Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Layanan Istimewa


__ADS_3

"Heh, situ lupa kapan makan gratis disini?" Dengan lirikan yang tak mengenakkan penglihatan.


Rena tak lupa kejadian awal dia mampir untuk makan disini sendirian karena marah dengan papanya yang minta izin untuk menikah lagi. Dan sialnya dia lupa saat keluar rumah tak bawa tas, pun dompet. Karena terlalu emosi sehingga lupa membawa uang sepeserpun. Karena sudah terlanjur makan dan tak bisa bayar, jadilah Rena menjadi tukang cuci piring dadakan , dari petang hingga waktunya tutup. Membuat tangan mulusnya mengeriput karena kelamaan kena air. Juga lelah yang sangat karena tak biasa kerja begituan.


"Kenapa malah senyum-senyum gitu?" Tanya David, aneh melihat Rena yang malah senyum-senyum tak jelas.


"Ekhem." Berdehem pelan untuk menormalkan suasa hatinya. "Mana mungkin lupa akan kekejamanmu yang nyuruh aku cuci piring semalaman? Tapi makasih lo." Kenang Rena akan kejadian beberapa bulan lalu. Kenangan menyebalkan, namun senang saat mengenangnya.


"Kenapa?" Tanyanya yang dijawab senyuman oleh Rena, yang membuat David geleng-geleng kepala lalu fokus pada pekerjaannya lagi. Sinting ni anak. Begitu mungkin penilaiannya.


"Tumben pak bos sibuk kerja?" Melirik mesin kasir, dan laci yang banyak uang. "Biasanya cuma duduk manis main ponsel." Tambah Rena memperagakan kebiasaan David yang sering menjadi perhatiannya.


"Mau aja." Jawabnya acuh. Sudah berpindah mengoperasikan ponsel.


"Ini, mbk pesanannya . Selamat menikmati." Ucap pengantar makanan dengan suara sopan bin lembut. Rena membalas senyuman. David hanya melirik cewek yang duduk tak jauh darinya itu.


"Pak bos udah makan belum? Makan bareng yok." Tanya Rena menggeser makanan mendekat. Dan melihat David yang tetap diam tanpa menjawab. Hanya mendengus kasar, jengah dengan kelakuan Rena yang sering mampir dan mengganggu konsentrasi kerjanya dengan tingkah capernya. Meskipun tak tiap hari sih. Karena David juga tak tiap hari datang kesini.


"Meskipun sibuk, jangan lupa tetap jaga kesehatan bos. Makan yang banyak." Menggeser piring mendekat kearah David, juga menarik kursinya lebih dekat , tak lupa selalu menyungging senyum manisnya.


"Stop." menghentikan gerakan Rena yang mendekat. Mendorong kembali makanan juga kursi pada tempatnya semula. "Makan dan duduk." Perintah David menunjuk makanan juga kursi bergantian. Rena menurut, hilang senyuman yang tadi ia tampilkan. Meskipun David selalu bersikap dingin dan acuh, tapi tetap mengerikan jika dia menjadi marah begini. Seakan keluar tanduk siap melakukan apapun untuk menghentikan lawan.


Rena makan dengan perlahan. Sesekali melirik David yang sama sekali tak pernah melihat kearahnya lagi. Makanan mahal yang biasanya nikmat, kini jadi terasa hambar dilidahnya. Memang sengaja makan lambat biar bisa puas menatap wajah rupawan itu. Melihat lelaki dingin yang susah digapai, namun juga tak mampu untuk berpaling.


Sabar, Re. Semua akan indah pada waktunya. Usaha terus, pantang menyerah. Batin Rena menyemangati diri sendiri.


Cukup lama Rena duduk ditempatnya. Tak terasa dia udah duduk tiga jam didalam restaurant tanpa melakukan apapun. Makanan sudah habis sedari tadi. Cuma duduk memainkan ponsel sambil memperhatikan David, sesekali juga sembunyi-sembunyi mengambil gambarnya. Dan tersenyum kecil saat melihat hasil jepretan kameranya

__ADS_1


David sedari tadi juga cuma sibuk bekerja. Sama sekali tak melihat Rena. Juga mengabaikan saat Rena kembali mengajaknya bicara. Hingga Rena lelah dan tak mengganggu lagi. Duduk dengan manis.


"Kamu mau nginap disini?" Sindir David, melirik Rena yang masih duduk ditempatnya. Rena bukannya marah malah tersenyum lebar. Akhirnya David mau bersuara lagi setelah lama diam dan mengacuhkannya.


"Kalo pak bos nginap disini, aku juga mau nginap disini." Jawab asal Rena, Dengan senyum mengembang, dan mata berkedip-kedip genit melihat David. Dan kedua tangan menyangga kedua pipinya.


