
Hari berganti. Usaha jualan ku makin banyak peminatnya. Banyak yang pesan untuk acara atau sekedar dibuat camilan keluarga. Pesanan sedikit maupun banyak harus tetap disyukuri kan? Yang penting total semuanya tetap banyak. Jualan yang dititipkan disekolahan juga selalu habis, namun aku belum berniat menambah jumlah jualan. Capek juga ternyata setiap hari berkutat didapur. Meskipun hasilnya lumayan sih. Cukup untuk mengobati capeknya.
Dan kini tibalah saatnya pindah rumah. Rumah yang dibangun suami sudah jadi. Tinggal memilih perabotan rumah yang sesuai keinginan untuk melengkapi , juga sesuai budget pastinya.
Akhir pekan ini aku dan suami berbelanja berdua. Juga akan lanjut mengambil peralatan masak milikku dikota. Reyhan setuju aja saat aku usulkan tak perlu membeli isian dapur. Milikku lebih dari cukup untuk melengkapi kebutuhan memasakku. Itu pun masih banyak ruangan yang kosong karena uang tak cukup untuk mengisi hingga lengkap. Beli yang penting aja dulu, yang lain bisa nyusul.
Pergi kekota pun tak lama. Cuma pergi ketempat tujuan, dan mampir sejenak menemui Marta. Marta yang sudah mulai sibuk dengan skripsinya. Sudah jarang keluar ketemu pacarnya, juga jarang kelayapan seperti biasa. Fokus mengejar target lulus dengan cepat, biar cepat pula menikahnya. Begitulah bujukan dari sang pacar. Yang juga diikutin olehnya.
Aku sangat suka menempati rumah baru yang masih bersih dan cling ini. Cling semua-muanya. Karena perabotan yang kami beli baru diantar besok pagi. Dan kini baru terisi ruang dapur aja. Bahkan kamar pun masih kosong melompong. Jadi ya belum bisa ditiduri.
Rasya sudah pulang jadi jalan-jalannya. Ternyata jalan-jalannya bukan rekreasi biasa, tapi lebih keurusan kerja. Sedangkan istrinya tak mau ditinggal sendiri dirumah bersama kami, makanya merengek untuk ikut. Kirain benar-benar liburan jauh gitu. Ternyata hanya tak mau bareng aja.
Setelah aku pindah rumah, Beti sudah mulai bersikap baik. Mungkin masalahnya sebenarnya tak mau tinggal bersama mertua atau ipar, makanya suka bikin rusuh. Setelah pisah, dia baik-baik aja tuh. Sikapnya juga mulai berubah.
Tiga hari menempati rumah baru, reyhan mengadakan syukuran kecil-kecilan. Mengundang semua warga kanan dan kiri untuk makan bersama dirumah. Untuk menjalin silaturahmi sekaligus memperkenalkan diri. Kalo aku mah sekalian promosi lah. Menyediakan makanan yang sekaligus promosi. Meskipun masih satu kampung, diujung kampung ini aku belum punya pelanggan.
"Ini pesan dimana mbk?"
"Kuenya enak lo, mbk? Mbk sendiri yang bikinkah?"
"Sotonya juga seger banget tahu."
"Emang ini bikin sendiri ya?"
"Bagi tahu resepnya mbk? "
"Atau kalo beli kasih tahu tempatnya dong mbk."
"Iya mbk. Bagi-bagi mbk."
"Aku jatuh cinta ama sotonya lo."
"Brownies nya juga mantab kok. Lembut banget."
__ADS_1
Komentar para ibu-ibu yang diundang kerumah. Dan mencicipi hidangan yang kami suguhkan. Antusias sekali memakan soto buatanku. Rata-rata mangkuknya bersih tak bersisa.
Tapi kan aku niatnya untuk promosi kue jualan. Kenapa yang dibahas malah soto dan brownies sih? Tapi tak apa.
"Ini aku sendiri yang masak bu-ibu. Suka nggk? Mantab kan rasanya?" Jawabku sedikit bangga, namun tak diperlihatkan. Tetap sopan dan ramah.
"Wah, wah, wah. Besok kalo aku ada acara ngundang mbk untuk masak aja ya? Bantuin masak gitu? " Tak mau modal ini namanya?
"Bisa diatur itu mbk." Jawabku.
"Senengnya punya tetangga baru pintar masak. Aku bakal sering main deh."
