
Lia tidak pulang juga bahkan sampai malam hari. Saat Mas Fadil pulang sekitar jam sepuluh malam aku laporkan kepada Mas Fadil kalau Lia belum juga pulang.
"Yah Lia belum pulang" ucapku.
"Dari tadi pagi sampai sekarang belum pulang?" tanya Mas Fadil tak percaya.
"Iya belum pulang Yaaah" jawabku kesal.
"Bunda sudah coba hubungi ponselnya?" tanya Mas Fadil.
"Sudah tapi gak aktif" jawabku.
"Kelewatan anak itu memang" Mas Fadil menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah Bun, Ayah sudah capek. Ayah malas memikirkan dia lagi. Gak tau di tolong, sukanya bertindak semaunya saja" kalau sudah seperti ini itu artinya Mas Fadil sudah sangat marah sampai dia tidak mau peduli lagi pada Lia.
"Lah jadi anak perempuan belum pulang sampai selarut ini gak kita cari?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Ayah capek Bun baru pulang kerja dari tadi pagi. Sampai rumah dapat kabar seperti ini lagi. Buat tambah emosi aja. Sudah biarkan saja dia mau jadi apa. Capek banget mendidiknya untuk jadi anak yang baik. Sudah untung dibesarkan dan disekolahkan, coba kalau ikut Bapak kandungnya mungkin hidupnya lebih susah karena bolak balik ganti ibu tiri" komentar Mas Fadil.
Yah dari yang kami dengar Bapak Lia memang sudah beberapa kali kawin cerai. Mungkin sudah empat kali dia menikah. Bahkan sempat menikah dengan perempuan beda agama tapi gak tau apakah Bapaknya pindah agama atau tidak.
Sedangkan Mamaknya menikah dengan suami kedua nasibnya juga sama hanya dijadikan sapi perahan suaminya. Kalau tidak ada uang dipukuli sampai luka - luka. Tapi anehnya mau bertahan sampai anaknya tiga, walau diperlakukan seperti itu.
Cinta mati kata Mas Fadil, rela mati karena cinta. Bahkan dimatikan oleh cintanya sendiri pun tak apa - apa.
Aku hanya diam karena melihat Mas Fadil emosi. Mungkin aku salah juga karena terlalu panik aku sampai tidak sadar kalau Mas Fadil baru pulang mungkin belum makan dan sangat capek. Makanya dia langsung emosi saat dengar kabar Lia.
"Sudah ayah mau mandi, tolong buatkan teh Bun. Ayah juga belum makan" pinta Mas Fadil.
"Iya yah" mengikuti Mas Fadil sampai kamar dan menyiapkan pakaiannya.
Lalu Mas Fadil masuk ke kamar mandi sedangkan aku menyiapkan makan malam Mas Fadil dan membuat teh panas untuknya.
Setelah selesai mandi Mas Fadil langsung duduk di meja makan dan langsung menyantap hidangan makan malam.
__ADS_1
Tiba - tiba ponselku berdering, aku melihat nama Tari yang tertulis di layar ponselku. Aku segera mengangkatnya.
"Halo Tari" ucapku memulai pembicaraan.
"Mbak Lia baru pulang ini diantar temannya cowok. Ayah dan Mamak sudah suruh dia pulang ke rumah Mbak tapi dia gak mau" lapor Tari.
Aku menarik nafas panjang.
"Ya sudah biar aja dia tidur di sana Tari. Besok baru diselesaikan, lagian Mas Fadil juga lagi marah sama dia. Takutnya Mas Fadil emosi main tangan bahaya jadinya" jawabkum
"Iya Mbak, yang penting Mbak udah tau jadi gak khawatir nunggu - nunggu dia" sambung Tari.
"Iya makasih ya Tari" balasku mengakhiri telepon.
"Udah pulang dia?" tanya Mas Fadil penasaran.
"Iya sudah pulang baru saja sampai rumah Mamak. Kata Tari dia gak mau pulang, mungkin takut kita marah" jawabku.
"Dia memang pantas dimarahin itu. Sudah capek mendidiknya untuk jadi anak yang benar tapi tingkahnya gak pernah berubah. Heran entah apa yang dia pikirkan. Emang dia kira hidup ini gampang apa? Gak dia lihat aku kerja banting tulang dari pagi sampai malam tapi hidup masih seperti ini. Harusnya dia bersyukur masih bisa sekolah dengan keadaan seperti ini" ujar Mas Fadil.
Mas Fadil sepertinya sedang marah betul malam ini. Gak biasanya dia ngomel seperti ini.
