
Papa dan Mama datang ke kota tempat kami tinggal. Seperti biasa dia menginap di rumah Rahmat dan seperti biasanya juga kami yang selalu datang dan menginap di rumah Rahmat.
Sepulang Mas Fadil kerja kami langsung pergi ke rumah Rahmat. Tentu saja sesuai dengan proses kesehatan. Sebelum berangkat kami pastikan kalau kami semua dalam keadaan sehat, mandi dan tidak singgah - singgah di jalan lagi.
Maklum yang akan kami temui adalah orang tua, kami takut kami akan menjadi pembawa bagi mereka yang sudah mempunyai penyakit bawaan.
Mertua Arif sudah sembuh dan sudah pulang dari rumah sakit setelah di rawat dua minggu di ICU dan dua minggu berikutnya di kamar biasa.
Kebiasaan keluarga setiap ada yang sakit membuat syukuran kecil - kecilan. Kami berkunjung ke rumah mertua Arif yang sudah di sterilkan. Kami juga sudah lebih mengutamakan prokes kesehatan saat masuk ke rumah mereka. Kami melakukan doa bersama sebagai rasa syukur mertuanya Arif sudah sembuh walau masih dalam proses penyembuhan.
"Jadi dek gimana rasanya saat mengalami hal seperti itu? Biar jadi pengalaman bagi kami semua. Maklum ini kan penyakit yang baru saja kita ketahui bersama. Agar kami juga bisa siap jika kami mengalami hal yang sama?" tanya Papaku.
"Awalnya Mas Irwan demam, tapi setelah dua hari sembuh. Setelah itu baru saya yang demam. Panasnya naik turun. Saat cek darah mengarah ke demam berdarah. Tapi setelah lima hari demam saya tidak turun - turun dibawa ke klinik. Entah mengapa Arif tiba - tiba teringat untuk mengukur situasi oksigen. Ternyata sangat rendah. Arif langsung menyuruh membawa saya ke Rumah Sakit. Disana saya tidak tau apa saja yang mereka lakukan kepada saya" jawab Mertua perempuan Arif.
"Saya disuruh Dokter menandatangi semua surat - surat untuk isolasi. Termasuk surat perjanjian kalau saya bersedia dan tidak menuntut apapun jika istri saya maaf kata meninggal dunia. Saya bersedia untuk memakamkannya di perkubuy khusus covid" sambut Om Irwan mertua Arif yang laki - laki.
Kami semua mendengarkan penjelasan Om Irwan.
"Hati saya rasanya hancur Mas, apalagi hasil swab bukan hanya istri saya saja yang positif tapi Tia dan adiknya Bela juga positif. Saya merasa bersalah karena sebelumnya saya yang pertama kali sakit. Pasti saya yang membawa penyakit pada mereka. Hanya saja hasil swab saya negatif. Tapi Arif mencoba mengingatkan saya yang sedang panik untuk tidak mencari siapa yang salah. Yang penting fokus untuk penyembuhan Ibu mereka" sambung Om Irwan.
"Apa yang di rasakan adek?" tanya Mama saya.
"Awalnya saya hanya merasa capek. Jalan sedikit saja kok dada ini berat banget. Setelah tau situasi oksigen saya rendah baru tau kalau saya merasa sesak" jawab Bu Mia mamanya Tia, istri Arif.
__ADS_1
"Jadi Pa itulah perbedaan Covid dengan Jantung. Keduanya sama - sama sesak. Kalau sakit jantung siturasinya masih lebih tinggi tapi rasa sesaknya sepertinya dahsyat. Sedangkan covid siturasinya jauh lebih rendah tapi sesaknya masih terlihat santai. Jadi banyak yang terlambat penanganan karena siturasinya sudah terlanjur sangat rendah" ungkap Arif.
Kami semua mengangguk tanda mengerti. Sungguh pandemi ini sangat membuat panik. Memutuskan tali silaturahmi karena sangat takut berkumpul seperti ini dengan orang banyak.
Tidak ada pesta, takut bertemu orang, menghindari tempat - tempat ramai. Takut untuk datang takziah ke rumah orang yang meninggal dunia. Tidak ada lagi mengunjungi keluarga yang sedang sakit. Dan rasanya suasana sangat mencekam.
