Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Tak Mau Bayar


__ADS_3

"Maaf pak, saya Amel. Saya akan mengantarkan kue atas nama pak David." Amel berlari kecil mengambil kotak cukup besar yang masih dimotornya. Kemudian mendekat dan memberikan pada orang yang bernama David.


"Ini pak."


"Kamu siapa?"


"Saya Amel pak." Jawab Amel mengulang untuk memperkenalkan diri.


"Aku tak tanya nama kamu. Yang aku tanya siapa kamu di toko kue itu?" Tanya David tegas.


"Saya pekerja disana pak." Jawab Amel masih menjaga kesopanan.


"Aku sudah pesan untuk minta Tasya yang mengantar." Jawabnya dingin. Tanpa mau melihat kearah Amel. Sungguh kata-katanya itu biasa aja, namun cara dia mengucapkan itu sangat membuat merinding takut.


Haduh. Tuh kan kena marah. Kan dia maunya mbk Tasya yang antar. Mati aku. Batin Amel menggerutu.


"Maaf pak. Mbk Tasya sedang kurang enak badan karena kecapekkan." Mencoba menyembunyikan rasa geram.


"Aku tak menerima negosiasi. Diantar oleh Tasya, atau tidak sama sekali." Jawabnya tegas dengan muka lurus melihat kedepan. Rahang mengeras tak menerima bantahan. Tampak menyimpan emosi.


"Maksudnya?" Amel meletakkan kotak kue diatas rerumputan. Badannya luruh karena menahan kesal. Menghitung dan mengingat dalam angan orderan yang masih belum selesai diantar ke pemiliknya. Tak mau lama-lama tertahan ditempat ini. Karena orderan selanjutnya jam dua belas harus sampai. Tak menerima kata telat.


"Pikir sendiri. Punya otak kan?" Dengan suara dingin yang sangat menyebalkan.


"huh,,, Sabar sabar." Gumam Amel mengelus dada. Seandainya ini bukan pelanggan, ingin memaki dan mengumpat karena kesal. Badan sudah capek keliling dibawah terik matahari yang menyengat. Eh, malah dapat pelanggan yang ngeselin pake banget. Sama sekali tak menghargai pekerjaan orang lain.


"Terus ini gimana? Sebenarnya bapak butuh kue atau penjualnya sih?" Tanya Amel ketus, mulai keki, sudah tak tahan menahan kesal. Menggunakan kata-kata Reyhan untuk protes.


"Tak akan ada kue tanpa ada pembuatnya." Masih bertahan dengan suara dan posisi yang sama. Sama sekali tak melihat Amel.


"Terus apa masalahnya? Yang penting kan kuenya sampai tepat waktu. Pembuatnya masih punya kerjaan lain, nggk cuma meladeni setiap kemauan pelanggan. " Seru Amel marah. Suaranya sudah mulai meninggi.

__ADS_1


"Ya udah. Bawa pulang lagi aja." Sama sekali tak punya rasa kasihan.


"Huh." Membuang nafas kasar. Meremas tangannya sendiri karena kesal. Melihat jam tangan, sudah jam sebelas lewat tiga puluh lima menit. Tinggal dua puluh lima menit pesanan selanjutnya harus sampai.


Amel mulai bingung. Melihat tiga kotak kue yang cukup besar. Kerja seharian ini akan rugi jika pesanan ini tak jadi diambil. Bukannya untung malah buntung. Tapi jika memaksa mbk Tasya datang apa ya mau? Pesanan belum rampung semua. Tak mungkin ditinggal.


"Pak." Suara Amel mulai pelan dan memelas. Berharap bisa mendapatkan jalan keluar untuk masalahnya.


"Kak. Masih lama nggk sih? Pacarku sudah telpon minta datang ini." Suara lelaki yang sedari tadi asik memotret pemandangan danau yang asri. Datang mendekat dengan bersungut tak sabar menunggu. Berulang melihat jam tangannya.


"Tu pak. Kelamaan kalo nunggu mbk Tasya datang. Pacarnya sudah nunggu kan? Kuenya sudah mau dipake itu." Amel ikut membujuk, dan menunjuk lelaki lebih muda yang berjalan makin dekat. Pemuda tampan dan berwajah hangat tak dingin seperti temannya itu. Siapapun wanita yang melihatnya pasti jatuh cinta pada pandangan pertama. Meskipun sama-sama pelit senyum. Namun terlihat sangat berkarisma dan menawan.


