Menatap Senja

Menatap Senja
27


__ADS_3

Akhirnya sembilan tahun lebih waktu pernikahan, kami bisa menempati rumah sendiri walau masih kredit, walau kecil dan walau jauh tapi aku dan suami sangat senang sekali.


Dua keluarga turut sibuk membantu kepindahan kami. Adik - adikku, mertua dan adik ipar semua ikut serta. Dari pagi sampai sore baru selesai angkat semua barang.


Malam harinya kami juta tidur dengan kondisi rumah yang masih berantakan. Walau lelah tapi hatiku lega sekali. Aku sengaja mengambil cuti tiga hari untuk membereskan rumahku.


Selama tiga hari ini juga aku menyusun dan mengatur barang - barang di rumah. Letak kamar, tempat tidur, dapur memang belum semua tersusun rapi. Maklum setelah pindah aku hanya kerja sendiri. Suami kembali bekerja, si kakak sekolah hanya aku dan Rayyan yang tinggal di rumah.


Tiga hari ini juga aku melihat wajah suamiku kusut. Aku lihat dia seperti tidak semangat berangkat kerja.


"Bun..." ucap suamiku saat kami sedang makan siang di rumah


Letak rumah kami ini lebih dekat ke kantor suami sehingga dia sempat singgah makan siang di rumah.


"Ya yah... " jawabku.


"Mmm.... kalau ayah pindah kerja gimana?" tanya suamiku.


"Yah kalau ada pekerjaan yang lebih bagus lagi kenapa tidak" sambutku.


"Ooo" Mas Fadil melanjutkan makannya.


"Emang kenapa? Ada masalah di kantor? kenapa ayah mau pindah kerja?" selidikku.


"Sepertinya si Gayus sedang mencari - cari kesalahan ayah di kantor. Kami sedang perang dingin" ungkap suamiku.


"Lho Mas Gayus kan teman Mas, masak bertengkar? Harusnya kalian kan saling bantu" sambutku.


"Dia itu terkenal sangat pelit dikantor. Apa Bunda ingat waktu anaknya lahir dia buat syukuran? Masak teman - teman tega hanya nyumbang lima ribu rupiah untuk kasih kado anaknya" sambung Mas Fadil.


"Ha... lima ribu Mas? Tega banget teman - teman Mas kasih uang segitu?" tanyaku terkejut.


"Ayah juga bilang sama teman - teman, makan di rumah makan aja lebih dari situ kita bayar. Nanti di pestanya kan kita makan juga masak kita cuma kasih uang cuma segitu?" jawab suamiku.


"Terus apa kata mereka?" tanyaku penasaran.


"Dia itu pelit banget Bun, makanya teman - teman ayah tega kasih segitu. Gayus juga sama bawahan mau menang sendiri. Nanti kami di push untuk capai target dia, dia nya dapat bonus tapi gak pernah nyenengin bawahan. Malah pernah dia ajak makan kami dikira teman - teman dia yang traktir, eh udah selesai makan dia suruh bayar masing - masing" ungkap suamiku.

__ADS_1


"Ih masak iya ada atasan sepelit itu. Tapi sepertinya orangnya baika Yah" balasku masih tak percaya.


"Dia itu emang dari sekolah dulu seperti itu. Suka cari muka guru, kalau di depan guru seperti anak baik banget. Gitu juga dikantor setiap atasan kami datang didepan atasan itu dia suka - suka ngatur kami menunjukkan bahwa dia itu disiplin. Padahal sering pekerjaan kami dia serobot. Ada orderan toko yang menghubungi ke kantor, padahal itu toko langganan kami. Pesan ke kantor langsung karena dia yang terima dia makan sendiri tanpa kasih kabar ke teman yang biasa nanganin toko itu. Insentifnya dia minta sama kami tanpa malu alasannya karena dia yang order. Padahal dia cuma terima telepon doank" cerita Mas Fadil.


Atasannya yang bernama Gayus itu ketepatan adalah teman SMU nya Mas Fadil. Dulu Mas Fadil dapat info lowongan kerja di perusahaan itu juga dari si Gayus itu.


Aku terdiam, apa benar ceritanya memang seperti itu. Atau suamiku hanya sedang memperngaruhiku untuk menutupi kesalahannya.


