Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Seperti orang Gila


__ADS_3

Johan cukup menikmati makanan yang dimasak calon istrinya. Meskipun rasa tak bisa dibilang sedap, namun juga tak terlalu buruk. Di meja makan tak banyak bicara. Hanya mata Johan yang sesekali melirik Marta yang duduk dihadapannya, begitupun juga dengan Marta. Melempar senyuman saat mata beradu pandang. Dan semua itu tak luput dari pandangan Abah dan bang Bagas.


Abah bukannya tak percaya akan perkataan Marta tadi. Melihat putrinya yang riang gembira menerima kedatangan Johan, melihat sikap malu-malu Marta membuat Abah yakin kalo Johan memang tamu untuk putrinya. Atau lelaki yang disebut pacar oleh Marta.


Meskipun abah tahu kalo Johan pacar Marta. Namun abah tak lantas mengucapkan kalimat setuju yang berarti merestui hubungan mereka. Meskipun menurut penilaiannya sepintas kalo Johan adalah orang baik dan sholeh. Tapi apakah bisa disebut sholeh jika memilih berpacaran? Abah tak tahu cara berpacaran Johan dan putrinya. Mau bagaimana pun cara berpacarannya, pacaran sebelum menikah tetap bukan hal yang terpuji.


Usai makan Abah, bang Bagas, dan Johan pergi kemasjid untuk sholat asar. Karena tepat setelah makan adzan berkumandang. Sedangkan Marta seorang diri dirumah membereskan meja makan. Sedangkan kak Ina pulang kerumahnya sendiri karena anaknya mengantuk , merengek minta ditemani tidur siang.


"Ternyata gini ya kalo pacar datang kerumah. Sama abah terus, aku tak dikasih kesempatan berdua gitu. Ih, kesel deh. Kan aku masih kangen." Sungut Marta sambil mencuci piring. Merasa kesal karena Johan selama berkunjung dirumah selalu sama abah.


"Nggk kayak kak Tasya dulu ya. Boleh pacaran sambil pergi jalan-jalan gitu. Meskipun aku yang harus jadi obat nyamuk." Membandingkan kenangan yang telah dilaluinya.


"Tapi kalo aku yang pacaran sekarang, siapa ya kira-kira yang bakal jadi obat nyamuk?" Bertanya sendirian, dan mencari jawaban sendiri.


"Tama mana mau." Jawabnya sendiri mengingat keponakannya. Namun melupakannya, mengikhlaskan abah menyita waktu Johan untuk berkenalan.


Selesai bersih-bersih Abah dan Johan pulang. Namun tak masuk rumah. Dari suaranya terdengar pergi kebelakang rumah melihat kebun sayur milik bang Bagas. Bang Bagas kerjanya hanya setengah hari, dan selebihnya menanam macam-macam sayuran dipekarangan belakang rumah. Dan juga untuk kegiatan kak Ina. Alhamdulillah jarang beli sayuran, bahkan kadang hasilnya bisa ditukar dengan bumbu dapur dan lauk untuk makan.


Hingga menjelang magrib Johan akhirnya pamit untuk pulang. Melihat berulang pada pintu masuk berharap Marta keluar untuk mengantarnya pulang. Namun tak kunjung muncul. Tak melihat Marta meskipun sesaat sebelum pulang.


"Ya udah, bah. Pamit dulu." Pamitnya pada abah sambil berjabat tangan singkat, setelah selesai diajak berkeliling. Dan berdiskusi banyak hal, juga merencanakan macam-macam.


"Ya. Hati-hati dijalan." Jawab abah menepuk pundak Johan berulang. Paham dengan tatapan mata Johan yang berulang kali melihat pintu rumah, namun mengabaikan. Pun tak berinisiatif menyuruh Marta keluar. Namun membiarkannya, malahan abah yang membuat Marta sibuk sore ini hingga tak sempat keluar rumah.

__ADS_1


"Baik, bah. Assalamualaikum." Akhirnya Johan melangkah pergi dengan hati sedikit kecewa. Tapi tak sepenuhnya kecewa. Johan juga bahagia disambut hangat oleh keluarga Marta. Bahkan abah dan kakak Marta cukup baik memperlakukannya. Entah karena memang senang dengan Johan, atau hanya sekedar menghormati tamu.


"Waalaikum salam."


Masuk mobil dan melajukannya meninggalkan halaman rumah Marta. Melihat ponsel yang sedari tadi ditinggal dimobil. Banyak sekali panggilan masuk dan chat dari Marta, yang membuatnya tersenyum sendiri, namun tak memanggil balik, atau membalas pesannya.


Sebelum pulang Johan masih punya tugas untuk menjemput David. Hari mulai gelap. Matahari sudah condong keufuk barat, hampir tumbang keperaduannya. Langit sudah berubah warna.


Berulang kali Johan menelpon David untuk bertanya keberadaannya, namun selalu tak ada jawaban. Akhirnya memilih melajukan mobilnya ke pembangunan rumah David yang tinggal tahap akhir sesuai sarannya tadi.


Berhenti didepan bangunan besar yang belum sempurna selesai ,hanya ada kegelapan. Hari sudah sempurna gelap. Bahkan adzan magrib sudah lewat. Tak ada tanda kehidupan dibangunan belum jadi itu. Basecamp disebelahnya pun nampak sepi. Johan turun dan memeriksa, namun memang hanya ada kekosongan.


"Kak. Kak David. "Panggil berulang Johan, namun tak ada sahutan. Berulang kali memanggil nama kakak sepupunya, namun tak kunjung ketemu.


"Mau cari kemana coba? Mana aku kenal daerah ini?" Monolognya sambil berfikir. Melajukan mobilnya melihat kanan dan kiri panik. Tak mungkin dia pulang sendirian tanpa David. Bisa habis dia sama tante Key. Menarik nafas dalam, keluarkan. Berfikir mencari solusi. Namun otaknya blank, tak bisa menemukan solusi. Sudah dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk yang membuatnya cemas dan takut.


"Kak, angkat dong." Kembali mencoba berulang memanggil nomor David, namun tak kunjung dijawab.


"Apa yang terjadi tadi?" Mencoba menerka kejadian siang tadi setelah dia pergi. Mungkinkah David juga sudah tahu kalo Pacarnya kini telah bersuami? Atau malah Tasya tak datang kesana? Terus malam begini David kemana coba?


Disela kebingungan dan kepanikan Johan mendapatkan jalan keluar. Meskipun David tak menjawab panggilannya, namun ponselnya masih aktif. Kenapa pula dia tak melacak keberadaannya?


"Hah? Gila." Gumam Johan saat mengetahui titik lokasi keberadaan David. Menggeleng tak percaya, namun tetap melajukan mobilnya kelokasi keberadaan David.

__ADS_1


Johan melajukan mobilnya dijalanan sepi senyap. Bener-bener sepi dan gelap. Jangankan rumah penduduk, lampu jalanan pun kosong. Bener-bener sempurna gelap. Namun ditempat yang dilewatinya masih banyak kunang-kunang berterbangan, yang menandakan udara tempat ini masih bersih.


Johan tak peduli dengan kabar yang beredar tentang angker dan menyeramkannya tempat yang dituju saat malam hari. Bahkan gelap dan sepinya disini mengalahkan tempat pemakaman umum saja. Tapi fokus Johan hanya satu, yaitu keadaan David. Dia yakin kakak sepupunya itu tak baik-baik saja. Rasa cemas mengalahkan rasa takutnya akan hal menyeramkan.


Mobilnya kini sudah memasuki tempat yang pagi tadi sudah dikunjunginya. Tak ada sorot cahaya sedikitpun disini, selain dari sorot lampu mobilnya. Bintang dan bulan memang belum tampak diatas sana. Yang membuat malam benar-benar pekat dalam gelap.


Johan melihat orang yang dicari tersorot lampu dari kendaraannya. David masih duduk sendirian ditempat yang sama saat ditinggalnya tadi. Duduk menatap kegelapan, bahkan tak menoleh saat mendengar deru mobilnya datang. Tak bergerak mendapat silaunya cahaya yang mengarah padanya.


"Kak. Kakak gila ya? Ini sudah malam, ngapain masih disini? Emang disini tak ada taxi atau ojek yang bisa dipanggil untuk antar ketempat yang lebih layak? Atau paling tidak telpon aku kek, biar aku cepat datang. " Marah Johan yang turun dari mobil, dan menghampiri David.


"Kau tak takut apa kalo sampai ada binatang buas disini? Bikin orang panik aja. Dan ngapain telponku tak diangkat? " Tambah Johan melampiaskan kesal. Namun David hanya bermuka datar menanggapi omelan Johan. Sama sekali tak merasa bersalah telah membuat Johan panik.


"Pulang." Cuma itu kata jawaban dari David.


"Kau kenapa sih? Habis ketemu pacar bukannya bahagia malah kayak orang gila tau nggk?"


Hening, tak ada jawaban. Johan mau tak mau akhirnya masuk mobil juga. Tak ingin lama-lama ditempat mengerikan itu.


Sepanjang perjalanan pulang David hanya diam menatap keluar jendela. Johan berulang jali meliriknya, dan mencoba mengajak bicara, namun tak ada balasan. Bahkan hingga tengah malam dan mobil sudah sampai rumah utama, David tak lagi bersuara. Turun dari mobil dan berjalan masuk kamar tanpa sepatah kata.


"Kalian dari mana? David kenapa?" Tanya tante Key pada Johan yang baru pulang. Dan aneh melihat anaknya yang lewat tanpa menyapanya yang bercengkrama bersama sang suami, padahal tadi pagi nampan ceria dan semangat sekali.


" Tak tahu ,Tan. Dia belum cerita." Jawab Johan sekenanya, berlalu menuju kamarnya. Disini Johan juga punya kamar sendiri, karena memang dia sering menginap dirumah tante Key.

__ADS_1


"Jo, tak tahu gimana? Bukannya kalian pergi bareng?" Tanya tante keysa tak percaya, namun Johan sudah menghilang dibalik pintu kamarnya.


__ADS_2