Menatap Senja

Menatap Senja
77


__ADS_3

Esok paginya aku sudah berperang di dapur. Untung saja saat ini WFH alias libur. Karena pekerjaan kantorku tidak bisa dikerjakan di rumah. Semua aplikasi kantor hanya bisa dibuka di kantor.


Cake yang tadi malam aku buat sudah dingin. Aku mulai menghiasinya dengan butter cream. Setelah beberapa waktu akhirnya cake dengan cepat sudah bisa aku hias dan hasilnya mulus.


"Alhamdulillah... " gumamku sendiri.


Aku mulai menghias topingnya berupa coklat putih, salju dan gambar Elsa dan Ana. Kini sudah selesai aku bisa menarik nafas lega.


"Cantik Bun" puji Mas Fadil.


"Alhamdulillah, semoga yang pesan suka Yah" ujarku.


"Selama Bunda tetap jaga kualitas mudah - mudahan tetap laris manis" sambung Mas Fadil.


Aku memasukkan tartnya sebentar ke dalam kulkas agar lebih set dan tidak mudah cair coklatnya saat di antar.


"Mau diantar kemana?" tanya Mas Fadil.


"Ke jalan xxx" jawabku.


"Bunda libur hari ini?" tanya Mas Fadil lagi.


"Iya Yah" jawabku sambil merapikan dan membersihkan alat - alat yang aku pakai untuk membuat tart tadi.


"Ya sudah nanti Ayah boncengin Bunda antar Tartnya setelah itu baru Ayah ke Rumah Sakit. Ayah mau serahin ke Mamak uang Wati yang di kirim keluarga besar" ucap Mas Fadil.


"Udah di transfer sama Uwak Mas?" tanyaku.


"Sudah, alhamdulillah dapat lima juta" jawab Mas Fadil.


"Alhamdulillah... banyak Mas, di tabungan aku juga masih banyak" ujarku.


"Iya alhamdulillah rezekinya, kita kan gak tau gimana nanti keadaannya. Kalau ini panjang pasti akan butuh banyak dana. Belum lagi biaya anak - anaknya. Uang ini mau Ayah serahkan pada Mamak biar Mamak yang pegang" Ucap Mas Fadil.


"Jangan banyak - banyak di pegang di Rumah Sakit Yah bilang sama Mamak nanti hilang. Secukupnya saja, biaya perobatan Wati kan sudah di tanggung" pesanku.


"Iya tapi ada obat yang harus di beli sendiri. Kata Dokter tidak di tanggung BPJS dan harus beli pampers untuk Watu, tisu basah untuk membersihkan tubuh Wati dan masih ada yang lainnya lagi" sambung Mas Fadil.


"Iyalah, mana mungkin kita tidak keluar uang sedikitpun. Allah Maha Tahu Yah, pasti kasih jalan rezeki" balasku.


Tak lama ponsel Mas Fadil berdering dan Mas Fadil menerima teleponnya.

__ADS_1


"Ya Wan" sapa Mas Fadil.


Aku tebak itu pasti Ridwan adiknya Mas Fadil yang nomor empat.


"Nanti sore? Mas mau ke Rumah Sakit antar uang yang di transfer Wak Mono. Jam berapa mereka mau datang?" tanya Mas Fadil.


"Baiklah, nanti Mas bilang juga sama Mbak Anggi. Biar nanti kita ramai menyambut mereka. Ya sudah ketemu nanti sore di rumah Mamak ya" Mas Fadil mengakbi teleponnya.


"Siapa yah, Ridwan?" tebakku langsung.


"Iya, rupanya bos yang punya truk yang menabrak Wati teman bosnya Ana di bengkel. Jadi perwakilan dari mereka ingin bersilaturahmi ke rumah melihat keadaan anak - anak Wati" ungkap Mas Fadil.


"Ya Allah seperti semua sudah terencana ya Yah. Semuanya saling berhubungan dan ternyata berada di sekeliling kita" sambutku.


"Iya, Alhamdulillah semoga semua bisa berjalan lancar" ujar Mas Fadil.


"Kalau mereka minta berdamai bagaimana Yah?" tanyaku.


"Ya kita bicarakan lah, walau Wati selamat tapi kan kondisinya sangat memprihatinkan. Dia tidak akan bisa sembuh total dan tidak akan bisa bekerja lagi. Bagaimana nasib anak - anaknya" jawab Mas Fadil.


"Mudah - mudahan pihak mereka mau berdamai dengan baik" doaku.


"Nanti sore kita ke rumah Mamak ya. Ayah akan usahakan pulang lebih cepat. Nanti sepulang dari rumah sakit Ayah akan jemput Bunda di rumah. Baru kita sama - sama ke rumah Mamak. Bunda kan pinter ngomong. Nanti bantuin Ayah saat cerita ke mereka" pinta Mas Fadil.


"Ayah dan Mamak tetap di Rumah Sakit, gak mungkin Wati di tinggal. Lagian Ayah dan Mamak juga gak bisa ngomong, pasti nanti diserahkan juga kepada kita" sambung Mas Fadil.


