
Sore ini Tasya menunggu Reyhan pulang. Mondar-mandir didepan rumah dengan memakai gamis lengkap beserta jilbabnya, juga jaket tebal dan kaos kaki. Rasanya badannya lemas dan dingin, seperti gejala akan meriang aja.
"Kamu sakit sayang?" Tanya Bunda yang melihat pakaian Tasya tak seperti biasanya. "Muka kamu sedikit pucat lo. Istirahat aja didalam. Tunggu Reyhan didalam saja. " Saran Bunda yang memperhatikan wajah menantunya.
"Iya Bun. Rasanya badan lemes banget ni." Menggerakkan kepala kekanan dan kekiri mengusir pegal, juga meregangkan badan yang terasa lelah padahal nggk ngapa-ngapain.
"Ya udah nunggu didalam aja. Hamil muda memang begitu." Kata Bunda menyuruh Tasya masuk kerumah. Merasa tak aneh dengan yang Tasya keluhkan. Seakan itu hal yang wajar.
Adzan asar sudah lewat sedari tadi, namun Reyhan belum nampak akan pulang. Memang sih, kalo waktu magrib juga masih jauh. Jadi belum bisa dibilang terlambat.
"Istirahat lah. Bunda bikinkan susu ya?" Tanya Bunda lembut, sambil mengikutiku yang memilih berbaring diruang keluarga.
Pulang dari rumah sakit tadi Reyhan langsung membelikan semua yang dokter anjurkan. Dari susu hamil, juga macam-macam vitamin dan supplement yang dibutuhkan ibu hamil.
"Tak usah Bun, tadi aku sudah minum kok. Nanti lagi aja, aku bikin sendiri." Tolakku. Kasihan kalo Bunda harus repot membuatkan susu. Kemana-mana harus dengan kursi roda , masak harus disuruh melayani yang sehat begini?
Benarkah ini bawaan baby? Apakah memang orang hamil muda rasanya kayak orang meriang begini? Kepala pusing, badan lelah, minta direbahkan. Padahal tadi pagi masih segar, dan cekatan ngapa-ngapain sendiri. Kenapa setelah tahu kalo hamil mood langsung berubah? Bawaannya manja dan malas. Apakah ini reaksi tubuh ibu hamil yang meminta perhatian lebih?
Rebahan membuat matanya terpejam, dan terlelap. Apalagi siang tadi dia tak sempat tidur siang meskipun sebentar. Memang setelah membuka usaha jualan, Tasya sudah tak pernah lagi tidur siang. Sepanjang hari sibuk didapur, lanjut ngurir dijalanan. Namun tak pernah selelah ini badannya.
"Sayang." Suara Reyhan yang terdengar dipendengaran Tasya. Yang membuatnya terbangun dari lelap. Membuka mata, nampak Reyhan tersenyum dengan tangan memijat pelan kaki Tasya yang sudah ada di pangkuannya.
"Eh, Ay." Kaget Tasya, langsung bangkit dari berbaring. Menarik kakinya yang ada dipangkuan Reyhan. Merasa tak enak aja dipijat sama suami dalam posisi begitu.
"Capek ya? Sore-sore kok tidur?" Tanya Reyhan lembut, namun syarat akan ketidaksukaan atas kelakuan Tasya yang tidur disore hari.
Ternyata Tasya cukup nyenyak tertidur. Hingga tak menyadari kedatangan Reyhan, bahkan hingga Reyhan sudah ganti baju yang juga rapi dan wangi. Tanda dia sudah mandi.
"Iya Ay. Entahlah. Rasanya capek semua." Keluh Tasya menggerakkan badannya yang pegal.
"Ya udah istirahat aja kalo gitu. Besok aja kerumah abahnya." Suruh Reyhan menepuk-nepuk pelan punggung Tasya.
"Nggk ,nggk mau. Kan sudah janji akan kesana sore ini." Tolak Tasya. Kecewa deh kalo tak jadi pulang kerumah masa kecil. Takutnya nanti abah lebih kecewa lagi.
Tadi siang saat disekolah abah mengundang Reyhan dan Tasya untuk datang kerumah malam ini, setelah Tasya mengabarkan kabar gembira tentang kehamilannya pastinya. Abah senang sekali, berucap mengucap syukur pada Allah, dan mengundang mereka kerumah untuk merayakan kebahagiaan itu.
__ADS_1
"Katanya capek?"
"Ya apa salahnya Ay? Toh aku kesana untuk main kok, bukan untuk kerja. Siapa tahu capeknya hilang saat ketemu abah. " Bujuk Tasya agar Reyhan tak membatalkan rencananya.
"Ya udah. Ayok." Ajak Rey. Biasanya memang mereka pergi tanpa membawa apa-apa, karena pakaian ganti sudah lengkap disana.Namun kali ini Tasya menyiapkan oleh-oleh.
