
Kini kami sudah sampai didepan suatu restauran yang nampak klasik dari depan, dengan lampu penerang yang tak terlalu terang. Kami masuk kedalam, Reyhan berjalan tenang dengan tangan menggandengku. Aku melihat sekitar, memperhatikan ruangan luas bergaya kuno yang cukup banyak pengunjung, namun tak bisa juga dibilang padat. Masuk keruang berikutnya sudah beda suasana, disini lebih modern khas anak muda. Dengan lampu dan musik yang aku tak suka. Terlalu rame. Dan musik disini tak terlalu terdengar dari ruangan sebelah yang terkesan hening.
"Kita mau kemana sih Ay?" Tanyaku aneh karena Reyhan tetap menarikku untuk berjalan mengikutinya. Meninggalkan dua ruangan restauran ini. Tetap berjalan melewati pintu yang lain.
"Ikut aja." Jawabnya penuh misteri, dengan senyuman manisnya.
Aku hanya mendesah pelan, dan tetap melangkah mengikutinya. Mengedarkan pandangan pada pasangan yang sedang bercengkrama. Rata-rata yang memenuhi ruangan ini pasangan muda-mudi.
"Ay, katanya mau makan? Kenapa malah kesini? Aku udah lapar tahu." Protesku saat kami malah berjalan pada keremangan. Menghentikan langkah protes.
"Iya, bentar lagi." Jawabnya menarikku berjalan beberapa langkah, dan aku menepis paksa. Memaksa berhenti.
"Makan dimana sih?" Suaraku mulai naik karena kesal. Tak paham dengan jalan pikiran suamiku ini. Ngajak makan kok masuk restauran cuma lewat saja. Bahkan nampaknya ini malah dekat dengan toilet. Karena tadi baru saja kami melewatinya.
"Kita makan disini." Menunjuk dinding yang tak jelas dalam keremangan, karena lampu penerang hanya ada didepan toilet. Yang membuatku bingung dan kembali melihat kebelakang, melihat ruang pengunjung yang sudah tersekat dinding.
"Kok disini sih?" Suaraku penuh kebingungan. Tapi Reyhan malah tersenyum samar. "Emang kenapa kalo makan didalam? Takut mahal? Tak bisa bayar? Masak makan ditempat ini?" Cecarku marah. Tak tahu apa kalo cacing diperut sudah berdemo. Masak makan dibelakang?
Tapi Reyhan malah tersenyum. Senyuman yang tersamarkan oleh minimnya cahaya. Yang membuatku makin geram, dan menghentakkan kaki kasar. "Aku mau makan didalam." Berbalik badan dan siap melangkah, namun lenganku dicekalnya. Yang membuatku mengibaskan tangan kesal, namun terap gagal karena tenaga ku yang kalah besar.
"Sini." Menarikku menghadap kedinding, dan dia berdiri dibelakangku, lalu menyentuh salah satu sisi dinding dan terbukalah pintu. Ternyata kini kami berdiri didepan pintu? What? Apaan ini? Aku mematung melihat arah depan. Tak percaya plus terpesona.
"Kita makan malam disini." Bisiknya lembut dari belakangku. Aku melihat kearah depan, lalu bergantian melihat Reyhan yang tersenyum kearahku.
"Waw.." Aku mengerjapkan mata melihat pemandangan didepan. Ini ruangan khusus yang beratapkan langit berbintang dengan bulan sabit diatas sana. Namun bukan pula alam terbuka. Ini cukup privasi. Ruangan ini terbatas, pembatas yang entah terbuat dari apa. Namun juga cukup luas.
"Gimana? Mau makan disini atau disana?" Menunjuk arah depan dan belakang bergantian, dengan senyum lebar dan menaikkan alisnya.
"Ekhem. " Dehemku menahan senyuman bahagia. "Disini aja. Tapi cepat ya? Aku sudah lapar." Kataku berjalan mendahuluinya. Mengamati pembatas yang dihiasi rumput menjalar tinggi hingga tak nampak dindingnya, dengan lampu tumblr berbentuk bintang dan bulan menghiasi sepanjang dedaunan. Juga ada bunga yang berkedip seperti lampu. Nampak kali kalo bunga itu adalah bunga hias. Palsu.
"Kamu suka?" Tanya Reyhan yang berjalan dibelakangku. Melihatku yang takjub melihat keindahan tempat ini. Aku hanya tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan pertanyaannya.
"Sini." Reyhan menuntunku berjalan menuju sepasang kursi yang ada ditengah-tengah. Melewati karpet merah yang tampak mencolok karena disekelilingnya hanya ada rerumputan hijau. Disepanjang kanan kiri jalan berjajar lilin yang tampaknya bukan lilin asli.
"Kok lilinnya begini?" Aku merunduk penasaran, menyentuh lilin yang semua rata sama tinggi ini.
"Iya. Maaf. Tadi aku pesan lilin asli cuma dapat dikit. Jadi pihak resto menyarankan pakai lilin elektrik yang sudah tersedia aja." Jawab Reyhan merasa bersalah. "Tapi tetap cantik kan?" Tanyanya, memastikan kalo aku menyukai kejutannya. "Tapi meskipun bukan asli, aku mempersiapkannya dengan cinta yang asli kok."
__ADS_1
"Ini semua kamu yang siapin?" Tanyaku memastikan, Mengabaikan ucapannya. dengan senyuman takjub melihat suasana romantis ini. Suasana remang, dengan bertabur lilin dan lampu tumblr yang jadi penerang. Juga bintang yang berkedip diatas sana.
"Yah, begitulah. Tapi yang banyak bekerja tetap karyawan disini sih. " Jawabnya dengan berdiri menghadapku, memutar tubuhku hingga kami berhadapan.
Aku menatap matanya lekat. Mata yang jarang sekali ku perhatikan seksama. Mata hitam legamnya yang bersinar terkena sinar lilin. Dia menggenggam jemariku.
"Maaf. Aku bukan lelaki romantis yang pandai merayu dan membuat acara romantis. Mempersiapkan acara ini pun aku tak sendiri. Tapi yang pasti aku akan selalu mencintai dan menyayangimu. Menyebut namamu dalam setiap doaku. Bertanggung jawab atas hidupmu. Aku hanya ingin kamu percaya kalo aku sangat menyayangimu." Mendekatkan genggaman tangannya, memintaku menyentuh dadanya.
"Kamu akan selalu ada disini. Sekarang nanti dan selamanya. Aku berharap kamu juga begitu. Bersedia menggenap bersamaku hingga akhir waktu. Membesarkan anak-anak bersama. Bahkan aku berharap kita tetap bisa bersama hingga ke surga. " Ucapnya tulus.
"Selain bukti cinta. Aku juga ingin membuat cerita untuk kita, untuk kita ceritakan pada anak-anak kita kelak. Mencipta kenangan untuk kita kenang hingga masa tua nanti. Bukti cinta ini untuk kita kenang jika waktu memberikan kita jarak. Kamu tahu kan? Cinta tak membuat waktu selamanya milik kita. Dan aku ingin membuat kenangan manis untuk kau peluk dalam bayang saat ragaku tak bisa memelukmu. "
Aku masih menatap matanya yang penuh ketulusan dan kejujuran. Apakah aku bahagia? Bahagia itu pasti. Setelah menikah baru kali ini Reyhan mengatakan kata cinta dengan kalimat panjangnya. Meskipun dari dulu sikapnya selalu membuktikan rasa yang disimpannya. Aku tak pernah bertanya dan ingin tahu bagaimana perasaannya menikah denganku tanpa pacaran terlebih dahulu. Aku percaya dia mencintaiku, menilik dari sikapnya padaku.
Aku menitikkan air mata. Berhambur memeluknya dengan haru dan perasaan bersalah. Dia membalas pelukanku, dan mengusap punggungku. Mencium puncak kepalaku. Hingga aku merasa lebih tenang.
"Udah jangan nangis dong." Mengurai pelukan. Menghapus air mataku, dan mengecup setiap mata yang basah. "Aku tak ingin melihat ada air mata yang jatuh."
"Tapi kan aku bahagia. Ini tangis bahagia." Alasanku. Meskipun tak sempurna bahagia.
Ah, Reyhan. Kamu lelaki baik yang Allah kirimkan untukku. Lelaki sholeh yang menjadi panutan buatku. Tapi nyatanya aku? Aku masih sering mengingat lelaki lain dalam pernikahan kita. Masih kurang tulus dalam melayanimu. Apakah ini balasanku atas ketulusanmu? Maafkan aku Rey.
"Iya. Tapi mendadak kenyang melihat kejutan ini." Tawaku merentangkan tangan.
"Makasih kalo kamu suka. Aku juga ikut bahagia." Tertular tawa. Menuntunku duduk dikursi berhadapan yang dipisahkan meja bulat. Yang dikelilingi lilin berbentuk hati. Tapi yang ini lilin asli.
"Silahkan dimakan. Katanya ini menu favorit disini." Ucapnya membuka tutup saji.
Aku tak memperhatikan. Makluk ciptaan Tuhan dihadapan ku ini lebih menarik perhatian.
"Tuhan, ajari aku bersyukur atas semua pemberian-Mu. Anugerah terindah yang sering luput dari kesadaranku. Malah memaksakan diri meraih yang bukan takdirku. Apakah ini termasuk kufur nikmat? Maafkan aku Tuhan."
"Kok diam aja? Aa' buka mulutnya, jangan ngelamun aja." Ucapannya membuyarkan lamunanku. Dengan menyodorkan sendok didepan wajahku, dan membuka mulutnya memperagakan kata aa' yang disebutnya.
"Aku makan sendiri." Bersiap mengambil alih sendok.
"Tak mau. Sesekali aku ingin menyuapi istriku." Menjauhkan sendok dari jangkauanku. Menghalangiku untuk memintanya. "Buka mulutnya." Kembali mendekatkan sendok, dan tangan sebelah menggenggam tanganku.
__ADS_1
"Oke." Putusku akhirnya.
Akhirnya malam ini Rey menyuapiku, juga menyuapi dirinya sendiri. Entah disengaja atau bagaimana. Ada beberapa menu yang disajikan dan setiap menunya hanya ada satu porsi. Dan yang menjadi masalahnya adalah sendok, sendok garpu, dan pisau hanya ada satu. Jadi tak punya pilihan lain.
Setelah makan kami masih bertahan disini. Namun tak ada musik romantis yang mengalun. Tak ada juga dansa. Juga tak ada hadiah bunga atau perhiasan untukku. Kami hanya duduk bercerita menghabiskan makanan.
Kami kini gantian merebahkan badan bersisian diatas karpet, menatap langit yang malam ini tampak lebih indah dari biasanya. Menghitung rasi bintang yang tak kupaham namanya.
"Ay. "Panggilku setelah sekian detik terdiam.
"Apa?" Menoleh kearahku.
"Katanya kalo ada bintang jatuh boleh meminta satu permintaan ya? Kita tunggu sampai ada bintang jatuh ya? Nanti kita buat permintaan. Katanya pasti akan dikabulkan." Ucapku masih menatap langit. Menatap rembulan sabit. Sedangkan Reyhan tak menanggapi.
"Nanti kamu mau minta apa?" Tanyaku. Dia nampak tersenyum kearahku.
"Haruskah menunggu bintang jatuh untuk memanjatkan doa? Emang yang mengabulkan doa kita ,bintang?" Tanyanya.
"Bukan begitu Ay. Tapi mitosnya kan begitu. Kalo berdoa saat ada bintang jatuh, pasti dikabulkan."
"Hati-hati dengan dosa syirik, Yang. Apakah kamu tak yakin dengan janji Allah? Allah pasti mengabulkan doa hambanya kok. Selagi kita memenuhi adab berdoa. Mau ada bintang jatuh atau tidak."
"Iya sih."
"Allah pasti mengabulkan doa hambanya. Hanya terkadang beda-beda caranya. Ada yang langsung dikabulkan untuk menguji apakah kita pandai bersyukur, atau ditunda untuk menguji rasa sabar kita. Bisa juga diganti dengan yang lebih baik, untuk menguji keikhlasan kita. " Jelas Reyhan. " Yang penting jangan pernah berhenti berharap, dan jangan salah menggantungkan harapan. "
"Dan doa itu memiliki kekuatan yang sangat besar. Makanya jangan pernah berhenti berdoa. Jangan pernah putus asa, meskipun doa kita tak cepat dikabulkan. Jangan malah berpaling dan berdoa pada selain-NYA. Allah maha tahu yang terbaik untuk hambanya, dan paling tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan apa yang kita minta."
Aku hanya terdiam mencerna. Ah, padahal tadi aku hanya iseng bertanya saat melihat banyaknya kerlip bintang , malah dapat wejangan.
"Emang kamu ingin apa? Siapa tahu aku bisa bantu mewujudkan, atau paling tidak bisa bantu doa." Menatapku dengan memiringkan badan.
Ah, untung tempat ini cukup privasi. Tak ada orang sembarangan masuk dan lewat. Jadi tak malu saat kami dalam posisi begini.
"Apa ya?" Ucapku tertawa. Aku sendiri bingung ingin apa.
"Atau mau mengaminkan doaku aja?"
__ADS_1
"Apa?"
"Bersama hingga kesyurga."