
Duduk berdua dibawah langit malam. Ditemani hembusan angin dingin yang membelai kulit, membuat otak memerintah tangan untuk merapatkan sweater. Menghalau dingin yang kian terasa.
Makin malam suara ombak makin tinggi. Bahkan percikan ombak yang menyentuh bebatuan terasa hingga tempat mereka berdua duduk. Duduk dalam keremangan malam, yang tersorot sedikit cahaya dari lampu jalanan.
"Sejak kapan suka kesini?" Tanya Rena setelah beberapa saat hanya hening.
"Sejak tinggal disini." Jawabnya singkat, tanpa berniat bertanya balik. Seakan tak ingin mengisi keheningan dengan obrolan lanjutan. Meskipun malam tempat ini masih ramai pengunjung. Bahkan penjual makanan banyak berderet menjajakan jualannya. Tak peduli dengan angit mendung siap menumpahkan airnya.
"Owh."
"Hanya malam." Mungkin maksudnya datangnya hanya malam aja.
Diam lagi. Hening. Hanya detakan jantung yang tak mau diam. Meskipun hanya dalam diam begini, hati Rena tetap mampu menikmati kebersamaan ini. Anggap aja kencan tak terencana. Yang membuat hatinya berbunga bahagia. Wajahnya berbinar senang.
Pantas saja jarang ketemu. Aku kesini sore, sedangkan dia malam.
Biarkan saat ini menikmati kebersamaan tak sengaja ini. Untuk urusan esok biarlah pikir nanti. Hari yang kita miliki adalah saat ini. Kemaren sudah masa lalu tak akan bisa kembali, sedangkan hari esok belum tentu kita miliki. Jadi? Nikmatilah hari ini.
David berdiri. Menepuk-nepuk celana belakangnya yang berdebu. Rena hanya melihatnya dan mengikuti kemana David pergi. Berharap masih bisa melanjutkan kebersamaan yang indah, meskipun hanya dalam diam.
"Mau kemana sih?" Heran Rena saat kakinya terus melangkah dibebatuan pinggir pantai. Belum berniat untuk meninggalkan tempat ini. Rena senang melihat David tak menuju parkiran. Belum akan pulang berarti.
"Cari makan." Turun , mendekati penjual bakso yang cukup ramai pengunjung.
Rena hanya mengikuti dan mengamati David. Sedikit tak percaya seorang pemilik usaha resto besar mau makan dipinggir jalan begini. Tak seperti David yang dikenalnya. Bahkan tak pernah membayangkan kalo Davidnya punya sisi lain begini.
"Yakin mau makan disini bos?" Tanya Rena hati-hati. Melihat sekitar. Banyak pasangan muda mudi yang makan berdua berhadapan. Ada juga yang duduk menikmati makanan berkuah itu sambil menghadap ombak yang hanya terdengar suara deburannya. Air berbuih nya tersamarkan dalam gelapnya malam.
"Kenapa? Tak mau? Satu mang, sepesial." Tanya David melihat Rena , lalu memesan satu porsi untuk dirinya sendiri.
"Kok cuma satu? Aku?" Tanya Rena bingung dan menunjuk dirinya sendiri. Kan mereka datang berdua, kenapa David cuma pesan satu?
"Mau? Pesan sendirilah." Jawabnya acuh dan memilih tempat untuk duduk. Jawaban yang membuat Rena merengut keki. Kirain akan ada sedikit kepedulian dihatinya untuk Rena. Sekedar belikan bakso aja tak mau.
"Pelit." Umpat Rena, lalu pesan seporsi bakso untuk dirinya sendiri. Dan berjalan mendekati David yang tetap duduk dengan santainya. Menikmati hembusan angin yang berhembus menggoyangkan rambutnya.
"Udah sering makan disini ya bos?" Tanya Rena yang melihat David seakan sudah terbiasa dengan hal ini. Rena ikutan duduk disampingnya.
__ADS_1
"Nggk juga." Jawabnya cuek banget. Seakan tak tertarik akan pertanyaan Rena.
"Apa karena ada aku, makannya milih makan ditempat beginian?"
"Nggk juga ."
"Terus karena apa? Lagi nggk punya uang?" Ah, pertanyaan macam apa itu? Mana mungkin seorang David tak punya uang?
"Nggk juga."
"Terus?" Ah mulai keki ni Rena. Sedari tadi cuma dijawab dengan kata-kata yang sama . Dan tak enak didengar lagi.
Sebenarnya Rena senang juga sih. Meskipun terbilang cuek dan menjawab pendek-pendek. Tapi tetap menanggapi pertanyaan Rena, tak diabaikan seperti biasanya. Tak ada ponsel yang biasanya selalu dilihatnya. Tak ada pengganggu.
"Nggk terus-terus."
