
Sudah satu bulan berlalu dari kami membeli baru bata terakhir yang kongsian belinya bareng temannya Mas Fadil.
Disamping keuangan yang semakin menipis, aku paling tidak suka orang yang tidak tepat janji.
"Yah Mas Heri belum ada nyicil uang batu bata?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Belum Bun, Ayah belum ada ketemu sama dia" jawab Mas Fadil.
"Nanti kalau ketemu tagih yah, kan lumayan saat - saat seperti ini. Keuangan semakin menipis, lumayan bisa bayar ongkos tukang beberapa hari" ujarku.
"Iya, belakangan ini dia gak pernah mampir ke rumah kita, sibuk kali Bun" ungkap Mas Fadil.
"Jangan - jangan karena mau lari Yah. Biasa orang kalau udah dapat apa maunya lupa sama janjinya. Pas mau minjam tiap hari datang, malah dengan baik hatinya minjamim barang - barang dia tanpa kita minta" protes ku.
"Buuun.. jangan suudzon" pesan suamiku.
"Astaghfirullah... " aku tersadar dan langsung beristighfar.
Tapi perasaanku tidak bisa berbohong, sejak awal feeling aku udah gak enak dan biasanya feelingku jarang banget salah.
Beberapa hari kemudian..
"Bun tadi Ayah ketemu Heri di dekat rumah kita, ayah udah minta uang batu bata" lapor suamiku.
"Trus apa kata Mas Heri? Ada uangnya?" tebak ku langsung.
"Katanya dia belum ada duit, batu bata yang dibeli juga belum dipakai karena terbentur dana" jawab suamiku.
Nyess... benar feeling aku. Menikah hampir sepuluh tahun dengan Mas Fadil membuatku hapal dengan sifatnya yang terlalu baik berteman. Bukan hanya sekali tapi lebih dari tiga kali dia dikerjain atau dibohongi temannya.
Pernah sekali dia dibohongi sampai parah banget. Saat itu aku lagi cuti melahirkan tiga bulan dikampung saat lahiran Rayyan.
Uang tabungan kami hampir saja habis. Kalau aku tidak pulang mungkin sudah kandas uang tabungan yang dipegang Mas Fadil. Sejak saat itu Mas Fadil trauma dan tidak menyerahkan semua uang tabungan untuk aku kelola sepenuhnya.
"Sudah bunda duga Yah, sejak awak perasaan Bunda sudah tidak enak akan hal itu. Tapi seperti biasa kalau masalah itu Mas paling sulit disadarkan. Teman baik dikit aja kamu sudah terbujuk" omelku.
Mas Fadil hanya diam, aku gak tau apakah dia mulai merasa bersalah atau sengaja mengelak karena takut aku marah dan panjang ceritanya.
__ADS_1
"Kita lihat bulan depan ya Yah, kalau dia semakin menjauh berarti tidak ada itikad baik. Pasti dia memang sudah berencana sejak awal ingin ngerjain Mas" ucapku lagi.
Pembangunan rumah kami sudah hampir selesai, tinggal finishing. Aku sudah mulai menyusun barang - barang sedikit demi sedikit dan setiap kali kami melihat rumah kami bawa barang - barang kecil.
Agar nanti saat kami benar - benar pindah barang - barang tidak banyak lagi dan bisa langsung selesai dalam satu hari. Pengalaman selama ini tinggal di rumah kontrakan.
Pindah sana, pindah sini sangat melelahkan. Mengepak barang, mengangkat dan menyusunnya lagi di rumah yang baru memakan waktu yang lama dan melelahkan.
Keuangan kami juga semakin menipis, Papa dan adik - adikku sudah memberikan bantuan untuk kami pindah. Mau pinjam aku merasa tidak enak hati.
Apalagi aku memang paling pantang meminjam uang kalau belum pasti kapan bisa mengembalikannya. Gak mungkin hanya janji palsu atau janji akan dibayar kalau ada uang. Sementara keuangan kami perbulan sudah jelas kemana posnya.
"Yah uang kita sepertinya tidak cukup. Sementara pagar belum dibuat, upah pasang keramik, upah tukang. Bagaimana ini?" tanyaku mulai panik.
Gak mungkin pembangunan dihentikan, tinggal sedikit lagi.
