
Disebuah jalan raya besar. Dengan mobil berlalu lalang tanpa henti, suara klakson bersahutan memekakkan telinga. Udara panas kerena sengatan matahari dari atas sana, ditambah polutan dari kenalpot kendaraan yang tak berhenti memadati jalanan. Menambah gerah dan panasnya suasana kota. Jam sepuluh pagi disini sudah seperti tengah hari didesa yang masih ada sepoinya angin bertiup, menggoyangkan dedaunan menyejukkan atmosfer.
Gadis manis dengan rambut sebahu diurai berjalan ditrotoar. Jilbab panjang yang tadi dipake untuk menutup kepala, kini sudah terikat di pinggang. Tangan kirinya menyeret koper mini, sedangkan tangan kanannya mengibas-ngibas ujung jilbab mengusir panas. Berulang berhenti menunggu angkutan umum lewat, namun sedari tadi tak juga ketemu dengan angkutan umum yang searah tujuannya. Tak sabar. Akhirnya memilih jalan kaki menempuh jalan yang tidaklah dekat.
"Coba aja ada Kakak. Pasti nggk capek begini." Keluhnya. Menghentakkan kaki yang sudah mulai terasa pegal. Menarik nafas panjang mengeluarkan lagi. Mengangkat tangan yang terkepal untuk memberi semangat pada diri sendiri.
Dia adalah Marta. Sudah waktunya untuk kembali kekota demi melanjutkan kuliahnya. Sama abah dia sudah dipesankan taksi untuk antar alamat. Diturunkan tepat didepan pagar asramanya.
Namanya anak muda. Entah apa yang dicarinya. Dia urung masuk kedalam asrama, memilih melanjutkan perjalanan. Niatnya Ingin mengobati rindu bertemu sang pujaan hati. Bertekad menemui kekasihnya sebelum kembali terkurung diasrama.
Asrama yang dia tempati khusus wanita. Menegakkan peraturan ketat sesuai syariat agama yang dianutnya. Dan yang pasti dilarang keras PACARAN. Itu yang utama. Tak boleh lelaki bukan mahram masuk kekawasan asrama apapun alasannya. Tapi namanya manusia. Pandai sekali mencari celah kesempatan untuk melanggar peraturan tertulis. Padahal tak tanggung-tanggung hukumannya jika ketahuan melanggar. Tapi nampaknya gadis itu tak takut.
Beda Tasya , beda pula dengan Marta. Marta itu sedikit agresif dan banyak bicara. Susah diatur dan selalu punya alasan menolak untuk menutup aurat. Padahal ditempatnya hidup ,rata-rata memakai jilbab meskipun banyak juga yang jauh dari kata Syar'i. Begitu pun dengan gadis itu. Dia hanya memakai jilbab kalau dilingkungan asrama aja. Selepasnya ya lepas aja.
Kini dia sudah sampai didepan bangunan mewah. Marta menyambangi restaurant elite milik kekasihnya. Kekasih yang jarang sekali ketemu. Hanya sering berinteraksi lewat chating and calling. Bahkan belum pernah dikenalkan dengan keluarganya. Meskipun gosipnya sudah menyebar kemana-mana. Hanya saling percaya yang membuat mereka bertahan menjalin hubungan hingga setahun lamanya.
"Huh. Akhirnya sampai juga." Merasa lega melihat bangunan yang dituju. Mengatur nafas agar tak ngos-ngosan. Mematut diri lewat pantulan diponselnya.
"Ah, kusam kali." Menggerutu saat melihat wajahnya sendiri yang kusam dan berdebu setelah melewati jalanan padat kendaraan.
Memasuki restaurant langsung menuju belakang mencari toilet untuk sekedar menghapus debu diwajahnya. Meskipun tak sering datang ketempat mewah ini, tapi ini juga bukan yang pertama kali. Dia masih paham dimana letak toilet, pun ruangan sang pujaan.
Dengan riang dia berjalan menuju ruangan kerja mas Johan nya. Menyapa beberapa pekerja saat berpapasan. Tak ada yang melarangnya untuk masuk. Sebagian sudah kenal dan paham siapa Marta. Kekasih sang bos.
Senyum cerah menghiasi wajahnya.Mengalahkam sinar mentari pagi hari. Kaki pegalnya sudah kembali bertenaga. Hilang semua lelah setelah berjalan. Menghayal penyambutan hangat dari sang kekasih, juga wajah bahagianya saat melihat kedatangannya yang tak terduga. Membayangkan senyuman manis dari wajah rupawan Johan yang sebulan ini hanya bisa dilihat melalui layar ponselnya.
"Assalam...." Salamnya terhenti demi melihat siapa orang yang ada didalam sana. Urung masuk. Memilih bersembunyi dibalik satu pintu yang tertutup. Hanya ruang sang bos yang memiliki dua pintu yang memudahkan Marta menghapalnya, dan satu pintunya kini telah terbuka.
__ADS_1
Jantungnya serasa berhenti seketika, sedikit syok melihat pemandangan didalam sana. Tak percaya. Itu yang dia rasakan. Marta kembali mengintip kedalam. Masih dalam posisi yang sama. Mereka duduk berhadapan dipisahkan oleh meja, sedangkan Johan duduk membelakangi pintu masuk.
