Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Tetangga Arfan


__ADS_3

Waktu bergulir dengan pasti. Mengikis umur yang terus berkurang. Dengan atau tanpa manfaat didalamnya, ia tak peduli. Waktu terus berjalan sesuai ketentuan-Nya. Beruntung bagi yang pandai mengisi waktu dengan hal bermanfaat. Dan celaka bagi yang menyia-nyiakannya.


Hari ini sesuai janjiku pada tetangga baru yang bernama Nita itu. Hari ini aku membuat kue ulang tahun sesuai pesanannya. Mencoba membuat sebaik mungkin yang ku bisa. Mantengin mbh google saat menghiasnya. Alhamdulillah jadi dengan sempurna. Sempurna versi aku tentunya.


Setelah selesai dan siap. Aku mengantarnya ke alamat rumah yang tak jauh dari rumah baruku. Cukup jalan kaki ,sampai.


"Assalamualaikum." Salamku saat sampai depan pintu yang terbuka lebar. Rumah kayu sederhana dengan cat didinding yang sudah pudar, namun cukup bersih dan rapi. Lantai semen mengkilap efek sering di pel. Langit-langit rumah tak berplafon nampak bersih tanpa sedikitpun jaring laba-laba. Halaman cukup luas yang penuh tanaman bunga, dan tak ada rumput liarpun tumbuh disana. Aku ingat akan rumah ini. Rumah yang masih sama saat aku sering datang ketempat ini dulu.


Aku memperhatikan sekitar. Rumah ini tepat disebelah lokasi berpagar tinggi dengan suara alat kontruksi. Pagar yang dulu belum ada, kini menjadi batas antara calon rumah besar dan rakyat jelata.


Ya. Rumah ini tepat disebelah rumah bekas Arfan yang kini sedang dibangun rumah baru. Setiap kali melewati depan rumah yang penuh material itu, aku selalu berharap ada Arfan disana. Atau sekedar bayangannya. Namun, seminggu lebih aku tinggal disini, aku tak pernah melihatnya. Atau melihat orang yang aku kenal datang kesana pun tidak.


Ah, mungkin memang sudah berganti kepemilikan. Mungkin itu lebih baik untukku. Bisik hatiku.


"Waalaikum salam." Jawab suara dari dalam. Yang menyadarkanku dari lamunan , dan mengalihkan pandangan dari suara berisik yang terhalang pagar tinggi.


"Mau antar kue mbk." Ucapku sambil tersenyum manis saat melihat mbk Nita yang datang sedikit tergopoh. Wajah cantik natural tanpa make up. Dan ku taksir usianya masih muda.


Dulu saat aku sering main kedaerah ini, aku kenal salah satu penghuni rumah ini. Tapi bukan dia, meskipun garis wajahnya ada sedikit kemiripan.


"Oh iya mbk. Makasih lo udah diantar. Masuk dulu mbk." Mempersilahkanku masuk. Aku masuk dengan mata mengamati seluruh isi ruangan. Duduk di sofa usang yang beberapa tempat sudah bolong, menampakkan busa pengisinya.


"Gimana? Suka nggk?" Menanyakan hasil karyaku.


"Bagus banget mbk. Anakku pasti suka." Ucapnya yang hanya kujawab dengan senyuman. Mataku masih mengitari isi ruangan.


"Maaf mbk. Rumahnya ya begini lah." Ucapnya insecure. Mengikuti arah mataku yang memperhatikan setiap isi ruangan.


Aku hanya menjawab dengan senyuman. Meskipun dulu aku pernah kenal wanita seusiaku yang bernama Tika penghuni rumah ini. Tapi aku tak pernah sekalipun masuk rumahnya. Palingan cuma main dihalaman sambil berbagi cerita. Pada masanya rumah ini terbilang bagus jika dibandingkan kanan kirinya. Meskipun rumah Arfan tetap menjadi rumah terbesar didaerah ini masa itu. Sepuluh tahun berlalu. Banyak pembangunan rumah baru. Namun rumah ini sama sekali belum ada renovasi.

__ADS_1


"La anakmu kemana?" Tanyaku basa-basi. Lagian rumah ini cukup sepi dari suara anak-anak.


"Lagi keluar sama bapaknya. Minta membelikan hadiahnya." Jawabnya yang membuatku mengangguk paham.


Nita meninggalkanku sendiri diruang tamu ini. Dia membawa masuk kue ulang tahun untuk anaknya yang katanya berusia lima tahun. Dan keluar lagi membawa secangkir minuman dengan asap mengepul, dan sepiring keripik singkong.


"Aduh. Kok malah repot-repot mbk." Kataku tak enak hati disuguhi makanan segala.


"Nggk repot kok. Mumpung ada ini." Jawabnya ramah. Dan meletakkan makanan dan minuman dihadapanku.


"Apakah ini rumahmu dari kecil?" Tanyaku membuat percakapan. Penasaran ingin tanya banyak tentang kediaman tetangga sebelah rumah ini.


"Nggk juga mbk. Aku tinggal disini setelah lulus SMP. Ini rumah almarhum pamanku. " Jawabnya dengan raut sedih. Mengenang perjalanan hidup yang mungkin tidak gampang. Atau mengenang pamannya yang sudah almarhum.


"Owh. La umur mbk Nita sekarang berapa?" Tanyaku. Ingin menghitung waktu dan memperkirakan kapan dia datang kemari.


What? Dua puluh tiga udah punya anak umur lima tahun? Terus dia nikah umur berapa? Tak peduli lah. Hitung sendiri aja.


Jika sekarang dia umur dua puluh tiga , sepuluh tahun lalu berumur tiga belas. Dan dia datang kemari setelah lulus SMP yang berkisar umur empat belas atau lima belas tahun. Pantas aku tak pernah ketemu dia dulu. Dan dia juga tak tahu sial Arfan dong kalo begitu? Kecewa deh.


"Kalo Tika kenal nggk?" Tanyaku hati-hati.


"Kenal lah mbk. Dia kakak sepupuku, tapi sekarang sudah pindah dikota. Ikut suaminya, juga tugas kerjanya disana. Makanya untuk sementara aku yang menempati rumah ini." Jawabnya dengan senyuman manisnya.


"Owh."


"Mbk kenal dengan mbk Tika ya?" Tanyanya.


"Kenal. Dulu waktu sekolah aku beberapa kali main kesini. Kerumah sebelah yang lagi dibangun itu. Dulu pemiliknya teman sekolahku." Jawabku.

__ADS_1


Tak mungkin kan aku bilang kalo pemilik rumah itu dulunya kekasihku? Bisa-bisa jadi gosip nanti. Tak enak kalo sampai ketelinga suamiku. Lagian Nita tak mungkin kenal dengan Arfan kan? Arfan menghilang sebelum Nita datang kesini. Kalo soal Tika? Aku tak seakrab itu hingga harus datang hanya untuk mengunjunginya.


"Benarkah? Rumah yang sekarang lagi dibangun itu?" Tanyanya antusias.


"Iya. Dulu tapi. Tak tahu kalo sekarang milik siapa itu? Bisa jadi sudah dijual, karena pemilik lamanya sudah tak ada kabar sejak beberapa tahun lalu." Ceritaku dengan senyum terpaksa ku lampirkan. Menutupi sakit dihati yang tetap terasa jika mengingat tentang dia. Ah, padahal untuk menghibur diri sendiri kata-kata itu.


"Owh, kirain mbk kenal sama pemiliknya sekarang mbk." Nampak kecawa.


"Emang kamu tak kenal?" Tanyaku heran. Bukankah dia udah lama disini? Masak calon tetangga yang membangun rumah tepat disebelahnya tak tahu?


Nita menggeleng pelan, dengan bibir mengerucut . "Aku tak pernah tahu yang mana pemiliknya mbk. Dulu rumah itu seram banget. Bahkan sering orang bilang angker. Tapi aku tak pernah menemukan hal aneh sih, meskipun tiap hari dirumah. Baru kira-kira sebulan terakhir ini ada mobil bagus datang beberapa kali. Tapi sama sekali tak menyapa tetangga, malahan beberapa hari kemudian bikin pagar dulu sebelum memulai buat rumahnya. Sakit hati saya sebagai tetangga. Dia ikut aturan kota mbk."


"Emang orang kaya begitu ya mbk? Menganggap orang kecil macam aku ini tak ada. Banyak yang membicarakan pemiliknya tu mbk. Ada yang bilang pernah lihat pemiliknya itu wanita cantik dan dua anak perempuannya. Karena ada yang pernah lihat begitu. Tapi ada juga yang bilang pemiliknya masih bujangan. Bahkan ada yang bilang kalo yang bangun rumah itu cucu pemilik rumah yang dulu. Ada juga yang bilang kalo pemiliknya itu pengusaha terkenal. Tapi entahlah mbk. Mana ghosiip yang bener. Karena aku tak berani mendekat kalo ada mobil datang. "Jelas Nita panjang kali lebar.


Kirain orang pendiam macam Nita susah diajak cerita. Ternyata kalo hanya berdua begini dia aktif bicara juga.


Cucu pemilik rumah yang dulu? Apakah Arfan?


"Emang nenek dan kakek yang dulu tinggal disitu kemana? " Tanyaku penasaran akan cerita kakek dan nenek yang juga turut menghilang.


"Entah lah mbk. Aku datang kesini rumah itu sudah kosong. Tapi kalo dengar-dengar sih meninggal karena kecelakaan. Tapi tak tahu shohih atau nggk cerita itu."


_______


Maaf ya telat update.


Maunya sih update tiap hari, bahkan ingin ngajuin rekomendasi crezy up. tapi author juga punya kesibukan didunia nyata.


Qodarullah . Sebaik-baik kita berencara, tetap rencana Allah yang lebih baik kan? Ibu sedang sakit dan alhamdulillah sekarang sudah dioperasi. Doain moga cepat sembuh ya. Bisa pulih lagi seperti semula.

__ADS_1


__ADS_2