Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Curhat


__ADS_3

David merasa kepalanya pusing dan berat. Suara-suara aneh terngiang memenuhi pendengarannya. Yang membuat kepalanya makin terasa nyeri dan berdenyut.


"Kakak nggk papa? Kakak pusing lagi?" Khawatir Johan yang menemaninya. "Istirahat didalam dulu." Memapah David untuk masuk rumah kayu kecil yang banyak perkakas didalamnya. Hanya ada satu kasur tipis dan dilapisi karpet tebal digelar diatas papan yang tersusun. Sebagai tempat istirahat siang para pekerja.


"Kepalaku sakit, Jo." Keluhnya memegang kepalanya yang memberat. Duduk menyandar dan meluruskan kakinya diatas karpet yang sudah dibersihkan Johan sebelum didudukinya.


"Okey, duduk dulu disini. Aku ambilkan obat." Ucap Jo sedikit panik. Sudah lama saudara sepupunya itu tak merasakan pusing akibat kecelakaan bertahun-tahun lalu. Bahkan sudah dinyatakan sembuh total. Sama sekali tak ada yang mempermasalahkan amnesianya tentang masa lalu. Tak ada yang berusaha membantunya ingat. Namun jiwanya tetap merasa punya kepingan masa lalu yang sangat berharga telah terlupakan.


Ah, mungkin cuma pusing biasa. Tapi kenapa tiba-tiba. Batin Johan.


"Tak usah, Jo. Aku nggk papa." Tolaknya. Menahan tangan Johan yang akan pergi, dan memintanya duduk disampingnya.


Diam. David memejamkan mata dalam diam. Mencoba memaknai potongan episode tak jelas yang berkelebat dalam ingatannya. Memijat pelan pelipisnya yang masih menyisa sakit.


"Kenapa sih kak?" Tanya Johan khawatir dan penasaran.


David masih diam. Menegakkan duduknya setelah merasa kepalanya sedikit baikan. Tak ingin memaksa mengingat apa yang belum dia ingat. Membiarkan semua berjalan sebagaimana mestinya.


"Apakah ditempat ini kakak bisa mengingat masa kecil kakak?" Tanya Johan pelan.


Johan sudah paham alasan David memilih membangun rumah didesa terpencil begini. Bukan karena alasan kedamaian dan ketenangan, tapi ingin mengembalikan kenangan masa kecil yang terlupakan. Masa kecil dan masa remaja yang tak dihadiri Johan juga orang tua serta adek David. Masa lalu yang hanya David dan nenek yang tahu. Entah ada apa dimasa itu. Kenangan yang tak pernah muncul dalam ingatan meskipun tahun-tahun telah berlalu. tak ada tempat bertanya. Dan tak ada lagi yang mempermasalahkannya.


"Entahlah. Tapi mendengar suara teriakan tadi, kayaknya nggk asing untukku. " Ucap David ragu, masih memijit pelipisnya yang masih ada pening meskipun sedikit.


"Mungkin cinta pertama kakak ada disini? Tapi apakah ada jaminan kalo dia juga masih menantimu kak? Setelah sekian lama terpisah tanpa kabar." Ucap Johan mencoba menganalisa keadaan. Berharap David melupakan masa lalu yang entah dia pun tak tahu.


Kalo ucapan pacarnya benar .Thata yang dimaksud David sudah tak sendiri lagi. Johan ingin membuat David move on dan jatuh hati pada yang lain. Jika tak bisa mencintai wanita agresif yang sering datang mengganggunya, Johan akan membantu menemukan wanita yang lebih lembut dan anggun.


Tapi, bukankah ini jauh dari alamat rumah Marta? Mengingat alamat yang sudah dia hapal, tapi belum berani datang berkunjung. Yang lebih tepatnya karena dilarang sang pacar.


Mungkin mereka memang beda orang.


"Apakah kamu percaya jodoh, Jo?" Tanya David pelan. Seakan ingin bertanya pada dirinya sendiri.


"Ya. Aku percaya jodoh sudah ada yang ngatur. Mau dipaksa bagaimana pun kalo bukan jodoh tak akan bersatu. Tapi kalo jodoh mau dipisahkan sejauh apapun akan tetap bersama lagi. Tapi siapa yang tahu dia jodohmu atau bukan?" Johan sering mendengar hakikat jodoh yang sering dijadikan David alasan untuk menunggu wanita yang menurutnya jodohnya itu. Berulang kali membujuk untuk membuka hati pada wanita lain, tetap saja tak dipedulikan. Asik menunggu wanita yang hanya dilihatnya dalam bingkai.

__ADS_1


"Apa salahnya dicoba? Kalo memang dia ada disekitar sini. Suatu hari pasti aku akan ketemu. Aku masih ingat betul wajah cantiknya, dan senyum mempesonanya." Tersenyum membayangkan wajah ayu yang selalu dipandangnya dalam fhoto. Yang sudah terekam dan terpahat jelas dalam hatinya.Terlukis indah dipelupuk mata.


"Kalo dia sudah menikah?"


"Entahlah. Pikir nanti." Jawabnya acuh. Masih tersenyum melukis wajah Thata di langit-langit.


Johan memilih diam. Berdoa semoga kakaknya itu mendapatkan bahagia setelah menunggu begitu lama. Mendapat akhir yang bahagia setelah penantian panjang. Menutup mata dan hati pada orang lain, demi pujaan yang tak tahu dimana.


_______


Sepanjang perjalanan Rena hanya terdiam. Menyembunyikan mukanya dari teriknya matahari. Membonceng motor matic yang dikendarai sahabatnya. Sedari tadi hanya diam mengabaikan pertanyaan dari Tasya. Memeluk erat dari belakang, menyembunyikan matanya yang berair.