"Bentar lagi tutup." Peringatan, atau pengusiran? Lagian pengunjung belum habis sempurna. Rena mengedarkan pandangan, masih ada beberapa kursi yang terisi pengunjung. Karena memang banyak pengunjung yang betah bercengkrama direstaurant yang nyaman dan elegant ini. Pastilah betah berlama-lama. Rena juga tak merasa bosan meskipun sudah tiga jam duduk disana.


"Masak restaurant elite jam segini udah mau tutup aja?" Ucap Rena mencibir, tetap duduk tenang ditempatnya. Tak pedulikan David yang geram karenanya.


Ting.


Pesan masuk ke hp Rena. Dari bibi yang mengabarkan kalo papanya sudah pulang dan menanyakan keberadaannya. Meminta Rena pulang sebelum papanya marah lagi.


Seharusnya dia yang marah kan? Meskipun tak diizinkan, papanya tetap aja nikahin tu gadis muda. Sungut Rena mengingat perlakuan papanya.


"Bos aku mau pulang. Berapa ni?" Suara Rena terdengar lesu dan tak ikhlas.


"Lima juta." Jawab David tegas tanpa melihat kearah Rena. Dengan senyum kecil menghiasi bibirnya.


"Apa?" Tanya Rena syok, dan membelalakkan matanya tak percaya. Sejak kapan menu makanan disini naik semua? " Kau mau memerasku ya? Biasanya paling cuma setengah juta pun. Kenapa sekarang naik sepuluh kali lipat?" Seru Rena geram, yang membuatnya menjadi pusat perhatian.


"Kalo tak mampu bayar, lain kali tak usah kesini lagi." Jawab David santai namun penuh cibiran. Hanya melirik Rena yang kini sudah berdiri disamping tempatnya duduk.


"Bukannya tak kuat bayar. Tapi kenapa jadi mahal begitu? Kamu udah kaya masih suka memeras orang lain ya?" Masih protes tak terima.


Jumlah itu 80% dari gajinya sebulan. Meskipun Rena tetap mendapat uang saku empat kali lipat gaji ,dari orang tuanya yang bisnisman. Tapi dua bulan terakhir uang saku dari papanya juga dipangkas setengah.

__ADS_1


Bisa bangkrut kalo tiap hari makan disini. Gerutunya dalam hati.


" Biasanya kamu hanya makan makanan disini, wajar kalo harganya setandar. Kali ini kamu minta pelayanan kusus dengan duduk dikursi pekerja. Juga mendapat kesempatan sepesial bisa makan disampingku. Makanya jadi naik berkali lipat. Obrolannya belum ku hitung itu lo. Aku masih berbaik hati , anggap aja bonus. " Jawab David pongah. Tapi sejak kenal, baru kali ini David bicara sepanjang itu. Tapi Rena tak menghiraukan, lebih banyak kesalnya.


Rena geram dengan tangan naik dan mengepal dengan gerakan meremas, geregetan. Untung cinta. Sedangkan David tersenyum dalam hati melihat kekesalan diwajah gadis yang biasanya ceria itu.


"Ni." Meletakkan kasar kartu pemberian papanya. Dan melengos pergi setelah bertransaksi.


Kalo tahu mendekati cowok itu butuh modal lebih. Kenapa ku tolak tawaran papa untuk kerja diperusahaan? Pastilah gajinya lebih besar. Rena berfikir sambil melangkah pergi meninggalkan tempat mewah itu. Sama sekali tak melihat kebelakang. Sibuk dengan pikirannya sendiri.


Tapi tak maulah. Nanti wanita itu besar kepala lagi. Dikiranya aku udah merestui hubungan mereka. Aku tak mau.


Sedangkan David tersenyum samar . Senang bisa melihat wajah menggemaskan yang sedang ngambek itu. Tak bersikap ngeyel dan ceria seperti biasnya. Begitu lebih manis.


David tahu betul siapa keluarga Rena. Makanya dia berani bersikap begitu. Rena adalah anak dari pemilik hotel yang didalamnya ada restaurant milik David. Usahanya juga bergerak dalam bidang makanan instan dan minuman yang semua produknya laku keras dipasaran.


"Eh, kenapa aku melihatnya begitu?" Gumam David menyadarkan diri sendiri. Menggeleng-gelengkan kepala mengingat kelakuannya.


"Ingat, Dav. Kamu harus menemui Thata sebelum memutuskan membuka hati pada yang lain." Mengingatkan diri sendiri.


_______


Selamat membaca.🤗


Happy weekend.😂


Jangan lupa klit favorit ya. Dan like, koment, gift, serta votenya.🤗🤗💓💓

__ADS_1


__ADS_2