Menanti Cinta Pertama Kembali

Menanti Cinta Pertama Kembali
Curahan Hati Rena


__ADS_3

Hari demi hari telah terlewati. Bahkan minggu kini telah berganti. Waktu terus berjalan dengan pasti. Tak peduli bagaimana kita mengisi dan melewatinya. Waktu tetap berputar sebagaimana mestinya. Mau bahagia, sedih, semangat, ataupun sedang future, waktu tak mau menunggu untuk kita bangkit dan siap melanjutkan langkah. Mau kita berjalan ditempat atau melangkah maju, atau bahkan saat kita mundur ,waktu tak peduli. Waktu tetap melangkah kedepan.


Bahkan kini sebulan telah berlalu. Marta sudah kembali sibuk dengan tugas akhirnya, dan semangat berlipat ganda saat abah mengizinkannya menikah dengan lelaki pilihannya, asalkan selesaikan dulu studynya. Ditambah Johan kini semakin sering menyapa dan memberi kata motifasi melalui chat atau telpon. Yang membuat Marta tambah semangat. Meskipun tetap tak diberi waktu jumpa.


Sedangkan David? Dia kembali menjadi David yang dingin dan gila kerja. Meskipun sesekali masih sempat menikmati malam ditepi pantai seperti biasa. Hanya saja waktunya kini semakin larut. Mencoba untuk melupakan Tasya yang ternyata sudah dimiliki orang lain dengan mencari kesibukan diri. Namun nyatanya tak bisa. Bayangan wajah dan senyumnya tak pernah sirna dari pelupuk mata.


Seperti malam ini. Waktu sudah menunjukkan tengah malam, meskipun jalanan masih tetap ramai kendaraan. Penjual keliling sudah banyak yang kembali setelah menjajakan dagangan. Pinggir pantai sudah sepi. Tinggal beberapa kelompok pemuda yang masih asik bercengkrama. Hanya deburan ombak yang berirama, berlomba dengan klakson kendaraan yang tak sabaran.


David duduk menatap kegelapan. Hanya suara berderu yang terdengar. Merutuki nasib yang tak berpihak padanya.


"Seandainya patah hati sesakit ini, aku tak akan mengulur waktu untuk menemukanmu, Tha. Tapi penyesalan selalu datang terlambat bukan? Harapanku untuk menghabiskan sisa waktu bersamamu telah sirna. " Gumam David dalam kesendirian. Matanya membasah meratapi kehilangan. Kehilangan wanita yang tak bisa digapainya.


"Dulu, meskipun aku jauh darimu tapi rasanya tak sesakit ini. Dulu aku selalu punya harapan untuk kembali bersamamu. Namun ternyata harapan yang ku bangun sudah runtuh. " Membiarkan air matanya meleleh turun. Toh hari sudah gelap, tak akan ada yang melihat, atau memang tak akan ada yang peduli dengan kesendiriannya.


"Tha. Apakah kamu bahagia? Kenapa kamu menikah dengan lelaki lain? Sedangkan aku masih melihat ada cinta dimatamu untukku. Dan kenapa kini kau berubah? Kau nampak lesu dan sakit, kau juga terlihat lebih kurus meskipun baju tertutupmu menyembunyikannya. Apakah kau tak bahagia, Tha? Apakah kamu terpaksa menikah dengan lelaki lain? Apakah mungkin aku masih punya kesempatan untuk membahagiakanmu?"

__ADS_1


"Apakah aku akan sejahat itu , yang tega merebutmu dari suami sah mu? Tapi, rasanya aku tak rela kamu dimiliki lelaki lain. Membayangkannya saja sangat menyakitkan. Bagaimana jika melihatnya langsung? Tapi, bukankah aku tetap tak punya hak untuk memilikimu? Mau kamu terpaksa atau iklas menjalani pernikahan.


David membuang nafas kasar. Melipat kaki menghalau dingin yang mulai menusuk kulit. Menatap langit gelap tanpa bintang dan rembulan. Semilir angin menghembuskan hawa dingin. Tanda hujan akan turun.


"Mas." Sapa suara yang tak asing baginya. Suara yang akhir-akhir ini juga mulai menghilang dari hari-harinya, karena dia yang memang menghindar dan tak mau ditemui.


David hanya melihat sekilas, dan kembali melihat langit. Mengusap pipinya yang meninggalkan jejak. Tak ingin gadis ini menyadari tangisnya. Gadis itu memakai baju tidur panjang dan dibalut jaket panjang untuk mengusir dingin. Nampaknya memang dia sengaja untuk datang kemari. Tak mampir sepulang kerja seperti biasa. Rena. Ya gadis itu adalah Rena yang selalu gigih mendekati David.


"Mas kemana aja? Sudah lama aku keresto tak lihat mas. Mas juga jarang datang kemari. Setiap petang aku datang dan menunggu, tapi tak pernah nampak mas." Tanya Rena dengan suara pelan. Menampakkan kalo hatinya sedang rak bahagia. "Ternyata ganti waktu ya?" Tertawa menyembunyikan luka.


"Mas ada masalah kah? " Tanya Rena yang melihat David tak seperti biasanya. Nampaknya sedang tak baik-baik saja.


"Kalo butuh teman cerita, aku siap mendengarkan kok. Ceritalah. Berbagi cerita itu meskipun tak selalu menemukan solusi, paling tidak membuat beban terasa ringan. Yah , mungkin bisa mengurangi sesak didada." Ucap Rena lagi, dengan duduk menyamping menghadap David yang masih betah menatap kedepan. membujuk agar lelaki disampingnya sudi membuka suara.


Meskipun sebenarnya hati Rena juga sangat sesak butuh tempat untuk curhat. Sakit saat berulang ditolak dan diabaikan oleh orang yang diperjuangkan. Namun, bagaimanapun juga ini pilihannya. Rena sudah paham dari awal konsekuensinya.

__ADS_1


"Tapi, seandainya masalahmu adalah aib dan sangat rahasia. Simpanlah sendiri, tak usah cerita. Karena aku tak bisa janji untuk mampu menjaganya, meskipun aku kan selalu berusaha. Karena terkadang lisan bicara tak terkontrol saat emosi tak terkendali." Pasrah Rena saat David masih terdiam. Nampaknya usahanya tak akan berhasil.


Rena turut menatap arah pandang David. Melihat buih putih yang tergulung , lalu menghilang. Dan disusul gulungan ombak yang lain. Hanya nampak samar gerakan ombak dikegelapan.


Rena kembali melihat David yang masih mematung disampingnya. Jika dia menunggu David yang akan mengungkapkan cinta, mungkin itu adalah penantian yang sia-sia. Bukankah tak ada salahnya jika wanita yang mengungkapkan rasa lebih dulu? Rena meragu. Menimbang untuk bicara, atau menikmati kebersamaan dalam diam. Tapi apa asiknya diam-diaman begini?


"Mas, maaf kalo aku lancang. Aku yakin mas juga tahu makna dari sikap dan perhatianku selama ini." Ucap Rena mencoba bicara isi hatinya. Lebih baik tak mendapat jawaban bukan? Dari pada mendapatkan penolakan yang menyakitkan? Tapi apa salahnya dicoba? Apakah akan dijawab dengan penolakan, atau penerimaan? Atau hanya didiamkan? Coba aja dulu.


"Dari awal aku melihat mas aku sudah tertarik. Pertemuan tak mengenakkan yang tak akan pernah terlupakan. Sikap dingin dan acuh mas membuatku penasaran, hingga membuatku merasa suka dan sayang. Aku merasa nyaman dan bahagia saat ada disamping mas. Rasa nyaman yang ku maknai sebagai rasa cinta. Aku tetap bahagia meskipun mas selalu bersikap acuh padaku." Curhat Rena dengan senyum yang dipaksakan. Apakah benar bahagia? Rasa bahagia yang membuatnya sedih saat memikirkannya.


"Aku tak tahu apakah aku salah memaknai rasa ini. Tapi yang pasti aku menganggapnya cinta dan sayang. Hingga saat malam pertama kita bertemu ditempat ini, ku pikir aku sedikit punya harapan. Aku merasa bahagia saat mas mulai mau bicara dan menjawab pertanyaanku. Aku bahagia saat mas mulai mau menanggapi ucapanku. Hingga membuat ku yakin ,jika aku bisa membuat mas jatuh cinta.


"Namun ternyata keyakinanku salah. Mas bahkan kini tak mau melihatku. Selalu menghindar saat aku datang. Padahal aku merasa tak punya salah. Atau memang aku yang tak sadar telah melakukan kesalahan? Namun kini aku sadar. Aku rasa harapan untuk kita bersama hanya aku yang punya, sedangkan mas tak pernah ingin mewujudkan harapanku. Padahal berulang kali aku menyebut nama mas dalam doaku, namun ternyata tak berhasil. Mungkin memang belum jodoh ya?" Cerita Rena diakhiri tawa sumbang. Menertawakan dirinya sendiri yang bicara hal privasi.


"Tapi tenang aja, mas. Aku tak akan memaksa mas untuk mewujudkan harapanku. Karena memang aku tak pernah punya kuasa untuk itu. Aku tak kuasa memaksa hati orang lain untuk mencintaiku. Hanya saja , biarkan aku tetap menikmati rasa yang ku punya ini. Mungkin suatu hari nanti, jika hati sudah lelah menunggu akan berhenti berharap dengan sendirinya. Dan berpaling tanpa pemaksaan."

__ADS_1


__ADS_2