"Bentar Ay. Aku tadi buat kue untuk abah." Berlari kecil untuk mengambil barang yang sudah disiapkannya.
"Sudah mau berangkat nak?" Tanya Bunda yang baru datang dari kamar.
"Iya, Bun. Bunda aku antar kerumah abang ya?" Merasa tak tega jika Bunda ditinggal sendirian dirumah. Pun tak mungkin diajak.
"Nggk usah lah. Bunda tadi sudah bilang sama Amel untuk nemenin Bunda. Dia senang banget kok suruh nginap disini. Kalian pergi aja nggk usah mikirin Bunda."
"Beneran nggk papa Bun?"
"Ya beneran nggk papa."
Akhirnya Tasya dan Reyhan pergi. Diperjalanan lebih banyak diam, dengan tangan saling menggenggam. Hanya alunan musik yang menengahi keheningan. Tasya lebih memilik menikmati pandangan perjalanan dimalam hari. Sedangkan Rey fokus menyetir dengan tangan sebelah. Mereka hanya melempar senyum saat kebetulan saling menatap.
"Assalamualaikum." Salam Tasya.
"Waalaikum salam." Jawab abah dari dalam.
Adzan sudah terdengar, entah apa sebabnya abah masih dirumah. Juga ada bang Bagas beserta istrinya. Padahal cuma diam dalam kebingungan, namun semua berubah ceria saat melihat kedatangan Tasya.
"Gimana kabarnya dek? Sehat? Denger-denger udah mau dapat keponakan baru ni. " Sapa Bang Bagas sambil tersenyum lebar.
"Alhamdulillah. Doain sehat terus ya bang." Gantian bersalaman pada abah, abang juga kakak iparnya.
"Amien. Moga sehat untuk ibu beserta dekbaynya." Doa bang Bagas beserta istri dengan tulus.
"Belum apa-apa aja udah tidur terus maunya." Reyhan ikutan menjawab.
"Yang penting jangan tidur pagi dan waktu magrib. Selain itu terserah. Jangan selalu dimarah Rey kalo banyak istirahat. Begitulah kalo wanita hamil. Berat. kalian tak akan kuat." Kak Ina membelaku, yang membuatku senyum bangga, dan meremehkan Rey dan abang. Sedangkan Abah hanya tersenyum melihat kami.
__ADS_1
"Halah. Lebay lah." Cibir bang Bagas, yang mendapat hadiah pelototan tajam juga cubitan dari istrinya.
"Tapi ngomong-ngomong ini ada apa sih? Kok tumben belum berangkat kemasjid? Adzan udah selesai itu." Kataku mengingatkan dan menunjuk udara kosong, saat sudah tak terdengar suara muadzin. Yang membuat para lelaki saling pandang.
"Ya udah abah kemasjid dulu, mumpung belum iqomah." Kata abah lalu pergi, yang disusul anak lelaki juga menantunya.
"Tama. "Teriak bang Bagas memanggil anak lelakinya. "Ikut Abi kemasjid nggk?"
"Ikut." Sambut jawaban dari dalam rumah, lalu muncullah Tama dan berlari menyusul Abinya. Aku dan kak Ina hanya tersenyum menyaksikan itu.
"Ada apa sih kak?" Tanya Tasya yang kini tinggal duduk berdua dengan kakak iparnya.
"Ada apa? La emang ada apa?" Heran dengan pertanyaan Tasya yang tak dipahami berarah kemana.
"Lihat kalian hari ini aneh aja. Kayak ada masalah gitu." Tak biasanya melihat abah dan abangnya duduk bareng dalam keadaan diam, seakan memikirkan pemikiran masing-masing. Tak banyak bercanda dan cerita seperti biasanya.
"Nggk papa. Kakak mau sholat dirumah dulu. Kamu sholat juga, jangan lupa ingatkan Marta untuk sholat juga. " Pesan kak Ina lalu bangkit berdiri .
"Marta? Marta pulang kak? Kok nggk nampak sih? Tak menyambutku datang? Biasanya paling heboh dia." Merasa keanehan itu muncul dari pulangnya Marta.
"Baru tadi sore dia datang. Katanya sakit. Dari tadi ngunci diri dikamar, tak mau diajak bicara." Cerita Kak Ina kembali duduk.
"Emang sakit apa dia? Apa dia lagi ada masalah?"
Kak Ina hanya mengangkat bahu tak paham. " Datang-datang langsung masuk kamar. Cobalah kamu yang ajak bicara. Biasanya sesama saudara perempuan lebih bisa terbuka. "
"Nanti aku coba kak."
"Yaudah sana magrib. Sebelum habis waktunya."
_____
Happy reading....
Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya ya....
__ADS_1