Aku hanya tersenyum untuk yang ini. Aku bahagia diterima dengan baik oleh para tetangga. Dan semoga memang diterima dari hati, bukan hanya dihadapannya aja.
"Untuk jualan laku keras ini mbk." Tambah yang lainnya.
"Ya memang sebelumnya aku sudah jualan makanan mbk. Rencananya disini juga akan buka. Doain Semoga laris manis ya mbk." Kataku apa adanya.
"Buka lowongan kerja nggk mbk? Aku maulah kerja bantu-bantu antar kuenya. Zaman sekarang kan semua sudah sistem delivery mbk."
Ah, dibuka aja belum, udah ada yang daftar kerja aja. Tapi diiyakan aja lah. Untuk partner kerja. Biar nggk repot sendirian.
"Aku juga mau lah. Dari pada nganggur dirumah, sekalian belajar gitu? Belajar masak yang digaji." Kata yang lain sambil tertawa.
"Boleh, boleh. " Jawabku tenang, menganggap candaan aja tu para tetangga. Tak usah terlalu menanggapi dengan serius. Meskipun memang aku juga mulai butuh orang untuk membantu usahaku.
"Kalo kue ulang tahun bisa juga nggk mbk?" Tanya salah satu ibu muda yang sedari tadi banyak diam melihat keributan disekitarnya.
"Bikin sih bisa mbk. Tapi layak jual nggk ya? Karena aku tak pandai menghiasnya, belum terbiasa." Jawabku tak enak hati, malu aja ditanya kue yang butuh kreasi tinggi, bukan cuma mempertaruhkan rasa. Bukannya tak pernah buat kue ulang tahun. Hanya saja biasanya hanya untuk hadiah teman atau keluarga. Tak pernah dijual. Lagian memang jualan juga baru-baru ini kan? Biasanya juga cuma dinikmatin sendirian aja.
"Pake brownies aja mbk. Enak lo ini." Usulnya mengangkat potongan kue berwarna coklat yang sudah digigit separoh.
"Yah, nanti dicoba dulu mbk." Setujuku.
__ADS_1
"Iya, anak ibu Nita kan ulang tahun minggu depan ya? Kalo anakku besok lusa. Cuma selisih empat hari tanggal lahir anak kita. Tapi anakku udah pesan ditoko kue ujung gang sana." Kata ibu-ibu dengan make up paling cetar membahana. Nampaknya bukan orang sederhana seperti yang lainnya.
"Iya mbk. Kalo boleh aku pesan sama mbk Tasya aja lah. Untuk obat pengen anakku. Kalo yang diujung gang sana mahal mbk. " Kata ibu muda yang katanya bernama Nita itu. Jujur kali dia tentang harga mahal. Mungkin dia ibu yang harus memperhitungkan setiap pengeluaran.
"Ya mbk. Nanti aku coba bikinkan. InsyaAllah harganya bersahabat kok." Jawabku, promosi harga yang masih bersahabat, karena pemula kan? Menarik pelanggan dulu.
"Iya mbk. Rumahku dua rumah dari sini mbk." Menunjuk arah kanan rumah.
"Bagi nomor hpnya aja mbk. Nanti biar kumasukkan ke group chat ibu-ibu rt sini. Biar selalu update kabar terbaru." Kata ibu-ibu yang paling mulus mukanya.
"Ya tu bu Rt. Dapat anggota group baru ni." Timpal yang lainnya.
Ternyata ibu cantik dan langsing plus yang paling banyak bicara itu ibu Rt?
"Iya ini. Tambah personel kita."
"Ya udah. Udah mulai malam ini, kami pamit dulu." Izin ibu dengan tampilan paling waw. Mulai merapikan wajahnya lagi sebelum pulang. Dan sudah habis semua hidangan.
"Iya mbk. Itu bapak-bapak juga udah pada bubar. Makasih lo jamuannya. " Imbuh yang lainnya. Yang juga ikutan pamit.
"Iya. Makasih lo udah datang. Makasih udah ditrima dilingkungan ini." Kataku bahagia diterima dengan baik dilingkungan baru. Meskipun tak semua tetangga yang diundang datang. Tapi lebih banyak yang datang dari pada yang tidak hadir.
"Lain kali gantian main mbk." Udah pada berdiri semua ini. Berjabat tangan bergantian padaku.
"InsyaAllah." Jawabku.
______
Happy reading...
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like, koment, Gift dan votenya...
__ADS_1