Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Sudah Bersuami


__ADS_3

"Ya. Mungkin memang ini suratan takdir yang harus terjadi." Ucapnya dengan mengeluarkan nafas kasar. Menunduk dalam , memutar duduk menghadap danau yang memerah membiaskan cahaya matahari senja. Ku tarik tangan yang sejak tadi dalam genggamannya. Dia pun tak memaksa.


"Sejak kapan kamu pindah kedaerah ini?" Pertanyaan yang membuatku melihatnya sejenak. Berfikir.


"Kurang lebih tiga bulan lalu." Jawabku apa adanya.


"Abah dirumah?"


"Dirumah."


"Boleh aku mampir? Aku ingin ketemu abah."


"Kalo mau ketemu abah datanglah kerumah abah." Jawabku miris.


Apa maksudnya ini? Apakah dia mengira aku masih betah sendiri menunggu kedatangannya yang tak pasti itu? Menolak setiap lelaki yang datang meminang? Apakah cinta satu-satunya syarat untuk menikah? Nyatanya aku tetap bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan lelaki yang baru ku temui, saat cinta ini masih dimilikinya.


"Maksudnya?" Tanyanya bingung, menerka maksud jawabanku. Kembali duduk menatapku intens. Meraba kemungkinan terburuk yang tak ia inginkan.


Lelah dan sakit badan yang tadi kurasakan sudah menguap. Terkalahkan sakit dihati yang sangat menyesakkan. Ingin marah dan memaki, ingin pula memeluk erat melepaskan rindu yang tertahan. Namun aku tak kuat merealisasikan. Hanya diam dan diam menjadi pilihan. Tak tahu harus menjelaskan apa pada Arfan. Tak tega menghacurkan kebahagiaannya yang terlihat jelas saat bertemu kembali denganku. Sangat terlihat dia merindukanku dan merasa bersalah sudah menghilang tanpa kabar. Meskipun nampak tak berniat menjelaskan alasannya pergi tanpa kabar.


drrt drrt


Deringan ponsel yang tersimpan dialam tasku. Ku lihat Amel hanya duduk membelakangi kami, dan sesekali melirik takut dan khawatir. Aku bisa menebak apa yang dia khawatirkan.


"Maaf. Aku angkat telpon dulu." Pamitku untuk menerima panggilan yang ternyata dari Reyhan. Namun aku tak menyingkir, tetap duduk ditempat.


Arfan mempersilahkanku dengan senyumannya.


"Assalamualaikum." Salamku saat panggilan tersambung.


"Waalaikum salam. Sayang, kamu masih dimana sekarang?" Suara Reyhan terdengar khawatir, ku lirik Arfan hanya melihatku tanpa suara.


Aku menelan ludah kasar. Bagaimana menjelaskannya?

__ADS_1


"Aku masih didanau." Jawabku mencoba senormal mungkin. Meskipun rasanya jantungku berdetak diatas normal. Pastinya aku takut kalo sampai Reyhan tahu aku ketemu dengan mantan. Meskipun aku tak tahu pasti apakah Reyhan tahu kalo Arfan adalah mantanku.


"Belum pulang? Emang belum kelar masalahnya? Apa perlu aku susul kesana?" Suara Reyhan masih terdengar khawatir. Pastinya dia sudah tahu aku pergi kemana dan ngapain, karena Bunda pastinya cerita. Mungkin dia menghawatirkan kesehatanku yang kurang baik ini.


"Nggk usah. Ini udah selesai kok. Ni juga mau jalan pulang." Jawabku mencoba menenangkan, ku lihat Arfan nampak mengernyitkan kening mendengar ucapanku.


"Yakin tak papa? Atau aku jemput pake mobil ya? Kamu kan kalo sore biasanya kepalanya pusing. "


"Nggk usah. Aku aman sama amel, nggk usah khawatir. Tunggu aja aku pulang." Jawabku.


"Ya udah kalo gitu. Cepetan pulang. Sudah mau magrib ini."


"Iya. Assalamualaikum." Salamku, tanpa menunggu jawaban langsung ku tutup.


Ku lihat Amel berdiri setelah melihat ponselny. "Udah disuruh pulang mbk." Ucapnya memberikan kode untuk pulang. Mungkin dia juga mendapatkan perintah dari Reyhan untuk segera membawaku pulang.


"Iya." Jawabku, ku lihat Amel berjalan lebih dulu kearah motor yang terparkir tak jauh dari tempat kami duduk.


"Maaf , Ar. Aku harus pulang." Pamitku.


"Kamu tak ingin menjelaskan padaku dulu? Banyak hal yang belum aku tahu. " Ucapnya keberatan mengizinkanku pergi.


"Tentang apa?" Tantangku yang mengumpulkan tenaga untuk berjalan sendiri, karena Amel sudah jalan duluan.


"Tentang banyak hal. Pertanyaanku yang tadi belum kamu jawab. Yang sekarang juga belum kamu jawab. Ada hal yang kamu sembunyikan dari aku?" Ucapnya menahanku.


"Maaf, Aku tak pernah berniat menyembunyikan apapun darimu. Yang menjadi masalah adalah, kepergianmu yang terlalu lama. Yang melewatkan banyak cerita dalam hidupku. Dan aku tak tahu bagian mana yang ingin kamu tahu, dan mana yang tak perlu kau tahu." Jawabku malas. Lebih tepatnya malas mengingat semua hal menyakitkan setelah kepergian Arfan. Semua hal dalam hidupku terasa menyakitkan setelah menghilangnya dia. Kini aku mulai belajar menata hidup baru, menerima orang baru dalam hidupku. Namun kenapa dia malah datang? Yang membuatku goyah untuk bertahan atau kembali. Meskipun otakku sudah punya jawaban pasti. Namun hatiku masih ragu.


"Siapa tadi yang telpon? Dan apa maksudnya rumah abah? Apa kamu sudah punya rumah sendiri?" Tanyanya pada hal yang ingin dia tahu.


" Oh, yang tadi telpon adalah suamiku. Dan kenapa aku ada disini? Karena ikut suami pastinya. Dan abah masih dirumah kami yang dulu. Aku rasa itu sudah cukup menjelaskan semuanya kan?" Jawabku tepat pada intinya.


Cepat atau lambat bukankah Arfan harus tahu? Rela atau tak rela aku sudah terikat janji pernikahan dan Arfan harus mencari wanita pengganti untuk mengisi hatinya. Meskipun aku yang sudah bersuamipun nyatanya masih menyimpan namanya di hatiku. Bagaimana mungkin aku bisa memaksanya untuk Move on? Saat aku sendiri aja gagal melakukannya.

__ADS_1


Ku lihat Arfan terperanjat kaget atas jawabanku, nampak tak percaya.


"Kamu bohongkan? Aku salah dengarkan?" Tanyanya meyakinkan. Takut salah dengar.


"Aku tak bohong. Aku menikah tiga bulan yang lalu." Jawabku bergetar, namun ku coba kuat.


matanya menatap kosong dengan menggumamkan kata sudah menikah berulang. Dan duduk kembali dengan wajah berubah mendung. Hilang sudah raut ceria dan penuh penyesalan tadi.


Dengan berat hati dan menekan seluruh rasa kasihan dan tak tega aku melangkah meninggalkannya yang masih terdiam. Dia sama sekali tak menahanku lagi, bahkan sama sekali tak melihat kepergianku. Menunduk dalam melihat tanah hitam dibawahnya.


"Satu lagi." Aku berbalik menghadapnya. "Jangan ganggu aku lagi, dan jangan temui aku. Carilah perempuan yang lebih baik sebagai penggantiku. Melihatmu kini, ku yakin tak susah bagimu untuk mencari penggantiku." Kataku memperingatkan. Lebih tepatnya mencari aman.


Susah sebenarnya menyuruh lelaki yang kita cintai memilih wanita lain sebagai pendamping. Tapi ini adalah keharusan, bukan pilihan. Aku tak mungkin meninggalkan Reyhan dan berpindah pada Arfan. Aku tak mungkin memilih itu. Aku tak mau mengecewakan Abah dan Bunda, meskipun hatiku sendiri yang akhirnya harus kecewa sebagai balasannya. Kecewa tak bisa bersanding dengan lelaki impian dan idaman. Tapi aku bisa apa? Apakah aku harus bersikap egois?


"Bagiku, kamu adalah wanita terbaik. Tak ada yang lebih baik lagi." Jawabnya dengan gumaman pelan. Sama sekali tak melihatku. Sedih banget melihatnya yang terdiam kecewa begini. Ingin memeluk dan menguatkan, namun itu tak mungkin bukan?


"Kamu hanya belum mencoba." Jawabku, lalu pergi meninggalkan tempat.


Tanpa diperintah Amel langsung melajukan motornya saat aku sudah naik. Tanpa banyak tanya, membiarkanku menyandarkan kepalaku dibahunya.


"Menangislah mbk kalo mau menangis." Ucapnya yang merasakan eratnya pelukanku, dan mendengar isakan tertahan dariku.


"Jangan cerita sama suamiku tentang semua tadi. Seandainya aku sehat dan kuat, aku juga tak mau dipeluk-peluk begitu sama dia. Dia hanya membantuku biar tak jatuh." Ucapku memberi peringatan, dan memberikan alasan tentang kejadian tadi. Padahal tak perlu dijelaskan. Ku yakin Amel sudah bisa menebak apa yang terjadi dari pembicaraan kami tadi. Alasanku hanya menjelaskan kalo aku ingin menutupi saja.


"Iya, mbk. Lagian ku yakin mbk tak berniat menemuinya tadi kan? Mbk pasti awalnya tak tahu siapa yang ngebet ingin ketemu. "Jawabnya patuh, sama sekali tak menyalahkanku. Lagian aku tak salah bukan?


"Makasih. Kalo sampai ada yang tahu soal tadi. Kamu berati biangnya."


"Aku bisa jaga rahasia mbk. Mbk kalo mau curhat aku juga siap dengerin kok. Pasti sakit kan punya masalah disimpan sendiri?" Memelankan laju motornya.


"Aku lagi tak ingin cerita, aku hanya ingin nangis. " Jawabku disela isak.


"Menangis lah mbk, kalo itu bisa buat mbk lebih tenang."

__ADS_1


__ADS_2