"Kamu kenapa sih? Ada masalah?" Tanya Tasya lembut saat merasakan isakan kecil terdengar dari arah belakangnya. Rena hanya diam tak menjawab.


"Kok kita malah kesini?" Tanya Rena melihat sekitar. Dia kini berhenti didepan danau yang cukup tenang dan sepi pengunjung. Tempat yang masih asri, belum ada pembangunan pariwisata.


"Duduk dulu disana yok." Menunjuk batang pohon yang tumbang dan dibiarkan melintang ditepi danau. Menarik Rena untuk berjalan mengikutinya.


"Bukannya aku tak mau mengajakmu kerumahku. Tapi kamu tahu kan? Aku sudah hidup dengan suami dan mertua, takutnya kamu nggk nyaman jika bercerita disana. Ini akhir pekan, semua dirumah." Jelas Tasya, kenapa dia membawa Rena ketempat sepi ini.


"Nanti dulu, aku menenangkan diri dulu." Meminta waktu. Menarik nafas panjang, mengeluarkan perlahan, menormalkan rasa yang menyesakkan dada. Menghirup dalam-dalam angin berhembus yang menenangkan. Melihat air kehijauan yang bergelombang kecil terkena tiupan angin.


Ini tempat kenanganku dulu, Re. Kenang Tasya dalam hati. Tersenyum kecil mengingat masa lalu.


Kamu tahu? Kenangan itu, meskipun hanya terjadi dimasa lalu. Namun mampu menciptakan rasa senang dan sakit yang bersamaan hingga sekarang. Mungkin hingga masa yang akan datang.


"Apakah cintaku salah berlabuh, Sya?" Ucap Rena sendu. Menatap lurus kedepan, memaksa mata untuk tidak luruh.


"Aku tak tahu Re. Tapi kalo memang salah, coba perbaiki. Bila susah memperbaiki pada siapa cinta kita berlabuh, cobalah memperbaiki cara kita mencintai. Cinta tak harus memiliki kan, Re?" Nasehat Tasya pelan. "Emang ada apa sih? Dia menyakiti kamu?"


Padahal sebenarnya Tasya menahan diri untuk tak bicara dan bertanya kenapa dia ada rumah yang pernah menjadi kenangannya. Tadi sempat ragu dengan alamat yang dikirim Rena, setelah yakin dan mendapat sahutan suara Rena ,mencoba masuk untuk bertemu dengan pemiliknya, namun Rena keburu datang dan mengajaknya pergi. Dan tak tega memaksa saat melihat muka Rena yang sendu itu.


"Entahlah Sya. Padahal aku sempat menaruh harapan lebih padanya, karena akhir-akhir ini sering bareng. Aku merasa ada perubahan besar pada hubungan ini." Cerita Rena. Rena mulai bercerita tentang kebersamaan dipantai yang selalu bertemu meskipun sebentar setelah malam itu. Meskipun tak tiap hari, hanya Rena yang datang setiap malam, namun David hanya beberapa kali dalam seminggu. Juga David yang sudah mulai mau diajak bicara dikit-dikit saat dia berkunjung ke restonya. Bahkan sesekali menggratiskan makanannya. Hingga dia juga bercerita tentang ucapan Jo yang dianggapnya sopir. Tapi kini dia berfikir. Tak mungkin seorang sopir sekeren itu, dan seberani itu berucap. Lagian David sama sekali tak berniat memperkenalkan mereka.


"Aku pikir dia sudah mulai menerimaku, tapi nyatanya aku hanya dianggap pengganggu akan ketenangan hidupnya. " Suara sendu Rena terdengar.

__ADS_1


"Udahlah. Nggk usah terlalu diambil pusing ucapan si Jo itu. Selagi bukan Davidmu yang mengucapkan, nggk usah dipikirkan." Nasehat Tasya. Tak ingin melihat sahabatnya sedih begini.


"Cinta itu bisa ada karena terbiasa kok. Mungkin awalnya kehadirannya mengganggu, tapi bisa jadi nanti menjadi sesuatu yang selalu ditunggu. Santai aja lah. Usaha terus." Tambah Tasya menyemangati.


"Tapi...."


"Udah nggk usah tapi-tapi."


"Ya lah. Nggk usah pikirin kata orang ya?" Mencoba santai.


"Ya begitulah seharusnya. Biar bisa bahagia. " Setuju Tasya.


"Sekarang boleh nggk gantian aku yang cerita?" Tasya bicara hati-hati.


"Bolehlah, silahkan. " Memasang sikap menjadi pendengar yang baik. Jarang-jarang sahabatnya itu mau curhat tanpa dipancing dulu. Biasanya susah menceritakan keadaan hatinya.


" Kamu kenapa ada di pembangunan rumah tadi?" Tanyanya penuh selidik.


"Ya itu kan calon rumahnya David. Kenapa?" Jawab Rena dengan raut bingung. Tak tahu kemana arah bicara Tasya.


Calon? Berarti dia bukan pemilik yang dulu? Apakah benar lokasi itu sudah dijual?


"Katanya mau cerita?" Tagih Rena yang belum paham titik permasalahan.


"Nggk jadi. Kerumahku yok. Katanya mau ngerujak?"


________


Mari mampir. 💞💞


Selamat membaca. 🤗🤗


Semoga suka membaca tulisan amatir ini.😆😆


Jangan lupa klik 💓 dan like ya.

__ADS_1


Atau hadiah dan vote nya juga......


__ADS_2