"Iya, walau begitu tetap disampaikan kepada Ayah dan Mamak, Yah" pesanku.


"Iya nanti akan Ayah sampaikan pada mereka" balas Mas Fadil


Ponselku bergetar tanda pesan masuk. Ternyata pesan dari teman yang order Tart.


"Yuk Yah kita antar Tartnya. Teman Bunda yang pesan udah gerak. Nanti kita ketemu di Jalan XXX saja" ajak ku.


Aku langsung mengeluarkan tart dari kulkas dan memasukkannya ke dalam kotak kue. Setelah itu aku bersiap - siap berganti pakaian dan memakai jilbab. Mas Fadil juga bersiap - siap mengeluarkan motor dan menyalakannya.


Kemudian kami pergi mengantar pesanan tart. Sesampainya di Jalan XXX temanku sangat senang dengan tart buatanku.


"Makasih Gi, tartnya cantik sekali. Anakku pasti suka" ucapnya saat melihat tartnya sebentar.


"Alhamdulillah semoga anak kamu juga suka sama rasa tartnya ya" sambutku.

__ADS_1


Temanku tersebut menyerahkan uang nya dan aku menyerahkan tartnya. Setelah itu dia langsung pergi.


"Alhamdulillah rezeki hari ini" ucapku.


Mas Fadil tersenyum mendengar ucapanku.


"Setahun ini memang terasa berat Bun tapi kita bisa melaluinya dengan baik. InsyaAllah Allah tidak pernah tidur, DIA akan melihat semua perjuangan kita. Di depan mungkin akan terbentang jalan kesuksesan untuk kita. Tidak ada yang tau, ternyata nanti Bunda bisa buka toko kue atau Bunda jadi penulis terkenal. Semua rahasia Allah" ucap Mas Fadil.


"Aamiin.. " sambutku.


"Yuk kita pulang, setelah ini Ayah mau ke rumah sakit. Nanti siang kami mau ke kantor polisi bersama Syahrul, ingin membicarakan perdamaian Wati" ujar Mas Fadil.


"Iya Yah" Aku segera naik ke atas motor dan memeluk pinggang Mas Fadil dari belakang.


Kami bergerak menuju jalan pulang ke rumah.


Sorenya kami bersama adik - adik sudah berkumpul di rumah Mertua. Tak lama perwakilan dari pihak penabrak datang untuk bersilaturahmi.


Kami mengenalkan kepada mereka anak - anak Wati. Agar mereka bisa melihat kondisi anak - anak Wati yang masih sangat kecil dan butuh perhatian juga biaya.


"Ini anak - anak adek kami Pak. Dia janda mempunyai enam orang anak. Memang enam anak ini berasal dari dua pernikahan" ucap Mas Fadil..


"Iya Pak kami turut prihatin atas yang terjadi pada adik Bapak. Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi, dari pihak kami juga sama Pak. Saya mewakili keluarga yang menabrak adik Bapak memohon maaf dan beritikad baik untuk menyelesaikan masalah ini" ucap Bapak yang datang bersama Ana istrinya Ridwan.


"Iya Pak, kami sambut baik itikad baik dari pihak Bapak. Kami tidak menyangka ternyata semuanya bisa saling berhubungan. Padahal kami sudah putus asa Pak saat mengetahui si penabrak lari" sambut Mas Fadil.


"Hal itu memang sangat kami kesalkan Pak. Tapi supir bilang saat itu dia sangat panik dan takut akan dihukum masa saat itu juga di tempat" ungkap Bapak itu.


"Ya sebenarnya kalau dia takut masa, Supir kan bisa datang ke kantor polisi terdekat untuk melapor pasti hukumannya akan lebih ringan" sambung Mas Fadil.


"Oleh sebab itulah Pak makanya kami datang ke sini secara langsung untuk meminta maaf. Soal itu memang kami akui Pak Supir salah, tapi kejadian sebenarnya kan kita belum tau pasti Pak" ujar pria itu.


"Iya Pak nanti akan kita bicarakan perdamaian ini di kantor polisi. Kami tidak ingin menuntut secara hukum, kami hanya berharap perhatian Bapak pada adik saya dan anak - anaknya. Semua ini adalah musibah yang mengorbankan bukan hanya satu orang saja tapi tujuh orang Pak, adik dan anak - anaknya. Tolong sampaikan pada pihak Bapak tuntutan kami" ungkap Mas Fadil.


"Baik Pak, pesan Bapak akan saya sampaikan kepada bos saya. Kalau begitu saya pamit ya Pak. Ini ada sedikit titipan dari bos saya. Ini bukan biaya perdamaian, ini hanyalah buah tangan dari kami" Pria itu memberikan amplop kepada Mas Fadil.


"Terimakasih Pak sampaikan salam kami kepada bos Bapak" jawab Mas Fadil.


Pria itu pamit pulang dan keluar dari rumah mertua.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2