Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Kenikmatan Yang Nikmat


__ADS_3

Setelah permainan yang cukup lama Reyhan mainkan. Kini dia sudah lelah dan berbaring disebelahku. Dengan tangan memelukku erat.


Malam sudah semakin larut. Bahkan jarum jam dinding kamarku tegak lurus menunjuk pada angka yang sama. Aku kini bisa bernafas lega. Namun air mata masih enggan berhenti mengalir, meskipun tanpa suara dan isakan. Sangat menyesakkan menahan tangis agar tak didengar oleh orang yang ada diruangan yang sama. Bahkan yang sedang memeluk kita. Gagal. Usahaku gagal. Dia tetap menyadari tangisanku.


"Maaf sayang." Suara lirih Reyhan kembali mencium keningku lama, lebih mengeratkan pelukan. Aku hanya diam menerima semua perlakuannya. Perlakuan manis namun sangat meresahkan bagiku kini.


"Apa terlalu sakit? Aku kurang pelan ya mainnya? " Merenggankan pelukan dan melihat mukaku yang masih terdiam. Menghapus jejak air mata dipipi. Nampak sekali dia merasa bersalah.


'Bukan bukan itu yang sakit, tapi hatiku yang lebih sakit.' Teriakku hanya bisa dalam hati. Karena nyatanya kata hati dan respon tubuhku tak berbanding lurus. Hati berkata tak rela, tapi bibir mengulas senyuman.


Reyhan bermain sangat pelan dan lembut. Mungkin karena dia paham untuk perempuan pertama berhubungan pastilah sakit. Makanya dia melakukan sangat lembut, bahkan tak ada jejak tertinggal dikulitku. Selain rasa sedikit nyeri diarea paling sensitif. Itupun terkaburkan oleh rasa gemuruh didada.


"Ya udah istirahatlah. Malam ini aku tak akan mengulanginya lagi. Tidurlah." Kembali merapatkan pelukan, dan mencium puncak kepalaku berulang. Dengan tangan membelai rambut panjangku yang terurai.


Karena lelah badan, hati, juga pikiran. Akhirnya aku tertidur lelap. Ku pikir dia benar-benar akan menepati janjinya untuk tak mengulanginya lagi. Ternyata bohong.


"Katanya tak mau mengulang lagi?" Cebikku saat merasa ada yang mengganggu tidurku. Tangannya tak mau diam meraba semua yang ia inginkan.


"Ini udah pagi sayang. Boleh ya?" Ucapnya dengan sorot mata penuh permohonan. Ku lirik jam dinding. Benar, ini sudah menjelang pagi. Aku hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepala.


Hingga kejadian semalam terulang lagi dipagi hari.Selesai dengan hajadnya Reyhan langsung bangun untuk mandi. Sedangkan aku menolak saat diajak mandi bersama. Memilih kembali menarik selimut meskipun bedug sudah ditabuh. Tanda fajar telah tiba. Tapi pagi ini aku lebih mampu menikmati semua sentuhan suami. Menikmati kenikmatan yang memang nikmat.


Aku bangkit dari tempat tidur saat fentilasi menunjukkan suasana langit yang mulai remang. Gelap akan segera lenyap meninggalkan bumi.


"Aduh." Rintihku pelan karena terasa nyeri dipangkal paha saat akan berjalan. Hingga membuatku berjalan ngangkang. Menarik kimono plus handuk panjang untuk dibawa kekamar mandi.


"Kenapa malam pertamanya nggk dirumah sana aja sih?" Gerutuku. Masalahnya kalo disini kamar mandinya ada diluar kamar. Tak seperti dirumah Reyhan yang punya kamar mandi didalam kamar.


"Kemaren-kemaren kalo dipaksa seperti semalam juga tak akan bisa nolak aku." Masih bersungut sebal dengan jalan sedikit kesusahan.


"Cie cie."


"Astagfirrullah. Kamu apaan sih dek? Ngagetin aja." Seruku kaget, memukulnya dengan handuk yang ku pegang. Ternyata ada Marta diluar kamar mandi, berdiri disamping mesin cuci sambil memegang detergent.


"Ck. Pengantin baru mah jam segini baru bangun ya? Kecapean Palingan? Jadi rajin mandi." Ledeknya dengan muka minta di pukul lagi.


"Apaan sih lo, dek?" Sebalku akan ledekannya, yang membuatku malu.


"Kenapa jalannya gitu, kak?" Tanyanya memperhatikanku yang berjalan seperti orang habis khitan aja.

__ADS_1


"Kepo lo?"


"Kebanyakan tu kak."


"Apaan sih lo dek? Kayaknya kamu udah pengalaman ya? Paham banget." Kesalku.