"Aku tak salah lihat kan? Benarkah itu dia?" Bermonolog meyakinkan diri. Memukul pipinya sendiri untuk meyakinkan kalo ini bukanlah mimpi. "Aduh, sakit." Mengaduh saat merasakan tamparannya sendiri.
Sepuluh tahun berlalu. Masih tergambar jelas dalam ingatan wajah lelaki yang dulu sering datang kerumah. Membawakan Chiki kesukaannya. Sering membelikan eskrim saat dia diminta menemaninya jalan-jalan. Tak paham kalo dulu dia dijadikan obat nyamuk. Yang penting bagi Marta kecil mendapatkan imbalan eskrim berbagai macam rasa.
Meskipun dulu dia masih berumur sepuluh tahun. Tapi dia mampu merekam dengan jelas wajah orang yang membuat kakaknya menjadi muram dan pendiam. Wajah yang hingga kini masih sama, meskipun dengan gurat wajah yang lebih tegas dan berwibawa. Badan yang lebih tegap dan berisi. Sorot mata yang lebih tajam dan menakutkan.
Tak, tak.
Suara dari pintu sampingnya yang dihantam benda kecil, dan jatuh menghantam lantai kembali. Membuyarkan lamunan Marta tentang masa lalu. Dan melihat apa yang berbunyi disampingnya. Ternyata ada pena jatuh. Marta jongkok untuk memungutnya.
"Kenapa kau menguping disitu?" Suara tegas lelaki tadi, yang membuat Marta mematung dan tak berani bergerak. Ketahuan deh. Ternyata pena itu memang dilempar kearahnya yang menguping.
Menguping apa? Bahkan aku tak dengar apa-apa. Hanya bisik-bisik tak jelas membahas apa. Ngedumel dalam hati.
"Hehe. Maaf. Aku nggk nguping kok." Ucapnya gugup, mencoba membuang malu dan grogi.
"Sayang. Sejak kapan kau ada disitu?" Tanya Johan yang menyadari siapa yang didepan ruangannya.
"Baru kok. "Jawabnya ragu.
"Sini dong duduk." Melambai meminta mendekat, dan berjalan mendekat saat Marta masih berdiri ditempat bagaikan patung.
"Dia kekasihmu?" Tanya lelaki yang masih duduk tenang dikursinya, dengan masih menampilkan wajah dinginnya.
"Iya. Ini kekasihku."
__ADS_1
"Nggk ganggu nih?" Tanya Marya tak enak. Saat Johan sudah menuntunnya untuk masuk, dan duduk disofa panjang tempatnya semula duduk.
"Nggk dong. Kok kesini nggk bilang-bilang sih? Kan tadi bisa dijemput. Ni, keringetan gini. Pasti capek. Bau lagi." Tanya Johan menunjuk rambut Marta yang sudah jauh dari rapi, juga membaui badannya yang bau matahari.
"Iya. Tadi rencananya mau mau bikin kejutan. Eh, malah aku yang terkejut." Jawab Marta apa adanya, yang membuat Johan menaikkan alis sebelah tak paham.
"Terkejut kenapa?"
"Ya udah lah bro. Aku pamit dulu aja. Selamat bersenang-senang." Pamit lelaki yang merasa diabaikan. Melenggang pergi tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu.
Apa dia masih ingat aku atau sudah lupa? Kenapa dia menjadi dingin begini sih? Atau dia pura-pura tak kenal? Atau memang sekarang dia sudah tak mau kenal dengan kami? Batin Marta melihat punggung lelaki yang berjalan meninggalkan ruangan. Kenapa sedih gini lihat sikap dia sekarang?
"Kenapa? Ada yang aneh? Dia kakak sepupuku. Apa kau kenal? Dan kamu tadi terkejut karena apa?" Pertanyaan beruntun dari Johan yang melihat Marta malah bengong memperhatikan saudaranya.
"Wait. Nona cantik. Siapa namamu?" Pria itu membalik badan dan melangkah pelan mendekat kembali. Dengan mimik serius, berfikir. Membuat Marta gelagapan dan membuang muka. Takut ketahuan kalo sedari tadi memperhatikan. Bahkan tak menggubris pertanyaan sang pacar.
"Marta. Marta putri maulida. Kenapa mas?" Johan yang menjawab dengan raut tak suka. Tapi masih sopan, menghargai lelaki dihadapannya.
Apa? Apakah benar dia tak mengenalku? Udah pangkling atau benar-benar lupa? Tapi mendengar namaku disebut pun dia seperti asing dengan namaku.
"Entahlah. Wajah kekasihmu seperti familiar bagiku. Tapi entahlah, aku rasa tak pernah kenal dia. Mungkin memang wajahnya aja yang pasaran." Jawabnya dan kembali membalikkan badan, pergi tanpa sepatah kata.
What? Songong banget tu anak.
*Ada apa ini? Kenapa aku kecewa dia tak mengenaliku? Apakah bertahun-tahun aku menjadi obat nyamuk saat kau pacaran sama sekali tak ada artinya?
'Kak, kau benar-benar buang-buang waktu dengan sia-sia*.'
__ADS_1