Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Alhamdulillah


__ADS_3

Tak puas dengan jawaban yang diberikan Ana. Johan malas bertanya lebih lanjut. Melihat jam tangannya yang menunjukkan waktu penghuni asrama tempat Ana juga Marta tinggal harus sudah kembali kalo tidak mau kena hukuman.


"Ya udah kalo gitu. Makasih. Pulanglah, dari pada nanti kena hukuman." Ucap Johan mengusir Ana. Melihat lurus kedepan dengan banyak pikiran.


Ana mendengus kesal dan bangkit untuk pulang. Baru berjalan beberapa langkah Ana berbalik badan, berharap Johan berkenan mengantarnya. Johan mengetahui Ana yang berhenti, meliriknya dengan alis bertaut, merasa aneh.


"Kenapa?" Tanya Johan yang mendapati Ana masih berdiri mematung ditempatnya. Sama sekali tak mengutarakan apa-apa. Wajahnya nampak tak enak dipandang.


"Nggk papa. Mas tega nyuruh aku pulang sendirian?" Tanya Ana dengan suara memelas. Sok merasa takut jika harus pulang sendirian.


"Bukannya tadi kamu bilang sama temanmu akan pulang sendirian?" Balik bertanya.


"Ya kan biar mereka tak perlu repot menunggu. Tapi ya udah lah." Kesal Ana dan kembali melangkahkan kaki meninggalkan Johan yang masih duduk ditempatnya.


"Dasar lelaki tak bertanggung jawab." Gerutu Ana yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh Johan.


Ana menghentakkan kakinya kesal sepanjang perjalanan. Itu tak luput dari pandangan Johan. Johan tersenyum mendapatkan ide.


Apa salahnya mengantar Ana. Siapa tahu bisa lihat Marta. Semoga deh."Batin Johan.


Johan berlari pelan menuju mobilnya untuk mengantar Ana yang sudah berhenti dipinggir jalan menunggu angkutan umum.


Din din. Suara klakson mobil Johan yang sudah berhenti tepat disisi Ana.


"Mau diantar nggk?" Tanya Johan menurunkan kaca mobilnya tanpa mematikan mesin apalagi repot-repot turun dan membukakan pintu.


"Beneran mas mau ngantar?" Nampak muka kesal Ana berubah berbinar. Tanpa menunggu jawaban dari Johan langsung membuka pintu dan masuk mobil. Duduk tepat disamping Johan yang sedang mengemudi. Tak ingin Johan berubah pikiran.


Tanpa bertanya Johan melajukan mobilnya. Dia sudah hapal asrama orang ini tinggal jadi tak perlu ditanya lagi. Diliriknya Ana yang sedari tadi tersenyum menatapnya.


"Kenapa?" Tanya Johan risih diperhatikan begitu.


"Nggk papa sih. Mas hari ini nggk kerja ya?" Ucap Ana mencoba membuat percakapan.


"Heem."


"Mas udah lama ya kenal dengan Marta? Kayaknya bucin banget gitu." Tanya Ana lagi yang membuat Johan menatapnya tajam. Tak suka ditanya begitu. Itu sudah masuk wilayah pribadi. Tak boleh diusik.

__ADS_1


"Maaf. Aku cuma tanya aja kok. Setahuku dia kan dilarang keras pacaran oleh ayahnya. Jadi bukan cuma peraturan asrama yang membatasi hubungan kalian, tapi aturan dari ayahnya juga." Ucap Ana mencoba mengompori.


Johan hanya diam. Memilih fokus mengemudi. Lagian dia sudah hapal betul masalah itu. Bukan cuma sekali, namun berulang kali Marta mengulangnya. Makanya Marta melarangnya singgah kerumah abahnya. Disuruh nunggu sampai dia selesai kuliah. Saat sudah siap jika abah memintanya untuk menikah. Begitu jelas Marta.


"Tapi meskipun tak boleh pacaran, teman lelaki Marta banyak lo. Banyak sekali teman kampus yang sering nongkrong bareng dengan dia, kadang juga jalan bareng. Tak tahu sih apa yang dibahas, dan apa hubungan pastinya."


Sapanjang perjalanan Ana tak berhenti bicara. Membahas tentang Marta, dan menjelekkannya. Johan lebih banyak diam, dan sesekali tersenyum menanggapi. Dia sama sekali tak terpengaruh dengan ocehan Ana. Tapi bukan berarti dia tak mempercayainya.


"Mas." Panggil Ana yang membuat Johan menoleh kearahnya. Hanya bertanya Apa ? lewat tatapan mata.


"Mas nggk ingin ngajak aku mampir makan dulu gitu? Aku lapar tahu." Mengelus perutnya dan memasang mimik memelas. Berharap bisa makan berdua dengan Johan.


"Tinggal lima menit lagi kamu harus ada diasrama." Jawab Johan cuek. Tak tertarik.


"Tak apalah sesekali terlambat. Palingan cuma dihukum suruh bersihkan semua kamar mandi. Marta juga sering kok dapat hukuman begitu." Jawab Ana, yang membuat Johan mengerem mendadak. Tak percaya kekasihnya sering dapat hukuman membersihkan kamar mandi. Tangannya mencengkeram kemudi dengan erat. Wajahnya mengeras, marah. Padahal dia sudah mencoba ikut mempelajari aturan yang ada diasrama Marta. Dan mencoba agar tak menjadi sebab Marta melanggar aturan. Tapi? Kenapa dia bisa sering dihukum? Kenapa kekasihnya harus membersihkan kamar mandi? Apa kesalahan dia?


"Kenapa? Dia memang begitu lah. " Tanya Ana dengan senyum samar.


Tanpa menoleh, dan tanpa menjawab Johan kembali melajukan mobilnya.


"Tak jadi cari makan dulu ya?" Tanya Ana kecewa saat melihat jalur yang dilaluinya.


"Sudah sampai." Ucap Johan datar, dengan maksud menyuruh Ana untuk segera turun. Matanya melihat kedalam pagar, menyusuri setiap tempat berharap menemukan Marta disana. Namun kecewa, wajah yang dia cari tak nampak disana.


"Makasih ya udah nganterin." Ucap Ana riang, dan membuka pintu untuk turun.


Tanpa membalas Johan kembali melajukan mobilnya untuk pergi.


Didalam mobil travel yang akan meninggalkan halaman Asrama. Ada sepasang mata yang menatap mobil Johan yang melaju pergi dengan tatapan yang menggambarkan hati terluka dan kecewa. Dan beralih melihat Ana yang tersenyum cerah berlari riang kembali ke asrama. Matanya berkaca menerka kemungkinan yang terjadi. Menduga apa yang terjadi.


________


Setelah sholat Dzuhur berjamaah dengan Reyhan. Tasya diantar pulang kerumah. Teringat masih ada kerjaan yang belum selesai. Ditambah badan rasanya tak nyaman, seperti akan meriang.


Siang ini pun Reyhan menyempatkan makan siang dirumah.


"Maaf ya lama." Ucap Tasya yang memasuki ruang dapur. Dapur yang saat ditinggalnya masih berantakan dengan banyak peralatan masak yang menumpuk belum dicuci, lantai kotor banyak tepung yang tak sengaja terjatuh. Kini sudah bersih dan rapi.

__ADS_1


Emang punya asisten itu enak ya? Batin Tasya tersenyum melihat seluruh dapur.


"Nggk papa mbk. Mbk dari mana sih? " Tanya Nita yang sedang membungkus cuka.


Tasya hanya menjawab dengan senyuman tak niat menjawab. Rahasia. Begitulah maksud dari senyumannya.


"Gimana? Udah selesai semua? Kue ulang tahun dan yang lainnya sudah diantar?" Tanya Tasya mengalihkan pembahasan.


"Urusan pengantaran sudah beres sama aku mbk." Jawab Amel bangga menepuk dadanya sendiri. "Kalo yang ini , mbk Nita." Lanjutnya merenges, menunjuk pempek yang sudah matang, siap dikemas.


"Alhamdulillah." Jawab Tasya. " Ya udah makan siang dulu. Udah pada makan belum?" Mengajak makan siang saat teringat suaminya yang menunggunya untuk makan siang bareng.


"Kami udah duluan tadi. Nunggu mbk kelamaan." Jawab Amel. "Kirain mau makan berdua diluar." Tambah Amel lagi.


"Eh, sayang. Gimana tadi?" Tanya Bunda yang baru keluar dari kamar mandi mengalihkan pertanyaan Amel.


"Gimana apanya, Bun?" Tanya Amel yang tak paham. Ikutan kepo dia. Nita tanpa bertanya , tapi juga memasang wajah penasaran


"Apa sih?" Ucap Tasya malu, dan sok bingung. "Apanya Bun?"


"Gimana hasilnya tadi? Kata Rey kalian mau mengunjungi dokter Nina?" Pertanyaan Bunda menjelaskan rasa penasaran Nita. Tapi tidak dengan Amel.


"Mengunjungi Dokter? Emang mbk Tasya sakit?" Tanya Amel dengan wajah polosnya.


Wajarlah kalo dia tak tahu. Dia masih muda untuk kenal siapa dokter Nina. Lagian dokter Nina tinggalnya tidak didesa ini, jadi jarang yang kenal. Ibu-ibu muda disini jika hamil banyak yang memilih periksa ke bidan. Mungkin hanya sekali periksa USG kerumah sakit selama kehamilan. Sedangkan dokter Nina membuka praktek sendiri dirumahnya.


"Anak kecil tak usah kepo. Kerjain aja ini." Ucap Nita menyenggol Amel yang akan bangkit mendekat, menyuruh diam ditempat. Sedangkan Tasya dan Bunda hanya tersenyum melihat kelakuan Amel.


"Apaan sih mbk? Aku kan khawatir kalo mbk Tasya sakit. " Protes Amel.


"Gimana sayang?" Ulang Bunda yang kini sudah didekat Tasya . Mengabaikan Amel.


"Alhamdulillah ,bun." Jawab Tasya riang.


"Alhamdulillah." Ucap Nita dan Bunda bersamaan.


"Emang ada apa?" Tanya Amel tak paham.

__ADS_1


"Sayang. Ayok makan." Teriak Rey dari meja makan, yang meminta Tasya untuk mendekat.


__ADS_2