotak snack untuk pengajian pagi ini sudah siap?" Menyerahkan tugas yang tadi dikerjakannya pada Siska, dan bertanya soal pesanan yang harus diantar pagi.


"Udah aku antar kali mbk. Udah beres." Jawab Amel sambil berjalan keluar, langsung pergi lagi untuk melanjutkan tugas.


"Udah mbk. Mbk percaya sama kami deh. Mbk cukup duduk aja, dan mengoreksi rasa aja. Dijamin beres." Saran Siska melanjutkan tugas. Tasya hanya duduk mengamati kerja karyawan barunya yang sudah cukup pintar.


"Nak Tasya masih disini?" Tanya bu Maya yang baru masuk membawa alat pel, setelah bersih-bersih.


"Ya lah, bu. Emang harusnya dimana? Hari-hari juga disini." Jawab Tasya dengan kalimat tanya, tak paham maksud -pertanyaan bu Maya. Hanya menganggapnya basa-basi aja, mengambil air hangat untuk membuat susu.


"Kayaknya suami nak Tasya tidak kerja hari ini. Siapa tahu butuh ditemani." Jelas Bu Maya yang sudah berganti mencuci peralatan yang kotor.


"Kalo mbk Tasya mau nemani pak Reyhan tak apa-apa. Insya Allah kami akan menyelesaikan semuanya. " Siska ikutan menyarankan. Meyakinkan kalo dia bisa diandalkan.


Tasya berfikir sejenak. Apakah Reyhan perlu ditemani? Lagian dia libur mungkin karena capek atau memang hari ini hari libur? butuh istirahat yang cukup. Bukan butuh ditemani kan? Karena hari ini setahu dia bukan tanggal merah. Tasya memilih duduk menikmati susu hamil rasa coklat buatannya.


"Benar tu. Lelaki itu paling senang ditemani istrinya pada waktu senggang begini. Apa lagi sekarang kan Tasya sedang hamil pertama, pasti suaminya tak ingin nak Tasya terlalu capek. Ingin sering menghabiskan waktu bersama. Jangan sampai dia merasa terabaikan karena istrinya sibuk kerja." Kata bu Maya yang sudah lebih berpengalaman.


"Tu, dengerin mbk."

__ADS_1


"Kamu juga dengerin, sis. Untuk pelajaran kalo sudah bersuami nanti. "


"Iya, bu. Kalo siska masih lama bu. Masih muda."


"Halah sis, bilang masih lama. Tiap malam minggu sudah ada yang apel pun." Jawan Tasya nyolot. Tak setuju dengan ucapan siska.


"Jodoh tak ada yang tahu kapan datangnya, sis. Yang udah lama pacaran juga belum tentu jodoh kan? Yang diperjuangkan belum tentu mau berjuang bersama. " Kata bu Maya.


Betul itu. Setuju Tasya sambil tersenyum miris mengingat kisahnya sendiri.


"Ya udah kalo gitu. Aku kerumah dulu ya, kalo ada apa-apa kesana aja." Pamit Tasya untuk kerumah yang berdampingan dengan tokonya.


Sebenarnya pembangunan tokonya bukan ditempat yang strategis. Bertempat di gang desa yang tak terlalu ramai, bahkan terkesan sepi. Namun karena jualannya mengandalkan promosi yang kuat lewat sosmed, juga memakai sistem delivery, maka tetap laris dan banyak yang order. Tak sedikit juga yang datang ketoko langsung setelah melihat iklan di sosmed.


"Iya mbk. " Jawab Siska dan bu Maya.


Diruang depan ada Nita yang sibuk dengan kreasinya. Fokus dan tak peduli dengan sekitarnya. Kalo soal Nita sudah tak ada yang nandingi. Tasya aja tak bisa mendekor kue secantik buatan Nita. Tapi untungnya dia mau bekerja ditempat Tasya, tak memilih buka toko sendiri. Lagian buka toko tak cuma modal bisa ya? Modal cuan juga.


Hari ini bunda menginap dirumah Bang Rasya. Sesekali ingin menjenguk putra dan menantunya yang sedang teler total. kak Beti juga sedang hamil muda. Dan parahnya dia teler tak kuat ngapa-ngapain. Bahkan sepanjang hari hanya tiduran dirumah, kuliah ambil cuti. Jadi jarang sekali dia berkunjung kemari. Tasya yang sibuk dengan usahanya juga jarang mengunjunginya. Jadi jarang jumpa.


"Ay." Panggil Tasya lagi saat masuk kamar. Ternyata Reyhan sedang tidur tengkurap memeluk guling diatas kasur. Bahkan tak peduli saat Tasya masuk. Entah tidur beneran atau pura-pura tidur.


"Ay kenapa tak kerja hari ini? Perasaan hari ini tak tanggal merah deh." Tanya Tasya yang turut duduk disamping Reyhan. Dia yakin kalo suaminya itu tak tidur beneran.


"Beneran tidur ya?" Menarik guling yang menutupi wajah Reyhan, yang membuat sang empunya mendengus sebal.


"Telat tanyanya. Udah siang baru tanya kenapa tak kerja." Jawabnya ketus, dan mengambil guling yang lain lalu memposisikan seperti semula. Malas berebut dengan guling yang dipegang istrinya.


"Ini masih pagi, Ay. Tengok lah. Baru jam sepuluh pagi pun." Kata Tasya membela diri dan menunjuk penunjuk waktu diruang kamarnya yang menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh.


"Udah siang ini. Kalo sekolah udah istirahat pertama tau."


"Iya deh iya." Mengalah ajalah, demi melihat suaminya yang lagi ngambek.


"Ngapain kesini? Katanya banyak kerjaan?" Masih diposisi yang sama. Sama sekali tak tertarik melihat istrinya yang sedang membujuk.

__ADS_1


"Untuk apa bayar pekerja kalo kita masih tak punya waktu istirahat? Iya kan?"


"Ya udah sini." Membalik badan, dan merentangkan tangan kanannya untuk Tasya berbaring. Tasya menurut saja. Berbaring dengan berbantalkan lengan suaminya.


Jantung Tasya sudah berpacu, memprediksi apa yang akan terjadi. Pastilah akan terjadi sesuatu untuk mengobati kata kangen yang diucapkan Reyhan tadi pagi. Tapi bagaimana pun juga Tasya tak mungkin menolak bukan? Meskipun hatinya tak sepenuhnya menginginkannya.


"Bunda berapa hari akan menginap disana?" Tanya Tasya membuka percakapan. Reyhan sudah memeluknya, dan tangan sebelah mengusap pelan perutnya. Tasya memilih menyembunyikan wajahnya didada Reyhan, tak siap melihat wajah suaminya itu.


"Entahlah. Nanti kalo ingin kesini biar diantar bang Rasya." Jawab Reyhan. Merapatkan pelukan, Tasya hanya bisa pasrah. Meskipun sebenarnya badannya tak terlalu menginginkan melakukan hubungan dengan suaminya. Memang sejak positif hamil, keinginan untuk berhubungan seakan tak ada.


"Hari ini libur acara apaan sih?"


"Meliburkan diri." Jawab Reyhan yang membuat Tasya mendongakkan kepala melihat wajah suaminya.


"Kok bisa gitu?"


"Bisa aja lah."


"Iya lah. Terserah."


"Aku ingin menghabiskan hari ini dengan istriku. Ada tempat yang ingin kamu singgahi?" Mengurai pelukan dan menopang kepalanya dengan tangan.


"Tempat yang ingin ku singgahi?" Ulang Tasya bangkit dengan riang. Merasa bebas dan tersenyum lebar.


"Kenapa senang banget?" Tanya Reyhan menyelidik melihat perubahan raut istrinya. Yang membuat Tasya gelagapan."Kalo gitu nggk jadi lah. Sepanjang hari dikamar aja." Lanjut Reyhan yang mendapati istrinya terdiam salah tingkah.


" Jadi dong, jadi pergi. " Jawab Tasya cepat. Membayangkan sepanjang siang dikamar pastilah merepotkan. "Sekali-kali kita jalan-jalan bareng gitu. Menikmati waktu bersama tak harus selalu dikamar kan? Jalan-jalan ketempat yang bagus kan juga bisa." Bujuk Tasya agar tak jadi menggagalkan rencana yang baru didengarnya.


"Kayaknya sejak hamil kamu sensi banget dengan kata waktu dikamar berdua." Ucap Reyhan dengan membuang nafas berat.


"Nggk sensi juga kali Ay. Tapi, mungkin bawaan Baby kali ya?" Mencari alasan paling aman. Paling mampu diterima suaminya.


"Ya lah." Jawabnya malas. " Terus mau kemana?"


"Terserah lah. Yang penting keluar. Aku mandi dulu." Turun dari kasur dan berlari kekamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2