"Duduk dulu Lia. Bude dan Pakde mau bicara" ucapku.
Dia duduk di sofa ruang tamu sambil merema* tangannya.
"Kenapa kamu baru pulang sekarang?" tanya Mas Fadil.
Kebiasaan lama Lia, selalu diam saat disidang.
"Kamu Pakde antar sabtu pagi ke rumah teman kamu. Kenapa baru sekarang pulangnya?" tanya Mas Fadil mulai emosi.
"Yah sudah.. sudah.. coba tenang dulu" aku berusaha membuat Mas Fadil lebih tenang.
"Lia Bude ingat sama janji Bude, kalau hari sabtu dan minggu Lia boleh menginap di rumah Nenek. Tapi tidak begini juga caranya. Sepet ini Lia kelihatan banget mau lari dari Pakde dan Bude. Lia takut pulang kan? Kenapa Lia takut? karena Lia punya salah, bener kan?" tanyaku berusaha selembut mungkin.
__ADS_1
Lia menundukkan kepalanya.
"Kenapa sabtu itu Lia pulang malam. Kata Bu Tari sekitar jam sepuluh malam diantar sama teman laki - laki. Pacar Lia?" tanyaku.
"Kamu mau mengikuti jejak Mamakmu, putus sekolah karena menikah?" bentak Mas Fadil geram.
"Maaaas" aku berusaha menahan emosi Mas Fadil.
Aku menarik nafas panjang.
"Itu kesalahan Lia pertama , yang kedua kenapa Lia gak kabari Bude pulang telat dan juga kabari Bude sudah sampai di rumah nenek atau kabari kalau Lia tidur di rumah nenek? Kenapa ponsel Lia mati saat Bude huhungi malam itu?" desakku.
"Sengaja dia biar gak bisa dihubungi. Dia benci kalau harus kita tanya - tanya pulang atau tidak" jawab Mas Fadil emosi.
Aku menatap Mas Fadil dan memberi isyarat agar dia lebih baik pergi saja dari sini. Daripada dia emosi mending dia tinggalkan aku dan Lia berdua.
"Capek aku mengurusmu agar hidupmu lebih baik dari Mamakmu. Tapi ternyata kamuu ikuti juga jejak Mamakmu. Terserah kamu mau hidup seperti aku, aku sudah tidak perduli" bentak Mas Fadil.
Dia segera pergi meninggalkan aku dan Lia bedua.
"Kami lihat Pakde malam ini kan? Dia sedang marah, dia kecewa dengan sikap kamu yang seperti mengkhianati dia. Sama seperti Bude saat ini juga. Kami coba mencintaimu tapi kamu tidak membalasnya. Sakit Lia, rasanya sakit. Seperti suka sama seseorang tapi hanya bertepuk sebelah tangan. Kami anggap kamu sebagai anak tapi kamu anggap kami seperti orang lain. Kami harus bagaimana lagi untuk mengajar kamu Lia? Coba katakan pada Bude apa yang kamu mau?" tanyaku berkaca - kaca karena berusaha menahan emosi.
Emosiku malah membuat aku ingin menangis.
"Seribu kali kami ingin menyelamatkan hidup kamu tapi kamunya sendiri yang ingin merusak hidup kamu, itu artinya perbuatan kami tetap akan sia - sia Lia. Kamu perjuangankan sekolah kamu tujuannya agar kelak masa depan kamu lebih baik tapi kalau cara kamu terus seperti ini yang ada kamu akan rusak Lia. Mengapa ada agama? Karena agama mengatur manusia untuk hidup lebih disiplin. Seperti itulah kita, dalam agama kita ada peraturan - peraturan Lia" ucapku berusaha menahan tangis. Suaraku bergetar dan akhirnya air mataku keluar, mungkin dengan cara seperti ini hatinya bisa tersentuh.
"Sakit tau Lia, menyayangi seorang anak tapi anak itu tidak menghargai kasih sayang kami. Kamu tetap saja hidup sesuka hati kamu. Kamu pulang sama pacar kamu kan? kamu telat karena malam mingguan, iya kan? Sudah berapa kali Bude bilang lepaskan saja pacar kamu itu, dia masih anak sekolahan. Uang yang dia pakai pasti masih hasil dari pemberian orangtuanya" nasehatku.
Aku hapus air mataku.
"Ini air mata seorang Ibu yang kecewa dengan sikap Ibunya. Kamu benar - benar kelewatan Lia. Sepertinya kamu tidak berperasaan pada kami. Tega benar kamu sakiti hati kami seperti ini" ucapku.
Lia menundukkan wajahnya.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG