
Keesokan harinya aku mendengar dari teman kantorku kalau tadi malam sekitar jam sepuluh ada razia di jalan besar dekat arah rumahku.
Ternyata laporan adikku pada temannya yang polisi sudah masuk dan langsung pihak kepolisian ambil tindakan. Tapi sebahagian teman yang mendengar ceritaku menyuruh aku untuk mengikhlaskan motor aku.
Karena menurut mereka sangat sulit mendapatkan motor yang sudah hilang. Dari para tetangga baru di dekat rumahku aku juga banyak mendengar cerita mereka kalau di daerah kami sangat rawan sekali pencurian motor.
Ada tetangga dekat rumah mertua pernah kehilangan motor saat shalat subuh. Tentu penuh keikhlasan ya untuk beribadah.
Shalat subuh biasanya orang sangat sulit sekali bangun pagi. Tapi dia sudah hebat bisa taat shalat subuh ke mesjid eh rupanya setelah selesai shalat dan mau pulang motornya hilang.
"Hijrah itu berat cobaannya, saat kamu berniat untuk hijrah akan datang ujian - ujian dari Allah untuk memperkuat hijrah kamu atau kamu malah kalah dan menyerah untuk kembali hidup seperti sebelumnya" pesan salah satu sahabatku saat aku curhat dengannya melalui telepon.
"Tapi saat ini kondisi keuanganku sedang tidak baik - baik saja Fatimah" aduku.
"Tapi kamu masih punya tabungan kan?" tanya Fatimah.
"Iya punya tapi tinggal sedikit sementara itu untuk pertahanan karena suamiku tidak bekerja saat ini. Dulu dua gaji kami saja hidup kami masih pas - pasan, gimana kalau hanya tinggal gajiku saja?" tanyaku khawatir.
"Coba kamu ingat, selama umur pernikahan kamu, pernah tidak saat itu kamu hanya pegang uang dua puluh ribu. Tidak punya tabungan apapun lagi?" tanya Fatimah kepadaku.
"Tidak" jawabku.
Karena sejak aku sekolah dan jauh dari orang tua aku pintar menabung walau hanya sedikit. Itu aku lakukan karena aku sadar jauh tinggal dari orang tua.
Yang aku pikirkan dulu, kalau aku dapat kabar buruk dengan mudahnya aku akan pulang kampung tanpa harus pinjam uang kesana dan kesini untuk ongkos.
Orang tuaku sangat tau sifat aku itu sehingga mereka percaya aku tau cara menyimpan uang bahkan sampai sekarang.
"Aku pernah di posisi itu Gi, saat itu aku lagi hamil muda dan pengen sekali makan sesuatu. Aku tahan keinginanku itu demi untuk makan kami. Alhamdulillah suamiku dapat kerja dan sejak saat itu kehidupan kami perlahan - lahan membaik" cerita Fatimah.
Aku membayangkan kalau saja aku hanya pegang uang dua puluh ribu mungkin aku sangat panik.
"Kamu pernah tidak sedekah ekstrim?" tanya Fatimah.
"Sedekah ektrim bagaimana Fath?" tanyaku.
"Mensedekahkan uang kamu padahal saat itu kamu juga sangat butuh uang" jawab Fatimah.
"Belum pernah Fath" jawabku.
"Coba deh kapan - kapak kamu lakukan hal seperti itu. Gantungkan hidup kamu hanya kepada Allah. Cukup percaya Allah tidak akan buat kamu, suami dan anak - anak kamu kelaparan. Nanti akan kamu rasakan sesuatu yang Maha Dahsyat" ucap Fatimah.
__ADS_1
Aku terdiam sesaat.
"Ikhlaskan musibah yang kamu dapatkan. Mungkin motor itu sudah bukan rezeki kamu. Mungkin jodoh kamu pada motor itu cuma sampai di situ" nasehat Fatimah.
"Iya Fath, aku sedang berusaha mengikhlaskannya" sahutku.
Setelah curhat dengan Fatimah aku merasa lebih lega.
Sekarang Lia sudah tinggal bersama kami, karena mertuaku sering mengeluh kalau Lia sekarang semakin lasak. Sering pergi menginap di rumah temannya.
Padahal situasi sedang pandemi, dia tidak takut tertular atau jadi pembawa virus. Mungkin dia bisa tahan karena kondisi tubuhnya kuat tapi bagi orang - orang yang lemah di sekelilingnya bisa bahaya.
Aku dan suami meminta Lia untuk tinggal di rumah kami. Biar kami yang mencoba mendidiknya. Saat ini juga sekolah tidak aktif hanya belajar daring dari rumah.
Malam harinya semua sedang makan malam di rumah.
"Yah air habis, tolong angkat galon aqu*nya yah ke atas dispenser" pinta anak sulungku.
"Sebentar ya" jawab suamiku.
Tak lama kemudian suamiku mengangkat galon aqu* dari depan sampai dapur. Tapi tiba - tiba suamiku terjatuh dengan posisi terduduk sambil memeluk galon air yang masih penuh.
"Ayah kenapa?" tanyaku panik.
"Lantainya licin Bun, anak - anak ini pasti ambil minum airnya tumpah di lantai. Aduuuh kaki ayah sakit sekali" suamiku mulai meringis.
Aku segera membantu Mas Fadil, mengambil galon air yang ada di tangannya.
"Bisa berdiri yah? coba pelan - pelan?" tanyaku khawatir.
"Lutut ayah sebelah kanan sakit sekali" Mas Fadil terus meringis.
Aku coba membantunya berdiri tapi karena tubuh suamiku sangat besar jadi sedikit lebih sulit disamping itu tunggu badan suamiku sangat jauh dariku.
Sangat sulit bagiku untuk berjalan memapahnya. Akhirnya dia minta amu mengambil kursi makan. Dia berpegangan pada kursi dan berjalan pelan - pelan seolah - olah kursi itu adalah tongkat.
Suamiku tiduran di kamar tapi masih terus meringis kesakitan. Sementara saat itu sudah jam sebelas malam.
"Yah lutut ayah bengkak" ucapku melihat keadan kaki suamiku yang semakin parah.
Oh Ya Allah cobaan apa lagi ini? Dalam satu bulan terjadi tiga cobaan datang berturut - turut.
__ADS_1
"Ayah tidur diluar aja ya Bun. Susah kalau mau ke kamar mandi" pinta suamiku.
Akhirnya aku mengambil kasur di kamar anak - anak yang dipakai Shifa dan Lia tidur. Aku angkat ke depan ruangan TV. Disana lah Mas Fadil tidur malam ini.
Aku melihat dia merangkak ke kamar mandi malam itu karena tidak ada yang bisa mengangkat atau menolongnya dengan tubuh sebesar itu.
Aku langsung menghubungi mertuaku malam itu dan menceritakan semuanya. Aku meminta mertua untuk mencari tukang urut. Tapi hari sudah larut malam.
Akhirnya aku minta bantuan mertua untuk membawa suamiku ke tukang urut besok. Malam ini Mas Fadil hanya minum obat penghilang rasa sakit.
Malam itu aku tidur tidak nyenyak karena bulak balik melihat keadaan Mas Fadil. Mas Fadil juta tidak bisa tidur nyenyak karena kesakitan.
Esok hatinya mertua laki - laki datang membawa becak motor. Dia menuntun suamiku naik ke dalam becak dan kami bersama - sama pergi ke tukang urut.
Walau saat itu kami sangat takut terkena wabah yang sedang semarak tapi mau gimana lagi dengan berat hati Mas Fadil harus dibawa.
Kondisi pandemi seperti ini sangat riskan sekali membawanya ke Rumah Sakit. Selain takut terkena wabah, takut juga harus isolasi. Kasihan Mas Fadil sendirian di rumah sakit.
Satu jam Mas Fadil di urut dengan jeritan - jeritan karena kesakitan. Setelah itu keadaannya lebih baik. Mulai bisa berjalan walau pincang.
Tukang urut juga memberi pesan kalau kesembuhannya agak lama dan tidak cukup satu kali urut saja. Karena yang terkena adalah lututnya.
Pulang dari tukang kusuk aku menyuruh Mas Fadil menagih hutang batu bata kepada Mas Heri temannya.
"Yah coba tagih uang batu bata sama Mas Heri. Kan lumayan Yah kalau dia bayar setengah saja, sudah bisa untuk bayar tukang urut. Ayah dengar tadi kan kata tukang urutnya kaki ayah harus diurut satu atau dua kali lagi. Kalau tidak nanti semua sia - sia" ujarku.
"Sebentar ya Bun, Ayah coba hubungi Heri dulu" jawab suamiku.
Mas Fadil kemudian menghubungi temannya tapi beberapa menit kemudian dia menutup telepon dengan sangat kesal.
"Gimana Yah, apa kata Mas Heri?" tanyaku penasaran.
"Dia bilang batu bata nya belum dipakai. Katanya kalau mau uang ambil saja batu batanya lagi toh juga belum ada yang dipakai. Kan bisa dijual lagi" jawab suamiku.
"Astaghfirullah.... "
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1