"Nggk ada kata yang lebih baik apa? Pantas jomblo terus. Kaku gitu? Kayak kanebo kering tau." Sungut Rena menggerutu. Dan terhenti protesannya saat penjual bakso datang membawakan dua mangkuk bakso.
"Jomblo itu pilihan. Nyatanya situ mepet terus aku juga ogah. " Jawabnya mencibir. "Makasih mang." Tersenyum manis dan nampak bersahabat saat bicara pada tukang bakso.
Bisa gitu yak? Baru sedetik yang lalu berwajah nyebelin juga ngeselin. Lalu berubah menjadi orang manis, meskipun masih terkendali.
Melirik David yang mengecap rasa kuah yang disruputnya. Memikir dan menimang rasa yang diterima lidahnya.
"Tujuh." Suara David dengan nada rendah, dan melanjutkan menikmati makanan berkuah dihadapannya.
Rena berfikir bingung. Membolak-balik mie dalam mangkuknya, menghitung berulang bulatan bakso yang hanya ada empat pentol bakso kecil, dan satunya cukup besar. Total ada lima. Yang tujuh apanya coba? Mengaduk berulang isi mangkuknya yang tetap sama isinya. Melirik mangkuk milik David yang sudah berkurang banyak.
Tu anak lapar apa doyan sih? Kirain kalo orang kaya tu jaim gitu. Atau pilih-pilih makanan untuk dimakan. Banyak gengsinya. Ternyata dia berbeda. Ucap Rena dalam hati. Tersenyum melihat David yang memakan makanan pinggir jalan tanpa canggung dan gengsi.
"Nggk akan habis kalo cuma diaduk aja." Komentar David yang melihat Rena hanya mengaduk isi mangkuknya. "Kalo nggk doyan nggk usah beli tadi." Lanjutnya lagi.
"Aku bukannya nggk doyan. Tapi bingung aja." Kata Rena apa adanya.
"Kenapa?" Tanya David mengernyitkan kening heran. Menghentikan sejenak menyuap makanannya.
"Kok punyaku baksonya cuma lima. " Jawabnya jujur.
__ADS_1
"Yah. Kalo mau nambah bilang sama penjualnya sana. Bilang sama aku mah tak bisa jadi tambah tu bakso. " Santai kali dia menanggapi. Dan kembali melanjutkan makannya.
"Bukannya mau tambah." Ah, susah juga bicara ma orang ini.
"Terus?"
"Punyaku cuma lima. Sedangkan kamu tadi bilang ada tujuh?" Bertanya dengan wajah polosnya.
David hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Rena. Dan menggelengkan kepala berulang atas kelucuan Rena. Meskipun tahu dia ditertawakan, Rena tak marah. Malahan senang bisa melihat tawa pelan David yang jarang terlihat. Biasanya hanya berwajah datar dan senyum sinisnya. Kaku banget.
"Orang baik mah rezekinya juga baik." Membanggakan dirinya.
"Apa hubungannya ama bakso?"
"Tak ada."
"Huffh.." Mendengus sebal. Enakan menikmati bakso yang sudah tak terlalu panas itu. Kelamaan dianggurin sih, malah ditinggal ngobrol aja.
David selesai lebih dulu dan membawa mangkok kosongnya pada penjual yang tak menyediakan jasa memungut piring kotor. Sudah sibuk melayani penjual dia.
David kembali lagi. Kini gantian Rena yang selesai dan mengembalikan mangkuk, sekalian untuk bayar harga bakso yang sudah dimakannya.
"Ni, non." Mangkuk yang tadi sudah kosong dan diletakkan di meja gerobak mamang bakso, kini ditambah lagi dengan beberapa bulatan bakso, tanpa mie. Sudah berisi lagi.
"Saya sudah pak. Ini mau bayar." Bingung Rena, sambil menyodorkan uang untuk bayar harga seporsi bakso yang tertulis dikertas yang tertempel pada sisi gerobak.
"Udah dibayar sama pacarnya mbk. Dan katanya mbknya mau nambah, dan tambahannya juga udah dibayar. " Jelas penjual sambil menunjuk David yang duduk tenang ditempatnya.
Pacar? Sejak kapan?
Akhirnya Rena dengan muka kesalnya, kembali duduk dengan membawa mangkuk yang hanya berisi bulatan bakso dan kuahnya. Sebenarnya perutnya masih muat menampung sih. Hanya malunya itu lo.
"Udah dapat tujuh lagi kan?" Kata David dengan senyum miring.
"Iya." Jawab Rena cuek.
"Habiskan. Biar paham arti nilai tujuh yang aku berikan tadi."
__ADS_1
Nilai tujuh? Dia bilang tujuh tu jumlah baksonya atau nilai masakannya sih? Orang bisnis kuliner mah gitu ya?