
Sore ini sambil menikmati teh hangat dan cake Marmer buatanku. Aku dan suami duduk di teras belakang rumah menunggu waktu senja tiba.
"Yah perusahaan sudah semakin gawat" curhatku pada suami.
"Gawat gimana Bun?" tanya suamiku.
"Kabarnya akan ada pengurangan pegawai" jawabku.
"Terus?" tanya suami.
"Kalau Bunda kena gimana?" tanyaku khawatir.
"Ya mau gimana lagi berarti sudah sampai di situ jodoh Bunda pada pekerjaan itu" jawab suamiku santai.
Aku kok ngerasa kesal ya dengan tanggapannya.
"Kalau Bunda berhenti keuangan kita gimana Yah? Kita berdua kerja aja hasilnya pas - pasan. Untuk rumah, susu dan sekolah anak - anak, bulanan untuk mamak, uang belanja kita. Belum lagi cicilan di Bank?" tanyaku.
Suamiku menarik nafas panjang.
"Yakin Bun, Allah pasti kasih jalan yang lain. Cari pekerjaan atau buka usaha" jawab suamiku.
"Mau cari pekerjaan baru dimana Yah. Usia Bunda saja sudah diatas tiga puluh lima tahun. Mau usaha, usaha apa? Bunda gak tau" ujarku.
"Bunda kan bisa buat kue dan rasanya enak" sambut suamiku.
"Buat kue aja baru - baru ini aja Bunda pinter buatnya Yah. Bunda belum percaya diri" elakku.
Akhir - akhir ini memang beban pikiranku bertambah. Dengan keadaan perusahaan yang semakin goyang apa iya bakal dapat pesangon. Kalau tidak bagaimana? Sementara pengajuan KPR untuk perumahan sudah masuk. Kalau nanti aku berhenti bekerja bagaimana mau bayar kredit rumah?
Belum lagi tekanan pekerjaan yang semakin berat. Setiap hari ada saja nasabah yang komplain dan marah - marah.
Ada yang nangis bahkan sampai ada yang nyumpahin. Hatiku semakin sakit melihat keadaan ini. Batin ini ikut merasa bersalah. Apalagi kalau ada nasabah yang berkata kami makan uang haram.
Ya Allah.. kuatkan aku atas semua cobaan ini. Doaku dalam hati.
Sedari kecil keluargaku selalu memberikan keyakinan kepada kami untuk belajar yang rajin biar juara. Kalau juara pasti akan mudah masuk sekolah atau perguruan tinggi negeri.
__ADS_1
Kalau sudah lulus perguruan tinggi negeri pasti akan mudah mendapatkan pekerjaan yang bagus. Kalau pekerjaannya bagus pasti akan dapat gaji yang besar.
Selama ini yang ada di otakku hanya bekerja sebagai pegawai di kantor. Tak pernah sekalipun terbesit untuk usaha. Aku tidak punya keahlian di bidang itu. Sedangkan suami yang memang sejak kuliah sambil bekerja. Dia sudah berpindah - pindah perusahaan.
Dia sebenarnya lebih suka buka usaha hanya saja terbentur dengan modal. Dan tentu saja aku yang selalu tidak setuju dengan idenya. Karena aku terlalu takut tidak mendapatkan gaji tetap.
Bagiku usaha itu mempunyai resiko yang cukup besar. Suami sering berkata pendapat aku itu salah. Tapi mau bagaimana lagi. Sangat sulit merubah keyakinan di kepalaku ini.
Aku pandangi langit senja dari teras rumahku..
"Apakah kehidupan kita saat ini juga sedang senja ya Yah? dari terang menuju gelap?" tanyaku pada suami.
"Secara keseluruhan malam itu memang gelap Bun. Tapi tak selamanya malam itu gelap gulita. Terkadang ada bulan purnama Bun, ada lampu yang menyinari jalan. Begitu juga kehidupan kita. Roda hidup memang berputar, ada saatnya kita dibawah tapi yakinlah tidak selamanya terus di bawah. Suatu saat nanti pasti akan naik ke atas" ujar Suamiku.
"Tapi Bunda takut Yah" ucapku.
"Kenapa takut? Ada Allah yang akan menyinari jalan hidup kita" sambung suamiku.
Adzan Maghrib berkumandang. Suamiku segera berangkat menuju Mesjid.
Kuraba dadaku, akhir - akhir ini tingkat kecemasanku meningkat. Tapi syukurnya tidak berakhir di Rumah Sakit.
