
"Assalamualaikum." Salamku saat sudah sampai rumah. Langsung nyelonong masuk tanpa menunggu dipersilahkan. Bahkan tak menunggu jawaban salam.
"Assalamualaikum." Ulangku lagi dengan suara lebih keras. Ya kali semua lagi kumpul didepan tivi, tapi ada salam tak dijawab. Jadi merasa tak diharapkan aja kedatanganku ini.
"Waalaikum salam." Jawaban serentak dengan suara keras, karena kaget dengan suara kencang ku. Dan menoleh melihatku bersamaan.
"Kak Tasya." Seru Marta yang kebetulan masih dirumah juga. Berlari menghampiriku, dan merebut bungkusan sate yang ku bawa. Namun langsung aku jauhkan.
Ah, kirain dia menghampiriku karena kangen dan berniat memelukku. Eh, cuma mau ambil oleh-oleh aja. Padahal aku sudah merentangkan tangan siap menerima pelukan.
"Dasar anak nakal." Ucapku sambil menoyor kepalanya. Menjauhkan dari jangkauan bungkusan yang aku bawa.
"Apaan sih kak? Sakit tahu?" Keluhnya , mengusap keningnya.
Abah , bang Bagas beserta anak dan istrinya hanya tertawa melihat kami berdua.
"Kakaknya datang tu disambut pelukan kek, atau cium tangan gitu? Masak cuma mau oleh-oleh doang." Kataku mengulurkan tangan dan mendekatkan kemulutnya agar dicium setelah dia menyambutnya.
"Iya ni Marta. Padahal baru selesai makan lo. Udah heboh aja lihat bungkusan nampak tusuknya gitu." Ujar bang Bagas yang mengeluhkan Marta yang memang suka makan, tapi badan nggk gemuk-gemuk.
"Makan terus nggk gemuk pun. Lari kemana lah tu makanan?" Timpal abah.
"Lari ke Wc paling." Tama ikutan angkat suara, yang disambut tawa oleh semuanya, dan dia dapat hadiah rambut kusut dari tangan abinya.
"Ni habisin." Menyerahkan bungkusan yang ada tiga porsi sate.
"Nggk jadi minta peluk kak? " Melebarkan tangan.
"Ogah." Memilih mendekati empat orang yang tetap asik didepan tivi sambil nyemil kacang rebus. Mengabaikan Marta yang memonyonkan bibir dan menurunkan tangan kembali.
"Pelukanmu nggk laku lagi, Mar. Pengantin baru udah puas." Balas kak Ina menggoda dan melirikku. Yang membuat ruang keluarga tambah rame oleh tawa.
"Suamimu mana kok sendirian?" Tanya bang Bagas yang melihatku masuk seorangan. Aku ikutan melihat kebelakang yang belum nampak Reyhan menyusul.
"Kemana dia?" Gumamku pelan.
"Jangan bilang lagi marahan? Masak pengantin baru seminggu udah berkonflik aja." Tuding Abah dengan wajah serius. Bak terdakwa saya.
"Nggk kok, Bah . Masih diluar." Jawabku dan menjabat tangan abah, plus cium pipi.
"Beneran?" Seakan tak percaya aja ni abah.
"Ya beneran ,abah. Memang sejak kapan sih aku suka bohong?"
__ADS_1
"Nggk pada mau ya?" Tanya Marta yang sudah membuka bungkus makanannya.
"Tama mau ." Ikutan mendekati Marta.
"Assalamualaikum." Suara salam suamiku yang kami jawab serentak. Yang langsung masuk dan menyalami semua yang ada. Kecuali aku dan yang lagi makan ya?
"Abah sehat?" Tanyanya yang langsung duduk disamping abah. Tepat didepanku dengan duduk menyamping.
"Alhamdulillah sehat."
"Ngapain dulu sih? Kok lama banget masuknya?" Tanyaku dengan suara rendah.
"Ada telpon bentar tadi. Kenapa memang? Udah kangen ya? " Haddoh. Kenapa jadi kepedean gini dia? Mana suara tak dipelankan pula.
"Pengantin baru mah gitu ,Rey. Kangen terus." Bang Bagas yang menjawab, yang membuatku melotot tak terima. Malu lebih tepatnya.
"Abah, bang Bagas, kak Ina, tak mau makan ini? " Tanya Marta menunjuk bungkusan yang belum terbuka. Sedangkan dia makan seporsi berdua dengan Tama.
"Habisin lah." Kata bang Bagas santuy.
"Pengen sih bang, Tapi udah nggk muat." Udah kekenyangan dia.
Semua kumpul dan bercerita. Hal yang sangat aku rindukan, yang tak kudapatkan dirumah mertua. Dirumah Mertua berkumpul cuma saat dimeja makan untuk sarapan, setelah itu pergi semua. Makan malam jarang lengkap anggota keluarganya. Seringnya Rasya yang belum pulang saat makan malam, istrinya pun makan malam jarang barengan dengan aku dan Reyhan. Lebih memilih menghabiskan waktunya dikamar. Tak kompak keluarga sana mah. Hanya ramai saat keluarga yang jauh kumpul.
_____
"Terus maunya gimana?" Masih mode santai.
"Geser." Mendorong tubuhnya yang sama sekali tak ada gunanya. Karena tubuhnya sesentinpun tak bergeser. Berat banget ternyata.
"Jauh-jauh sana lo. " Mencoba mendorong berulang. Dan menyingkirkan tangannya yang betah melingkari pinggangku. Namun selalu kembali lagi dan lagi.
