Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Cinta Yang Rumit


__ADS_3

Niat untuk move on, eh malah diberi harapan baru. Bukannya tak bahagia bisa menikmati waktu bersama sang pujaan hati. Rena bahagia, sangat bahagia malah. Hanya saja takut tak sesuai harapan. Takut kenyataan tak sesuai impian. Tapi hatinya tak peduli dengan logika yang sering memberinya peringatan.


Setelah makan bakso pun Rena dan David masih duduk-duduk dipinggir pantai. David yang tenang menatap kegelapan, dimana suara deburan ombak berasal. Sedangkan Rena banyak cerita macam-macam. Tanya banyak hal yang hanya dijawab singkat oleh David. David mau menjawab meskipun hanya pendek-pendek. Itu sudah kemajuan bagi Rena.


Hingga tetes-tetes air turun dari langit. Gerimis mengundang. Rena dan David berlari mencari perlindungan. Berlari menuju mobil masing-masing sebelum hujan makin deras. Pun malam sudah larut. Waktunya istirahat.


Rena belum pernah diluar rumah hingga selarut ini. Meskipun papa nya tak pernah peduli dia dari mana dan ngapain. Pulang jam berapa dan diantar siapa. Rena tetap pulang tepat waktu. Sebelum jam sepuluh malam sudah dirumah. Dia mengatur jadwal untuk dirinya sendiri. Dan hari ini dia melanggarnya.


Sepanjang perjalanan pulang Rena bersiul riang. Mengingat kebersamaan sederhana yang sangat berarti untuknya. Menurutnya itu sudah kemajuan untuk hubungan asmaranya. Meskipun mungkin untuk sebagian orang kebersamaan Rena dan David dipinggir pantai yang kebetulan bertemu tak ada yang istimewa.


Hingga sampai rumah, senandung riang tak berhenti ia lantunkan. Mandi ditemani hayalan. Berbaring diatas kasur, membayangkan senyuman David yang jarang dilihatnya. Menatap langit-langit kamar yang bermotif, menjelma wajah dan senyum David disana. Tersenyum manis yang membuat hati meleleh.


"Ihhh. David. Apakah kamu sudah mulai punya rasa padaku? Tapi aku jamin tak lama lagi kamu akan benar-benar jatuh cinta padaku. Aku Yakin." Ucap Rena penuh percaya diri. Senyum-senyum sendiri mengkhayalkan hidup seatap dengan David. Membangun rumah tangga bersama orang yang dicintainya.


"Aaaaa.." Teriak Rena tanpa suara atas hayalan yang diciptakannya sendiri. Bahagia menikmati kebersamaan yang lebih romantis meskipun hanya dalam angan. Menghayal aja sebahagia ini, apalagi kenyataan?


Guling-guling diatas kasur sambil tersenyum dan berangan. Tidur telentang, hingga menaikkan kaki nya. Senyuman tetap terlukis indah diwajahnya. Hingga jatuh tertidur pun senyuman tak pudar dari wajahnya.


Tak peduli dengan suara hujan diluar yang semakin deras. Juga tak peduli suara petir yang sesekali menyambar. Tetap menikmati dunianya sendiri.


_______


Didalam kamar yang lain. Dirumah besar bergaya eropa . David duduk termenung menatap rintik hujan. Dibiarkan jendela kacanya terbuka lebar, yang membuat angin bebas masuk membawa percikan hujan. Membelai wajahnya yang sendu.


"Tha, kamu dimana?" Tanyanya pelan menatap photo yang sudah usang. Warnanya sudah kabur, atau memang efek fhoto lawas? Entahlah. Fhoto itu yang sering dipandang David menjelang tidur.

__ADS_1


Menatap hujan. Berharap orang yang dimaksud masih menikmati hujan yang sama. Atau paling tidak melihat langit gelap yang sama.


"Maaf aku belum bisa mengingat semua tentangmu. Tapi hatiku yakin dan percaya kalo kamulah masa laluku, juga masa depanku. Aku yakin bisa menemukanmu secepatnya. " gumam David menyentuh wajah gadis cantik dalam gambar. Mengelusnya dengan sayang.


Membalik photo dan melihat tulisan dua nama yang diberi penghubung bentuk love berpanah tepat ditengahnya, dan kata forever together dibawah dua nama tadi. David tersenyum menemukan nama tengahnya yang tertulis disana.


"Ku harap kamu tetap menungguku. Dan menerimaku kembali saat aku datang menemuimu. Aku yakin dan sangat yakin, kamu adalah gadis yang setia." Terlalu percaya diri.


Entah David mendapat kepercayaan diri dari mana. Tetap bertahan mencintai gadis yang telah terlupakan. Bahkan orang tua dan adeknya aja tak ada yang tahu. Semua keluarganya tak ada yang kenal.


David hanya percaya kata hatinya. Meyakini hati yang mengatakan cinta saat manatap gambar dirinya sedang merangkul seorang wanita dengan tatapan hangat. Wajah yang ceria penuh senyuman. Itu tanda kalo mereka bahagia bersama.


Pernah David mendatangi sekolah yang tertulis dalam ijazahnya. Namun sayang banyak guru dari mereka yang sudah ganti. Banyak guru baru yang tak mengenal David. Hanya ada beberapa guru, namun mereka tak ada yang tahu nama wanita yang David tanyakan. Mungkinkah nama asli dan panggilan berbeda? Bisa jadi.


Hujan mulai mereda. David belum beranjak dari duduknya. Tak peduli jarum jam yang sudah tegak lurus menandakan malam telah larut. Dan telah tiba pergantian hari. David masih menikmati wajah cantik yang sedang dipeluknya dalam fhoto.


______


Tasya mencicip masakan perdana suaminya. Bunda sudah izin tak ikut makan malam diruang makan. Meminta makan malamnya diantar kekamar. Sedangkan Reyhan harap-harap cemas menanti koreksi sang istri akan masakannya yang asal jadi itu. Menyendok kuah sup untuk merasakan hasil masakan.


"Emmmmm..." Mengecap kuah yang sudah dicicip. Belum ada komentar. Kembali menyendok beserta nasi, mengunyahnya perlahan, melirik suaminya yang menunggu dengan mata melebar.


Sesuap lagi, lagi dan lagi. "Gimana nilainya?" Tanya Reyhan yang hanya melihat istrinya makan dengan lahab, namun tak memberikan penilaian apa-apa. Tak ada pujian, juga tak ada cacatan.


"Yang penting makan dulu lah, lapar. Makan juga Ay. Tak kenyang cuma lihat aku makan." Ucap Tasya pada suaminya, belum berniat memberikan pujian akan masakan suaminya itu. Malah menyendok nasi untuk pengisi piring Reyhan yang masih kosong. Menuang sayur banyak-banyak, tak lupa beserta sambalnya. Biar makin hot.

__ADS_1


"Enak nggk nih?" Tanya Reyhan Ragu untuk menyendok makanannya. Melihatnya, kemudian mengaduknya perlahan.


"Dicicip dulu, biar tahu rasanya. "Saran Tasya dengan suara santainya.


Reyhan menyendok untuk menikmati hasil usahanya sendiri. Menyuap kemulutnya, merasakannya, ada yang aneh.


"Puihh." Melepeh kembali makanan yang sudah masuk kemulutnya. Mengusap mulutnya yang basah, meneguk air banyak-banyak.


"Hahahha." Tawa Tasya pecah. Menertawakan wajah suaminya yang mengkerut setelah merasakan masakannya sendiri. "Makanya kalo masak biasakan di cicip, Ay. " Saran Tasya disela tawa.


"Kok kamu mau makan sih? Melihat kamu makan kayaknya meyakinkan kalo enak banget gitu."


Tawa Tasya makin jadi. "Punyaku enak tahu Ay. Coba cicip." Menggeser piring dihadapannya pada Reyhan.


"Nggk lah. Mana mungkin bisa enak? Yang masak aja sama aku kok." Menolak tawaran istrinya menggeser kembali piring menjauh darinya.


"Nggk percaya ma istri ya udah." Mode ngambek. Mendekatkan piring untuknya sendiri, dan memakan kembali dengan lahab.


"Emang beneran enak ya?" Tanya Reyhan yang heran melihat Tasya yang makan dengan lahap. Tanpa izin langsung ikutan menyendok makanan dari piring istrinya.Penadaran juga dia.


"Enak yang ini. Kenapa beda?" Herannya. Dan kembali ikutan memakan dipiring yang sama. Tasya pun menggeser piringnya kembali diantara mereka. Menikmati makan malam sepiring berdua.


"Ay nggk tahu apa bedanya?" Tanya Tasya.


"Entah lah. masin tadi rasanya, bahkan sampai pahit banget yang itu." Menunjuk mangkuk sup ditengah meja.

__ADS_1


"Tu tahu. Tadi sebelum mengambilkan untuk Bunda aku cicip dulu, rasanya kemasinan. Bumbu yang lain sih udah pas. Cuma garamnya yang overdosis. Makanya sup yang masih dikuali aku berbaiki lagi, tambah sedikit penyedap, tambah lagi sedikit kuah, jadi deh dapat ini. Aku ambil yang dikuali tadi, bukan dari mangkuk."


__ADS_2