
"Apa? Barangnya sudah di sortir? Hanya empat puluh persen yang bagus?" tanya Mas Fadil.
Seeer... jantungku rasanya mau copot mendengar suara Mas Fadil bertelepon dengan temannya.Lututku lemas saat mendengar kabar dari teman Mas Fadil.
"Ya sudah aku kesana ya" sambung suamiku sambil menutup teleponnya.
"Ada apa Mas?" tanyaku meminta penjelasan.
"Barangnya sudah di bongkar katanya cuma empat puluh persen yang bagus Bun" jawab suamiku.
"Jadi gimana Yah? kita harus ganti rugi?" tanyaku khawatir.
Gimana kalau mereka minta balikkan uang, mau kemana kami mencari uang lima puluh juta saat ini. Batinku.
"Ya gak lah Bun, kan sejak awal Ayah sudah jelaskan pada Bunda, Ayah hanya perantara. Mereka yang memutuskan, kalau mereka mau beli ya silahkan tidak dipaksa, gak mau juga gak apa - apa" jelas Mas Fadil.
"Ya kalau begitu kasih aja nomor telepon orang yang di Jakarta biar mereka yang urus semua. Tugas ayah kan sudah selesai, barang sudah sampai" ucapku.
"Gak bisa gitu donk Bun, namanya teman mana bisa ayah buang badan begitu saja. Ayah kan juga harus lihat barangnya dan bantu mereka untuk retur barang" sambut Mas Fadil.
"Jadi Ayah mau ngapain sekarang?" tanyaku takut.
"Ayah mau ke gudang mereka dulu, mau lihat hasil bongkar barang. Nanti ayah mau video kan dan kirim ke mereka. Bila perlu langsung video call dengan mereka biar jelas semuanya" jawab Mas Fadil.
Mas Fadil segera bersiap - siap untuk pergi.
"Yah jaga diri, jangan lupa pakai masker dan bawa hand sanitizer" ucapku mengingatkan.
"Iya Bun, do'ain ya semua baik - baik saja" ujar Mas Fadil.
Aku mencium tangan Mas Fadil sebelum dia pergi. Dan aku melepas kepergiannya dengan doa yang sangat banyak.
Kembali aku meraba dadaku. Kuatkan hamba ya Allah.. aku tau KAU tidak akan memberi cobaan padaku jika aku tidak sanggup untuk menghadapinya. Ucapku dengan kepasrahan.
Tapi namanya kekhawatiran istri, selama Mas Fadil pergi hatiku tak bisa tenang. Setiap selesai shalat aku lantunkan doa yang sangat panjang untuk suamiku.
Kutitip dia padaMU ya Allah. Tolong lindungi dia dari segala marabahaya dan tipu daya manusia. Dia orang baik, pasti akan mendapatkan hasil yang baik. Batinku.
__ADS_1
Malam harinya Mas Fadil pulang dengan wajah kusut.
"Ayah udah makan?" tanyaku.
"Belum Bun, Ayah belum sempat makan dari siang" jawab Mas Fadil.
"Ya Allah Yaaaah, ya sudah mandi sana biar aku siapkan makanan untuk Ayah" ujarku.
Mas Fadil langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya setelah itu aku siapkan pakaian untuknya dan juga makan malam Mas Fadil.
Setelah selesai mandi Mas Fadil langsung duduk di depan meja makan dan mulai menyicipi masakanku.
"Gimana Yah masalahnya?" tanyaku tak sabar.
"Kalau dari pihak Jakarta bilang barangnya itu harus diolah lagi. Mereka kasih tau kok gimana caranya. Cuma pihak di sini aja yang mau terima beres. Mereka mau barang murah tapi langsung jadi. Bayangin Bun lima puluh juta dibagi satu ton. Berarti perkilonya hanya lima puluh ribu. Sementara kalau mereka olah dan jual lagi harga perkotak itu lima puluh ribu. Bunda tau satu kilo itu bisa dapat lebih dari tiga kotak lho. Sarung tangan silikon kan tipis dan ringan. Tapi memang teman ayah ini ternyata baru main di bisnis ini. Dia tidak mengerti gimana caranya. Kalau mau yang langsung siap jadi ya modalnya juga harus besar" ungkap Mas Fadil menjelaskan padaku.
"Jujur Bunda juga gak ngerti Yah hitungannya" sambutku.
"Jadi gimana jalan keluarnya?" tanyaku lagi.
"Mereka mau minta balik uang" jawab Mas Fadil.
"Kata pihak Jakarta boleh tapi harus potong ongkos kirim.
"Nanti takutnya barang dikirim uang gak di transfer Yah? Kalian kan gak kenal penjualnya dengan baik? Sekarang ini banyak orang yang suka nipu Yah, apalagi di Jakarta sana. Lihatlah di televisi, berita - berita yang beredar. Semua dilakukan orang untuk bisa hidup di Jakarta termasuk menipu" sambutku khawatir.
"Teman ayah meminta pertanggung jawaban ayah karena ayah yang mengenalkan mereka pada penjual di Jakarta. Jadi ayah harus mengawal barang - barang itu sampai di Jakarta setelah itu ayah pulang" ujar Mas Fadil.
"Apa Yah? Ayah mau ke Jakarta? Ayah gak lihat berita di televisi di Jakarta sekarang sedang marak - maraknya covid Yah. Ayah pergi ke sana sama dengan mengantar nyawa. Pesawat aja gak beroperasi. Mau naik apa ke sana?" tanyaku panik.
"Naik bus, Ayah akan bawa kawan ayah satu. Mereka mau biayai ayah selama di sana tempat tinggal, makan dan ongkos" ujar Mas Fadil.
"Kalau disana Ayah malah ditipu gimana Yah? Jakarta itu kota besar, Ayah belum pernah kesana. Ayah gak tau jalan. Gimana ayah mau menemui mereka Yaaah" mataku sudah mulai berkaca - kaca menatap Mas Fadil.
"Bun ayah kan bisa baca, sekarang semua sudah serba canggih. Lagian kan ada keluarga kita juga disana. Nanti ayah minta temani mereka" sambut Mas Fadil.
"Mereka aja takut untuk keluar lho Yaaah karena covid sedang marak sekali disana" balasku dengan suara bergetar.
__ADS_1
Mas Fadil melanjutkan makannya.
"Tolong yaaah.. tolong sekali. Ayah jangan pergi, fikirkan bunda dan anak - anak Yah.. Bunda gak minta kita harus kaya. Yang penting kita bahagia, selamat dunia dan akhirat" ucapku.
"Iya Bun, Ayah akan pikirkan cara lainnya. Sudah yaah Ayah mau istirahat dulu, Ayah capek seharian sortir barang di gudang" jawab Mas Fadil.
Mas Fadil sudah selesai makan dan langsung masuk ke kamar. Akhirnya air mataku menetes juga, tak kuasa aku menahannya lagi.
Melepas Mas Fadil pergi seperti melepas dia perang. Pergi tajam berharap kembali. Aku membayangkan bagaimana nanti kalau dia disana terkena covid, di isolasi dan meninggal dunia. Kami tidak akan pernah melihat dia lagi.
Semakin aku fikirkan hatiku semakin rusak. Aku takut penyakitku kambuh lagi. Aku segera berwudhu dan shalat.
Aku tak tau harus shalat apa lagi, aku sudah shalat isya sebelumnya. Yang penting aku ingin mengadu kepada Allah.
Akhirnya aku shalat hajat, meminta kepada Allah agar Mas Fadil diberi jalan yang terbaik. Semua baik untuk keluarga dan temannya.
Lagi - lagi aku teringat saat - saat sempit waktu kami baru pindah. Aku ingat kembali pesan Fath untuk sedekah esktrim. Aku memasang nazar kembali tapi karena pengalaman yang lalu aku tidak berani menunggu lama.
Aku langsung mentransfer uang ke reneking Fatimah. Karena Fatimah suka menerima waqaf Al- qur'an. Aku buat catatan atas nama Mas Fadil. Bukti transfer aku kirim ke Fatimah. Fatimah langsung menghubungiku.
"Assalamu'alaikum Anggi kamu baru transfer uang ya... Terimakasih ya, InsyaAllah waqaf kamu akan sampai pada orang yang tepat" ucap Fatimah.
"Wa'alaikumsalam Fath... Fath aku bernazar sedekah untua Mas Fadil. Tolong minta bantuan doa semoga urusan Mas Fadil lancar ya Fath" ucapku sambil menangis.
"Lho Gi, kamu kok nangis? Ada apa, cerita ke aku kalau berat" tanya Fath.
Aku menjelaskan kepada Fatimah masalah yang sedang kami hadapi.
"Anggi aku mengerti keresahan dan kekhawatiran kamu. Tapi perlahan berusaha melepas suami kamu. Tak selamanya Mas Fadil akan terus seperti itu. Dia melakukan semuanya karena ingin mencari nafkah untuk keluarganya. Dia memikirkan kamu dan anak - anak. Berserah kepada Allah Gi, masalah umur itu rahasia Allah. Suami kamu kan sudah dewasa dia sudah bisa menentukan mana yang benar dan salah" pesan Fatimah.
"Masalahnya Mas Fadil itu sudah berulang kali tertipu teman. Aku takut kali ini lebih dalam, apalagi saat ini kerugian dan resikonya lebih besar Fath" aduku.
"Ya sudah kalau begitu kamu doa aja, minta sama Allah jalan terbaik untuk masalah suami kamu. Sabar ya Gi... " ujar Fatimah.
"Iya Fath, makasih ya.. " balasku.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG