
Pulang kerumah sudah ada motor kesayangan suami terparkir dihalaman. Tanda kalo sang pemilik sudah dirumah. Aku mempercepat langkah untuk mengetahui hasil jualan hari ini.
"Assalamualaikum. " Salamku memasuki rumah yang tak tertutup pintunya.
"Waalaikum salam. Baru pulang Sya?" Tanya Bunda yang sedang membaca majalah diruang tamu.
"Iya, Bun. Biasalah bun, ngobrol dulu tadi." Jelasku dan melewatinya untuk mencari suami. Bunda juga melanjutkan baca majalahnya.
"Ay." Panggilku saat memasuki kamar. Sepi, tanpa penghuni. Hanya ada tak kerja yang teronggok diatas kasur.
Berbalik menuju ruang makan, juga kosong. Tapi tempat kue tadi pagi sudah tergeletak kosong diatas meja makan. Tanda jualanku habis hari ini. Celingak celinguk melihat keberadaan suami. Tak nampak batang hidungnya.
"Kemana sih Reyhan?" Tanya pada diri sendiri karena malu kalo harus tanya mertua. Kecewa deh. Padahal udah senang lihat motornya didepan, orangnya ilang. Sebenarnya ingin tanya hasil jualan atau kangen orangnya ya? Soal kue udah jelas habis tu.
"Mending masak nyiapin untuk makan malam." Mendekati kompor dan berfikir mau bikin apa untuk makan malam. Kali ini tak masak terlalu banyak, karena Rasya dan Beti tak ada dirumah.
"Kayaknya tadi ada yang manggil, kok udah hilang aja." Suara Reyhan yang keluar kamar dengan rambut basah dan pake baju rumahannya. Kaos oblong dan celana pendeknya. Ternyata tadi mandi dia.
"Ayang habis mandi ya? Dipanggil kok gak jawab?" Sungutku protes. Kirain kemana dipanggil tak ada sahutan. Kirain udah pergi lagi.
"Emang dikamar mandi boleh teriak-teriak? " Tanyanya memicingkan mata. "Tapi dipanggil tadi aku langsung keluar untuk jawab lo, siapa tahu mau mandi bareng. Eh, orangnya malah udah nggk ada." Lanjutnya dengan muka manyun sok kecewa.
Satu cubitan kecil dua jariku mendarat dipinggangnya, sebagai hadiah ucapannya. yang membuatnya mengaduh pelan disambung tawa.
"Gimana jualannya Ay? Habis tak? "Berbinar riang membahas usaha baruku. Namanya masih awal kan? Masih full semangat. Semangatnya berkali-kali lipat saat banyak yang mendukung dan mendoakan yang terbaik.
"Bersih dong. Semua pada penasaran apa yang tadi dititipkan oleh pak kepsek. Jadi pada nyobain." Jawabnya dengan membanggakan diri sendiri. Menganggap lakunya jualan karena dia, bukan karena enaknya makanan yang dibuat istrinya.
"Idih." Balasku dengan pukulan kembali mendarat dipinggangnya.
"Ih, kamu suka kekerasan ya? Sakit tahu nggk sih?" Mengelus pinggangnya yang kena timpuk tanganku.
"Makanya kalo ngomong dijaga. "
__ADS_1
"Dijaga gimana sih?"
"Tu tadi? Sombong. Tak baik tauk.
Emang kalo udah tak penasaran tak mau beli lagi gitu ya?" Mencebik manja.
"Ya nggk tahu kalo soal itu. Makanya besok dicoba lagi." Jawabnya tersenyum.
"Betul itu." Setujuku, dan kembali memotong macam-macam sayur untuk buat sup.
"Mau masak apa?" Tanya Reyhan ikutan mendekat meja dapur.
"Ni." Menunjuk sayur wortel, brokoli, kentang, labu, yang sudah terpotong-potong menjadi satu tempat. "Mau bantuin?" Tanyaku menawarkan.
"Boleh lah. Mau mencoba masakan aku nggk?" Malah menjawab dengan pertanyaan pula, dengan menaikturunkan alisnya.
"Boleh." Aku mundur selangkah. Memberikan ruang untuk suamiku memasak kali ini. Mencoba seperti apa masakannya.
"Sip." Jawabku mengacungakan jempol. Naik kemeja untuk melihat suami masak tanpa terhalang.
"Sayang." Mengangkatku untuk turun, dan memindahkan pada kursi tinggi dan menariknya mendekat kearahnya. "Tak sopan duduk dimeja. Cewek kok duduk dimeja." Jelasnya yang membuatku malu. Malu bukan karena salah memilih tempat duduk. Tapi malu dan deg deg kan saat digendongnya pindah kekursi.
Aku duduk anteng mengawasi Reyhan memasak. Meskipun tak cukup lincah memainkan alat masak, tapi juga tak terlalu kaku. Mungkin tak terbiasa, meskipun ini juga bukan yang pertama.
Ya Allah, apa salahku?
Menyaksikan suami masak, kenapa aku malah membayangkan bersama sang mantan? Arfan, apakah kamu masih suka masak? Mengingat kembali masa-masa seperti ini. Menonton sang lelaki memasak, meskipun Reyhan tak selihai Arfan dalam gerakan memasaknya. Tapi aku ingat akan dia.
Maaf kan aku, Ay.
_________
Gelap sudah mengungkung bumi. Angin malam meniupkan rindu dari orang yang jauh dari pandangan. Merah dilangit senja sudah sempurna menghilang. Namun bintang pun tak kunjung datang menampakkan diri.
__ADS_1
Angin semilir yang berhembus dingin seakan menandakan hujan akan datang. Langit malam makin kelam dengan kehadiran awan hitam. Menyembunyikan kerlip bintang yang menenangkan.
Sejak pulang kerja, Rena masih enggan pergi dari tempat duduknya. Mampir ketepi pantai menikmati senja, namun hingga senja sirna dia masih betah menikmati suara deburan ombak yang bergemuruh. Makin malam makin kencang suaranya.
"David. Haruskah aku berhenti mengejarmu? " Bertanya tanpa orang yang diharapkan menjawab pertanyaannya.
Bertanya pada langit, tak ada jawaban. Langit hanya membisu tanpa suara. Bertanya pada ombak, ombak hanya menggemuruhkan suara yang tak mampu dipahami logika. Memilih memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang menenangkan. Melupakan sejenak penat hati mencintai pada yang tak pasti.
"Tumben disini." Sapa suara yang sangat dia kenal. Bahkan sangat dikenalnya. Suara yang selalu terngiang disiang malamnya. Suara yang selalu hadir menemani kesendiriannya.
"David?" Gumamnya masih dengan mata terpejam. Membuka mata perlahan, melihat kanan kiri. Tak menemukan orang yang dicari. Tidak, tidak. Oh, otak. Tolong berhenti berfikir tentang dia. Dia mungkin memang tercipta bukan untukmu. moveon. move on. Menasehati diri sendiri dengan mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri. Selalu mendengungkan kata move on diotaknya. Semoga segera diproses oleh otak dan menghasilkan keajaiban.
"Kepalamu kenapa?" Masih dengan suara yang sama. Rena berhenti mengetuk kepalanya dengan tangannya, memutar kepala untuk melihat dan memastikan arah suara.
Deg. Jantung seakan berhenti berdetak, namun sesaat kemudian berpacu diatas normal. Benar, itu dia. Dihadapanku kini ada seorang David yang dingin dan tak tersentuh. Berdiri menghadap pantai dengan pandangan lurus dan tangan bersidekap. Sama sekali tak melirik Rena yang kini berubah riang.
Rena berbalik badan kembali. Melihat kembali arah belakang untuk memastikan pandangannya. Mengucek pelan matanya untuk memastikan. Namun pandangannya tak salah. Dibelakangnya duduk memang ada David.
kenapa kau datang saat aku sudah yakin untuk move on? Apakah ini harapan untuk hubungan ini? Atau hanya untuk menarik ulur?
"Kenapa diam aja? Ada masalah?" Tanya David yang kini pindah duduk disamping Rena.
"Eh. Kenapa duduk disni? Nanti kotor lo." Ucap Rena sedikit panik melihat David duduk disampingnya.
Sebenarnya alasannya bukan sepenuhnya takut kotor. Tapi takut kalo sampai hatinya berharap lebih akan hubungan ini.
"Aku sudah biasa disini. Kamu juga suka disini?" Jawab David masih tanpa melihat Rena. Pandangannya lurus kedepan.
"Benarkah? Kok tak pernah ketemu?" Tanya Rena sedikit berbinar. Bahagia mendengar kenyataan itu.
"Matamu rabun kali. "
Eh? Kok kata-katanya tak berubah sih?
__ADS_1