"Apa lagi sih? Tu pesanan sudah datang. Nunggu apa lagi?" Kata lelaki itu lagi menunjuk kotak pesanan. Dan melihat Amel yang tak berkedip melihat Johan.


"Bukan dia." Suara orang yang sedari tadi duduk. Suaranya menyiratkan rasa kecewa yang dalam.


"Ya udah sih. Salah orang kali. Mungkin cuma sama nama doang. Ni mana browniesnya untukku?" Jawabnya cuek dan menengadahkan tangan minta salah satu kue pesanan pada Amel.


"Pak, pak. Bapak kamu apa? Masih muda begini dipanggil bapak. Namaku Johan. Panggil pakek nama aja." Protesnya sambil memperkenalkan diri.


Owh, namanya Johan? Ucap Amel dalam hati, dengan senyum mengembang.


"Mau sampai kapan disini? Mendingan ikut aku aja. Temanin ketemu calon mertua." Menerima perlahan satu kotak kue, dan tersenyum dengan alis terangkat.


"Ketemu pacarnya aja berani sendiri. Kenapa giliran ketemu calon mertua minta ditemani?" Jawabannya mencibir.


"Halllo.... Gimana nasibnya ini?" Amel menghentikan pembicaraan dua pemuda yang entah membahas apa. Mengembalikan pembahasan yang belum punya penyelesaian.


Dua pemuda itu bersamaan melihat kearah Amel yang jadi salah tingkah dilihatin dua pemuda tampan. Sebenarnya karena tatapan Johan . Kemudian menunjuk kotak kue yang tadi dibawanya.


"Emang apa masalahnya sih?" Tanya Johan bingung, dan bertanya pada Amel. Baru Amel akan menjelaskan kelakuan sahabat lelakinya itu, sudah disahut duluan oleh David.

__ADS_1


"Kalo mau bayaran suruh Tasya datang. Kalo tak datang, anggap aja sedekah." Sahut pemuda yang mengaku bernama David.


"Kelewatan kau kak." Protes Johan, yang membuat Amel senang dibelain.


"Tak usah ikut campur." Tegasnya dengan mata melotot. Kini baru mau mengalihkan pandangan dari air danau.


"Terserah deh. Yang penting satu ini aku bawa. Aku pergi duluan. Mobil juga aku bawa. Kakak kalo udah bosan menunggu pulang aja kerumah yang baru dibangun itu. Nanti malam aku jemput." Pesan lelaki Johan dan melenggang pergi.


"Kamu ngapain masih disitu? Telpon Tasya sekarang dan suruh kesini. Atau aku tak mau bayar semua tagihannya." Gertak David melihat Amel, yang membuat Amel gelagapan karena sedari tadi memperhatikan Johan, dan kecewa saat Johan pergi meninggalkannya. Kirain akan membantunya menyelesaikan masalah itu.


"Ya aku telpon dulu." Akhirnya Amel pasrah juga.


Deringan pertama panggilan langsung tersambung. Menandakan kalo Tasya sedang memegang ponsel. Atau paling tidak tak jauh dari benda pintar itu.


Belum sempat Amel berbicara dan mengungkapkan maksudnya, sudah disemprot berbagai pertanyaan.


"Kamu dimana sih Mel? Masih banyak ini yang belum diantar. Pelanggan sudah pada nanyain ini. Kamu tak apa-apa kan? Tak ada kecelakaan atau insiden lainnya kan?" Nada tak sabar dan kesal terdengar, namun juga menunjukkan rasa khawatir. Mengetahui pekerjanya tak pulang-pulang pastinya membuat Tasya berfikir macam-macam. Tak ingin pekerjanya mengalami kecelakaan atau sejenisnya. Namun juga kesal karena bekerja molor waktu.


"Aku masih didanau mbk. Davidnya tak mau bayar kalo bukan mbk yang antar. Atau paling tidak mbk datang kesini lah sekarang." Jawab Amel mengadu pelan, dengan mata melirik David yang memainkan ponselnya.


"Yang penting udah sampai kan? Sudah diantar dengan selamat? "


"Iya."


"Tinggal pulang aja, antar yang lainnya. Udah pada nanyain ini. Untuk bayaran kalo tak mau bayar sama kamu suruh transfer aja." Pesan Amel mengasih solusi. Dan meminta untuk cepat pulang.


"Mbk lah yang suruh. " Jawab Amel takut-takut melirik wajah yang sedari tadi tak pernah senyum itu.


"Okey nanti biar aku telpon . Yang penting kamu pulang."


"Okey."

__ADS_1


Tanpa pamit Amel langsung pergi meninggalkan tempat.


__ADS_2