"Lima juta lagi cukup gak Bun?" tanya suamiku.
"Mudah - mudahan cukup yah" jawabku menghitung - hitung.
"Nanti ayah akan cari pinjaman koperasi tapi BPKB kereta jaminannya" ucap suamiku.
"Ayah yang bayar dari insentif di kantor. Kalau gaji kan sudah bunda yang pegang. Nanti ayah juga akan cari uang masuk di luar" jawab suamiku.
"Benar ya... jangan bunda lagi yang mikirin itu semua" pintaku pada suami.
"Iya Bundaaa" jawab Mas Fadil meyakinkanku.
Akhirnya Mad Fadil mendapatkan tambahan dana untuk penyelesaian rumah kami. Rumah hanya dipagar keliling tapi tidak di palster karena kekurangan dana. Dapur juga hanya plaster saja tidak di cat. Biarlah nanti pelan - pelan kami cat sendiri setelah pindah rumah.
Seminggu sebelum kami pindah rumah jalanan komplek sedang di paping blok. Rumah kami bersebelahan dengan paret besar atau ada yang bilang aliran sungai kecil dari gunung.
Awalnya keluargaku khawatir dengan lokasi rumah, mereka takut rawan banjir tapi kami sudah bertanya pada penduduk setempat hal itu belum pernah terjadi.
Bersamaan dengan pengerjaan jalan komplek sungai diperdalam sama warga diluar komplek yang berbatas sungai.
"Semoga rumah ini bawa rezeki ya" ucap Papaku.
__ADS_1
"Kenapa Pa?" tanyaku.
"Sebelum kalian pindah lihatlah jalan masuk ke komplek sudah bagus, seperti ingin menyambut kedatangan kalian. Sungai juga diperdalam. Papa jadi tidak khawatir akan banjir karena sungainya jadi lebih dalam. Hanya saja jaga anak - anak kalian jangan sampai tanpa sepengetahuan kalian mereka mandi sungai " pesan Papaku.
"Nggak Pa, nanti keliling komplek ini akan di pagar oleh pihak developer. Jadi anak - anak tidak bisa mandi ke sungai" sambut suamiku.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi saat kalian pindah nanti Papa dan Mama tidak bisa hadir ya. Ada acara di kampung yang tidak bisa kami tinggal. Setelah itu nanti baru kami datang" ucap Papaku.
"Iya Pa gak apa - apa" jawabku.
"Nanti setelah kalian pindah buat syukuran panggil semua saudara Papa yang ada di kota ini" ujar Mamaku.
"Ah gak usah Ma. Anggi gak mau" tolakku.
"Kenapa?" tanya Mama.
"Anggi gak mau jadi bahan gunjingan mereka lagi. Pasti ada aja nanti salahnya, Anggi tau bagaimana sifat mereka. Apalagi rumah Anggi belum selesai semua, udah gitu di samping rumah Anggi sungai. Kemarin aja sudah ada yang komentar kenapa Anggi beli rumah jauh banget. Nanti mereka datang lihat rumah Anggi masih begini pasti jadi bahan cerita" jawabku.
"Kamu malu?" tanya Papa.
"Nggak, ngapain malu. Rumah ini kami beli dengan hasil keringat kami sendiri. Walau letaknya jauh, ukurannya kecil dan belum selesai seratus persen tapi Anggi sangat bangga sudah punya rumah" ungkap ku.
"Bagus kalau begitu pikiran kamu. Undangan aja mereka biar mereka lihat kamu sudah punya rumah jadi tidak akan ada yang sepele kepada kamu" sambung Papa.
"Nggak ah Pa, Anggi tetap gak mau. Selain uang kami juga sedang menipis Anggi memang belum ada rencana seperti itu" jawabku.
Paling nanti syukuran aja sedekah ke panti asuhan. Batinku.
.
.
BERSAMBUNG
Hai readers... terimakasih kalian masih setia membaca novel saya ini. Walau memang pembacanya tidak sebanyak novel yang lain. Mungkin karena bukan kisah percintaan kali ya.. 😁
Tapi saya sudah berniat untuk menyelesaikan cerita ini sampai akhir. Karena terdapat banyak pelajaran hidup dalam kisah ini.
__ADS_1
Doakan ya semoga novel ini semakin banyak pembacanya.. Aamiin 🥰🥰