"Ayah gak ada makai uang kantor kan?" selidikku.


"Gak ada Bun, mana berani ayah seperti itu" jawab suamiku langsung.


Ini pasti ada yang tidak beres. Batinku.


"Yah tabungan kita saat ini sedang kandas lho yah, hanya tinggal bebarapa ratus, tidak sampai satu juta. Cicilan kita juga banyak, gimana kalau ayah berhenti kerja. Gimana kita mau bayarnya yah?" tanyaku pada suamiku.


Aku mulai khawatir dan panik membayangkan masa depan yang akan kami jalani nanti. Aku tidak suka memaksakan hidup, kalau tau begini lebih baik aku bangun dapur sesederhana mungkin tidak menghabiskan semua uang tabungan bahkan sampai meminjam uang lagi.


"Sudaaah bunda gak usah khawatir, belum tentu juga ayah berhenti. Lagian kalau ayah berhenti kan bisa cari kerja lain lagi" ucap Mas Fadil.


"Mas umur Mas sudah berapa, hampir empat puluh tahun. Gak semudah itu cari kerja lain" ujarku.


Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Belum tentu juga terjadi apa yang Mas Fadil bilang tadi.


****


Seminggu kemudian.


"Bun, ayah dipindah ke bagian kanvas" lapor suamiku.


"Lho kenapa yah?" tanyaku terkejut.


"Ada audit dikantor, Gayus mempersoalkan masalah bon faktur ayah. Padahal dari pihak audit tidak masalah, malah dia atasan ayah yang komplain. Dia sepertinya punya sesut yang ditutup - tutupi. Kata teman Ayah yang sudah lama, itu sudah permaian lama di Gayus. Setiap ada audit pasti ada yang dia tumbal kan" cerita suamiku.


"Jadi gimana Yah?" tanyaku panik.


"Sudah ayah jalani saja dulu. Ayah akan bekerja di bagian kanvas" jawab suamiku.

__ADS_1


"Gimana cara kerjanya?" tanyaku khawatir.


"Ya bawa - bawa barang ke toko terus tawarin langsung. Kalau dulu kan kerja ayah cuma catat orderan terus lapor ke kantor nanti pihak gudang yang kirim barang" jawab suamiku.


"Ya sudah kerjakan aja dulu yah, sambil mulai - mulai cari kerja dari sekarang" sambutku.


Keesokan harinya suamiku datang bersama dua temannya yang sudah aku kenal. Saat suamiku pergi keluar membeli gorengan aku sempatkan bertanya pada teman - teman suamiku tentang masalahnya di kantor.


"Mas apa benar Mas Fadil di pindahin Mas Gayus ke bagian Kanvas?" selidikku.


"Iya Mbak, si Gayus itu orangnya sok suci padahal kotor banget cara kerjanya. Udah banyak yang sakit hati sama dia. Di hadapan bos dia pinter kali cari muka bersihin diri. Terus takut boroknya ketahuan pasti anak buah yang ditumbalkan" jawab teman suamiku.


Berarti cerita suamiku benar, gak mungkin temannya ini bohong. Karena aku kenal temannya itu dan istrinya. Mereka keluarga yang taat agama gak mungkin suka berbohong.


"Ini aja dia masih cari - cari masalah sama Mas Fadil padahal Mas Fadil kan sudah pindah bagian kanvas jadi bukan dia lagi atasan Mas Fadil langsung. Tapi dia sepertinya memang tidak suka. Takutnya dia punya niat lain Mbak" sambung teman suamiku yang satu lagi.


"Niat lain apa Mas?" tanyaku.


"Dia ingin bersihkan Mas Fadil di kantor alias dipecat" jawab mereka.


Astaghfirullah... ucapku dalam hati. Semoga saja tidak seperti itu ya Allah. Doaku dalam hati.


"Jangan kasih tau Mas Fadil ya Mas kalau saya tanya begini pada Mas" pintaku pada kedua teman Mas Fadil.


"Iya Mbak" jawab mereka.


Seminggu kemudian..


"Bun.. ayah berhenti kerja" lapor suamiku.


Deg... jantungku rasanya mau copot dan berdebar sangat kencang.


Oh ya Allah kuatkan aku.. jangan sampai penyakitku kambuh lagi. Doaku dalam hati.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2