Malam harinya aku dan keluarga kecilku menonton TV. Ketepatan ada acara komedi yang sering di tonton anak - anak. Sambil santai kami menonton acara itu sambil tertawa.
Tiba - tiba... Deg... jantungku berdebar dan berdetak kencang. Lututku mulai lemas dan keringat dingin.
"Yah... tolong yah" ucapku pada suami.
"Lho kenapa bisa kumat Bun? Bukannya tadi Bunda rileks dan tertawa? Kenapa malah kumat penyakitnya?" tanya suamiku.
"Yah ke klinik aja ya.. mumpung belum terlalu parah. Biar sekalian kita minta rujukan seperti pesan Arif" pintaku pada suami.
"Sayang gak apa - apa kan kalau kalian Kami tinggal di rumah berdua?" tanya suamiku.
"Iya ayah" Walau mereka takut dan sedih tapi belakangan ini mereka mengerti dengan keadaanku.
Terlebih putri bungsuku. Terkadang aku merasa bersalah melihat dia jadi lebih dewasa dengan keadaanku ini.
__ADS_1
Maafkan Bunda sayaaang. Tangisku dalam hati.
Aku dan suami berangkat menuju klinik yang juga tak jauh dari rumah. Aku menceritakan kepada mereka semua keluhanku. Setelah memeriksa keadaanku dokter jaga memberikan resep.
"Dok boleh tidak saya minta di rujuk ke Dokter Spesialis penyakit dalam? Coba Dokter lihat riwayat pengobatan saya. Hampir satu tahun ini saya lebih lima kali masuk rumah sakit dengan keluhan yang sama. Saya capek donk seperti ini. Yang dikasih hanya obat asam lambung saja. Sembuhnya sementara beberapa waktu kemudian kumat lagi" ungkap ku.
Dokter memeriksa kartu pemeriksaanku.
"Iya bener ya Bu, sepertinya asam lambung Ibu memang berat" jawab sang Dokter.
Terlihat dia sedang berpikir sambil menatapku.
"Kalau saya boleh saran ya Bu.. Maaf bukannya berarti Ibu tidak waras.. Kalau saya rujuk nya ke dokter spesial jiwa bagaimana? Ada beberapa pasien yang memiliki penyakit yang gejalanya sama seperti Ibu saya rujuk ke Dokter Spesialis Penyakit Jiwa akhirnya sembuh. Tapi semuanya tergantung Ibu sih" ungkap Dokter itu sangat hati - hati.
Mungkin dia takut aku tersinggung dengan ucapannya. Saat itu aku tidak pernah memikirkan apa yang di khawatirkan dokter tersebut.
Yang ada dalam pikiranku, aku ingin sembuh. Kemana saja aku akan pergi berobat demi kesembuhanku. Aku kembali terbayang wajah anak - anakku.
Selalu menatapku dengan mata kesedihan setiap kali melihat penyakitku kumat. Dan saat kami tinggal di rumah mereka selalu menatap kepergian kami dengan tatapan ketakutan.
"Saya mau Dok.. saya mau berobat kemana aja dokter rujuk. Saya ingin sembuh. Anak - anak saya masih kecil Dok, kalau saya sakit terus pasti hidup mereka juga terganggu. Saya tidak ingin mereka bersedih. Saya ingin lebih lama bersama mereka menemani mereka hingga mereka dewasa kelak" ucapku dengan mata berkaca - kaca.
Dokter tersebut menarik nafas panjang.
"Baiklah kalau Ibu setuju. Ini akan saya berikan rujukan ya. Ada pilihan tiga rumah sakit. Rumah Sakit A, B dan C. Ibu mau yang mana? Kalau rumah Sakit A tidak saya sarankan. Karena di sana biasanya hanya pengobatan singkat mungkin hanya satu kali pertemuan. Sementara untuk penyakit Ibu ini saya rasa tidak cukup dan tidak sembuh dengan sekali pertemuan saja. Tinggal Rumah Sakit B dan C. Ibu mau yang mana?" tanya dokter tersebut.
"Rumah Sakit B saja Dok, lebih dekat dari rumah saya" jawabku.
"Baik, ini dibawa ya saat Ibu datang ke Rumah Sakit tersebut" Dokter menyerahkan selembar kertas kepadaku.
"Terimakasih Dok" ucapku tulus.
Aku sangat beruntung sekali bertemu dengan Dokter ini. Dia menjelaskan dengan sejelas - jelasnya kepadaku. Sehingga aku merasa nyaman konsultasi dengannya.
"Sama - sama Bu, semoga cepat sembuh ya" jawab Dokter itu.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG