Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Berbicara Dari Hati Kehati


__ADS_3

Petang ini Reyhan sholat magrib dirumah berjamaah bersamaku. Setelah seminggu menikah, baru kali ini sholat bersama. Dzikir bersama, lanjut mengaminkan doa yang dia ucapkan.


"Jadi kerumah abah kan? " Tanyaku was-was sambil melepas mukenah. Takut sakit hati kalo ternyata permintaanku ditolak. Sudah seminggu aku menahan diri untuk mengajaknya main kerumah abah yang rumahnya tak terlalu jauh. Karena menghargai kesibukan dia yang mengajar disiang hari, lanjut mengajar tahsin untuk bapak-bapak dikomplek sini. Setelah magrib masih ada anak-anak remaja yang kadang datang kerumah untuk belajar. Aku masih belum hapal jadwal harinya sih. Karena nggk tiap hari.


"Iyya." Melipat sajadah dan sarung, lalu meraih jaket. Tak ganti pakaian rumahannya. Masih pake celana training panjang dan kaos pendeknya. "Cari makan dulu atau makan disana?" Sudah siap berangkat pergi.


"Cari makan dulu lah. Kan nggk bilang abah kalo mau kesana. Takutnya nanti nggk ada makanan juga."


Abah aja makan dimasakin kakak ipar. Biasanya diantar cuma seporsi untuk abah aja. Tapi diantar tiga kali sehari, selalu ganti menu.


"Okey. Ayok." Menggandeng tanganku yang sudah pakai jilbab dan gamis panjang. Tak lupa memoles wajah dikit dengan makeup biar nampak lebih segar.


Mataku melihat tangan yang bergandengan. Berhenti melangkah karena fokusku pindah pada pandangan yang menurutku langka itu.


"Kenapa lagi?" Tanyanya saat aku berhenti, dan mengikuti arah pandangku pada tangan kami.


"Ada yang salah dengan ini?" Mengangkat gandengan tangan kami dan mendesah frustasi. Pengantin baru yang masih kaku ya gitu yak?


"Nggk usah gandengan." Ketusku dan menarik tangan yang digenggamnya.


"Baiklah. Yok jalan. Nggk jadi berangkat nanti kalo meributkan hal sepele begitu." Mendorongku untuk jalan dengan tangan yang kini gantian mampir dibahuku.


Gandengan aja malas, apalagi dirangkul begini? Aku menggerakkan bahu untuk mengusir tangannya, namun masih tetap ditempat. Dan menariknya untuk turun, tapi tetap aja naik lagi.


"Udah lah. Katanya mau kerumah abah. Nanti abah sedih lo kalo lihat pengantin baru tapi nggk mesra." Bujuknya, Memaksaku untuk menurut.


"Dari pada nanti abah tanya macam-macam tentang keadaan rumah tangga? Mendingan menjelaskan dengan sikap sebelum pertanyaan itu terucap." Lanjutnya menjelaskan.


Alasan aja sih. Tapi ada benarnya juga sih apa kata Reyhan. Pasti abah bertanya-tanya jika aku masih menjaga jarak dengan suami.


"Ya nanti aja kalo gitu. Disini tak ada abah." Protesku.


"Latihan."


"Aku izin sama Bunda dulu." Pamitnya dan masuk kekamar ibunya. Aku tak ikutan masuk, memilih menunggu diruang tamu.

__ADS_1


Malam ini kami kembali cari makan diluar. Dan lagi harus menaiki motor besar miliknya. Tapi malam ini aku sudah mulai nyaman memeluknya dari belakang. Bahkan berani menyandarkan kepala di punggung lebarnya, agar tak terlalu dingin kena angin malam. Hening, tanpa cerita, tanpa percakapan. Biarkan ku menikmati kebersamaan ini sejenak. Mencoba mengenali rasa yang aku punya.


Reyhan malam ini tak lagi mengajakku makan dipinggir jalan. Memilih restaurant yang lebih nyaman untuk menikmati malam minggu ini. Menciptakan kesan romantis ditempat yang sangat eksklusif.


Hanya kami berdua yang duduk berhadapan diruangan ini. Menunggu pesanan datang. Masih diam. Aku lebih tertarik memperhatikan tatanan ruang dan desain ruangan yang sangat nyaman dipandang. Sama sekali tak bosan.


"Nanti didepan Abah jangan panggil nama ya." Pintanya memecah kebisuan.


"Teruuss?" Sedari kemaren kok perasaan selalu bahas panggilan sih.


"Ya apa lah. Yang penting jangan nama. Kasihan abah." Jelasnya pelan.


Hah? Kenapa jadi kasihan sama abah sih? Emang abah kenapa kalo aku manggil dia nama.


"Kasihan kenapa?"


"Ya kasihan aja. Pastilah abah sedih karena merasa gagal mendidik anak. Padahal dia adalah pendidik yang baik. Masak anaknya sendiri manggil suami pake nama? Itu tak mencerminkan orang yang paham tatakrama."


"Terlalu menampakkan kalo kamu ini menikah sama aku karena terpaksa. Masih tak ikhlas kah?" Mencondongkan badan kearahku. Bertanya dengan suara rendah, namun penuh penekanan.


Kenapa jadi serius begini sih? Dan wajah yang biasanya terlihat menggemaskan jika dirumah, kenapa jadi dingin begini? Matanya menyorotkan rasa tak iklhas dan kecewa penuh.


"Heh. Siapa bilang? Emang siapa yang berani memaksaku?" Menjawab dengan pertanyaan lagi. Kembali duduk dengan tegak. Menatapku lurus dengan tatapan nyalang. Aku kini jadi takut melihat mata yang biasanya menyenangkan itu , kini jadi menakutkan.


"Kata orang lah. Bukannya kamu menikahiku biar bunda tak kesepian? Menikahiku biar Bunda ada yang ngurus saat ditinggal kerja?" Ucapku mengutarakan hal yang sedari tadi mengganjal dihati.


Brak. "Maksudnya apa sih? Siapa yang bilang begitu?" Menggebrak meja. Tak terima dengan tuduhanku. Matanya berkilat malah, bahkan kini sudah berdiri menatapku.


Sumpah aku kaget dengan reaksinya. Diluar prediksi. Tapi apa salahnya sih dengan kata-kataku? Toh aku ingin bertanya kebenaran kabar itu.


Bukan menuduh aku ya. Cuma ingin mengkonfirmasi kebenaran itu. Lebih tepatnya ingin bertanya kebenarannya. Toh aku sudah memilih kata paling sopan jika dibandingkan ucapan Beti siang tadi.


"Aku cuma bertanya. Kalo ternyata tidak, ya nggk usah marah lah. Kalo marah tandanya iya." Jawabku berani. Emang siapa dia berani memarahiku? Abah yang merawat aku bertahun-tahun aja bisa dihitung jari membentakku. La ini? Baru dapat tanggung jawab mengurusku seminggu aja udah pake bentak-bentak aja.


Makanan datang. Yang membuat Reyhan kembali duduk dan mencoba menarik nafas dalam untuk menetralkan emosi.

__ADS_1


"Aku memang menerima pernikahan ini karena anjuran abah. Belum ada cinta sama sekali dihatiku untukmu. Bahkan aku belum mengenal banyak tentang kamu juga kehidupanmu. Tapi aku belajar untuk menjadi istri yang baik. Tak ada maksud terselubung menerima pernikahan ini. Bahkan aku rela melepas pekerjaanku yang telah lama aku impikan, demi menjadi istri yang baik. Merasa cukup dengan apa yang kamu beri."


"Tapi jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang belum bisa ku penuhi. Biarkan aku perlahan memenuhi tugas dan kewajibanku. Jangan paksa aku. Aku hanya tak mau usahaku sia-sia dan tak dihargai. Hingga membuatku memutuskan berhenti untuk berusaha. Jangan sampai aku memilih putar arah."


"Aku tahu aku bukan wanita sempurna. Banyak cacat dan kekurangan. Tapi aku ingin dipilih menjadi istri karena aku memang layak untuk dijadikan istri. Bukan karena sebab yang lain. Lagian aku tak pernah mengemis untuk dinikahi." Jelasku panjang kali lebar.


Reyhan hanya diam menatapku, membiarkan makanan yang sudah tersaji. Nampak emosinya sudah turun, ditandai nafasnya sudah normal kembali. Menatapku lekat yang menunduk mengaduk makanan.


"Aku yang memang ingin menikahimu tanpa paksaan dari siapa pun. Meskipun awalnya memang rekomendasi dari Bunda. Tapi aku menerima tanpa paksaan. " Jelas Reyhan dengan helaan nafas panjangnya. Memulai menyuap makan sebelum dingin.


"Tapi kata Beti..." Suaraku terpotong.


"Kamu lebih mempercayai dia dari pada aku?" Tanyanya dengan geleng-geleng kepala. Namun dengan suara yang sudah lembut kembali.


"Aku tak tahu kebenarannya. Makanya aku ingin tahu dari yang bersangkutan langsung."


"Dia memang tak mau sama sekali ngurus Bunda. Makanya aku mempekerjakan perawat untuk Bunda." Jelasnya, terjeda karena suapan makanan.


"Terus kemana dia?" Tanyaku tak percaya. Perasaan dari awal aku masuk rumah itu tak ada perawat untuk Bunda.


"Sebulan lalu izin cuti karena teler hamil muda. Mau cari pengganti untuk sementara Bunda nggak mau. Mau dirawat sama anak katanya. Tapi Beti sama sekali tak mau bantu. Menyiapkan makan aja sering beli makanan cepat saji. Atau delevery makanan online. Lagian Bunda tak mau makan masakan dia. Tak enak katanya." Meletakkan sendoknya, padahal makanan belum habis.


"Tapi aku senang. Bunda nampak menikmati waktunya dan bisa tersenyum lagi saat ada kamu. Dan terima kasih udah mau membantuku merawat Bunda. Aku tak pernah menyesal kok memilih kamu. Aku senang. Aku bangga bisa punya istri kayak kamu."


"Iya. Masama. Aku juga senang kok mengurus Bunda. Serasa punya ibu lagi aja. Bahkan Bunda lebih lembut dan lebih penyayang. yah, meskipun harus duduk dikursi roda." Ucapku tulus. Bangga juga punya suami seperti dia.


"Qodarullah. Dan maaf ya. Karena menikah denganku, kamu jadi harus berhenti kerja. Tapi aku tak melarangmu bekerja lagi asal dekat-dekat sini aja. Meskipun aku berharap kamu tetap jadi ibu rumah tangga sih."


"Maaf aku tadi sempat membentakmu. Aku tak terima aja dibilang begitu. Aku masih cukup mampu membayar orang untuk mengurus Bunda kok. Meskipun tak menolak jika ada yang gratis." Lanjutnya diakhiri dengan cengiran tanpa dosa.


"Berarti bener juga apa kataku." Ucapku membela diri.


_____


***Mari mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. 🐾

__ADS_1


Like ,komen, gift, dan vote nya. Biar tetap semangat update. Biar nggk ngadat ditengah jalan.🙏🙏


🤗😍***


__ADS_2