Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Mengunjungi Dokter Kandungan


__ADS_3

"Aku sudah bilang pak Rudi tadi pagi, untuk menawarkan istrinya bantu-bantu disini." Ucap Reyhan sebelum berangkat kerja. Titipan kue dikantin juga sudah siap untuk dibawanya.


Tadi pagi kapan pula? Bukankah ini juga masih pagi? Mungkin saat ketemu dimasjid sholat subuh tadi.


"Terus?Emang kapan mas ketemu pak Rudi?" Tanyaku sangsi. Pak Rudi yang dimaksud Reyhan adalah suami dari Nita. Ibu muda yang tak jauh dari rumah ini.


"Tadi pagi, waktu subuh ketemu dimasjid." Benar kan dugaanku.


"Terus istrinya mau nggk?"


Aku setuju aja kalo Nita yang membantuku. Selain dia paling kalem diantara ibu-ibu muda didaerah sini. Dia nampaknya bukan orang neko-neko, juga bukan pecinta ghosip. Dilihat dari rumahnya, dia terlihat orang yang rajin.


"Baru ni dia sms , bisa. Setelah nganterin anaknya baru bisa kesini. Dia juga suka masak katanya. Jadi senang aja diajak kerja sama dalam hal memasak." Jelas Reyhan berjalan keluar rumah.


Nita sudah punya anak umur lima tahun. Dan saat ini anaknya sudah sekolah tk yang ada didaerah sini. Jaraknya tak jauh dari rumah. Jadi maklum kalo dia pagi-pagi mengurus anak lebih dulu sebelum menyanggupi kerja. Anak tetap menjadi prioritas utama. Tak apalah. Yang penting ada yang membantu ngantar pesanan pada pelanggan. Karena zaman sekarang pembeli itu pada manja. Rata-rata milih delivery, tak masalah menambah sedikit biaya asalkan pesanan datang sampai depan rumah. Jadi aku pun harus mengikuti trend zaman now kalo ingin maju. Toh pembeli rela menambah sedikit biaya untuk ongkir. Jadi aku pun tak rugi juga.


"Ya udah kalo gitu." Setujuku mengantar suami sampai halaman rumah. "Kalo nambah anggota satu lagi gimana?" Tawarku saat ingat ada salah satu tetangga yang menawarkan diri saat kunjungan awal kedatanganku kemaren.


"Terserah. Yang penting cocok dengan pemasukan aja. Aku pergi dulu." Berjabat tangan, ku cium singkat tangannya, dan dia mencium wajahku. Dia kini setiap berangkat kerja bukan hanya cium kening, tapi juga pipi kanan dan kiri, bahkan kadang mencuri ciuman pada bibirku. Aku sebenarnya malu, dan mau protes karena dia melakukannya didepan rumah. Tapi biarlah, toh dirumah sendiri juga dengan suami sendiri.


"Iya. Hati-hati." Pesanku melambaikan tangan. Reyhan sudah menaiki motor kesayangannya.


"Jangan lupa nanti jam sepuluh aku jemput. Siap-siap ya." Pesannya sebelum melajukan motor besar hitamnya.


Aku masuk lagi dan melanjutkan tugasku. Bunda sudah ada didapur memisah ikan dari durinya, untuk buat pempek pesanan ibu-ibu untuk acara arisan. Hari ini juga ada lima pesanan kue, dua untuk ulang tahun anak-anak, dua lagi untuk anniversary jadian para anak remaja. Dan satu lagi untuk acara keluarga. Ada juga beberapa pesanan untuk makan biasa yang tak menuntut harus ditentukan jam pengantarannya, juga dekorasinya. Yang penting hari ini sampai.


Benar kata Reyhan. Tak lama dia berangkat Nita datang kerumah bersama Amel. Amel adalah gadis desa lulusan SMA yang tak berkesempatan melanjutkan kuliah karena kendala biaya. Dia cukup cekatan dan gesit dalam melakukan banyak hal. Dan, cukup cerewet juga. Dia terkenal supel dalam bergaul.


Ah, sudah ada dua ini. Tak bisa nambah lagi anggota. Tak apalah.


"Makasih lo, udah mau bantu-bantu aku." Ucapku mengajak mereka masuk kedapur.


"Iya mbk. Apa salahnya sih? Dari pada nganggur dirumah." Jawab Nita yang tampak tertarik dan bahagia mengikutiku. Nampaknya benar kalo dia juga pecinta memasak, makanya nampak happy saat masuk dapur.


"Belajar bisnis mbk. Siapa tahu besok bisa buka sendiri." Ini jawaban Amel yang masih berjiwa muda. Masih memiliki harapan luas untuk masa depannya.

__ADS_1


"Sip lah tu. Siapa tahu punya kesempatan membuka toko kue yang besar."


"Amien. Doain mbk." Jawab mereka serempak.


"Amien. Aku juga ingin kali." Aku pun ikut bersuara dengan tawa.


"Ada partner kerja baru ya? Pasti rame ini ." Sahut Bunda yang masih ada didapur. Kami hanya tertawa menanggapi.


"Iya bun. Biar nggk terlalu capek bun. Siapa tahu kalo kita tambah anggota, tambah juga pesanan yang datang."


"Amien. "


"Diantara kalian berdua siapa yang biasa buat kue?" Kembali menatap Amel dan Nita. Pastinya kita perlu bagi tugas kan biar lebih cepat selesai semua pekerjaan?


"Aku nggk punya alat-alat lengkap dirumah mbk. Jadi nggk pernah praktek buat cake. Tapi suka baca-baca tips-tips memasak, juga sering ikut nonton acara memasak ditivi gitu. " Jawab Nita.


"Aku belum pernah mbk. Aku bagian antar-antar, atau pergi belanja aja tak apalah." Ini jawaban Amel yang mungkin belum terbiasa kerja didapur. Suka mendapatkan tugas jalan-jalan dan keluyuran. Itu memang hobby dia. Cepat kalo urusan keluar rumah dengan motor.


"Ih kamu." Sikut Nita pada Amel yang disampingnya. Aku hanya tertawa melihat nya.


"Betul itu. Kita bikin bareng-bareng. Amel juga harus belajar buat, bukan cuma antar-antar. Kalo belum jadi apa yang mau diantar? Bahan semua masih lengkap." Interuksiku mengeluarkan bahan dari kulkas, juga tepung , gula dan telur dari meja yang baru ku beli. Juga sayuran yang dibutuhkan.


"Ni ikannya sudah siap." Bunda menuang ikan yang sedari tadi diurusnya, dan kini sudah jadi ikan giling.


Kami bekerja berempat. Namun Bunda hanya kerja yang ringan-ringan saja.


Tepat jam sepuluh Reyhan pulang. Sebagian besar pesanan sudah siap tinggal antar. Tinggal rebus pempek sebelum digoreng, juga buat kuah cukanya. Pesanan yang ini masih nanti sore dibutuhkannya. Jadi sedikit santai.


"Kok belum siap-siap sih yang?" Protes Reyhan yang melihatku masih berkutat didapur, dengan badan belepotan kena tepung, juga bau amis telor. Namanya bahan itu yang dipegang, meskipun tak niat menempelkannya di baju, baunya tetap aja nempel.


"Ya Ay. Ni mau mandi. Tunggu bentar ya, Ay. Aku tinggal nggk papa ya teman."meninggalkan yang lain yang masih sibuk.


"Mbk mau kemana?" Tanya Nita yang bingung melihatku pergi. Namun tetap melanjutkan arahan yang telah ku berikan.


"Mau pergi bentar. " berlari masuk kamar untuk mandi. Tadi pagi sudah mandi sih, tapi sudah bau lagi.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan tiga wanita yang ada didapur rumahku. Aku pergi dengan Reyhan.


"Aku nggk mau naik motor besar, Ay." Ucapku saat lihat Reyhan sudah mendekati motor ninja kesayangannya.


"Itu nanti mau dipake Amel untuk ngantar pesanan." Protesku lagi saat Reyhan mendekati motor matic yang belum lama ini ku beli untuk transportasi.


"Terus mau naik apa ? mobil?" Ucapnya terdengar malas. Malas mengeluarkan mobil yang sudah berhari-hari tak keluar garasi. Namun aku mengangguk setuju. Aku lebih nyaman naik mobil jika bepergian jauh. Naik motor palingan kalo ngantar pesanan yang tak jauh dari rumah. Meskipun ngedumel malas, Reyhan tetap menuruti kemauanku.


Sepanjang perjalanan kami banyak diam. Bukan karena lagi marahan atau tak punya bahan pembicaraan. Hanya saja sedang asik dengan pikiran sendiri-sendiri. Reyhan yang sesekali menerima panggilan telepon, dan sibuk menjawab ini dan itu. Aku tak mau mengganggu juga tak butuh penjelasan untuk tahu. Karena semua pembahasan tentang pekerjaan. Aku tak berniat ikut campur.


"Sampai. Disana tu sekolah aku." Reyhan memarkirkan mobil didepan klinik cukup besar, dan menunjuk bangunan yang hanya nampak atapnya dari sini. Bangunan yang katanya sekolah tempat dia tugas.


"Ayok turun." Turun dari mobil, dan memerintahku turun tanpa berniat membuka pintu untukku.


Ternyata antriannya cukup banyak, meskipun tak sampai mengular panjang. Kami mengambil nomor antrian lalu menunggu. Reyhan yang mengurus, aku tinggal duduk manis menunggu namaku dipanggil.


Setelah hampir satu jam menunggu, kini giliran namaku yang dipanggil. Aku dan Reyhan memasuki ruangan sang dokter.


Disana duduk seorang dokter cantik tersenyum ramah pada kami. Dari mukanya terlihat dia masih muda. Mungkin lebih muda dari aku.


"Pak Reyhan ya? Apa kabar? Ada keperluan apa hingga datang kemari? " Sapa Dokter cantik itu terdengar akrab sekali dengan suamiku. Bahkan nampak bahagia melihat kedatangan Reyhan. Yang membuatku menatap bergantian pada dokter dan Reyhan dengan curiga.


" Alhamdulillah kabar bain. Kami datang mau periksa, bu." Kenapa panggilnya bu? Bukan dokter gitu? Apakah beneran mereka sudah akrab? Tapi kalo akrab kenapa bu? Bukan nama atau panggilan yang lainnya?


"Oke. Ini istrinya ya? Mau periksa atau mau program ini?" Ramah sekali suaranya, namun aku tak suka dengan keakraban mereka.


Aku yang akan periksa, kenapa bukan aku yang ditanya? huffff. Sebal.


"Ya aku istrinya. Mau periksa." Jawabku tegas dengan penuh penekanan. Meraih tangan Reyhan dan menggenggamnya. Waspada pada perempuan lain yang nampak mengakrabkan diri dengan suamiku. Jangan-jangan ini?


Bersambung


_______


Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2