Pada akhirnya pikiranku melayang ke peristiwa akhir zaman dimana tanda - tanda kiamat sudah semakin dekat. Bulu kudukku seketika berdiri.
Hakikat hidup kita memang lahir kedua ini sendiri dan matipun akhirnya juga sendiri. Hanya amalan dan dosa yang kelak jadi teman dialam kubur sana. Kalau lebih banyak dosa rasakanlah balasannya. Dan kalau lebih banyak pahala bersyukur lah akan mendapatkan keindahan hidup baru dialam sana.
Lagi - lagi aku diingatkan tentang kematian. Apakah diri ini sudah mempunyai bekal yang cukup untuk menuju kesana?
Oh ya Allah aku masih belum sanggup. Dosaku masih seperti pasir di tepi pantai, sangat banyak. Ucapku dalam hati.
"Apa adek tidak takut?" tanya Mama.
"Saya hanya pasrah dan terus berdoa. Setelah kondisi saya mulai membaik, sudah sadar walau situasi oksigen belum stabil mereka memberi saya ponsel. Saya boleh memegangnya dan berkomunikasi dengan keluarga. Tia selalu mengirim video - video Nasya. Itu yang menghibur saya disana dan jadi semangat hidup agar saya cepat sembuh dan cepat pulang" jawab Bu Mia.
"Setelah dua minggu saya dipindahkan ke kamar yang baru letaknya di lantai paling atas. Saya menangis ketika saya melihat matahari. Ya Allah ternyata aku masih diberi umur panjang, masih bisa kembali melihat matahari. Bisa tau kapan pagi hari, siang, sore atau malam hari. Saya benar - benar merasa hidup kembali" sambung Bu Mia sambil menangis saat menceritakan pengalamannya selama empat puluh hari di isolasi di Rumah Sakit.
"Apa masih ada efek sampingnya sampai sekarang Bu?" tanyaku ingin tahu.
"Ada, masih ada. Ibu belum boleh terlalu capek, jalan jauh aja masih ngos - ngosan. Masih sesak tapi situasi oksigennya sudah normal. Shalat aja masih duduk" jawab Bu Mia.
__ADS_1
"Kita harus tetap waspada karena penyakit ini semakin berbahaya kalau ada penyakit peserta. Apalagi Papa punya penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi dan kolesterol. Kalau terkena covid bisa semakin bahaya" ujar Arif.
"Kalau saya yang mengalami hal seperti Tante saya rasa saya tidak sanggup. Penyakit saya sebelumnya kan asam lambung dan serangan panik Bu. Bisa - bisa saya matinya bukan karena covid tapi sesak karena serangan panik" ungkap ku.
"Nah itu Kak, obat - obat dan vitamin covid juga bisa memicu asam lambung. Tia kemarin sampai kumat asam lambungnya dan suntik ranitidine" sambut Arif.
"Yang penting semua harus jaga jarak dan jaga diri masing - masing. Sebisa mungkin kita saling mengerti bahwa kita memang tidak bisa hidup sebebas seperti sebelumnya. Kebiasaan saling berjabat tangan, kumpul - kumpul bersama harus dikurangi" ujar Papa.
"Iya benar itu. Dan jangan takut atau malu mengakui kalau kita sedang terkena covid atau sedang tidak enak badan. Kebanyakan orang menutupi keadaannya karena takut dijauhi. Tapi akibatnya fatal. Kita jadi penyebab tertularnya orang lain" sambung Arif.
"Iya di kantor saya juga sudah terbiasa izin sakit karena demam lalu swab. Saat dinyatakan positif langsung umumkan di group WA kalau terkena covid jadi orang - orang yang sebelumnya berinteraksi dengan kita bisa memeriksakan dirinya. Itu langkah untuk memutus rantai covid" ungkap Rahmat.
Wah jadi beryambt pengalaman tentang penyakit yang sedang terjadi saat ini. Fikirku.
"Yang penting kita tetap memakai masker, hand sanitizer dan jaga jarak" itu yang paling dasar" pesan Arif.
Ya Allah semoga wabah ini segera berlalu. Angkatlah semua penyakit ini dari bumi MU ini ya Allah. Biarkan kami beribadah dengan nyaman kembali di rumahMU. Karena sedih rasanya melihat mesjid - mesjid sepi. Doaku dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1