Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Panggilan Tak Tepat


__ADS_3

Siang hari kami tak jadi diving. Hanya jalan-jalan menjelajah kota ini. Mengenal budaya setempat, juga berburu kuliner khas daerah. Bagiku menjelajahi tempat baru tetap menyenangkan, berkenalan dengan orang-orang baru, mengenal banyak hal baru dikota ini.


Hingga sore hari baru pulang kembali ketempat menginap. Membawa badan capek namun hati senang. Reyhan selalu menurutiku untuk pergi kemana dan mencari apa, menu makanan, beli barang, dia selalu memenuhi permintaanku. Lagian aku memang bukan wanita yang suka minta macam-macam. Pastinya suamiku yang tak bisa dibilang kaya ini cukup mampu memenuhi permintaanku.


Tak peduli hari sudah sore, aku tetap tidur setelah pulang. Masa bodo dengan mudhorot tidur sore hari, yang penting badan butuh istirahat setelah seharian menikmati liburan. Memenuhi hak badan yang butuh tertidur sejenak. Lagian suami juga tidak melarang.


Bangun-bangun hari sudah mulai gelap. Sudah waktunya sholat magrib. Sedangkan Reyhan tak ada ditempat.


"Ay." Teriakku memanggilnya, namun tak mendapatkan jawaban. Berulang memanggilnya, namun tetap tak ada sahutan. Aku tak menemukan suamiku saat bangun tidur. Bahkan sudah keluar, keliling area tetap tak menemukan lelaki yang sedari pagi menemaniku menikmati hari.


"Reyhan." Panggilku menyebut namanya. Entah kenapa hatiku mulai takut. Mencoba menelpon nomornya tapi tak aktif. Banyak hal negatif datang memenuhi kepala. Kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


Kemana sih Rey? Kok pergi tak bilang, ditelpon tak aktif. Kamu tak akan ninggalin aku ditempat asing ini kan? Gumamku takut dan kalut.


Lelah mencari, kini duduk didepan resort memandang air yang memantulkan cahaya lampu. Hari sudah sempurna gelap. Warna merah dilangit sudah sempurna menghilang, yang menandakan malam benar-benar datang. Tapi Reyhan tak kunjung datang.


Aku hanya bisa mencoba percaya pada mu Ay, meskipun rasanya aku tetap takut jika kau meninggalkanku. Namun aku percaya dan sangat yakin kau tak akan sejahat itu. Batinku menguatkan diri.


Disela gundah ponselku bergetar, aku segera melihatnya. Namun hatiku kecewa, karena sang pemanggil bukanlah suami yang sedang aku cari.


David. Nama salah satu orang yang pernah mengorder tiga cake sekaligus dari tokoku. Yang kini aku tahu siapa orangnya. Orang yang sudah lama ku tunggu, namun datang disaat yang tak tepat. Datang saat aku tak mungkin bisa menggenap bersamanya.


Beberapa minggu ini nama itu memang sering menyita perhatianku. Memenuhi otak dan pikiranku. Namun aku tak seberani itu untuk menghubunginya, untuk mengakhiri hubungan atau membahas kelanjutan. Toh dia juga tak pernah lagi menghubungi. Entah karena sudah lupa, atau memang memutuskan untuk melupakan. Kami tak lagi ada interaksi, meskipun dia selalu menguasai imajinasi.


"Kenapa dia yang manggil? Tanda apa ini?" Gumamku galau. Ponsel masih kubiarkan berdering, hatiku bimbang untuk menjawab atau membiarkannya.


"Kenapa dia telpon saat aku menikmati waktu bersama suami. Tapi Reyhan kemana? Tak mungkinkan dia pergi? Dan kenapa kebetulan sekali dia telpon? Lagian Reyhan tak tahu siapa Arfan dan ada apa antara aku dengannya kan? Positif thinking aja.. " Monologku dalam kesendirian. Bahkan hingga ponsel kembali ke layar utama .


Aku menarik nafas dalam. Merilekskan pikiran, berfikir, berfikir, jangan sampai salah langkah dan menyesal dikemudian hari.


Diam beberapa saat, ponsel kembali berdering. Masih dengan nama kontak yang sama. Padahal saat ini aku berharap Reyhan yang memanggil. Aku menimbang untuk menjawab atau membiarkan.


"Bismillah. Apa salahnya diangkat kan? Siapa tahu ada penting." Putusku untuk menggeser gambar gagang telpon.

__ADS_1


Panggilan sudah tersambung, namun tak ada suara dari sebrang. Sedangkan aku menunggu disana yang memulai percakapan. Bukankah sana yang telpon? Itu artinya dia yang punya kepentingan bukan?


Hingga beberapa menit berlalu hanya ada keheningan. Tak ada yang berniat memulai membuka suara. Hanya helaan nafas yang terdengar. Aku menjauhkan ponsel untuk mengecek panggilan. Ternyata masih terhubung. Aku pun tak berniat memutuskan sambungan. Mengaktifkan speaker tapi masih hening. Hingga terdengar suara deheman pelan dari sebrang.


"Assalamualaikum." Akhirnya suara yang ku tunggu terdengar juga, meskipun dengan suara pelan.


Suara ini. Meskipun sudah lama tak ku dengar. Suara yang sudah lama menghilang, tak pernah menemani ku. Kini mendengarnya selalu menciptakan keresahan dihatiku. Rasa tak nyaman, jantung berpacu cepat. Hanya mendengar suaranya sudah cukup mampu membuat bibirku melengkungkan senyuman. Melupakan resah karena tak tahu keberadaan suami.


"Kok nggk dijawab salamku?" Ucapnya lagi.


Ah, aku terlalu banyak melamun. Berinteraksi dengannya lagi membuatku memikirkan banyak hal.


Apakah benar cinta itu tak akan pernah mati? Akan selalu timbul getar-getar baru saat kembali berinteraksi dengan cinta lama. Tanpa diminta kenangan lalu akan datang silih berganti. Makanya kita dilarang kembali berhubungan dengan cinta lama. Dalam bentuk apapun.


Aku percaya dengan itu. Karena nyatanya kita tak bisa sempurna melupakan. Rasa yang lalu selalu punya benih untuk tumbuh kembali dan lebih mendominasi. Atau sebaliknya. Mungkin hanya sejenak mampu melupakan, namun saat-saat tertentu, kenangan tentangnya datang tanpa diundang.


"Waalaikum salam." Akhirnya aku membuka suara juga. Meskipun sama pelannya.


Ah, tajam sekali telinga ni orang.


"Iya. Disini banyak air. "


"Emang lagi dimana? " Dia masih sama seperti dulu. Dulu setiap telpon selalu tanya tempat aku berada. Dia selalu bisa mengenali suara-suara disekitarku. Dulu aku dengan senang hati menjelaskan. Tapi kini? Perlukah?


"Dimana aja. Ada apa telpon?" Tanyaku mengalihkan pembahasan. Hatiku tak tenang lama-lama telpon dengannya. Entah karena apa. Aku tak tahu kenapa jantungku berdetak abnormal jika berbicara dengannya. Entah karena takut ketahuan suami, karena reaksi rasa yang katanya bernama cinta, atau karena grogi karena sudah lama tak jumpa.


"Mau ajak kerja sama aja." Jawabnya tak memaksaku menjawab pertanyaan awal.


"Dalam hal?" Tanyaku waspada.


"Sayang? Kok diluar?" Sapa suara orang yang sedari tadi ku cari dan ku tunggu kedatangannya. Yang membuatku reflek melihatnya dan mematikan sambungan telpon. Menyimpannya dalam saku.


"Hey." Sapaku tersenyum kikuk.

__ADS_1


"Kenapa tegang gitu? Habis telponan ama siapa sih?" Tanyanya menyelidik.


Ah, aku. Menerima telpon begitu aja sudah tegang takut ketahuan suami. Takut kalo sampai dia marah. Takut kalo sampai dituduh selingkuh. Padahal aku tak ngapa-ngapain. Meskipun nyatanya hatiku telah melakukannya. Tapi tidak. Hatiku tak selingkuh. Dia lebih dulu ada dan memiliki ruang dihatiku.


"Hallo. Kok diam?" Tanyanya menggoyangkan tangan didepanku saat melihatku malah bengong. Lalu berniat meraih tanganku yang memegang saku yang ada ponselnya.


"Eh iya. Kamu dari mana sih?" Tanyaku menjauhkan tangan dan memasang muka merajuk karena ditinggal tanpa kabar.


"Nyariin ya?" Melupakan soal hp.


"Ya iyalah. Aku bangun tidur udah ngilang aja. Cariin kemana-mana nggk ada. Jam segini baru pulang. Ditempat asing, ditinggal sendirian tanpa pamit, ditelpon tak bisa. Takut tahu. Dari mana sih?" Cerocosku. Padahal hati tak tenang. Mencoba menormalkan perasaan.


"Ya maaf. Yok siap-siap. Aku mau ajak kamu dinner. " Menarikku masuk. Tak berniat menjawab pertanyaanku.


"Okey. Tapi tak usah jauh-jauh. Aku sudah lapar pake banget." Memberikan ultimatum.


"Siap bos. Pake ini ya." Meletakkan paperbag yang sedari tadi dipegangnya.


"Apa tu?" Meraihnya, dan membuka isinya. Yang ternyata adalah gaun cantik plus jilbabnya.


"Kita mau kekondangan pake baju ginian?" Tanyaku mengangkat gaun dan memasangnya didepan badan. Biasanya orang-orang pake gaun beginian untuk pesta. La ini mau makan malam aja harus pake baju beginian.


Atau jangan-jangan suamiku ini sudah tak punya uang untuk makan malam? Makanya mau ngajak makan gratis ditempat orang pesta? Tapi kan aku masih punya cukup uang untuk sekedar makan.


"Pake aja." Jawabnya santai. Sedangkan dia sama sekali tak ganti baju. memang dia sudah memakai baju dengan stelan rapi, karena habis pergi. Sedangkan aku? Masih pake baju tidur panjang dibalut cardigan, dan langsung pake jilbab.


"Tapi,,," Ragu untuk memakainya. Sedari tadi hanya mengamatinya dengan teliti. Bajunya bagus, modelnya tak terlalu glamour, warnanya juga soft banget.


"Pake aja. Atau mau aku bantu pakekan? " Berjalan mendekat.


"Nggk-nggk." Tolakku cepat.


Meskipun sudah lama menikah namun aku tetap malu jika berganti baju tepat dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2