
Seminggu sudah Shifa ujian di rumah. Lembar jawaban aku kumpul dan masukkan kedalam amplop coklat yang besar. Setelah itu aku antar ke sekolah Shifa.
Papa dan Mamaku sudah datang dari kampung. Sesuai janji mereka pada anak - anakku. Mereka akan menjemput Shifa dan Rayyan dan membawa merek ke kampung.
Bukan untuk liburan tapi untuk menetap dalam waktu yang tidak ditentukan lamanya. Semua tergantung keadaan. Semoga covid ini segera berakhir.
Mas Fadil awalnya berat untuk memberikan izin tapi karena aku yakinkan inilah yang terbaik untuk anak - anak saat ini.
Cara pengajaran Papaku beda dengan cara pengajaran mertua dan suamiku. Papaku terjebak tegas dan galak. Sehingga aku dan adik - adikku jadi terlatih disiplin.
Cukup dengan lirikan mata sudah membuat kami mengerti apa yang Papa inginkan, apa yang dia tidak suka dan dia suka.
Walau begitu anak - anakku tidak takut tinggal bersama Opa dan Omanya. Benar kata orang, kalau untuk cucu kegalakan seorang pria akan hilang.
Beda banget perlakuan Papa pada anak - anakku di bandingkan kami kecil dulu. Walau begitu anak - anak tetap diajarkan disiplin.
"Pakaian sekolah sudah dibawa? Nantikan setelah selesai liburan Kakak akan sekolah daring lagi?" tanya Mamaku.
"Sudah Oma. Bunda sudah bawain pakaian sekolah dan buku Kakak. Nanti disana Kakak pinjam HP Oma ya untuk belajar online" jawab Shifa.
"Iya" jawab Mamaku.
"Adek boleh pinjam HP Opa untuk main?" tanya Rayyan.
"Boleh tapi ada waktunya ya. Gak boleh bebas main di HP Opa" jawab Papaku.
"Iya Opa" jawab Rayyan.
"Fad... Gi.. kami bawa dulu anak - anak kalian ya. Biar kami ajar dulu mereka untuk disiplin. Selama ini Fadil masih lemah kepada mereka. Papa sangat takut anak - anak kalian ikut ajaran Lia" ucap Papaku.
Keluargaku sudah tau bagaimana kisah Lia dan Mamaknya. Dan menurut mereka semua itu terjadi karena lemahnya peraturan di keluarga suamiku.
"Sayang boleh pada anak tapi jangan kelewatan. Kita harus tegas mana yang boleh mana yang tidak boleh. Lihat Papa, Anggi anak Papa satu - satunya perempuan. Kalau ditanya sayang, pasti Papa sangat sayang. Hanya dia anak perempuan Papa. Tapi Papa didik dia disiplin, jujur dan tanggung jawab. Sehingga saat SMU dia sudah Papa lepas untuk sekolah jauh dari orang tua. Dan hasilnya dia jadi anak yang mandiri" ungkap Papaku.
__ADS_1
Mas Fadil hanya diam. Dia sendiri juga sebenarnya mengakui kalau didikan Ayahnya salah. Karena sejak muda dulu Mamaknya Lia sudah sangat bebas bergaul dengan teman - temannya.
"Titip anak - anak ya Pa, Ma.. Maaf kalau kami ngerepotin" ujar Mas Fadil.
"Nggaklah.. mereka kan cucu kami. Kami juga senang mereka tinggal bersama kami. Rumah pasti ramai karena ada mereka" sambut Mama.
"Nanti sekali - sekali Bunda dan Ayah datang ya Nak, jenguk kalian di kampung" ucapku pada Shifa dan Rayyan.
"Iya Bunda. Nanti kita juga kan bisa video call-an setiap hari" sambut Rayyan.
"Emangnya adek tau gimana caranya?" tanganku.
"Tau, adek tinggal buka HP Oma dan lihat foto Bunda, terus adek tekan tombol video" jawab Rayyan.
Harusnya Rayyan sudah masuk TK tahun ini karena usianya sudah lima tahun. Tapi karena corona, rasanya tidak optimal anak TK sekolah daring. Biarlah ditunda dulu, tahun depan saja dia sekolah. Lagian keuangan kami saat ini sangat pas - pasan.
Aku tidak mengadu pada orang tuaku. Aku malu kalau mereka yang akan menyekolahkan anak - anakku. Padahal tanpa diminta pun mereka sudah menawarkan Rayyan untuk TK di kampung. Tapi aku tolak, alasanku belum tentu nanti Rayyan satu tahun di kampung. Nanti repot ngurus pindahnya.
Kemudian corona juga tidak ada yang jamin kapan selesainya, mudah - mudahan bisa secepatnya. Disamping itu aku tidak mau Papa dan Mama repot mengurus sekolah Rayyan di sana. Nanti saat mereka hendak ke menjenguk anak - anaknya di sini jadi terhambat karena sekolah Rayyan.
Setelah memeluk dan mencium kedua buah hatiku dan mereka berpamitan. Shifa dan Rayyan naik ke dalam mobil bersama Papa dan Mamaku. Aku memandangi mata mereka saat melambaikan tangan padaku dari jendela mobil.
Kalau diikuti perasaan hati. Rasanya hancur hati ini melepaskan kedua anakku pergi ke kampung mungkin untuk waktu yang lama. Tapi lagi - lagi aku menyerah dengan keadaan saat ini. Inilah yang terbaik untuk anak - anakku.
Aku lebih tenang bekerja karena mereka diasuh oleh orang yang sangat aku percaya. Walau harus menahan rasa rindu.
"Da.. da... Bunda... Ayaaah" ucap Rayyan.
Mataku berkaca - kaca, sebentar lagi airmataku akan jatuh tapi aku tahan. Aku tidak mau mereka melihat air mataku. Itu akan membuat mereka berat berpisah.
"Daaa sayaaang... baik - baik di sana ya.. Jangan nakal sama Opa dan Oma. Makan yang banyak ya" sahutku.
"Nanti di kampung Rayyan belajar makan sendiri ya" pesan suamiku.
__ADS_1
Kalau di rumah Mas Fadil yang selalu membiasakan Rayyan untuk makan disuapin. Mamaku selalu marah karena itu membuat Rayyan manja.
Kalau tidak disuap Rayyan tidak akan makan. Dan lagi Mas Fadil akan terganggu makannya. Di keluarga ku sangat tidak boleh mengganggu waktu makan Papa.
Papa adalah orang tertinggi di rumah yang harus di hormati. Makanannya saja tidak boleh kami sentuh sebelum Papa menyentuh duluan.
Bukan karena takut tapi itulah bentuk penghormatan kepada Papa karena dia sudah bersusah payah bekerja banting tulang untuk keluarga.
"Iya aayaaah nanti adek makan sendiri" jawab Rayyan.
"Kami pergi ya" ucap Papa.
"Iya Pa, hati - hati" jawab aku dan Mas Fadil.
Mobil mulai bergerak dan berjalan menjauh, hingga menghilang dari pandanganku. Barulah aku menangis, ada rasa bersalah pada anak - anakku dengan keadaan ini.
"Maafkan Bunda Nak.. kita jadi berpisah sementara waktu" gumamku pelan.
Mas Fadil merangkul bahuku.
"Sudah Bun jangan sedih, nanti anak - anak juga akan sedih di sana. Anggap saja kita belajar melepas anak - anak kita untuk pesantren. Mereka di sana kan bukan sekedar liburan tapi belajar. Papa dan Mama akan mendidik mereka" ucap Mas Fadil menghiburku.
"Tapi Bunda merasa bersalah Yah.. Kalau keuangan kita tidak seperti ini mungkin kita bisa mencari orang untuk menjaga mereka di rumah. Kita tetap bisa bertemu mereka setiap hari" ucapku.
"Sudah semua pasti ada hikmahnya. Biarlah berjalan seperti ini dulu.. Kita lihat nanti bagaimana mereka setelah pulang dari kampung" sambung Mas Fadil.
Aku menghapus air mata yang menetes di pipiku. Benar kata Mas Fadil, aku harus belajar sejak sekarang melepas anak - anakku. Karena tidak akan selamanya mereka hidup terus bersamaku.
Mungkin seperti ini dulu yang Papa dan Mama rasakan saat melepas aku dan adik - adikku sekolah ke luar kampung. Hebatnya mereka bisa sekuat itu melepas semua anak - anaknya untuk hidup merantau. Batinku.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG