
Akhir pekan hari yang sangat santai untuk Rena. Bangun siang tak ada yang mengganggu. Karena memang bangun jam berapa pun tak ada yang mengganggu. Sejak papanya menikah lagi Rena memilih tinggal disalah satu kamar hotel milik papanya. Dan tak ada yang berani mengusiknya saat dia bangun jam berapa pun.
Hari santai ini Rena bangun cukup siang. Menyalakan tivi, belum ada sepuluh menit sudah dimatikan lagi.Lanjut mandi dan dandan cantik. Bosan cuma menghabiskan waktu libur didepan tivi.
"Pergi ke atas lah. Siapa tahu ada yayang David." Gumam Rena dengan senyuman lebar. Berniat mampir ke restaurant milik gebetannya.
Rena memilih kamar paling ujung sebagai tempat istirahatnya. Paling dekat dengan pintu darurat. Sedangkan restaurant milik David dilantai empat.
Rena bersenandung riang melangkah menuju lift. Tapi berhenti sebelum sampai, saat melihat orang yang dicari keluar dari lift yang ditujunya.
"Eh, itu David. Beneran kan dia ada disini." Riang Rena yang merasa beruntung. Berlari pelan mengejar David yang berjalan berlawanan arah darinya berdiri.
Dia jarang sekali bertemu David di restourant yang bertempat dihotel ini. Karena Rena memang tak pernah makan disana. Lebih suka mengunjungi restaurant milik David yang jauh dari jangkauan papanya.
"Hay. Mau kemana bos?" Sapanya berlari pelan mensejajari langkahnya. Tersenyum manis memperhatikan penampilan David yang lebih santai, tak formal seperti biasanya.
"Aku bukan bos kamu." Jawabnya ketus dan tetap melanjutkan langkah panjangnya tanpa memedulikan Rena yang kesusahan menyamakan langkah.
"Terus panggil apa dong?" Berfikir. "Panggil mas aja ya? Biar terkesan lebih dekat gitu." Ucap Rena setelah berfikir mencari panggilan yang pas. Mencari panggilan yang dia inginkan.
Namun David tak memberi respon apapun. Anggap aja diamnya itu tanda setuju. "Mau kemana sih?" Tanya Rena penasaran. Tetap mengikuti langkah David menuju mobil yang sudah siap mengantar sang tuang kemana pun. Plus sopirnya pastinya.
"Aku boleh ikut ya? Bosen tahu sepanjang hari cuma tiduran dikamar? Tak punya kawan diajak main." Ucap Rena berlari dan membuka pintu yang berlawanan dengan David.
"Siapa yang mengizinkanmu ikut?" Suara tajam David menusuk pendengaran.
"Aku. Udah ayok masuk." Melambaikan tangan menyuruh David masuk.
"Siapa suruh kau masuk?" Tanya David dengan suara dinginnya. Namaun sama sekali tak membuat Rena mengurungkan niat. Tetap masuk mobil dan duduk cantik disana.
"Aku. Aku janji tak akan ganggu kamu kok. Aku akan diam." Janjinya.
__ADS_1
David hanya membuang nafas kasar. Malas ribut mengusir gadis yang suka mengganggunya itu. Namun lama-lama David tak merasa terganggu, malah sudah terbiasa dengan kehadiran gadis periang itu.
Duduk berdampingan didalam mobil yang sudah melaju, tanpa Rena tahu tujuannya akan kemana. Tetap riang mengikuti alunan musik yang diputar, tak mau mengganggu David yang sibuk dengan ponselnya. Hanya sesekali melirik lelaki yang duduk dengan tenang. Menahan diri untuk bicara, karena dia dudah berjanji.
"Pak, ganti lagu pak. Mellow kali lagunya, kayak orang lagi rindu aja. yang sedikit ngebite gitu lo." Request Rena pada pak sopir yang duduk dibalik kemudi. Yang tak diketahui Rena siapa namanya .
"Pak, pak. Emang bapak mu apa?" Protes lelaki itu tak peduli, hanya melirik lewat spion mobil yang ada diatasnya.
Ih, sopirnya aja seketus ini, apa lagi bos nya ya? Membatin.
"Terus apa dong panggilnya? Kenal aja kagak?" Jawab Rena santai, tanpa merasa bersalah. Sedangkan David tetap diam tak terusik.
"Nggk usah panggil-panggil. Kalo mau ikut duduk aja yang tenang, atau ku turunkan paksa kamu disini." Peringatan sang sopir yang membuat Rena memanyunkan bibir. Dengan tangan mengepal memukul udara kosong untuk melampiaskan kesal.
Sopir aja galak banget sih. Maki Rena hanya berani dalam hati. Namun tetap menurut, karena melihat David yang tetap diam tak berniat membelanya. Memilih melihat keluar jendela, menerka arah yang ia tuju.
Lama hanya ada dalam keheningan. Asik dengan fikiran masing-masing. Hingga Rena merasa bosan , dan melihat dua orang lelaki itu tetap asik terdiam dengan dunianya sendiri. Hanya alunan musik rindu yang memenuhi udara didalam mobil.
"Ini mau kemana sih kita? Kok kesini?" Tanya Rena yang mengenali jalan yang dilaluinya. Dia merasa pernah lewati jalan itu beberapa waktu lalu bersama mama dan adeknya David.
"Bos, kita mau kemana?" Tanya Rena melihat David yang menunduk menatap ponsel, memegang lengannya untuk meminta perhatian.
"Aku bukan bosmu." Ucap nya datar, dan melihat dengan tatapan tak terima pada tangan Rena yang memegang lengannya.
"Maaf mas. Kita mau kemana sih?" Melepas tangannya, menekankan kata mas , tersenyum kikuk karena kelepasan memegang lengan kekar itu.
David menyimpan ponselnya, dan melihat jalanan yang dilaluinya. "Mau survey pembangunan rumah." Jawabnya dengan suara sendu.
"Owh. Rumah masa depan kita." Jawab Rena dengan tersenyum senang. Memancarkan kebahagiaan akan hayalannya.
David mendelik kesal mendengar ucapan Rena.
__ADS_1
"Apa salahnya sih berharap?" Kata Rena mengacungkan dua jarinya membentuk v ,dengan senyum maklum.
David hanya mendengus dan membuang muka. Melihat keluar jendela. Sedangkan Rena mengeluarkan ponselnya berniat menghubungi sahabatnya. Dia masih ingat kalo Tasya tinggal didesa yang sama dengan rumah yang dibangun David.
Tut tut tut. Lama sekali telponnya tak diangkat oleh Tasya. Hingga tiga kali panggilan tak ada jawaban.
"Kemana sih tu orang?" Sungut Rena melihat ponselnya. Padahal banyak sekali cerita yang ingin ia kisahkan pada sahabatnya itu.
David melihat Rena dengan alis bertaut. Heran dengan tingkah Rena yang merasa kesal panggilan telponnya tak terjawab. Lalu mengabaikannya. Tak peduli.
"Nah, telpon balik dia." Girang Rena mendengar dering ponselnya, dan tertulis nama Tasya disana.
"Assalamualaikum." Salam dari sebrang, suara yang sudah lama tak didengarnya. Suara yang cukup dirindukannya.
"Waalaikum salam. Dari mana aja sih? Lama kali angkat telpon? " Jawab Rena dengan sedikit ngambek.
"Hehe. Maaf, lagi sedikit sibuk ni. Alhamdulillah hari ini banyak pesanan. "Jawab Tasya dengan kekehan pelan. "Ada apa? Tumben telpon?"
"Kangen lah. Kamu nggk kangen apa? Mentang-mentang lah." Jawaban Rena yang membuat David yang duduk disampingnya menggeram kesal. Entahlah, kenapa pula dia harus kesal?
"Ya kangenlah. Makanya main kesini. Bantuin aku geh." Suara Tasya yang diselingi suara berisik disekitarnya.
"Woke. Aku rencananya mau main ini, tapi jemput ya?" Pinta Rena dengan suara memohon. Pasti bosen kalo nungguin David? mendingan mampir sebentar kerumah Tasya.
"Jemput? "Suara heran dari sebrang. "Kamu pikir aku tak punya kerjaan apa?"
"Heh, aku udah didesa tempat mu tinggal, tapi tak tahu dimana rumahmu." Jawabnya menjelaskan dengan kesal.
"Owh. " Jawabnya paham. "Sama siapa? Sama calon mertua lagi kah?" Sambut Tasya dengan suara riang. Seakan senang kali dia.
"Nggk." Jawab Rena tegas. "Sama anaknya." Lanjutnya dengan suara pelan.
__ADS_1
"Oh ya? Udah ada kemajuan dong hubungannya ni? Ajak mampir sekalian. Tak ingin ngenalin ma aku apa? atau mau antar undangan ya? " Canda Tasya dengan suara tawanya.
"Pikir nanti. Nanti aku ceritakan yang panjang dan lebar. Yang penting jemput dulu, nanti aku share lokasinya. Pokoknya jemput titik. Aku kangen." Mematikan sambungan telponnya. Tak menerima penolakan.