
Malam tak membuat aktifitas manusia berhenti. Bahkan dipusat belanja ini, menjelang malam malah makin ramai pengunjung. Aku hanya mencari kebutuhan rumah tangga setelah sebelumnya makan malam digedung yang sama.
"Mau langsung pulang?" Tanya Reyhan saat sudah selesai membayar barang belanjaan. Bahkan kami sudah berjalan keluar.
"Mau kemana lagi?" Tanyaku cuek. Tak punya gambaran ingin kemana dan ngapain.
Aku bukan pecinta keluyuran malam hari. Pun bukan pecinta shoping untuk menumpuk koleksi baju branded, juga tas atau pun sepatu. Hanya saja aku tak bisa menahan diri jika melihat alat masak keluaran terbaru. Atau bentuk cantik dan antik. Makanya aku tak terlalu banyak koleksi baju dan sepatu, tapi punya alat masak lengkap , meskipun semuanya masih di apartment lamaku. Belum ada yang dipindahkan, karena belum punya tempat tinggal sendiri. Karena banyak.
"Nonton dulu yok." Ajaknya dengan wajah berharap, dan kedua tangan menangkup didepan dada memohon. Aku berfikir sejenak untuk mempertimbangkan.
"Okey. Letak mobil dulu." Mengangkat belanjaan yang ku pegang. Yah, punya suami cuma keliling buntutin istri belanja. Tak ada inisiatif membawakan barang belanjaannya gitu. Tapi tak apalah, toh tak terlalu banyak. Selagi masih mampu dilakukan sendiri, jangan merengek minta tolong pada suami.
"Okey."
Setelah meletakkan barang belanjaan dimobil, kami kembali lagi memasuki gedung megah dan besar itu lagi. Dan Reyhan sedari tadi mengumbar senyum senang. Dan tangan tak pernah lepas menautkan jemarinya pada jemariku. Aku tak menolak. Nikmatin aja lah.
"Seneng banget sih. Sering ya nonton begini? Sudah berapa banyak cewek yang kamu ajak nonton?" Tanyaku melirik wajahnya yang sumringah.
"Hah? Emang aku seseneng itu kah?" Malah balik nanya dengan raut tak percaya, namun senyum tak berhenti menghiasi wajahnya.
"Yayaya. Aku menjadi perempuan keberapa ni ya? " Tanyaku memancing, dengan nada mencibir.
"Kalo aku bilang yang pertama dan satu-satunya apakah kamu percaya?" Menaikkan alisnya.
"Nggk percaya." Ucapku jutek.
"Nggak percaya ya udah. " Merajuk.
Ih, kenapa jadi ngeselin gini sih? Seharusnya aku kan yang marah karena dibohongi? Masak malah dia yang merajuk? Tapi jujur atau bohong yang diucapkan tadi?
"Ih, kok gitu sih?" Mencubit pelan perutnya, yang membuatnya kembali tertawa menghindar.
Meskipun kami tinggal bukan di kota metropolitan. Tapi untuk sekedar nonton bioskop atau jalan-jalan keliling mall itu tak susah. Tak terlalu jauh dari tempat kami tinggal. Apalagi zaman modern , ada angkutan umum yang memudahkan kita jika ingin bepergian. Jadi mana percaya jika ini pertama dia bawa cewek nonton? Aku aja cukup sering nonton bareng teman lelaki. Meskipun rombongan sih, bukan hanya berdua. Meskipun lebih sering dengan teman kusus wanita.
"Tapi jujur ya. Aku sebesar ini belum pernah nonton di bioskop. Baru mau kali ini."
"Beneran? Kenapa?" Tanyaku tak percaya plus heran. Apakah dia bukan pecinta drama? Tapi kan film di bioskop macam-macam, tinggal pilih ganre aja.
"Nggk papa. Nggk tertarik aja. "
"Terus? Kenapa sekarang ngajak nonton?"
"Mau aja. Tadi waktu lewat atas tengok ada iklan film romantis yang tayang malam ini."
__ADS_1
Hah? Bener nggak sih? Kok aku sedikit nggk percaya ya?
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa lah. Ingin nonton sama kamu aja. Biasanya orang datang kebioskop itu ama pasangan. Kan aku baru kali ini punya pasangan . Jadi baru kali ini juga tertarik mencoba datang kesini." Jelasnya.
"Hahaha. Yang bener aja sih? Aku nonton juga nggk harus ama pasangan kok? Sering juga nonton ama teman." Tawaku sangsi atas kejujurannya. Tapi dia bilangnya santai tanpa beban gitu yak.
"Oh ya? Teman laki atau perempuan? " Wajahnya sudah berubah waspada.
"Seringnya perempuan. Tapi emang kamu nggk suka nonton film gitu? Meskipun hanya lewat tv atau Hp?" Mengalihkan pembahasan. Rautnya udah nggk nyaman dilihat saat bahas teman nonton bioskop.
"Nggk suka. Aku sukanya baca."
"Baca apa?"
"Apa aja. Novel contohnya."
"Terus kenapa sekarang ngajak nonton?"
"Kan tadi udah aku jelaskan." Jawabnya gemas dengan mulutku yang banyak tanya.
"Oh iya-ya. Film romantis." Ulangku mengingat ucapannya tadi. Kini kami sudah sampai ditempat yang dituju. Aku yang sibuk memesan tiket, membeli camilan dan minuman. Sedangkan Reyhan hanya ngintilin dibelakang. Banyak tanya aja saat aku suruh beli minuman.
"Kenapa sih milih film romantis? Karena film yang kamu pilih masih satu jam lagi. " Menunjukkan waktu yang tertera.
"Kenapa harus film romantis? Sekarang tayang film horor kesukaanku lo." Jujurku manyun. Aku belum pernah nonton film romantis. Seringnya horor. Aku pun tak suka dengan serial drama kesukaan Marta, yang sering bikin dia nangis kalo lagi nonton. Huh, buang-buang air mata untuk cerita yang belum tentu nyata.
"Kamu belum pernah nonton yang romantis-romantis?" Aku hanya menjawab gelengan kepala.
"Aku juga. Makanya sekarang ingin nonton. Untuk belajar." Ucapnya serius.
"Belajar apa?" Heranku. Emang mau belajar apa lagi? Apa yang mau dipelajari dari film hasil imajinasi?
"Belajar bersikap romantis pada istri." jawabnya manis dengan mengedipkan matanya, dan tangan merangkulku. namun membuatku memutar bola mata jengah.
"Kenapa? Nggak suka ya? " Tanyanya yang melihatku tak tertarik.
"Suka lah. Ku tunggu." Jawabku ketus.
"Nunggu apa nie?"
Eh, bapak kepala sekolah kenapa jadi lola begini sih? Apa pura-pura tak paham maksudku?
__ADS_1
"Katanya mau belajar tadi? Emang praktek ROMANTIS nya ama siapa? udah lah pulang aja yok! " kesal juga aku.
"Tinggal sepuluh menit lagi." Menunjuk jam ditangannya.
Sebenarnya yang membuat kesal itu karena mata sudah mengantuk, karena kegiatan seharian tadi yang membuat badan lelah minta istirahat.
Bahkan setelah masuk aku hanya melihat awalnya aja. Belum paham ceritanya sudah tak kuat menahan kantuk. Tidur menyandar dibahu Reyhan, ditambah tangannya yang merangkulku, yang membuatku nyenyak tertidur. Reyhan pun tak protes akan tingkahku. Bangun-bangun sudah selesai acara. Pun dimobil tidurnya bersambung.
______
Pagi hari aku beraktifitas seperti biasa. Menyiapkan sarapan, nyuci baju, nyuci piring, nyapu, lap meja,lap kaca. Ah, semua serba sendiri. Karena memang tak ada asisten rumah tangga disini. Tapi aku terbiasa melakukan semua itu. Jadi tak mengeluh karena capek.
"Mau ngapain lah ya? Bosen banget." Keluhku karena bosan. Masak pagi-pagi udah mau tidur aja?
"Bikin kue aja lah." Aku memutuskan membuat makanan. Dari pada tidur kan? Lebih baik berkutat didapur mengusir jenuh. Aku tak pernah bosan kalo berurusan dengan masak.
"Bikin apa ni? Kayaknya sibuk banget." Sapa Bunda yang datang menghampiriku didapur. Aku tersenyum melihatnya mendekat.
"Mau bikin risoles , Bun. Dari pada tidur dipagi hari kan? Lebih baik buat camilan." Jawabku masih berdiri didepan kompor mencetak kulit risols. Baru mau mulai ini. Aku buat adonan kulit cukup banyak. Dari pada nanggung kan?
"Sini Bunda bantuin kupas sayur untuk isinya." Pinta Bunda tertarik membantu.
"Nggk usah Bun. Nanti Bunda capek lo." Tolakku.
"Cuma ngupas wortel dan nyacah sayur Bunda juga bisa sayang." Mendekati kulkas dan mengambil bahan yang dimaksud. Yang memang belum aku siapkan.
Ah, senang bisa melihat bunda bisa kesana kemari meskipun harus dibantu kursi. Tapi Bunda seakan punya semangat hidup berkali lipat lagi.
"Tapi jangan salahin Tasya kalo Bunda kecapekan ya."
"Tenang. Bunda senang kok kalo ada kegiatan dirumah begini. Dari pada cuma melamun sendirian."
Aku dan ditemani Bunda masak dengan senang hati. Diselingi cerita dan bercanda yang tiada habisnya.
Ternyata hidup sama mertua tak semenyeramkan yang banyak orang katakan. Aku bahagia hidup dengan Mertua. Yang membuat aku tak bahagia adalah hidup seatap dengan Sesama menantu perempuan. Itu lebih menyulitkan dan lebih makan hati tahu nggak?
"Banyak juga ya jadinya? " Riang Bunda melihat hasil masakan kami yang cukup banyak.
"Alhamdulillah. Cicip, Bun! Enak nggk?"Memintanya mengoreksi rasa masakan buatanku.
"Ehm. Mantab sayang. Kamu memang bisa diandalkan." Jawab riang Bunda mengacungkan jempol setelah mencicip risoles hasil masakan kami.
"Ini banyak lo, sayang. Berbagi sama tetangga geh. Biar mereka bisa ikut mencoba enaknya masakan kamu ini." Anjur Bunda melihat banyaknya makanan.
__ADS_1
"Boleh bun?."
"Ya boleh lah. Kenapa nggak boleh? Sekalian kenalan ama tetangga, menyambung tali silaturahmi."