"Jangan salahkan jika tidurnya tak berjarak begini. Salahin ni tempat tidurnya yang sempit. Aku kan nggk mau jatoh." Malah mencari kambing hitam dia, memukul dipan yang tak tahu apa-apa. Nyalahin tempat tidur yang tak bersalah.
Aku memilih diam, tak lagi memberontak. Mengangkat kepala melihat dan mengukur kasur yang belum diganti setelah menikah ini. Meskipun muat untuk tidur berdua, tapi tetap tak seleluasa dikasur Reyhan yang king size, sesuai dengan kamarnya yang juga luas. Meskipun kamar ku juga tak terbilang sempit sih ya.
"Besok aku ganti." Kataku akhirnya, dan kembali merebahkan kepala.
"Nggk usah. Aku suka begini kok." Memaksa menarikku untuk melihatnya, dan memutar badanku menghadapnya. Yang membuat kini kami tidur berhadapan. Yang seketika membuat jantungku dag dig dug tak karuan.
"Aku ingin tidur selalu memelukmu begini." Merapatkan pelukan, dan menempelkan wajahku kedadanya. Tercium jelas wangi parfumnya juga terdengar detakan jantungnya yang tak jauh beda denganku. Aku menahan nafas sesaat, untuk mengontrol jantung yang bekerja diluar batas. Namun wangi parfumnya aku syuka banget. Ku hirup dalam-dalam aroma soft ini.
Ku rasakan ciuman lama dikeningku, dan pelafalan doa yang tak terlalu terdengar jelas ditelingaku. Seketika badanku merasa hal aneh. Terasa meremang dan berkedut diarea tertentu. Hal yang baru kini aku rasakan. Bahkan aku tak menolak dan pasrah saat ciumannya kini turun ke mata, dan ke pipi. Berlanjut di bibir.
__ADS_1
"Kok diam aja?" Tanyanya dengan suara yang terdengar parau. Aku tak berani melihatnya. Memilih memejamkan mata. Bingung mau ngapain.
"Emang aku harus gimana?" Tanyaku sedikit nyolot, Ingin menolak sebenarnya. Tapi tak punya kuasa untuk itu. Meskipun ini adalah tubuhku, tapi ini sudah menjadi haknya.
"Nggk tahu lah. Kamu sama sekali belum pernah ciuman?" Pertanyaan yang terdengar sangat menyebalkan. Mau mengejek dia?
Selama enam tahun berpacaran dengan Arfan kami tak pernah bersentuhan lebih. Jangankan ciuman, berpelukan aja tak pernah. Palingan pegangan tangan. Just it. Tidak lebih. Dia sangat menjaga aku.
Kamu dimana, Ar?
"Kalo belum kenapa? Mau bilang aku wanita katrok dan norak?"
"Nggk dong. Aku mau bilang makasih malah. Tak sia-sia aku menahan diri untuk tidak pacaran selama ini, ternyata mendapatkan istri yang masih tersegel semuanya. Aku bersyukur. Ternyata janji Allah itu terbukti benar." Ucapnya terdengar tulus.
Dia melanjutkan aktifitasnya. Meskipun sama sekali tak ada balasan dariku. Bahkan tak menanyakan kesiapan atau kesediaanku. Bukankah memang aku tak punya pilihan selain pasrah? Jadi, jangan harap aku kan memberikan respon balasan. Karena memang aku juga tak tahu bagaimana membalasnya.
Kini sudah saatnya aku benar-benar mengubur harapanku untuk hidup bersamamu, Ar. Aku harap tak ada penyesalan untukku maupun kamu. Batinku.
Secinta apa-pun aku padamu. Sesabar apapun aku menunggumu. Aku tetap masih takut akan murka Tuhanku. Kalau memang suatu hari takdir berkehendak untuk menghadirkanmu dihadapanku kembali, dan masih ada cinta dihatimu untukku. Jangan pernah pertanyakan keperawananku jika kau ingin bersamaku.
*Maaf kan aku, Ar. Jika boleh jujur. Saat ini, detik ini aku berharap kamu memang benar-benar sudah tak ada dialam yang sama denganku. Agar aku tak menyesal telah menghianati cinta dan janji yang pernah kita buat. Meskipun aku juga tak rela jika kau benar-benar tak ada.
Percayalah, Ar. Meskipun kini aku telah menikah. Dan mulai nyaman dan terbiasa dengan lelaki yang kini sudah menjadi suamiku. Kamu tetap ada dihatiku. Kamu tetap memiliki tempat tersendiri dipalung hatiku. Dulu, kini, esok, hingga nanti.
Aku selalu menunggumu jika memang kau masih bernafas. Kembalilah,Ar*!
Aku sibuk dengan perasaan dan pikiranku sendiri. Hingga tanpa kusadari kini aku sudah sama sekali tak memakai sehelai pakaian pun.
Rasa bersalah telah mengkhianati cinta dihati membuatku sama sekali tak menikmati sentuhan Reyhan. Biarkan respon alami tubuh yang membalas.
Padahal awalnya aku sempat menikmati sentuhannya. Tapi kenapa pula Reyhan membahas pacaran? Yang membuatku kembali teringat dengan masa lalu.
Apakah aku terlalu bodoh? Dihadapanku ada lelaki yang gentle telah berani bersumpah didepan Allah juga saksi dan penghulu, akan menyayangi dan melindungiku. Tapi aku malah masih memikirkan orang yang entah ada dimana. Hanya karena alasan cinta.
Hiks hiks hiks
"Maaf ? " Kata Reyhan Menghentikan keasikannya saat menyadari isak tangisku. Dan air mata yang meleleh dari kedua mataku.
_______
***Selamat membaca. Maaf kalo banyak typo dan berantakan.
Jangan lupa like, komen, gift , dan Vote nya***.
__ADS_1