"Kita tahu sesuatu tak harus pernah mengalaminya ,kak. Tapi pernah belajar aja. Katanya kan sakitnya waktu pertama aja. Ni udah seminggu masih sakit aja, karena apa lagi kalo bukan karena kebanyakan?"


Ampun deh mulut ni anak. Tak tahu apa kalo ini memang yang pertama?


"Terserah lo dek." Masuk kamar mandi dan menutup pintu dengan keras, yang dibalas tawa senang dari luar.


"Semangat kakak. Biar aku cepat dapat keponakan baru. Aku tunggu kabar baiknya lo. " Teriak Marta dari luar dan disusul tawa ngakaknya. Yang membuatku geram ingin mites tu anak.


_____


Pagi ini setelah sholat subuh yang sengaja kesiangan. Aku milih membaringkan tubuh diatas tempat tidur lagi. Malas mau ngapa-ngapain. Biarkan Marta yang mengurus semuanya. Mumpung dia masih ada dirumah. Karena besok lusa sudah kembali ngampus lagi setelah libur panjang.


"Kok bobok lagi ,Yang? Nggk masak ni? Mau cari makan diluar lagi?" Tanya Reyhan yang menyusulku diatas tempat tidur.


"Biar Marta yang masak. Meskipun tak terlalu pandai, tapi dia bisa masak kok." Jawabku tanpa melihatnya.


"Kenapa? Apakah masih sakit?" Tanyanya pelan sambil menyentuh kakiku bagian atas.


"Hemmz."


"Ya udah, istirahat lah. Aku mau nemani Abah dulu ya. Tadi dia minta ditemani minum kopi." Izinnya dan membenarkan selimut, lalu turun dari tempat tidur.


Ternyata tak enak juga pagi-pagi cuma bergelung dibawah selimut. Nyatanya tak bisa tidur, malah bikin kepala pusing.


"Masak apa, Dek?" Tanyaku mendekati Marta yang sedang kesusahan memasak didapur.


"Nggk usah pake tanya. Bantuin kek. " Jawabnya judes dan tangan kanan membalik telor goreng.


"Sekali-kali masak sendiri, biar pinter." Bukannya bantuin, aku milih duduk dimeja makan tak jauh darinya.


"Nggk sekali-kali lagi kak. Sejak kakak nikah aku terus yang masak tahu. " Mematikan kompor dan menata makanan.


"Tumben. Biasanya kak Ina yang masak."

__ADS_1


"Nggk boleh sama abah."


Setelah menyiapkan makanan, gantian Marta mencuci peralatan masak yang kotor. Aku hanya menonton aja. Memilih mengambil telor untuk sarapan, plus sedikit nasi dan sayur. Entah kenapa perut terasa lapar sekali, mungkin karena aktifitas malam dan pagi tadi yang cukup menguras energi. Makanya pagi-pagi udah lapar.


"Eh. Sejak kapan kakak jadi tak sopan makan tak menunggu yang lebih tua gini?" Menegurku dan memukul tanganku yang siap menyuap makanan.


"Aku lapar, dek." Protes.


"Panggil yang lain dulu lah. Sarapan bareng-bareng."


"Kamu lah yang manggil." Gantian memerintah.


"Ck." Decaknya kesal dengan tangan mengepal seperti orang mau memukul.


"Lebih tak sopan itu."


"Abah, bang Rey. Sarapan siap." Teriak Marta menghadap pintu belakang. Tempat Abah dan Reyhan minum kopi sambil mengasih makan ikan dikolam belakang.


"Iya." Sahut dari luar. Sedangkan aku sudah memulai menyantap sarapan, yang rasanya lumayan lah. Meskipun tak bisa dibilang sempurna.


"Loh, Tasya kok makan duluan?" Tanya abah yang datang bersama Reyhan. Sedangkan Marta mengambilkan makan untuk abah.


"Maaf, bah. Nggk papa kan?" Ucapku tak enak hati.


"Nggk papa ." Jawabnya.


"Kak Tasya udah kelaperan ,Bah. Habis kerja keras semalaman." Ucap Marta.


Uhuk uhuk. Aku terbatuk tersedak makanan karena kaget mendengar ucapan adek yang mulutnya tak disaring itu.


"Hati-hati dong kalo makan." Ucap lembut suamiku sambil memberikan minum, dan tangan sebelah memijit pelan tengkukku.


"Udah ,makan aja yang tenang. Tak ada yang marah, juga tak ada yang minta." Kata abah lagi.


"Benar tu. Aku ikhlas." Kata Marta yang membuatku tak paham.


"Ini bukan Tasya yang masak ya?" Tanya abah setelah mencicip makanannya. Sudah hapal abah.


"Marta, bah." Tujuanku pada orang yang masak.

__ADS_1


"Kak Tasya kecapean bah. Tak kuat masak." Cetus Marta yang membuatku melotot marah. Diam!


__ADS_2